
"Apa yang sebenarnya terjadi, sayang?" Nyonya Ningrum memeluk sang putri dengan erat. Dengan Mira menangis di pelukan sang mama.
Nyonya Ningrum datang sendiri begitu diberitahu oleh Mira, pasalnya sang suami saat ini tengah berada di luar negeri karena pekerjaan. Beliau akan pulang esok hari.
Sedangkan kedua orang tua Selly belum datang. Keduanya masih dalam perjalanan. "Tante, saat kita pulang, di tengah perjalanan ada tawuran. Kita terjebak di antara mereka." jelas Selly singkat.
Nyonya Ningrum melepaskan pelukan Mira, membawa sang putri kembali duduk. "Lantas, bagaimana bisa keadaan pak sopir sampai kritis, apa yang terjadi?"
Selly dan Mira saling memandang. "Pak sopir bermaksud mencari jalan untuk mobil kita, supaya kita bisa menghindari mereka. Tapi ternyata tidak semudah itu." tutur Selly menundukkan kepala.
Nyonya Ningrum membelai rambut Selly, dengan lembut. Dari arah lain, seorang perempuan dan lelaki berjalan cepat menuju ke arah mereka dengan wajah khawatir. "Selly... !!" seru Nyonya Pipit.
Selly langsung memeluk sang mama. Nyonya Ningrum tersenyum sopan saat pandangannya bersitatap dengan Tuan Bram. Papa Selly. Begitupun sebaliknya.
"Jeng sudah dari tadi?" tanya Nyonya Pipit pada Nyonya Ningrum. Melepas pelukannya dengan Selly.
"Baru sampai." ujar Nyonya Ningrum.
Mereka saling berjabatan. Juga dengan Mira. "Mawar mana?" tanya Tuan Bram.
"Astaga, saya sampai lupa. Jika mereka bertiga." sesal Nyonya Ningrum. Terlalu hanyut dengan kesedihannya, hingga beliau lupa dengan keberadaan Mawar.
"Tadi Mira sudah menghubungi Mawar om, katanya dia sekarang berada di rumah warga. Dan warga akan mengantar Mawar pulang." jelas Mira.
"Sayang, Selly,,, bagaimana bisa kalian berpisah?" tanya Nyonya Pipit khawatir.
Mira dan Selly saling berpandangan. "Saat mobil kita meninggalkan tempat tawuran, ada yang berusaha mengejar dan menghentikan kita. Mawar keluar dari mobil, dan menghadang mereka." tutur Selly dengan air mata yang sudah terkumpul di pelupuk mata.
"Tuhan." Tuan Bram menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya. Beliau tidak menyangka dengan besarnya nyali yang dimiliki Mawar.
Seorang anak perempuan yang masih berusia enam belas tahun. Rela menjadi tameng untuk sahabatnya. "Lalu kalian tinggalkan dia?!" tanya Tuan Bram dengan raut wajah kesal bercampur khawatir.
"Pa..." Nyonya Pipit menenangkan sang suami. "Dengarkan penjelasan mereka dulu." pintanya.
"Mawar meminta kami untuk segera membawa pak sopir ke rumah sakit. Keadaan beliau parah pa." air mata Selly menetes di kedua pipinya.
Tuan Bram meraup wajahnya kasar. "Maaf." cicit Selly.
Tuan Bram memeluk sang putri. "Sudah, jangan menangis. Tidak apa-apa. Yang terpenting Mawar sekarang dalam keadaan aman juga." tutur Tuan Bram.
"Apa tidak sebaiknya papa saja yang menjemput Mawar. Mama khawatir." cicit Nyonya Pipit.
Terlebih mereka semua tahu bagaimana keadaan keluarga Mawar. Tidak mungkin anak itu menelpon sang ayah.
Apalagi menelpon ibunya. Pastinya, Mawar tidak ingin membuat sang ibu khawatir dan cemas dengan keadaannya.
"Sebaiknya tidak perlu pa, soalnya Mawar mengatakan akan diantar pulang oleh warga." tukas Selly, takut jika sang papa dan Mawar malah tidak bertemu.
"Benar kata Selly om. Mawar yang mengatakan sendiri pada saya." ujar Mira memperkuat perkataan Selly.
"Apa operasinya sudah selesai?"
