MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 168


__ADS_3

Deren memutuskan untuk meninggalkan acara ulang tahun Nyonya Meysa setelah acara tukar cincin yang dilakukan antara Jerome dan Mawar selesai.


Deren tak lagi bisa menahan emosi. Dirinya takut akan membuat keributan jika tetap berada di sini. Hatinya perlahan mulai mendidih, melihat bagaimana Jerome memperlakukan Mawar seperti sebuah berlian mahal.


"Mawar....!! kenapa elo tolak gue. Dan elo dengan mudah menerima Jerome...!! Kenapa....!!!" teriak Deren, menghentikan mobilnya di tepi jalan sepi.


Keluar dari mobil, berteriak meluapkan emosi di dalam dadanya yang bergemuruh hebat.


Tubuh Deren merosot jatuh ke bawah. Kedua pundaknya bergerak naik turun. "Seandainya gue mau bersabar. Sedikit saja. Pasti Mawar ada dalam pelukan gue."


"Aaa.... aa..." Deren memukul-mukul jalan beraspal di hadapannya. Hingga jari-jarinya terluka dan berdarah.


Deren mendongakkan kepalanya. "Haa....ha...ha..." Deren tertawa lepas..


"Apa semua terlambat. Apa hati Mawar hanya untuk Jerome. Lalu, apa yang akan gue peroleh. Apa...?!" teriaknya.


Deren meraup wajahnya dengan kasar. Melepaskan dasi yang melingkar di lehernya dengan sembarangan. Hingga penampilannya terlihat seperti preman yang baru saja kalah dalam pertarungan.


Deren yakin, jika sang mama sama seperti mama dari Jerome. Dia akan menerima Mawar setelah tahu siapa Mawar sebenarnya.


Deren tersenyum kecut. "Pengorbanan gue meninggalkan negara ini percuma. Malah menambah rasa sakit di hati gue." cicitnya.


Deren tidur terlentang di tengah jalan. Dengan air berukuran kecil mulai berjatuhan dari atas. Membasahi wajah serta tubuh Deren.


"Lihat, langit saja juga ikut menangis. Heeeeyyyy,,,,,, kalian...!! Apa kalian juga merasakan hal yang sama. Rasanya sungguh sesak." teriak Deren.


Niat hati ingin belajar di luar negeri, agar bisa menjadi seseorang yang bisa melindungi Mawar. Malah hancur berantakan.


Apalagi, kini Mawar tidak memerlukan orang untuk melindungi dirinya. Terlepas dari dia yang sekarang adalah tunangan Jerome, Mawar adalah cucu dari Tuan Tomi. Siapa yang berani mengusik Mawar. Pastinya orang itu akan berpikir seribu kali.


Apalagi, di acara tadi Deren sama sekali tidak melihat Dona beserta gengnya. Dan Deren tidak tahu apapun perihal mereka.


Bahkan Deren merasa jika Tian dan Luck juga menjauh darinya. Padahal, bukan itu yang terjadi. Mereka berdua menjauh karena sikap Deren sendiri, yang seenaknya memblokir nomor mereka. Dan itulah yang membuat Luck dan Tian kecewa.


"Kenapa,,,, kenapa dari dulu elo selalu berada di depan gue,, Jerome." gumam Deren, dengan tubuh basah terkena air hujan.


Di acara pesta ulang tahun Nyonya Meysa, Gerald tanpa sengaja melihat Jihan bertingkah aneh. Pandangan mata seperti sedang mengawasi sekitar. Seakan Jihan ingin melakukan sesuatu yang sangat rahasia. "Bukankah dia adiknya Jerome." gumam Gerald.


Pandangan Gerald masih terpaku kepada Jihan. "Mau kemana dia?" Gerald semakin penasaran.


Pasalnya, Jihan pergi dengan tergesa-gesa dan terkesan bersembunyi dari mata para tamu undangan. terutama keluarga atau orang yang dia kenal.


Tidak mau hanya menebak dan merasa penasaran, Gerald mengintai dan mengikuti kemana arah kaki Jihan melangkah.


Ternyata bukan hanya Gerald seorang yang mengawasi tindakan dari Jihan tersebut. Ada sepasang mata yang sedari tadi juga mengawasi Jihan, yang berarti juga mengawasi Gerald.


Nampak Jihan berjalan dengan langkah yang cepat. Dengan Gerald secara sembunyi-sembunyi mengikuti Jihan dari belakang. Sedangkan sepasang mata yang mengawasi keduanya berdiri santai di lantai dua.


Dirinya tak perlu berjalan. Cukup berdiri dan memantau dari tempatnya berada. Tatapan matanya tampak tajam, dengan raut wajah dingin.


