
Ditengah perjalanan, Mawar tak sengaja melihat motor yang sama persis dengan motor milik kekasih dari Amel.
Dan saat ini mobil yang ditumpangi oleh Mawar sedang berhenti di perempatan jalan karena lampu lalu lintas yang menyala berwarna merah.
Mobil Mawar dari arah barat, sementara orang yang Mawar tebak adalah kekasih Amel juga sedang berhenti, namun dia berada di sebelah utara.
"Benar, dia kekasihnya mbak Amel." gumam Mawar, menajamkan penglihatannya, tanpa membuka kaca mobil.
Orang tersebut membuka helm di bagian wajahnya. Sehingga Mawar dapat melihat sebagian mukanya, meski tidak sepenuhnya.
Mawar semakin yakin jika dia adalah kekasih Amel. "Siapa perempuan itu?" tanyanya lirih dalam hati.
Menerka siapa perempuan yang sedang diboncengnya, tampak melingkarkan kedua tangannya diperut sang lelaki. Terlihat begitu mesra.
Tapi yang pasti, dia bukan Amel. Beruntung, Mira dan Selly sudah terlelap dalam tidurnya. Sehingga Mawar tidak akan ditanya-tanya saat dirinya fokus kearah tersebut.
Mawar tetap melihat ke arah mereka. Ingin melihat secara jelas wajah si perempuan. Mobil Mawar, kembali berjalan, karena lampu lalu lintas berwarna hijau.
Sedangkan kekasih dari Amel masih berhenti. Hal tersebut malah menguntungkan untuk Mawar. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Mawar melihat dengan intens, wajah perempuan yang dibonceng itu.
Perilaku Mawar mampu membuat pak sopir yang melihat dari kaca pantau di depannya merasa penasaran. "Ada apa Non?" tanyanya pada Mawar tanpa menoleh.
"Hemmm,,,, eh,,, nggak pak. Kayak kenal saja." ucap Mawar beralasan.
Mawar mencari posisi ternyaman. Lalu memejamkan kedua matanya karena perjalanan masih lumayan jauh.
Namun otaknya tetap memikirkan Amel. Apalagi, semalam Santi dan Tia datang ke rumah dan menceritakan jika ada yang aneh lada diri Amel.
"Sudahlah. Gue juga nggak boleh terlalu ikut campur urusan orang." ucap Mawar dalam hati memutuskan.
Bukannya Mawar tidak peduli. Kenyatannya, Mawar masih meras trauma dan ngeri saat melihat mereka. Semua memori yang terekam jelas dalam ingatannya kembali berputar.
Mengingat bagaimana mereka memukuli Jerome di tepi jalan. Tetap mencari Jerome beramai-ramai. Hingga aksi anarkis mereka membakar sepeda motor milik Jerome.
Setelah menempuh empat jam perjalanan, Mawar dan kedua sahabatnya sampai di rumah nenek Mira. Ketiganya di sambut dengan senyum oleh sang nenek.
Tak lupa, mereka mencium punggung nenek Mira secara bergantian, menunjukkan rasa hormat pada orang yang umurnya jauh di atas mereka.
Nenek Mira selama ini hanya hidup bersama beberapa orang pembantu. Lantaran sang suami telah berpulang lebih dulu.
Sebenarnya, mama Mira menginginkan beliau untuk tinggal bersama dengannya. Namun beliau menolak. Beralasan jika tidak bisa meninggalkan rumahnya yang sudah dihuni berpuluh-puluh tahun bersama mendiang sang kakek.
"Antarkan mereka ke kamar untuk istirahat lebih dulu, sebelum makan siang." perintah nenek pada pembantu di rumahnya.
"Baik Nyonya."
"Nek, kami pamit dulu ke kamar." pamit Mawar.
Mira masih memeluk sang nenek dari samping, sementara Selly berdiri di samping Mawar, tersenyum memandang ke arah sang nenek.
"Iya, pasti kalian juga lelah." Nenek mencium dahi Mira, dan melepaskan pelukan mereka. "Istirahatlah."