Selly dan Mira menggeleng pelan. "Begitu parahkah?" tanya Tuan Bram.
Mira dan Selly mengangguk. "Kalian lihat wajah mereka?"
Mira dan Selly dan saling melirik. "Tidak." sahut Selly segera.
Keduanya takut jika kedua orang tua mereka akan curiga. Seumur-umur, mereka belum pernah berbohong, saat orang tua mereka bertanya.
Apalagi dengan kejadian yang begitu besar yang mereka alami. Tapi keduanya teringat akan perkataan Mawar.
Mereka yakin, Mawar mempunyai alasan sendiri yang kuat. Sehingga menyuruh mereka mengatakan seperti itu.
"Apa polisi sudah menyelidikinya?" tanya Nyonya Ningrum.
"Kami tidak tahu ma."
"Maksud kalian apa? Kenapa sampai polisi tidak tahu." tukas Nyonya Ningrum.
"Saat kita masih terjebak di sana, saya menelpon mereka, tante. Tapi sampai pak sopir kritis, mereka belum datang." jelas Selly dengan jujur.
"Makanya kami memutuskan untuk mencari cara membawa pak sopir ke rumah sakit. Bagaimanapun caranya." lanjut Selly.
Terlihat wajah Tuan Bram yang merah menahan amarah. "Papa harus ke kantor polisi."
"Pa,,, jangan emosi. Sabar." tahan Nyonya Pipit.
Semuanya terdiam sesaat, duduk di kursi tunggu depan ruang operasi. "Bisa jadi ada pihak lain yang memang berkuasa di balik semua ini pa." cicit Nyonya Pipit.
Mira dan Selly saling memandang. Keduanya sekarang paham, kenapa Mawar menyuruh mereka tidak mengatakan kebenarannya. Berpura-pura tidak melihat wajah mereka, satupun.
"Tunggu. Tawuran anak sekolah. Atau tawuran macam apa yang kalian lihat?" tanya Tuan Bram.
Mira dan Selly menelan ludah kasar. "Mereka tidak memakai seragam om, tapi wajah mereka tertutup. Ada yang menggunakan masker, topeng, dan helm." Mira mencoba mengarang bebas. Berharap para orang tua mempercayai apa yang dia katakan.
Tuan Bram terdiam. "Bagaimana Tuan?" tanya Nyonya Ningrum.
"Kita simpan sendiri saja. Semoga pihak rumah sakit tidak melaporkan kejadian ini." harap Tuan Bram.
Apalagi dengan keadaan pak sopir yang parah, ditambah lagi keadaan mobil yang dibawa sang anak ke rumah sakit. Pasti akan menimbulkan kerugian dari pihak rumah sakit.
"Biar nanti saya bicarakan dengan Mahes." lanjut Tuan Bram.
__ADS_1
Mahesa, beliau adalah suami dari Nyonya Ningrum. Yang artinya papa dari Mira.
"Apa pihak rumah sakit menanyakan atau mengatakan sesuatu pada kalian?" tanya Nyonya Pipit. Mira dan Selly menggeleng.
"Kalian tunggu di sini, papa akan berbicara dengan pihak rumah sakit. Papa tidak ingin sampai terlambat." pamit Tuan Bram.
"Pa ingat, bicara yang tenang. Tahan emosi. Bayangkan papa sedang bernegosiasi seperti saat bekerja." saran Nyonya Pipit.
Tuan Bram mengangguk, lalu berlalu meninggalkan mereka berempat. Tuan Bram memang selalu tidak bisa mengontrol emosi, jika sudah menyangkut anak dan istrinya.
Di markas Erza, suasana terasa dingin dan tegang. Terlebih setelah perkataan dari Deren yang membuat ketiga temannya terkejut.
Tidak ingin suasana semakin kacau karena emosi Deren yang meletup-letup, Tian memutuskan untuk membawa Deren pergi terlebih dahulu bersama dengan Luck.
"Mawar, apa kamu akan pulang. Biar aku antar." tawar Jerome.
Jerome menyenggol lengan Erza, melihat Mawar hanya diam, menampilkan ekspresi wajah datar. "Ckk,,, dasar." gumam Erza, tahu apa yang diinginkan Jerome.
