MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 111


__ADS_3

Seperti dugaan Mawar, kedua temannya, Mira dan Selly sudah menunggunya di teras rumah. Duduk di kursi yang memang sudah tersedia di sana.


Keduanya menajamkan pandangan mereka saat sebuah mobil berhenti di belakang mobil milik Selly. Mata mereka membulat, melihat siapa yang turun dari dalam mobil tersebut. Mawar dan Jerome.


"Mampir dulu kak." ajak Mawar. Jerome mengangguk. Sembari berjalan di samping Mawar. Tentu saja Jerome tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk terus berdekatan dengan Mawar.


"Mawar dan kak Jerome. Bagaimana bisa?" lirih Mira terheran. Selly memandang ke arah Mira. Pikirannya sama dengan apa yang ada dalam benak Mira.


"Kalian sudah lama?" tanya Mawar, saat dirinya dan Jerome berada di depan teras.


"Belum." jawab Selly singkat, dengan pandangan menelisik kepada kedua anak manusia yang baru saja datang bersama.


Mawar mengajak semuanya masuk. "Duduk dulu, biar aku ambilkan minum."


Segera Mawar pergi ke dapur. Membuat tiga gelas air minum. "Minum dulu." Mawar menurunkan tiga gelas air minum di atas meja. Untuk Jerome, Mira, dan Selly.


Mira dan Selly memandang intens ke arah Jerome dan Mawar secara bergantian. "Iya, akan aku jelaskan. Kalian menatap ku seperti seorang tersangka kriminal saja." ujar Mawar disertai kekehan kecil. Tahu arti dari tatapan kedua temannya tersebut.


Mawar duduk di kursi paling ujung. Berdekatan dengan Selly. "Semalam aku menginap di tempat kos mbak Santi. Tadi saat mencari angkot di jalan, ada kak Jerome. Bareng saja sekalian." jelas Mawar, tentu saja berbohong.


"Menginap di sana. Memang ada apa?" tanya Selly menyelidik.


Sangat tumben sekali seorang Mawar mau menginap di tempat orang lain. Terlebih mereka baru kenal sekitar tiga bulan.


Menginap di rumah Mira dan Selly saja yang sudah kenal lama, tidak pernah.


"Sebuah kebohongan, pasti akan diikuti kebohongan lainnya." batin Mawar, yang sudah memikirkan alasan selanjutnya untuk melanjutkan kebohongan pertamanya.


"Nggak ada ojek atau angkot yang lewat. Semalam pulang agak malam. Nggak seperti biasanya." papar Mawar.


"Kenapa elo nggak telepon kita saja." ujar Mira.


"Nggaklah, sudah malam juga. Pasti malah ngrepotin. Nanti ujung-ujungnya yang ada bukan kalian yang jemput aku. Tapi sopir keluarga kalian." sahut Mawar.


"Ya nggak apa-apa."


"Oh,,, iya. Kalian dari mana? Atau, mau ke mana?" tanya Mawar, segera mengalihkan pembicaraan. Dirinya tidak ingin terlalu banyak berbohong pada kedua temannya tersebut.


Mira dan Selly saling pandang. "Tapi ada kak Jerome." bisik Mira pada Selly. Seolah mereka ingin mengatakan sesuatu yang privasi. Dan hanya mereka bertiga yang boleh mengetahuinya.


"Hey,,, malah bisik-bisik." tegur Mawar, merasa diacuhkan oleh Mira dan Selly.


Padahal Mawar bergegas pulang untuk bertemu dengan mereka. Dan satu lagi, ini adalah rumah Mawar.


Sementara Mira dan Selly adalah tamu. Tapi Mira dan Selly malah mengacuhkan keberadaan Mawar.


Jerome sadar, jika baik Mira maupun Selly sedari tadi melirik ke arah dirinya. Seolah Jerome seorang pengganggu di sekitar mereka. Ada ekspresi tak percaya pada raut wajah keduanya.


"Jika gue menganggu. Gue akan pulang." ketus Jerome tanpa ekspresi di wajahnya.


Mawar melotot ke arah Mira dan Selly. "Gue nggak enak. Tadi kak Jerome udah ngasih tumpangan." bisik Mawar pads Selly yang duduk di sampingnya.


"Benar juga." batin Selly. Yang juga tahu jika Mawar pulang diantar oleh Jerome.


Jerome berdiri dengan wajah dingin. Sungguh, dia sangat jengah dengan Mira dan Selly. Niat hati ingin berlama-lama memandangi wajah Mawar pupus sudah karena ulah mereka berdua.


