
"Kok nggak ada rame-rame." batin Dona. Jam pulang kerja untuk karyawan butik sudah tiba. Saat ini, mereka semua berada di pelataran parkir depan butik.
Dona berharap akan adegan teriak dan marah-marah. Bahkan tak masalah jika ada yang berbicara kasar dan mengumpat. Pastinya dari pegawai lama sang mama yang ditujukan pada Mawar. Tapi semuanya terlihat adem ayem.
Dona memandang semua pegawai sang mama dengan tatapan heran. "Kenapa dengan mereka?" Mata Dona melihat Amel. Sebab, dirinya masih mengingat jelas. Jika tas yang berada di pundak Amel tersebut yang dia ambil isinya. Lalu dia taruh di dalam tas milik Mawar.
"Apa dia belum menyadarinya." Dona menatap ke arah Amel, mencoba menebak kenapa Amel terlihat biasa saja.
Amel mencoba menahan tawanya. Dia tahu, jika Dona sedang memperhatikannya. Namun Amel sengaja membuang pandangannya ke arah lain, dan hanya tertuju pada Nyonya Utami. "Iya, mungkin dia belum tahu jika dompetnya hilang." batin Dona, mencoba berpikir sesuai dengan apa yang diinginkan.
"Tapi nggak asyik dong, jika dia tahunya di rumah." Dona mencoba membuat rencana, supaya Amel membuka tasnya. Dan menyadari jika ada yang hilang dari dalam tasnya.
Belum sempat Dona membuka suara, Nyonya Utami pamit terlebih dahulu. Membuat rencana Dona gagal total. "Semuanya, saya dan putri saya pulang dulu ya." pamit Nyonya Utami.
"Silahkan bu." sahut mereka serempak.
"Dona, kamu kok malah bengong." tegur sang mama, melihat putrinya seperti sedang kebingungan.
"Ahh,,, iya ma. Mawar saya pulang dulu. Kamu mau sekalian nebeng?" tawa Dona tersenyum.
Padahal dalam hatinya dia sedang mengumpat Mawar. Mengatakan najis jika sampai dia semobil dengan Mawar.
Mawar tersenyum. "Tidak perlu, terimakasih. Sudah ada ojek langganan saya." ucap Mawar. Tentunya berbohong. Mana pernah Mawar memakai ojek. Dia pasti akan lebih memilih naik angkot.
"Baiklah." Dengan senyumnya yang manis, Dona melambaikan tangan. "Hati-hati." ujar Mawar.
Ekspresi wajah Dona berubah seketika saat di dalam mobil. "Bagaimana bisa. Kenapa mereka terlihat baik-baik saja." Dona mengerutkan keningnya.
"Tak apalah. Gue bisa tanya mama besok. Atau, gue ke butik lagi saja. Siapa tahu mereka bertengkarnya besok." batin Dona.
"Ada apa Don?" tanya sang mama, melihat Dona yang sepertinya bingung sejak keluar dari butik.
"Tidak ma, hanya memikirkan masalah pelajaran di sekolah." ucap Dona beralasan.
Santi, Tia, dan Amel tertawa terbahak saat mobil yang dinaiki Dona dan Nyonya Utami meninggalkan butik dan sudah tidak terlihat.
"Elo lihat nggak, ekspresi Dona. Sumpah kayak orang linglung gitu." oceh Amel.
"Benar. Astaga. Pasti dia ngarep banget ada huru hara diantara kita." sahut Tia.
Mawar hanya diam sambil menatap bingung ke arah tiga rekannya. "Lihat Mawar, pasti dia bingung." ujar Santi.
"Ada apa sih mbak?" tanya Mawar penasaran.
Amel menengadahkan telapak tangannya di depan Mawar. "Pinjam tas kamu." pinta Amel.
Mawar masih diam. Terlihat ragu. "Sudah, berikan." timpal Tia.
Mawar menurunkan tas tersebut dari pundaknya. Memberikan pada Amel. Dengan santai, Amel membukanya. "Ini dia."
Amel mengambil sebuah dompet dari dalam tas Mawar. "Loh, itu bukan milik saya mbak." ucap Mawar langsung terheran.
Amel mengembalikan tasnya pada Mawar. "Memang bukan. Orang milik saya." Amel memasukkan dompetnya ke dalam tas miliknya.
