
"Apa ini bu?" tanya Mawar, pada sang ibu.
Bu Lina memutuskan untuk memberikan kartu undangan pernikahan Wiryo dan Caty pada Mawar. Dirinya merasa jika hal tersebut tidak perlu disembunyikan.
Mawar sudah tahu semuanya. Dan memang seharusnya, Mawar tahu dan datang di acara penting sang ayah.
Menunggu Jerome pulang dari rumah mereka, sehabis makan malam bersama. Bu Lina masuk ke dalam kamar. Mengambil undangan yang diberikan Caty tadi siang dari dalam tas. Memberikannya pada Mawar.
Mawar mengambilnya dari tangan sang ibu. Membukanya. Tak ada raut senang atau kecewa di wajah Mawar. "Siapa yang memberikan?" tanya Mawar dengan ekspresi datar.
Bu Lina terdiam tak segera menjawab. Tidak mengira jika pertanyaan itu yang akan keluar pertama kalinya dari mulut sang putri.
"Bu..." panggil Mawar, karena sang ibu malah diam dan menatapnya dengan lekat.
Bu Lina tersenyum. "Caty. Ayahmu pasti sibuk." jelas bu Lina, serta alasan kenapa tidak Wiryo sendiri yang datang dan memberikannya.
Padahal, Mawar sama sekali tidak peduli. Siapapun yang memberikan undangan ini. Walau kurir sekalipun. "Di toko kue?"
Bu Lina tersenyum dan mengangguk pelan. "Apa dia berulah, membuat masalah dengan ibu?" Mawar masih mengingat dengan jelas, bagaiman Caty berbuat kasar padanya saat di cafe. Hingga sang ayah murka terhadapnya.
Bu Lina menggeleng. "Tidak. Dia hanya memberikan kartu itu. Lalu pergi."
Mawar mengangguk untuk berpura-pura percaya. Pasti sang ibu menutupi suatu hal darinya. Tapi Mawar tidak ingin menekan sang ibu dengan pertanyannya yang sedang berputar di dalam otaknya.
Melihat sang ibu baik-baik saja. Sudah cukup bagi Mawar. Begitu pula bu Lina. Beliau tidak menceritakan bagaimana perkataan pedas dari Caty saat menghina dirinya.
Bu Lina tidak ingin putri tercintanya merasa khawatir akan keadaannya. "Apa ibu akan datang?"
Bu Lina tersenyum. Menggeleng pelan. "Tidak. Kebetulan ibu masuk shif siang. Dan saat itu, ada banyak pesanan. Jadi dipastikan ibu akan lembur."
Benar dirinya masuk shift siang. Sehingga akan pulang malam. Namun tidak ada pesanan untuk hari itu. Jadi dia tidak akan lembur.
"Kamu harus datang. Itu acara spesial dan sangat penting untuk ayah kamu. Pasti ayah juga berharap kamu datang." bujuk sang ibu.
Mawar terdiam. Lalu tersenyum. "Jika ibu menyuruh Mawar datang. Mawar akan datang. Tapi sebaliknya. Jika ini menyuruh Mawar untuk tidak datang. Maka Mawar tidak akan datang."
"Kamu harus datang. Kamu juga anak ayah. Pasti ayah akan senang, melihat putrinya datang." bu Lina memegang telapak tangan Mawar, mengelus punggung telapak tangan Mawar.
Mawar tersenyum. "Apa ibu juga akan tetap menyuruh Mawar datang, jika ibu tahu. Ayah menampar pipi Mawar. Ayah melukai Mawar, bu..." dan sayangnya itu hanya Mawar katakan dalam hati.
Mawar mengangguk. "Mawar akan datang." tegas Mawar, menyimpan rasa pahit di dalam hati.
"Mawar juga akan datang, jika nanti ibu akan menikah." Mawar mengerlingkan sebelah matanya, menggoda sang ibu.
Mengalihkan pembicaraan yang dia rasa akan sedikit melukai perasaan sang ibu. Meskipun sang ibu dan ayahnya sudah bercerai.