Ketiganya masuk ke dalam kamar berukuran besar dengan satu ranjang super besar. Sebelum datang, Mira mengatakan pada sang nenek, jika dirinya dan kedua sahabatnya akan tidur dalam satu kamar.
Alhasil, salah satu kamar langsung disulap seperti ini. Dengan perabotan yang juga lumayan besar. Bertujuan supaya muat untuk menampung barang ketiga gadis tersebut.
"Astaga..." kedua mata Mawar membuat kagum dengan apa yang dia lihat.
"Gue juga nggak nyangka, nenek bakal siapin semua ini." cicit Mira terkejut, apa yang dipikirkannya melebihi ekspetasinya.
"Bukan elo yang nyuruhkan?" tanya Selly, lebih tepatnya menuduh Mira.
Mira segera menggeleng. "Enggak. Bukan gue." jelas Mira.
Mata Mawar melihat sekeliling kamar yang bahkan seluas rumahnya. "Satu kamarnya saja seluas rumah gue. Orang kaya memang beda." gumam Mawar.
"Gue cuma bilang, kalau kita bertiga akan tidur dalam satu kamar. Itu saja." papar Mira, yang berniat tak ingin terlalu merepotkan orang di rumah sang nenek.
Tapi siapa yang menyangka, jika dirinya dan kedua sahabatnya malah akan mendapatkan semua fasilitas ini. Tapi tak apalah. Mira akan menikmatinya bersama kedua sahabatnya.
"Pantas." gumam Selly, karena Mira mengatakan sekamar tiga orang.
Perhatian ketiganya teralihkan saat mendengar suara salah satu pembantu yang membantu mereka membawakan tas milik ketiganya.
"Maaf Nona, ini ditaruh di mana?"
"Biarkan saja di situ. Nanti kami sendiri yang akan membereskannya dam memasukkan ke dalam almari." perintah Mira.
"Baik kalau begitu Nona. Kami permisi dulu, jika butuh sesuatu, anda bisa memanggil kami." tuturnya dengan kata yang sopan.
Mira dan kedua temannya mengangguk disertai senyuman kecil.
"Gila, ini sih namanya gedung mewah." cicit Mawar takjub, ternyata nenek Mira segitu kayanya.
Mawar berdiri di samping jendela, memandang keluar. Dimana ada sebuah taman indah yang luas. Ditata dengan sangat rapi, dan juga terdapat kolam renang di dalamnya. "Indah sekali." gumam Mawar.
Mawar memandang jauh ke depan, dimana ada hamparan tanaman berwarna kuning. "Apa itu?" tanya Mawar.
__ADS_1
"Padi." seru Mira menjawab perkataan Mawar seraya memasukkan pakaiannya ke dalam lemari.
Mawar langsung menoleh ke arah Mira. "Ini musim panen padi. Kamu tadi lihatkan, disepanjang jalan. Banyak orang memanen padi di sawah." cicit Mira.
Mawar mengangguk. Kembali mengarahkan pandangan keluar kembali. Sementara Selly, sudah memeluk guling erat dengan mata terpejam.
Padahal, diperjalanan mereka banyak menghabiskan waktu untuk tidur.
Mawar menguap. Merentangkan tangannya, jujur saja. Badannya juga terasa capek. "Tidur saja dulu. Nanti gue susul." timpal Mira.
"Aku hampir lupa, belum memberitahu ibu." Mawar segera mengambil ponselnya, memberi pesan pada sang ibu jika mereka sudah sampai tujuan dengan selamat.
"Sekalian mama sama mamanya Selly." perintah Mira pada Mawar.
"Iya Tuan Putri." cicit Mawar melakukan apa yang didinginkan Mira.
Memberitahu mama Mira dan mama Selly jika mereka sudah sampai di rumah nenek dengan selamat.
Selesai, Mawar menyusul Selly yang sudah tertidur lelap. "Dasar kebo." gumam Mawar, melihat Selly sudah masuk ke dalam mimpi.