Mawar menatap bingung ketiga rekannya. Bagaimana bisa dompet milik Amel bisa masuk ke dalam tasnya. Bahkan dia sendiri tidak tahu. Sejak kapan.
"Sebenarnya ada apa sih. Terus, itu dompet milik mbak Amel, kenapa ada di dalam tas Mawar." ucap Mawar masih terlihat kebingungan.
"Dona yang melakukannya." jelas Santi.
"Dona." cicit Mawar. "Astaga. Tuh anak. Ada aja kelakuannya." lanjutnya.
"Tapi, bagaimana kalian bisa tahu?" tanya Mawar. Sementara dirinya sama sekali tidak tahu apapun.
"Santi yang melihatnya." tukas Amel.
"Ya, beruntung gue melihatnya. Jika tidak...." Santi menghentikan kalimatnya, melihat ke arah Mawar. Pasti mereka akan mengira jika Mawar yang mengambilnya.
"Terimakasih kak. Aku pikir, tadi kak Dona beneran baik. Ternyata." ucap Mawar disertai kekehan kecil.
"Aku malah sempat berpikir jika semua cerita yang kamu katakan pada kami adalah sebuah kebohongan, melihat bagaimana ramahnya Dona pada kamu. Maaf." cicit Santi.
"Oke kak, nggak masalah." sahut Mawar.
__ADS_1
"Kamu harus ingat Mawar. Iblis tidak akan pernah jadi malaikat." celetuk Tia.
"Benar."
Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan mereka. Membuat ketiganya berhenti ngobrol. Mereka semua menatap ke arah mobil di depannya.
Seorang lelaki turun dari mobil. Tampak gagah dengan balutan jas rapi. Dengan senyum tersungging di bibir.
Ekspresi wajah Mawar seketika berubah datar. Melihat siapa yang turun dari dalam mobil tersebut. "Sayang." ucap Wiryo, menatap Mawar dengan lembut.
Mawar segera merubah ekspresi wajahnya. Dia tidak ingin ketiga rekan kerjanya mengetahui apa yang terjadi. "Ayah." sahut Mawar.
"Kenalkan kak. Dia ayah Mawar." Mawar tersenyum sambil memperkenalkan sang ayah.
"Ooo,,, Amel om."
"Santi."
"Tia."
Ketiganya bergantian untuk bersalaman dengan Wiryo. "Wiryo. Ayahnya Mawar." ucap Wiryo memperkenalkan diri.
"Ya sudah, kita pulang." ajak Wiryo pada Mawar.
Mau tak mau, Mawar menurut apa yang Wiryo katakan. Dirinya tidak ingin membuat keributan dan menyebabkan dirinya malu di depan ketiganya.
"Kak, Mawar duluan." pamit Mawar, masuk ke dalam mobil sang ayah.
"Iya, Mawar. Hati-hati."
Ketiganya menatap mobil yang Mawar tumpangi dengan tatapan heran. "Kalian pasti punya pikiran yang sama." tebak Tia.
Santi dan Amel mengangguk bersama. "Tapi, ya sudahlah. Mungkin Mawar ingin belajar mandiri. Makanya bekerja."
"Atau, bisa jadi. Mobil itu masih kredit. Dan Mawar hanya ingin mengurangi beban orang tuanya."
"Bisa jadi."
Di sinilah Mawar dan Wiryo berada. Disebuah restoran yang menurut Wiryo biasa. Karena memang Wiryo sudah terbiasa datang ke tempat seperti ini.
Namun Mawar merasa lebih baik makan di warung, asal bersama orang yang tepat. Dari pada di restoran mewah. Tapi makan dengan orang yang sama sekali tidak dia harapkan.
"Apa kamu suka?" tanya Wiryo, berharap jawaban Mawar dapat membuat dia merasa senang.
"Mawar lebih suka masakan ibu." jawab Mawar dengan ekspresi datar tanpa memandang ke arah sang ayah.
Wiryo tersenyum nanar. Dia melihat raut wajah terpaksa dari Mawar saat duduk. "Mawar tidak ingin ibu menunggu terlalu malam. Lebih baik ayah segera mengatakan, mengapa mengajak Mawar makan di sini?"
Sebelumnya, saat masih di dalam mobil Mawar memberi pesan tertulis pada sang ibu. Mengatakan jika dirinya akan terlambat pulang. Karena butik masih sedikit ramai.