"Ehh,,, sorry. Bukannya gue mau ngusir kalian. Tapi kita mau keluar. Tapi ya, nggak masalah sih kalau kalian berdua tetap ingin tinggal di sini." ujar Erza.
Tentu saja Erza berbohong. Padahal dirinya dan rekan-rekannya masih ingin bersantai di markas mereka.
Toh mereka ingin mengistirahatkan badan dan pikiran, setelah kejadian menegangkan barusan.
"Iiii-iya benar. Kita semua mau cabut." timpal seorang lelaki, saat Erza merangkul pundaknya dan meremasnya keras, meminta bantuan.
Mawar memainkan bibirnya dengan malas. "Ayo." ajak Jerome. "Biar aku antar." lanjut Jerome.
Mawar berdiri. "Sekali lagi, terimakasih atas bantuannya." tutur Mawar tersenyum tulus.
Semuanya mengangguk dan membalas senyum Mawar. "Terimakasih sudah datang dan menolong kami." lanjut Mawar tulus.
Mereka kembali mengangguk. "Gue juga nolong elo." dumal Jerome.
"Nggak ikhlas." Mawar menatap Jerome tajam.
"Kok dengar." cicit Jerome. "Ehh.. ikhlas." lanjut Jerome.
Semuanya menahan senyum melihat ekspresi wajah Jerome yang lucu. Seperti seorang anak yang sedang dimarahi sang ibu.
Mawar berjalan meninggalkan Jerome. "Untung cinta." Jerome tersenyum. Mawar yanga marah malah terlihat menggemaskan di mata Jerome.
"Elo, jangan macam-macam lagi." Jerome menatap lekat ke arah Erza. "Jangan sampai menemui Mawar, tanpa gue perintah."
Jerome segera berlari, mengejar langkah Mawar. Erza melongo mendengar ancaman dari Jerome. "Orang ketemunya nggak sengaja." kesalnya, baru berani bicara setelah Jerome tidak ada di dekatnya.
"Pantas banyak yang suka. Cantik. Pemberani. Baik." celetuk rekan Erza.
Semuanya tertawa lepas melihat raut masam dari wajah Erza. "Jangan bilang elo juga suka sama Mawar." goda salah satu temannya.
Erza memandang kesal padanya. "Gue lakban lama-lama mulut elo." geram Erza.
Jerome membonceng Mawar menggunakan sepeda motor. Jerome melihat dari kaca spion, Mawar duduk dengan tidak tenang.
Tersirat rasa gelisah di wajah Mawar. "Kenapa berhenti?" cicit Mawar, saat Jerome menghentikan laju motornya di tepi jalan.
Tanpa turun dari motor, Jerome menoleh ke belakang. "Kamu kenapa?" tanya Jerome.
"Maksudnya?" Mawar balik tanya dengan polos, sebab dirinya memang tidak mengerti kenapa Jerome bertanya demikian.
"Aku lihat kamu gelisah. Jika masih ada yang mengganjal di perasaan kamu. Katakan saja." tutur Jerome lembut.
Mawar memanyunkan bibir. Jerome tersenyum samar melihatnya. "Sumpah Mawar, jika saja gue pacar elo. Saat ini juga gue cium bibir elo." batinnya.
Mawar tak segera menjawab. Membuat Jerome semakin penasaran. "Ada apa. Katakan saja." saran Jerome.
Mawar malah memandang Jerome dengan tatapan aneh. "Kenapa? Ayo, katakan?" desak Jerome, merasa Mawar pasti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Aku lapar." cicit Mawar. Jerome terdiam sesaat. Lalu tertawa terbahak-bahak hingga memegang perutnya yang terasa kaku.
Mawar menatap kesal ke arah Jerome. Memukul tubuh serta helm Jerome yang masih terpasang di kepala dengan kencang. "Aduh..." seru Jerome di sela-sela tawanya.
"Oke Mawar, stop... sakit..." ucap Jerome, menghalau tangan Mawar yang ingin kembali memukulnya.
Mawar cemberut. "Benarkan. Kamu malah menertawakan aku." kesal Mawar. Dirinya sudah menebak sebelumnya jika Jerome akan tertawa.
"Kamu lucu. Masa lapar saja di tahan. Ngomong dong. Bisa-bisa aku dimarahi ibu Lina. Membiarkan anaknya kelaparan." goda Jerome, kembali menyalakan mesin motornya.