"Siapa dia?" tanya Gerald dalam hati. Melihat Jihan sedang berbincang dengan seorang lelaki. Yang Gerald sendiri tidak mengenalnya.


Lelaki yang berdiri di lantai dua, menelpon seseorang. "Lakukan dengan rapi dan cepat." ucapnya dari sambungan telepon. Memerintah seseorang untuk mengerjakan apa yang sebelumnya sudah dia jelaskan.


Gerald segera bersembunyi, saat Jihan membalikkan badan, kembali ke tempat acara. "Apa yang harus gue lakukan." batin Gerald.


Mengikuti Jihan, atau mengikuti lelaki yang bersama Jihan. Tapi, yang pasti Gerald yakin jika Jihan memberikan sesuatu pada lelaki tadi.


"Pasti isi amplop tersebut adalah uang." cicit Gerald menebak dalam hati.


Gerald memutuskan untuk menyusul lelaki yang diberikan amplop oleh Jihan. Gerald berpikir, Jihan pasti kembali ke dalam. Sehingga dirinya akan mudah menemukannya tanpa harus repot mencari keberadaan Jihan.


Sementara untuk lelaki yang baru saja berbincang dengan Jihan, pasti dia akan melakukan sesuatu yang pastinya itu adalah rencana Jihan.


Entah kenapa Gerald merasa penasaran dengan apa yang direncanakan Jihan. Padahal, Gerald sama sekali belum mengenal Jihan. Dan rencana Jihan pasti tidak tidak ada hubungannya dengan dirinya.


Gerald hanya sekedar tahu jika dia adalah putri Tuan Adipavi bersama Nyonya Meysa yang tinggal di luar negeri dan dibesarkan oleh saudara mereka yang tidak memiliki anak.


Sikap kepo Gerald mungkin muncul karena sedari tadi, Jihan terus menatap ke arah Mawar dengan tatapan tak sukanya. Dan Gerald melihatnya dengan jelas dari pancaran kedua mata Jihan.


Tak ingin kehilangan jejak, Gerald berlari ke arah lelaki tersebut berjalan santai. "Sial, kemana perginya dia." umpat Gerald saat dirinya berada di lorong yang menghubungkan beberapa jalan.


Gerald mencoba peruntungan. Berlari ke arah kanan, mencari lelaki tadi. Nihil. Segera dia kembali ke tempat dia kehilangan orang tersebut.

__ADS_1


Gerald berputar hanya untuk mencari lelaki tersebut. Sayangnya, dia tidak memperoleh hasil. "Aaaa....!!" seru Gerald tertahan.


"Cepat sekali dia melangkah. Bersembunyi kemana dia." keluh Gerald. Karena Gerald tidak melihat saat Jihan memberikan sebuah kunci kamar pada lelaki tadi.


Dan pastinya, lelaki tadi sudah ada di kamar yang Jihan siapkan. Itulah yang membuat Gerald tidak akan pernah bisa menemukannya. Meski dia berputar seratus kali.


Tidak mendapatkan apa yang dia kejar, Gerald memilih kembali ke ruang pesta. Mengawasi Jihan menjadi pilihan kedua saat ini.


"Siapa tahu, Jihan akan melakukan sesuatu di dalam." gumam Gerald, mencoba menebak.


"Singkirkan lelaki muda tersebut." ucap seseorang, memerintahkan bawahannya dari panggilan telepon.


Sementara kedua sahabat Mawar menanti Mawar dengan gelisah. "Mawar mana sih, lama sekali." tutur Mira, sebab sedari tadi Mawar tak kembali, padahal sudah hampir tiga puluh menit Mawar pergi ke kamar mandi.


Sedangkan Jerome, dirinya baru saja terlihat menaiki anak tangga bersama seorang lelaki. Yang Mira dan Selly sendiri juga tidak mengenalnya.


"Jerome juga, malah pergi." kesal Mira.


"Elo aneh. Jerome mana tahu jika Mawar ke toilet. Orang tadi Mawar sendiri yang menolak saat Jerome mengajaknya pergi." sahut Selly.


Jerome yang hendak menyapa rekan kerja sang papa, meminta Mawar untuk menemaninya. Tapi Mawar menolak, dengan alasan masih ingin menghabiskan makanan yang ada di tangannya.


Dan itu memang benar. Sebab tak mungkin Mawar membawa makanan sambil menyapa rekan kerja Jerome atau Tuan Adipavi. Ditambah, perut Mawar memang sedang perlu diisi.