Namun, perceraian ini memang menimbulkan rasa sakit di hati sang ibu. Dan Mawar tahu itu. Apalagi, belum genap dua bulan mereka bercerai, sang ayah sudah menikah.
Mawar tidak terkejut. Bukankah ini akan terjadi. Tidak mungkin mereka tidak akan menikah, melihat bagaiman sang ayah memperlakukan Caty seperti seorang ratu.
Bu Lina mencubit gemas pipi Mawar. "Kamu itu. Ibu saja belum kepikiran sampai sana." kesal bu Lina, berpura-pura ngambek.
"Siapa tahu, jodoh ibu sudah dekat." ledek Mawar disertai kekehan kecil. "Mawar siap, mempunyai ayah tiri. Tapi yang kaya dan tampan." imbuh Mawar menggoda sang ibu.
Bu Lina menepuk pelan bahu Mawar. "Jangan goda ibu. Seharusnya, kamu itu yang bawa pacar kamu ke sini. Kenalkan sama ibu."
"Iiihh,,, kenapa malah membahas Mawar." cemberut Mawar.
"Ya kan ibu cuma mau tahu saja. Putri cantik ibu ini sudah punya kekasih apa belum. Apa jangan-jangan,,, dia kekasih kamu."
Mawar melotot. Tahu kemana arah perkataan sang ibu. "Bukan. Kak Jerome sama seperti kak Deren. Mawar hanya menganggap mereka seperti teman. Tidak lebih." sanggah Mawar.
Bu Lina berdiri. "Ya siapa tahu. Sekarang teman. Nanti pacar." goda Bu Lina.
"Ibu....!" seru Mawar merajuk. Bu Lina tertawa renyah, membersihkan piring dan wadah kotor bekas mereka makan malam, membawanya ke wastafel.
"Sudah sana, istirahat. Pasti kamu capek." bu Lina menyuruh Mawar untuk segera masuk ke dalam kamar.
Cup,,,, "Terimakasih. Mawar sayang ibu." Mawar mengecup pipi sang ibu, lalu masuk ke dalam kamar.
Begitu pintu kamar tertutup sempurna, Mawar tersenyum sinis. "Semoga kalian berbahagia." sarkasnya, dengan pancaran mata benci.
Mawar memegang pipinya dan tersenyum smirk. "Pasti bahagia sekali menikah dan mempunyai keluarga kaya dan terpandang." gumam Mawar.
Mawar mengusap air matanya yang terjatuh di pipi tanpa dia kehendaki. Dihadapan semua orang, Mawar berdiri dengan kaki kuat. Senyum lebar. Dengan dada membusung.
Menunjukkan jika dirinya sama sekali tidak merasakan sakit hati atas apa yang terjadi di dalam hidupnya.
Tapi kenyataannya, semua berbeda. Saat sendiri. Mawar benar-benar rapuh. Ekspresi dingin dan tenang yang dia perlihatkan dihadapan banyak orang, menghilang seketika saat dirinya sendiri.
Mawar tengkurap di atas ranjang empuk berukuran sedang miliknya. Terlihat jelas, badannya bergetar. Menandakan jika dia sedang menangis.
Menumpahkan semua rasa terpendam yang dia sembunyikan dihadapan semua orang.
Setelah pulang dari rumah Mawar, Jerome pergi ke tempat di mana dirinya akan bertemu dengan Erza dan teman-temannya. Namun Jerome tidak memakai motor sportnya.
__ADS_1
Dia datang sebagai Jerome. Bukan lelaki misterius yang diincar banyak pihak. "Bagaimana? Apa ada yang mau?" tanya Jerome langsung ke pokok permasalahan.
"Elo butuh berapa orang brow?" tanya teman Erza.
"Dua." sahut Jerome singkat.
"Well, bagaimana? Ada yang tertarik?" tanya Erza, sebelum Jerome datang. Erza sudah menjelaskan apa yang diinginkan oleh Jerome.
Dan pekerjaan apa yang akan mereka lakukan untuk mendapatkan uang dari Jerome. "Hanya mengawasi, melaporkan. Tidak ada yang lain." tanya salah satu dari mereka butuh kepastian.