"Kak Jerome, maaf. Kita nggak bermaksud tidak sopan. Tapi, yang kita akan bicarakan mungkin adalah sebuah emmm,,,,, hal buruk." cicit Selly.


"Benar. Kita mau membuka aib orang." timpal Mira.


Mawar maupun Jerome merasa mereka berdua terlalu bertele-tele dan malah berputar-putar. Tak langsung mengatakan apa yang ingin mereka katakan.


"Kalian ini. Cepat katakan." sungut Mawar kehilangan kesabaran. Dan Jerome kembali duduk.


"Tadi pagi, Selly melihat papa Dona dan mama Weni." ujar Mira.


Mawar memejamkan kedua matanya sebentar. "Oke, lalu?"


Mawar menganggap perkataan Mira adalah hal biasa. Bahkan setiap hari dia juga melihat mama dari Dona. Lantas apanya yang rahasia.


"Mereka masuk ke sebuah restoran bersama." papar Selly.


Jerome dan Mawar saling pandang, meski sekilas. Keduanya bereaksi biasa. "Kalian sudah tahu?" tanya Selly.

__ADS_1


"Selly,,,, terus,,,,, astaga. Apanya yang penting. Mama Weni, makan bersama dengan papa Dona. Ya,,,, biasa saja. Lagian, bisa jadi mereka membahas pekerjaan." kesal Mawar, perkataan dari kedua temannya sama sekali tidak berbobot.


"Beda Mawar. Mereka terlihat mesra." timpal Selly. "Gue punya videonya." lanjut Selly, mengambil ponsel miliknya. Memperlihatkan kemesraan kedua orang dewasa tersebut pada Mawar.


Dengan seksama, Mawar melihat video tersebut. Lalu Mawar menyerahkan pada Jerome, untuk Jerome lihat.


"Elo kirim ke Mawar. Biar nanti di kirim ke nomor ponsel gue." tutur Jerome, mengembalikan ponselnya pada Selly.


Selly hanya memutar kedua matanya dengan malas. Kenapa harus berputar-putar, hanya mengirim sebuah video saja. "Calon bucin." batin Selly.


"Elo kenapa Mawar?" tanya Mira, yang melihat ekspresi sendu dari Mawar.


"Jika benar, bagaimana dengan Bu Utami dan kak Dami." ucap Mawar.


"Kenapa kamu memikirkan mereka. Itu urusan mereka." celetuk Jerome.


Mira mencebikkan bibirnya mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Jerome. "Bilang saja cemburu. Mawar memikirkan kak Dami." batin Mira.


"Mereka berdua orang baik. Selama bekerja di butik, bu Utami memperlakukan karyawan di sana dengan cukup baik. Begitu juga kak Dami."


Suasana seketika hening. Mawar tersenyum kecut. Lagi-lagi perselingkuhan. Keluarganya juga hancur karena kata keramat tersebut.


Segera Selly mengalihkan pembicaraan mereka. Dia tahu apa yang sekarang bercongkol di benak Mawar. "Hey,,, bagaimana jika kita jalan-jalan. Mumpung hari minggu." ajak Selly.


"Benar. Mumpung kita kumpul. Ayolah Mawar.... Kita sudah lama tidak jalan-jalan bersama." timpal Mira.


"Kak Jerome juga boleh ikut kok." Mira dan Selly menatap Mawar seperti seorang anak kelinci yang menginginkan sebuah wortel.


Begitu juga dengan Jerome. Dia sangat berharap Mawar akan mengatakan iya dan setuju atas usul kedua temannya. "Biar aku hubungi Tian dan Luck sekalian. Semakin rame, bukankah semakin bagus." timpal Jerome.


Alasan Jerome memang tepat. Makin rame makin bagus. Kenyataannya, bukan itu yang ada dipikiran Jerome.


Dia akan mempergunakan kedua temannya untuk mengajak Mira dan Selly berpisah dengan dirinya dan Mawar. Sehingga dia hanya akan berduaan dengan Mawar.


Betapa senangnya hati Jerome. Setelah semalam dia bisa melihat wajah Mawar. Dan sekarang, sehari penuh dia juga akan bersama dengan Mawar.


"Setuju." seru Mira dan Selly bersama. Tanpa mereka berdua sadari. Kehadiran Tian dan Luck malah akan mengacaukan kepergian mereka.


"Baiklah. Tapi tunggu sebentar. Aku akan berganti pakaian." Mawar akhirnya pasrah dan mengikuti keinginan mereka. Lagi pula tak ada salahnya jika bersenang-senang. Tidak setiap hari juga.