Alhasil, Jerome pergi seorang diri. Dengan Mawar ditemani Mira dan Selly. Itupun, Jerome yang memanggil Mira dan Selly, meminta keduanya untuk menemani Mawar. Dan menjaganya selagi dirinya tidak berada di samping Mawar.


"Apa perutnya sakit ya." tebak Selly. Pasalnya ketiganya makan makanan yang menurut mereka sangat pedas, tapi enak.


"Tapi gue nggak apa-apa." tukas Mira. Sebab diantara mereka bertiga, Mawarlah yang paling menyukai makanan pedas. Dan perut Mawar memang tahan makanan pedas.


"Iya juga sih." ucap Selly.


Tapi perasaan Selly merasa tidak tenang. "Kita susul yuk....." ajak Selly dengan cemas. Terlebih Mawar pergi seorang diri.


Apalagi keluarga Mawar nampak sedang berbincang dengan Nyonya Utami dan Dami. Dan lagi, mereka tak tahu jika Mawar pergi cukup lama ke toilet.


Baru beberapa langkah Mira dan Selly beranjak dari tempatnya, kedua orang tua mereka memanggil dan mengajak mereka untuk pulang.


Selly dan Mira mengatakan jika ingin menyusul Mawar ke kamar mandi. Tapi dilarang oleh orang tua Mira. "Beritahu Mawar lewat pesan saja, mama sudah mengantuk sayang." tukas mama dari Mira.


Mira dan Selly akhirnya menuruti permintaan orang tua mereka untuk pulang. Apalagi para tamu undangan juga sudah mulai berpamitan untuk pulang. Sebab malam mulai larut dan acara memang sudah selesai.


Tamu undangan tinggal sedikit. Itupun hanya tersisa keluarga serta kerabat dekat. Mereka juga merasa sungkan jika pergi meninggalkan acara lebih dulu.


Lina celingukan mencari Mawar. "Cari siapa?" tanya Djorgi.


"Mawar." sahut Lina.


"Bukannya tadi Mawar sama Mira dan Selly." timpal Caty, yang berada di samping Lina.


Sifat Caty berubah drastis setelah mengandung. Dia tidak lagi angkuh dan sombong. Di rumahpun, Caty juga tidak malas seperti biasanya. Dia lebih banyak berinteraksi dengan para pekerja.


Belajar memasak. Menyiapkan semua kebutuhan Wiryo. Serta dia sering berada di taman belakang. Hanya untuk menata bunga. Padahal sang mama sudah membayar seseorang untuk merapikan taman.


Tak ada lagi Caty yang gemar keluar rumah. Menghabiskan uang serta waktu untuk belanja barang yang tidak diperlukan.


Bahkan, Caty juga menyapa Lina dengan ramah. Memperlakukannya dengan baik. Tak ada raut wajah kebencian seperti dulu. Mungkin karena bawaan bayi yang ada di dalam kandungannya.


Dan semoga Caty benar-benar berubah untuk seterusnya. Bukan hanya sekarang, saat dirinya mengandung.


"Apa dia pergi dengan Jerome?" tebak Nyonya Meysa. Sebab Jerome juga tidak terlihat.


Jihan tersenyum samar. "Maaf, tadi saya melihat Mawar dan kak Jerome pergi ke arah sana." tutur Jihan, dengan jari telunjuk menunjuk ke sebuah arah.


Padahal Jihan melihat jika Jerome menaiki anak tangga. Dan tidak pergi bersama dengan Mawar. "Mawar, sebentar lagi gue akan bawa mereka semua ke tempat elo bersenang-senang."


Tapi tak ada yang menggubris perkataan Jihan. "Sialan para orang tua ini." umpat Jihan dalam hati. "Tapi tak apalah, semakin kalian lama, semakin Mawar akan merasa senang. Karena kalian memberikan waktu untuk Mawar bersenang-senang." lanjut Jihan dalam hati.


Jihan mengeluarkan ponsel. Entah apa yang dia ketik. Tapi cukup singkat.


"Coba kamu hubungi Mawar." pinta Tuan Tomi. Segera Lina mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Mawar.


Lina menggeleng. Yang artinya Mawar tidak menjawab panggilan telepon darinya. "Jerome." cicit Lina, segera menghubungi Jerome.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Tuan Adipavi.


Lina kembali menggeleng. Raut wajahnya tampak cemas. "Jangan khawatir, pasti Mawar sedang bersama dengan putra kami." tukas Nyonya Meysa.


"Semoga." tutur Lina tetap merasa khawatir.


Seorang pelayan datang menghampiri mereka semua. Jihan tersenyum samar. "Maaf, apa Nyonya mencari Nona Mawar?" tanyanya dengan ramah.