Jerome terdiam sesaat. "Iya, jika untuk Dona. Tapi tidak untuk Mawar."
"Maksudnya?"
"Gue hanya membutuhkan setiap gerakan Dona. Jadi elo hanya memantau dan melaporkan. Berbeda dengan Mawar. Elo juga harus menjaga dia dari bahaya." jelas Jerome menjeda kalimatnya.
"Tenang saja. Bayarannya juga berbeda." imbuh Jerome.
"Oke, gue sama dia yang akan turun." seorang lelaki menunjuk ke arah rekannya. Yang artinya jika dirinya bersama rekan yang ditunjuknya bersedia melakukan pekerjaan tersebut.
Rekan yang dia tunjuk mengangguk dan tersenyum. Menandakan dia juga setuju. Jerome dan kedua teman Erza bertukar nomor ponsel. Untuk memudahkan mereka berhubungan.
Selain menjelaskan apa yang diinginkan Jerome. Erza juga memperingatkan pada mereka. Jika Jerome bukan orang yang mudah ditindas dan diremehkan.
Erza mengatakan dan menceritakan tentang siapa keluarga Jerome. Sehingga temannya tidak akan mengambil keputusan yang akan dia sesali dikemudian hari.
"Ada apa?" tanya Erza, saat Jerome memintanya untuk masuk ke dalam mobil miliknya. Berbicara hanya bersamanya tanpa ada yang lain. Berdua.
"Elo nggak menceritakan siapa guekan?" lirik Jerome kepada Erza dengan tajam.
Erza mengangkat kedua tangannya ke atas. Seperti seseorang yang sedang menyerah. "Santai brow. Tenang saja. Aman. Gue cerita tentang elo pada mereka hanya sebatas siapa elo dan keluarga elo. Tidak dengan hal lain."
"Salah satu diantara mereka ada yang tertarik dengan Mawar." cicit Jerome langsung.
Erza terdiam. Menatap Jerome dengan tatapan yang sulit di artikan. "Mereka. Mereka siapa?"
Sebenarnya Erza sudah bisa menebak kata mereka dari Jerome, dimaksudkan untuk siapa. Hanya saja, dia ingin Jerome mempertegaskannya.
"Musuh elo." tekan Jerome menatap tajam kepada Erza.
Mulut Erza terbuka, tapi tak bersuara. Menggeleng tak percaya. "Ba-ba-bagiamana bisa?"
Apa yang baru saja dikatakan Jerome, sungguh membuat dirinya terkejut. "Jangan sampai Jee, mereka sangat berbahaya." cicit Erza mengingatkan.
"Ckkk,,,, gue juga tahu." decak Jerome.
"Turun. Gue mau pergi." usir Jerome tanpa memberikan penjelasan apapun.
"Jee,,, beritahu gue dulu." desak Erza.
"Turun. Elo bukan orang bodoh." entah ejekan atau pujian yang Jerome lontarkan dari mulutnya untuk Erza.
"Jerome." geram Erza kesal, Jerome malah membuat sebuah teka-teki untuknya. Memberi tahu sesuatu hanya di ujung, tanpa menyelesaikan semuanya. Membuat kepala Erza terasa ingin pecah.
Ponsel Jerome berbunyi. Erza dapat melihat dengan jelas siapa yang menghubungi Jerome. Sahabatnya, Tian.
"Turun." usir Jerome.
Dengan raut wajah kesal, Erza turun dari mobil Jerome. Menendang angin di depannya, meluapkan rasa kesalnya. "Bagaimana Mawar bisa kenal dengan mereka?!" gumam Erza.
"Ada apa Za...??" tanya temannya, saat Erza kembali ke dalam dengan raut wajah frustasi.
"Apa Jerome membuat elo dalam masalah?" tebak yang lain.
Erza menggeleng. "Bukan tentang Jerome." Erza duduk di kursi yang kosong.
"Kalian ingat Mawar?" tanya Erza.
"Perempuan cantik yang elo bawa ke sini?" tebaknya. Erza mengangguk.