Di bawah, nenek bertanya pada pembantu yang mengantar ketiga gadis tersebut ke dalam kamarnya. "Non Mira mengatakan jika akan menata sendiri pakaiannya di dalam lemari Nyonya."
Sang nenek tersenyum. Sebab, beliau merasa ada perubahan besar pada sang cucu. Lebih dewasa dan tak lagi main suruh dan manja.
Mira dan Selly memang berasal dari keluarga kaya. Meski begitu, keduanya sama sekali tidak dididik untuk bersikap manja dan melakukan sesuatu sesuka mereka. "Ada lagi?" tanya beliau.
"Tidak ada Nyonya. Tapi menurut saya, kedua teman Non Mira adalah gadis yang sopan dan baik." lanjutnya, menilai Selly dan Mawar.
Nenek Mira mengangguk setuju. Dirinya juga sudah mendapat laporan dari sang anak. Yakni mama Mira. Tentang bagaimana Selly dan Mawar.
"Kalian boleh meneruskan pekerjaan kalian. Jangan lupa, siapkan makan siang untuk mereka."
"Baik Nyonya."
Beliau merasa lega, sang cucu menemukan teman yang baik. Sehingga dirinya tidak perlu begitu cemas akan pergaulannya.
Di sebuah salon mahal, ketiga gadis sedang menjalani perawatan rambut. Mereka duduk dengan santai, dengan pegawai salon melayani keinginan mereka.
"Senangnya. Sebentar lagi gue akan kembali lagi ke sekolah." cicit Gaby. Memejamkan kedua matanya. Menikmati pijatan pada kepalanya.
"Elo nggak ngajak Siska?" tanya Weni, yang juga sedang dipijit kepalanya oleh pegawai salon.
"Jangan pernah menyebut namanya. Gue muak mendengarnya." seru Gaby langsung membuka kedua matanya.
Bukannya belajar, Dona dan Weni malah pergi ke salon begitu pulang dari sekolah. Mereka beralasan ingin menyegarkan pikiran, karena besok mereka akan mengerjakan soal ujian lagi.
"Ceritakan?" pinta Dona dengan nada terdengar angkuh.
"Apa ancaman elo sudah tidak mempan?" cibir Weni.
"Gue dengar, perusahaan bokap Siska sekarang bekerja sama dengan perusahaan asing. Sehingga dia sudah tidak bekerja sama dengan om Djorgi." timpal Dona, sedikit tahu.
Gaby hanya diam. Terlihat ekspresinya menahan kesal saat menceritakan Siska. "Pantas saja, dia berani bertingkah." sahut Weni.
"Elo harus ingat Gab, gue dan Weni nggak akan lagi sekolah di sana. Paham maksud gue." ujar Dona mengingatkan.
"Hemm..." jawab Gaby dengan malas. "Karena memang itu yang gue tunggu." Gaby tersenyum senang dalam hati.
Selama setahun dirinya menahan perasaan kesal karena terus disetir oleh Dona. Dan inilah saatnya, Gaby akan menjadi penyetir, tanpa ada yang membantah.
"Gue akan cari anggota baru. Tenang saja." ujar Gaby santai.
Dona memandang Gaby dengan tajam. "Elo terlihat senang." tuduh Dona, menuduh Gaby senang akan ketidak adaannya di sekolah.
Weni tersenyum samar. Dirinya sangat tahu apa yang ada di dalam otak Gaby saat ini. Tapi masa bodo. Dia tak peduli.
Weni sudah mencari tahu, Deren akan kuliah universitas mana. Tentu saja, Weni akan mengekor. Mengikuti kemanapun Deren pergi.
Sumpah. Memuakkan. Padahal Weni juga tahu, jika Deren tidak pernah menganggapnya. Melihatnya saja tidak.
Tapi memang Weni tipe perempuan seperti Dona. Muka tebal. Mereka akan tetap menaruh keberuntungan. Siapa tahu keberuntungan tentang jodoh berpihak pada mereka.