Sontak semua mata memandang ke arahnya. "Benar. Apa kamu melihat putri saya?" segera Lina balik bertanya.


"Iya Nyonya, Nona Mawar tadi pergi ke arah sana. Bersama seorang lelaki." jelasnya.


"Pasti itu Jerome." tukas Nyonya Meysa.


"Tapi kemana mereka pergi. Dihubungi juga tidak di angkat." ujar Nyonya Tanti.


"Maaf Nyonya, saya hanya melihat mereka berdua menuju salah satu lorong. Dan di sana tersedia beberapa kamar untuk para tamu." jelasnya.


"Kamar." gumam beberapa orang.


Entah mengapa, mendengar kata kamar membuat perasaan Lina semakin cemas. "Tenang. Mawar pasti baik-baik saja."


"Bisa kamu tunjukkan, dimana kamu melihat mereka?" pinta Caty.


"Maaf Nyonya, saya hanya melihat di lorong sebelah sana. Lalu belok ke kiri. Tapi maaf, lebih jelasnya saya tidak tahu. Karena saya sedang bekerja." jelasnya menyakinkan semuanya.


"Kamu di sini saja. Temani mama kamu. Biar papa dan Djorgi yang mencari." pinta Tuan Tomi.


Lina menggeleng. "Tidak. Lina ikut." sergah Lina.


"Aku juga ikut." timpal Nyonya Tanti.


"Sudah-sudah, sebaiknya kita bersama-sama saja mencari Mawar." tukas Tuan Adipavi.


Mereka mengetuk pintu satu persatu. Jika pintu tidak terbuka dari dalam. Mereka membuka paksa. Dan hasilnya nihil, kamar tersebut tak ada yang menempati.


Tapi, jika ada yang menempati, pasti pintu akan dibuka. Dan mereka akan meminta maaf. Tentu saja mereka bisa melakukannya. Sebab gedung hotel ini adalah milik Tuan Dewano.


"Mereka tidak ada." batin Lina merasa lega bercampur khawatir saat mereka membuka beberapa kamar. Dan tidak menemukan Jerome dan Mawar di dalamnya.


Mendengar kata kamar saja, membuat Lina berpikir yang tidak-tidak tentang Mawar. Lina takut sang putri melakukan hal yang kelewat batas bersama dengan Jerome.


Jihan tersenyum senang. Sebab saat ini, mereka berada di depan pintu, dimana di dalam kamar ini dirinya memasukkan Mawar.


Beberapa kali Wiryo mengetuk pintu kamar. Tapi tidak terbuka. "Apa di dalam ada orang?" tanya Tuan Tomi, pada pelayan yang mengikuti mereka.


"Ada Tuan. Tapi maaf, saya tidak tahu siapa yang berada di dalam."


Sang pelayan memberikan kunci serepnya. Segera Wiryo mengambilnya. "Tidak bisa." cicit Wiryo, saat memasukkan kunci ke lubang pintu.


Yang artinya ada kunci yang tertancap dari dalam. Lina mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi nomor Mawar. Semua terdiam. Terdengar jelas suara bunyi ponsel Mawar berada di dalam kamar.


"Mawar....!!!" teriak Lina bersamaan mengetuk pintunya dengan keras.


"Mawar...." beberapa kali Lina memanggil sang putri.


"Minggir, kita buka paksa saja." saran Djorgi.


"Silahkan." tegas Tuan Adipavi yang juga merasa khawatir akan keadaan Mawar di dalam.


Jihan tersenyum samar. Dirinya sudah tak sabar ingin melihat apa yang akan terjadi dengan perempuan yang dia benci tersebut.


"Tamatlah riwayat elo setelah ini." batin Jihan.


Djorgi dan Wiryo mendobrak pintu di depannya bersama.


Brak... Pintu terbuka dengan kencang. Segera Lina berlari masuk ke kamar mendahului yang lain. Tubuh Lina membeku melihat siapa yang tidur di atas ranjang.


Bukan hanya Lina. Semua mata terbuka lebar, dengan telapak tangan menutup mulut masing-masing, melihat apa yang mereka saksikan saat ini.


"Mawar." gumam Lina.


Jihan yang melihat ekspresi semua orang. Kembali tersenyum samar. "Mawar, setelah ini, gue yakin. Elo lebih memilih mati dari pada hidup." batin Jihan.

__ADS_1


"Setelah ini, gue jamin. Elo akan dikucilkan. Dan elo akan di buang dari kelurga elo. Pasti mereka jijik melihat apa yang elo lakukan." batin Jihan.


__ADS_2