Bukan tanpa alasan Mawar mengatakan hal tersebut. Sebab sang ibu bekerja shift siang. Itu artinya saat ini sang ibu sudah berada di rumah. Menunggu kepulangannya.
Perbincangan singkat mereka terhenti saat beberapa pelayan datang. Dan menghidangkan beberapa macam makanan dan minuman.
Mawar tersenyum samar. "Terimakasih." ucap Wiryo pada para pelayan tersebut. Mereka sedikit mengangguk dan segera meninggalkan meja tersebut.
"Sebaiknya kita makan terlebih dahulu." ajak Wiryo pada sang putri.
Tanpa membuang-buang waktu, Mawar segera makan hidangan yang ada di atas piring dengan cepat.
Seperti yang biasanya, makanan yang di sajikan di atas piring di sebuah restoran. Pasti makanannya hanya sedikit. Namun cukup enak dan lezat.
Tak membutuhkan waktu lebih dari sepuluh menit untuk Mawar menghabiskan beberapa piring di atas makanan.
Wiryo hanya menghela nafas melihat apa yang dilakukan oleh sang putri. Bahkan Mawar sama sekali tidak peduli dengan beberapa orang di sekitar mereka yang menatapnya dengan tatapan remeh dan jijik.
Dia hanya ingin segera pergi dari tempat ini. Lagi pula, Mawar juga tidak akan kenyang. Meski makan beberapa piring. Karena memang porsinya yang hanya beberapa sendok.
"Katakan. Saya sudah selesai makan. Bahkan anda bisa melihat. Saya menghabiskan beberapa jenis makanan di atas piring yang berbeda." sinis Mawar.
Wiryo mencoba menahan emosinya. Jika dengan Caty saja dia bisa menahan emosi. Dia juga akan melakukan hal yang sama pada putrinya.
Wiryo langsung bertanya ke intinya. "Kenapa kamu bekerja?" tanya Wiryo.
__ADS_1
Mawar memandang dirinya tajam dan dingin, tampak ada senyum di bibir Mawar. Namun seutas senyum yang menyepelekan.
Dada Wiryo terasa nyeri. Bukan. Dia buka Mawar. Dia bukan putri kecilnya yang dulu. Dengan singkat dan cepat, Mawar berubah menjadi sosok yang lain. Yang bahkan dia sama sekali tidak mengenalnya.
"Lantas, menurut anda, apa yang harus saya lakukan. Berhenti dari sekolah?" tanya Mawar tegas.
Mawar tersenyum miring. "Dulu, ada seseorang yang mendesak dan menyuruh saya untuk memasuki sekolah tersebut. Meski biayanya sangat mahal. Dan saya, akan mewujudkan mimpinya." sindir Mawar.
Bukan. Bukan perbincangan seperti ini yang Wiryo inginkan. Dia ingin berbincang dengan Mawar yang lugu, polos, ramah, sopan, dan tentunya Mawar yang selalu tersenyum hangat.
"Jika tidak ada lagi yang ayah katakan dan ayah tanyakan. Lebih baik Mawar segera pulang." pungkas Mawar.
"Kenapa kamu tidak meminta uang pada ayah?" perkataan itu akhirnya terlontar dari bibir Wiryo.
Mawar terkekeh pelan. Dirinya tidak ingin menjadi pusat perhatian dari para pengunjung lainnya. Mencoba menahan emosinya agar tidak membuncah.
"Meminta. Bukankah kewajiban seorang ayah memberikan nafkah untuk anaknya. Untuk apa Mawar harus meminta." ucap Mawar tajam.
Perkataan Mawar bagai pisau tajam yang menusuk ke dalam rongga paru-paru Wiryo. Sangat menyesakkan. "Maaf, sepertinya sudah terlalu lama saya berada di sini."
"Mawar, berhentilah bekerja. Ayah akan membiayai kamu." pinta Wiryo, ingin membuat kesepakatan dengan Mawar.
Mawar tersenyum geli. Permintaan yang terdengar lucu di telinga Mawar. "Astaga, itu memang sudah kewajiban anda Tuan." tekan Mawar.
"Tapi maaf, saya bukan anak kecil yang bisa di atur lagi. Saya mempunyai keinginan dan kemauan. Dan saya akan melakukan apa yang saya inginkan." lanjut Mawar.