"Bukankah perempuan yang sama yang Jerome ingin lindungi?" timpal yang lain.
Erza mengangguk. "Tapi kalian harus ingat. Jangan sampai Jerome tahu jika Mawar pernah gue bawa ke sini." tekan Erza.
Tak ingin ada salah paham di antara dirinya dan Jerome. "Kenapa? Elo takut? Apa, elo juga suka sama Mawar?" tebaknya.
"Ckk,,, bukan. Elo tahu sendiri, betapa berbahaya orang yang lagi cemburu." papar Erza beralasan.
"Iya juga sih." mereka mengangguk pelan, membenarkan perkataan Erza.
"Ada apa dengan Mawar? Tenang, gue akan menjaganya. Buat elo dan buat Jerome." godanya sambil tersenyum.
"Jangan bicara aneh-aneh. Jerome bisa bunuh gue saat ini juga." kesal Erza, yang malah mendapat kekehan dari semua temannya.
"Salah satu di antara mereka ada yang tertarik sama Mawar." jelas Erza tanpa berputar-putar.
__ADS_1
"Mereka. Maksud elo kumpulan sampah itu?!" tebaknya, Erza mengangguk.
"Bagaimana bisa, Mawar kenal dengan orang-orang berbahaya seperti mereka." tukas yang lain.
Melihat sekilas penampilan Mawar dan cara Mawar menatap mereka saat pertama bertemu, mereka dapat menebak jika Mawar tidak pernah terlibat dengan orang-orang seperti mereka.
"Jerome yang bilang. Tapi sialnya, Jerome nggak mengatakan apapun setelah itu. Bedebah." umpat Erza, merasa Jerome ingin bermain-main dengannya.
"Jerome memberitahu elo. Buat apa? Bukankah Jerome suka sama Mawar. Lantas, apa alasannya dia memberitahu elo?" tukas yang lain.
Erza terdiam. Memandang teman-temannya. Berpikir tentang apa yang dipertanyakan oleh salah satu temannya.
Sangat masuk akal. Untuk apa Jerome memberitahukan semuanya pada dirinya. Dia dan Mawar, sama sekali tidak ada hubungan. Malah keduanya terlihat seperti orang asing.
"Ada apa?!" tanya Erza dengan nada membentak, saat semuanya memandang ke satu titik. Yakni dirinya.
"Elo suka sama Mawar." desaknya, ingin Erza mengakui sesuatu.
"Dan Jerome mengetahuinya. Tapi dia tidak bisa melarang elo, karena dia dan Mawar belum ada ikatan. Seperti yang elo ceritakan ke gue."
"Astaga,,, apa yang ada di otak kalian." sungut Erza berang.
"Gue hanya membantu Jerome untuk lebih dekat dengan Mawar. Tak ada hal lain!!" seru Erza meremas rambutnya dengan kasar.
"Terserah." Erza meninggalkan markas dengan perasaan kesal di dadanya.
Jerome memang sengaja memberitahu Erza. Dirinya sadar, jika tidak bisa melindungi Mawar seorang diri. Meski Jerome mempunyai beberapa bawahan yang dapat di andalkan.
Tapi hingga detik ini, Jerome masih belum bisa mempercayai mereka. Sebab semua orang itu adalah pemberian sang papa.
Jalan satu-satunya memberitahu Erza, tanpa menceritakan kebenaran yang tersembunyi di balik semua itu. "Gue bisa lihat dari mata elo, jika elo suka sama Mawar." gumam Jerome tersenyum miring.
"Tapi mungkin elo nggak menyadarinya, sama seperti gue dulu. Bodoh. Elo mungkin hanya berpikir, jika elo merasa penasaran dengan sifat Mawar."
"Tapi untuk saat ini, gue nggak peduli. Keselamatan Mawar lebih penting dari apapun." imbuh Jerome.
Jerome berpikir, ini adalah jalan terbaik yang bisa dia ambil. Dan mengenai perasan lelaki lain untuk Mawar. Jerome tidak peduli.
Dia bisa bersaing untuk mendapatkan hati Mawar. Dan Jerome yakin, dirinyalah yang akan menjadi pemenang, mendapatkan hati seorang Mawar.