"Pegangan. Aku akan ngebut. Biar cepat sampai tempat makan terdekat." pinta Jerome.
Mawar memegang pundak Jerome. "Sudah." ujar Mawar.
Jerome mendesah pelan. "Sabar Jerome. Saat ini memang kedua pundak kamu yang dipegang Mawar. Nanti pasti tangan Mawar akan melingkar di perut kamu. Jika sudah waktunya." batin Jerome kecewa.
Jerome pikir Mawar akan mendekatkan tubuhnya dengan tubuh miliknya. Berdekatan hingga tak ada jarak. Nyatanya, hanya angan-angan Jerome. Untuk saat ini.
"Ayo kak Jerome. Mawar udah pegangan. Malah nglamun." tegur Mawar, karena Jerome tak segera melajukan sepeda motornya.
"Iya." ujar Jerome.
Tian membawa Deren ke markas, tempat biasanya mereka berkumpul. Di sana juga ada Luck. "Apa yang elo katakan benar?!" tanya Tian. Ingin jawaban yang jujur dari Deren.
Luck tertawa. "Deren,,, Deren. Dan elo ditolak Mawar. Elo sakit hati. Elo nyalahin Mawar!!" seru Luck tak percaya dengan jalan pikir Deren.
__ADS_1
Deren terdiam. Meremas telapak tangannya sendiri. "Gue yakin, bahkan Mawar nggak cerita sama siapapun. Termasuk kedua sahabatnya. Mira dan Selly. Elo tahu apa artinya itu?!" seru Luck kembali.
"Luck,,, sudah. Jangan tekan Deren." Tian tidak ingin Deren semakin frustasi.
"Bukan menekan brow. Tapi membuatnya sadar. Mawar melakukannya. Mawar tidak menceritakan jika dia menolak cinta elo pada siapapun, karena masih respek sama elo. Paham..!! Dia tidak ingin elo malu." bentak Luck.
"Luck..!!" seru Tian.
Luck menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menggelengkan kepala sembari tersenyum kecewa. "Bisa-bisanya elo malah nuduh dia yang bukan-bukan." ucap Luck mulai tenang.
"Deren, dan gue yakin. Mawar juga belum tahu, jika Jerome menyukainya." papar Tian.
"Sekarang, kalau elo memang cinta sama Mawar. Apa elo nggak akan bahagia, melihat Mawar bahagia." imbuh Tian mencoba memberi pengertian pada Deren.
"Bahagia dengan lelaki lain. Tidak akan pernah." tekan Deren dengan nada rendah.
"Astaga." Luck tersenyum miris mendengar ucapan Deren.
"Berapa lama elo deketin Mawar. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan. Jawab. Dan kapan elo mengungkapkan rasa suka elo? Coba hitung." jelas Tian.
"Kalian bahkan hanya berbincang beberapa kali. Elo ke rumah Mawar beberapa kali. Lalu elo tiba-tiba menyatakan perasaan elo pada Mawar. Apa menurut elo Mawar dengan mudah percaya? Pikir. Dia Mawar. Bukan Jihan, atau perempuan lainnya. Yang akan menyerahkan semua miliknya ke elo, tanpa elo minta sekalipun." jelas Tian panjang lebar.
"Apa elo tahu kehidupan Mawar. Kedua orang tua Mawar. Keseharian Mawar. Kesukaan Mawar. Apa yang dia tidak suka. Kesulitan yang dia hadapi. Apa lagi yang elo tahu tentang Mawar. Apa?! Siswi cantik di sekolah dengan nilai terbaik. Selain itu, apa elo tahu yang lainnya." imbuh Tian bertanya seperti kereta api.
"Bahkan menjaga Mawar dari mama elo saja, elo nggak sanggup." cibir Luck.
Mulut Deren terdiam. Seolah palu besar mengena tepat di kepalanya. "Mawar bekerja saja elo nggak tahukan? Apa itu yang namanya cinta." ujar Luck tersenyum sinis.
"Seharusnya, jika elo memang menyukai Mawar. Elo berjuang. Elo benar-benar memperhatikan dia. Sorry, bukan maksud gue membandingkan elo dan Jerome. Hanya saja, gue nggak bisa memihak. Kalian berdua sama-sama teman gue." papar Tian.