"Dona. Elo jangan salah paham. Gue nggak senang. Gue juga nggak sedih. Elo pergi, perasaan gue biasa. Apa perlu, elo tetap sekolah di SMA lagi." sarkas Gaby.
Gaby mulai berkata sedikit jutek pada Dona. Padahal, sebelumnya Gaby hanya akan menahan rasa kesalnya di dalam dada. Tanpa berani mengatakan apapun.
Melihat suasana serasa panas, Weni segera mengalihkan topik pembicaraan mereka. Bisa-bisa dirinya yang akan jadi tumbal dari pertengkaran mereka. "Don, elo mau mengambil universitas di mana?" tanya Weni.
"Kenapa mesti tanya. Elo tahu jawabannya." sahutnya dengan sinis. Hatinya masih panas karena ucapan dari Gaby.
"Benarkan." tebak Weni dalam hati, jika dirinya akan terkena imbas dari pertengkaran mereka yang menurutnya tidak berguna tersebut.
"Gue denger, Jerome masih bimbang. Ada yang bilang kuliah ke luar negeri. Tapi ada yang bilang tetap stay di sini." jelas Weni.
Sebenarnya Weni juga muak pada Dona. Namun dirinya tidak punya cara lain, selain menjilat pada Dona. Perusahaan sang mama masih sangat tergantung dengan perusahaan papa Dona.
Semua berawal dari perusahaan milik keluarganya yang hampir gulung tikar. Menyebabkan papa Weni meninggal karena terkena serangan jantung.
__ADS_1
Papa Dona datang, dan menawarkan bantuan. Alhasil, hingga sekarang perusahaan yang dikelola oleh mama Weni masih bergantung pada perusahaan papa Dona.
Membuat dirinya harus bisa mengontrol diri dan emosi. Weni tidak ingin, perkataannya yang tak terkendali akan membuat keluarganya hancur.
Yang otomatis, dirinya juga akan kesulitan. Mana mungkin Weni mau hidup sengsara tanpa uang. Tidak akan bisa.
"Elo tahu dari mana?" tanya Dona, padahal dirinya saja belum tahu, kemana Jerome akan meneruskan pendidikannya.
Dona meminta tolong pada Jihan, untuk menanyakan kemana sang kakak akan meneruskan pendidikannya.
Tapi hingga detik ini, tak ada kabar apapun dari Jihan. Ingin sekali Dona bertanya pada Nyonya Meysa, mama dari Jerome dan Jihan.
Tapi Dona masih enggan. Apalagi dirinya belum tahu nilai yang akan didapatnya. Dirinya tidak ingin malu terlebih dahulu.
Mengingat jika Jerome pasti akan masuk ke universitas yang mentereng. Karena memang otak Jerome yang juga encer.
"Cuma denger-denger dari anak-anak saja sih." jawab Weni.
Dona terdiam. Tak lagi menyahuti atau bertanya pada Gaby ataupun Weni. "Bagaimanapun caranya, gue akan masuk ke universitas di mana Jerome berada." ucapnya dalam hati.
Gaby tersenyum samar dengan kedua mata terpejam, menikmati rasa nyaman karena kepalanya dipijat dengan lembut.
"Semoga elo dan kak Jerome nggak satu universitas. Dengan begitu, gue akan lebih leluasa mendekati kak Jerome tanpa halangan. Dan tanpa harus mencari alasan." ucap Gaby dalam hati.
Di tempat kerja bu Lina, sebagian karyawan toko sedang beristirahat untuk makan siang. Karena memang toko selalu buka. Sehingga mereka akan bergantian saat waktu istirahat datang.
"Bu, dipanggil Tuan Djorgi." ucap Adi.
Bu Lina, masih linglung dengan apa yang dikatakan oleh Adi. Apalagi dirinya sedang menikmati makan siang yang memang disediakan oleh toko tempatnya bekerja.
"Bu..." panggil Adi lagi, karena bu Lina malah memandang ke arahnya.
"Sekarang Adi?" tanya Bu Lina, sementara makanan di tangannya masih tersisa separuh lebih.
"Iya bu."