Jerome menambah kecepatannya. Melajukan mobilnya ke tempat biasa, dimana dirinya bersama ketiga temannya berkumpul.
Jerome masuk ke dalam, di sambut sodoran amplop berwarna coklat dari Tian. "Ambil." sungut Tian. Luck dan Deren menatap tajam ke arah Jerome.
Dengan santai, Jerome mengambil apa yang diberikan oleh Tian. Duduk di atas kursi empuk dan panjang bersama Luck. Membuka apa yang ada di dalam amplop panjang berwarna coklat tersebut.
Beberapa foto. Itulah benda yang berada di dalamnya. "Dari mana kalian mendapatkannya?" tanya Jerome, menatap bergantian ke arah ketiga temannya.
Jerome tidak mungkin menyangkal. Jika foto tersebut bukan dirinya. Yap,,, di dalam amplop berisikan foto dirinya saat menaiki motor sport yang dibakar oleh sekumpulan orang yang mencarinya.
Namun sayangnya, Jerome sendiri juga sudah tak tahu dimana jejak motor tersebut. Meski dalam foto dirinya mengenakan helm full, menutupi seluruh kepala dan wajah, Jerome tak menyangkal jika itu bukan dirinya.
Pastinya mereka sudah menyelidikinya terlebih dahulu. "Bawahan gue, dia tidak sengaja melihat elo." cicit Luck.
"Elo mau ngikutin jejak Luck!" bentak Tian, melirik ke arah Luck.
Bukannya Tian membenci Luck. Namun jujur saja. Tian mengharapkan agar Luck keluar dari kelompok tersebut.
Namun nyatanya, Luck tidak bisa. Sebab, kelompok motor tersebut didirikan oleh almarhum sang kakak. Dan di saat detik-detik terakhir kematiannya, dia meminta Luck untuk mengambil alih posisinya.
Itulah alasan kenapa Luck tidak bisa meninggalkan kelompok tersebut. Meski itu artinya, dirinya juga dalam bahaya setiap saat.
Namun, semenjak Luck yang memegang kendali. Mereka tidak pernah menampakkan diri secara terang-terangan di hadapan kelompok lain.
Mereka tetap berjalan dengan diam. Hingga tersiar kabar, jika kelompok tersebut bubar. Kenyataannya, mereka tetap ada. Bertindak sembunyi dalam keheningan.
"Elo tahu, itu sangat berbahaya!!" seru Deren membuka suara. "Cukup Luck yang membuat kita ketar-ketir. Elo nggak usah ikut-ikutan." lanjut Deren.
Meski dirinya dan Jerome dalam masa perang meraih hati Mawar. Tetap Deren tetap menganggap Jerome sahabatnya. Terlepas dari apapun itu. Dirinya tidak ingin terjadi apa-apa pada Jerome.
Luck hanya diam. Menyimak perkataan mereka. Jika saja dia mengeluarkan suara, pasti akan disalahkan. Diam, adalah keputusan terbaik.
Luck juga tidak ingin Jerome mengikuti jalannya. Meski apa yang dilakukan sekarang adalah sesuatu yang tidak dia inginkan. Namun harus tetap dia lakukan karena wasiat terkahir sang kakak.
Jerome menghela nafas panjang. "Gue hanya iseng. Cuma itu." Jerome mengucapkan alasan klasik.
"Siapa yang tahu, selain kita?" tanya Deren.
"Erza." katanya singkat.
"Erza." gumam ketiganya bersama.
Jerome tidak menyebutkan nama Mawar dalam pembicaraan mereka. Jerome bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, jika nama perempuan yang kini mengisi hatinya tersebut, dia sebutkan.
Deren pasti langsung akan menghadiahi dirinya bogem. Dan kedua sahabatnya, pasti akan mengutuknya.
__ADS_1
Bukannya Jerome terlalu pengecut. Hanya saja, dirinya tidak ingin suasana semakin rumit. Dirinya akan bercerita, jika memang diperlukan. Dan tentunya di saat yang tepat.