"Kita semua nggak ada yang tahu ke depannya Dee. Tapi, yang gue inginkan. Kita berempat tetap bersahabat seperti sekarang. Selamanya." timpal Luck.
"Elo mau kemana De..?" tanya Tian, saat Deren berdiri dan melangkahkan kakinya keluar.
Tanpa menyahuti ucapan Tian, Deren meninggalkan tempat mereka dengan perasaan yang berkecamuk hebat.
Rasa kesal. Cemburu. Tak berdaya. Serasa bodoh. Serasa menjadi lelaki paling tidak berguna.
"Biarkan saja. Mungkin Deren memang butuh sendiri." ujar Luck, menghentikan Tian yang ingin mengejar Deren.
"Gue hanya khawatir." tukas Tian.
"Tenang saja. Gue akan suruh orang untuk mengawasinya." jelas Luck, membuat rasa khawatir Tian lenyap.
Sedangkan Jerome membawa Mawar ke warung makan yang sederhana. Jerome paham benar bagaimana Mawar. Tidak mungkin dia mengajak Mawar berhenti di restoran.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Jerome.
Mawar masih melihat daftar menu. "Emmm..." gumam Mawar dengan mata membaca dan melihat daftar menu makan serta minum.
"Ini." saya pesan ini ya mbak. Mawar menunjuk ke gambar ikan bakar. "Minumnya, jeruk hangat." imbuhnya.
"Samakan saja mbak." tutur Jerome.
Setelah pesan, keduanya mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman. "Kelihatannya mau hujan." cicit Mawar, melihat awan menggumpal berwarna hitam.
Mawar merasa jika Jerome memandanginya. Dan ternyata benar. Keduanya bersitatap saat Mawar memutuskan untuk menoleh ke arah Jerome. "Ada apa?"
Jerome menunduk sebentar, lalu kembali menatap ke arah Mawar. "Mengenai apa yang dikatakan Deren." papar Jerome.
"Yang dikatakan kak Deren. Yang mana?"
"Pernyataan cinta dari Deren...."
"Dan Mawar menolaknya. Itu benar." sahut Mawar dengan cepat, sebelum Jerome menyelesaikan kalimatnya.
Mawar kembali menatap ke arah luar. Dimana banyak burung berukuran kecil dengan warna hitam beterbangan membentuk lingkaran.
"Mawar hanya ingin fokus belajar. Kak Jerome pasti tahu, bagaimana kehidupan Mawar. Hidup Mawar terlalu rumit. Masalah datang silih berganti." ujar Mawar lirih, tersenyum nanar.
Jerome menatap intens ke arah Mawar. "Pasti karena ayah kamu." kata Jerome, yang hanya berani Jerome katakan dalam hati.
Jerome teringat undangan pernikahan yang sang papa terima. Di sana jelas tertulis nama ayah Mawar, Wiryo dengan Caty.
"Pasti berat. Apalagi selama ini hidup kalian bergantung pada Wiryo." batin Jerome. Mengetahui Mawar dan sang ibu mengambil keputusan untuk sama-sama bekerja.
Mudah bagi Jerome membantu Mawar dan sang ibu secara finansial. Tapi Jerome sadar. Hal tersebut malah akan menyakiti hati Mawar. Seolah Jerome merendahkan Mawar dan ibunya.
"Silahkan." Lamunan Mawar dan Jerome teralihkan saat pegawai warung makan mengantarkan pesanan mereka.
"Terimakasih." cicit Mawar, tersenyum ramah.
"Sama-sama." ucapnya, membalas senyum Mawar.
Jerome memutar kedua matanya kesal. "Bisa cepat sedikit mas." pinta Jerome, pada pegawai warung makan, saat dia menurunkan pesanan mereka ke atas meja.
Jerome kesal melihat pegawai warung tersebut malah terkesan santai meletakkan pesanan mereka, dengan memandang wajah cantik Mawar.
"Kak Jerome..." tegur Mawar dengan lembut dan sopan.
"Aku lapar, Mawar." ucap Jerome dengan nada Mawar.
Mawar menaikkan sebelah alisnya. Bukankah dia yang lapar. Kenapa sekarang Jerome juga, apa lapar bisa menular.
__ADS_1