"Sudah bu, ke makannya dilanjutkan nanti saja. Sekarang ibu segera ke ruangan Tuan Djorgi." saran rekan kerjanya.
Bu Lina mengangguk. "Sebentar, saya bersihkan tangan saya dulu." izinnya pada Adi.
"Silahkan. Tapi saya tinggal ya bu, nanti ibu masuk saja ke ruangan Tuan Djorgi." jelas Adi.
Bu Lina mengangguk sembari mencuci tangannya. Minum air putih beberapa teguk, lalu melakukan apa hang diinginkan pemilik toko kue.
Tok,,, tok,,, Bu Lina tetap mengetuk pintu, meskipun Adi mengatakan agar dirinya langsung masuk ke dalam.
Bu Lina juga tahu, mana yang baik dan tidak. Apalagi masuk ke dalam ruangan atasan. Mana mungkin dia langsung nylonong tanpa sopan.
Sementara dirinya selalu mengajarkan pada sang putri untuk bersikap sopan dan santun pada siapapun dan dimanapun.
"Masuk..!!" terdengar suara Tuan Djorgi dari dalam.
"Permisi Tuan. Pak Adi mengatakan jika anda menyuruh saya ke sini." jelas Lina, menyebutkan nama Adi dengan embel-embel pak, sebab di depan Tuan Djorgi.
Djorgi berisi dan beralih tempat duduk. "Silahkan duduk." Djorgi menggerakkan tangan pelan, menyuruh Lina duduk di kursi yang sama dengannya.
"Terimakasih Tuan."
Lina duduk di kursi yang sama dengan Djorgi. Namun dirinya duduk diujung kursi. Jauh dari tempat Djorgi duduk.
Djorgi menghela nafas panjang. Sebenarnya dia tidak ingin menanyakan hal ini pada Lina. Namun perasaannya tetap tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganggunya.
"Kenapa kamu mengatakan pada saya, jika kamu masih mempunyai suami?" tanya Djorgi langsung ke intinya.
Lina sama sekali tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan semacam ini. Dia mengira jika Djorgi memanggilnya untuk mengatakan masalah pekerjaan bukan tentang urusan pribadi.
"Maksud Tuan?" cicit Lina.
Djorgi menyenderkan badannya. Mengangkat sebelah kakinya untuk bertumpu di kaki satunya lagi. Menatap lamat-lamat ke arah Lina.
"Saya hanya ingin karyawan yang jujur." tekannya. Seperti memberi sebuah peringatan pada Lina.
Nyatanya, apa yang diucapkan Djorgi hanyalah sebuah alasan untuk mengetahui kenapa Lina berbohong.
Lina tersenyum kaku. Kepalanya menunduk ke bawah. Menatap ke ujung sepatu yang dia gunakan. Tak berani mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Djorgi. Dengan tangan memillin ujung kemejanya.
Djorgi tersenyum samar melihat tingkah Lina yang menurutnya lucu dan menghiburnya. "Khemmm..." dehem Djorgi, tak segera mendengar perkataan stau penjelasan dari Lina.
"Saya baru bercerai. Belum genap dua bulan. Dan maaf, status di kartu identitas saya masih kawin. Karena memang saya belum sempat mengubahnya." jelas Lina jujur.
"Hanya itu?" tanya Djorgi merasa apa yang dijelaskan Lina kurang memuaskan untuk dirinya.
"Iya Tuan." cicit Lina.
Hening. Beberapa detik, tak ada yang mengeluarkan suara. Baik Djorgi ataupun Lina. Perlahan, Lina memberanikan diri mengangkat kepalanya, menatap ke arah Djorgi.
Segera Lina mengalihkan pandangannya, karena ternyata Djorgi juha sedang menatapnya dengan intens.
__ADS_1
"Kenapa Tuan meski bertanya pada saya. Padahal Tuan tahu yang sesungguhnya." ucap Lina lirih, tersenyum kecut.
Djorgi segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hatinya terlalu lembut untuk melihat ekspresi Lina yang sedih.