Mawar melirik ke arah ponsel sang ayah yang terus menyala sedari tadi. Meski tidak bersuara. Tampak ada panggilan sayang dan emoji cinta di layar tersebut. MY LOVE ❤️
Dan Mawar yakin dia adalah calon ibu tirinya. "Juga, sebaiknya ayah tidak perlu membawakan apapun untuk Mawar. Sedari kecil, Mawar terbiasa memakai barang murahan. Kulit Mawar pasti akan sensitif memakai barang mahal."
Wiryo tahu, ke mana arah perkataan Mawar. Wiryo ingin membuka mulutnya, namun lagi-lagi Mawar mendahuluinya. "Sebaiknya ayah segera pulang. Sepertinya calon ibu tiri Mawar sangat khawatir pada ayah." Mawar tersenyum sinis.
Mawar berdiri dari duduknya. "Mawar tunggu undangan pernikahan ayah dan dia."
Mawar mengambil tas yang dia taruh di kursi sebelahnya. Dan berjalan keluar restoran. Wiryo menatap punggung sang putri dengan tatapan sayu.
Wiryo tidak mencegah kepergian Mawar. Ada rasa yang tidak dapat digambarkan dalam hati Wiryo. Rasa yang sangat sakit.
Wiryo merasa Mawar sekarang sangat berubah. Dia merasa, Mawar meletakkan duri di sekitarnya. Hingga tidak akan ada yang bisa menyentuhnya. Termasuk dirinya.
Tatapan Mawar, cara bicara Mawar, langkah Mawar. Bahkan semuanya berubah. Aura yang Mawar pancarkan tentu saja bisa mengintimidasi lawan bicara.
Wiryo meraup wajahnya kasar. "Apa sebegitu besar, dampak perceraian aku dengan Lina untuk Mawar." gumam Wiryo.
Tanpa Wiryo sadari. Mawar menyimpan kekecewaan yang besar karena pengkhianatannya. Rasa kecewa yang berubah menjadi besi pembatas antara dirinya dan sang putri.
"Seharusnya, Mawar bisa mengerti. Kenapa kami bercerai. Kenapa Mawar malah bersikap seperti itu." gumam Wiryo sama sekali tak merasa bersalah.
Di belakang Wiryo, tampak seorang remaja lelaki mengeratkan genggamannya. Dirinya memang sengaja berada di tempat tersebut.
Malam ini, Jerome menggantikan sang papa untuk menghadiri undangan jamuan makan malam bersama rekan bisnis sang papa bersama keluarganya yang berasal dari luar negeri.
Karena sang papa yang berada di luar kota tak bisa memenuhi undangan tersebut, beliau memutuskan untuk Jerome mewakilinya. Mengingat jika besok rekan bisnisnya akan kembali bertolak ke negaranya.
Beberapa meit yang lalu, mata Jerome memandang sosok yang baru datang. Mawar dan Wiryo. Segera Jerome mengalihkan pandangan ke arah lain.
Berharap Mawar tidak akan melihatnya. Beruntungnya Jerome, ternyata mereka berdua memilih untuk duduk tepat di meja belakang tubuhnya.
Membuatnya dengan leluasa mendengar apa yang dikatakan oleh Mawar dan Wiryo.
Saat rekan kerja sang papa memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, Jerome mempersilahkan. Sementara dirinya beralasan masih ingin menghabiskan waktu di sini.
Padahal nyatanya, Jerome hanya ingin mencuri dengar pembicaraan antar anak dan ayah tersebut.
Jerome segera bangkit dari duduknya. Mengejar Mawar yang sudah keluar daei restoran. Di area parkir. Pandangan Jerome menyapu sekeliling. Berharap Mawar masih ada di sekitar dia berada.
Jerome terdiam. ''Seharusnya Mawar pergi ke arah sana." tebak Jerome. Karena memang ke sanalah raha jalan pulang untuk Mawar menuju rumahnya.
Segera menaiki motornya dan mencari Mawar. Dia yakin, meski Mawar berkata sangat dingin dan terlihat baik-baik saja di depan ayahnya.
Namun Jerome yakin, ada perasaan sedih di hati Mawar. "Aku tidak menyangka, kamu mempunyai beban yang begitu berat."
Jerome mengendarai motornya perlahan. Dengan pandangan menatap kanan kiri. Berharap dia menemukan Mawar.
__ADS_1
Jerome melihat seorang perempuan duduk di kursi panjang yang terletak di trotoar. Dan dia adalah Mawar.
"Mawar." panggil Jerome, menghentikan motornya tepat di depan Mawar.