"Jangan lupa, bilang sama ibu." ucap Jerome mengingatkan. Mawar mengangguk. Mira dan Selly saling lirik dan memainkan alis mereka.


Segera Jerome mengeluarkan ponselnya. Menghubungi Tian dan Luck. Mengajak mereka untuk pergi bersama. Tak lupa, Jerome juga menuliskan alasannya mengajak mereka berdua.


Bak gayung bersambut, Luck dan Tian langsung menyetujui permintaan Jerome tanpa drama. Entah apa tujuan mereka dengan mudah menyetujui permintaan Jerome.


Karena keduanya ingin membantu Jerome mendekati Mawar. Atau keduanya punya tujuan lain yang Jerome juga tidak tahu.


"Bagaimana, kak Tian sama kak Luck bisa?" tanya Mira.


Jerome mengangguk. "Bisa." jawabnya tanpa memandang ke arah Mira.


Kening Jerome mengerut. Beberapa menit yang lalu, ada sebuah pesan tertulis yang masuk ke dalam ponselnya.


"Brengsek." umpatnya dalam hati.


Jerome berdiri, dan langsung keluar dari rumah Mawar. Berdiri di teras, sembari menempelkan ponselnya di telinga kirinya.


Ya,,, Jerome ada pekerjaan mendadak. Seorang pengusaha dari luar negeri meminta untuk bertemu. Dan pertemuan itu akan berlangsung sekitar lima belas menit lagi.


Alasannya adalah, mumpung dirinya berada di negara ini. Dan ingin membicarakan proyek mereka yang akan berlangsung sekitar satu bulan lagi.


Membatalkan pergi bersama dengan Mawar, atau mengatur jadwal ulang pertemuan dengan rekan kerjanya. Yang artinya, Jerome lah yang harus terbang ke negara tempat tinggal beliau.


Dan inilah keputusan yang diambil Jerome. Dia memilih untuk tetap pergi bersama dengan Mawar. Dan rela pergi ke luar negeri sekitar dua minggu ke depan untuk bertemu dengan rekan bisnisnya.


"Loh, kak Jerome kemana?" tanya Mawar yang sudah siap dengan kaos putih berlengan pendek dengan bawahan celana jeans panjang berwarna abu-abu tua.


Tas kecil berada di punggungnya. Dengan rambut di kuncir kuda. Tak lupa sepatu slip-on terpasang di kakinya.


"Di luar. Kelihatannya sedang menghubungi seseorang." jelas Mira, dengan ketiga gadis tersebut menatap ke arah teras rumah. Yang memperlihatkan punggung Jerome.


"Kak Jerome, jadi ikut?" tanya Mawar, yang sudah berada di teras rumah bersama Mira dan Selly.

__ADS_1


Jerome membalikkan badannya. Dia terdiam dengan mata memandang Mawar secara intens, tanpa berkedip.


"Kesambet woyy... kesambet..." celoteh Mira, menyindir Jerome yang terpesona dengan penampilan sederhana dari Mawar.


Mawar segera mengalihkan pandangannya. Dirinya tak ingin jika sampai mereka tahu, saat ini kedua pipinya bersemu merah karena pandangan Jerome padanya. Bahkan merah tanpa bahan pewarna apapun dari make-up.


Begitu juga dengan Jerome. Dia seolah menulikan telinganya dari sindiran Mira. "Sebentar. Kita tunggu Tian dan Luck."


Tidak perlu menunggu lama, kedua teman Jerome sampai. "Kita naik mobil siapa?" tanya Tian.


Jerome menatap Tian dengan sebuah isyarat. Dan Tian paham apa yang diinginkan oleh temannya tersebut. "Mobil kalian ditinggal di sini saja. Kalian ikut ke dalam mobil gue dan Luck." pinta Tian pada Mira dan Selly.


"Biar Mawar sama gue." timpa Jerome, mulai terlihat ingin memonopoli Mawar.


Mira dan Selly yang belum sadar, hanya bisa menerima setiap saran yang keluar dari mulut Jerome.


Mereka lantas pergi ke taman bermain. Itupun atas saran dari Jerome. Entahlah, apa yang ingin Jerome rencanakan.


"Rame sekali." cicit Mawar, tersenyum senang.


"Hari minggu Mawar." sahut Mira, mengingatkan.


Mereka mencoba beberapa wahana permainan. Tampak semua tertawa lepas, setelah naik roler coster. "Tapi ini masih dalam batas wajar." ujar Tian.


"Memang ada yang lebih dari ini?" tanya Mawar.


"Ada. Permainan yang sama. Tapi lebih seru. Di luar negeri."


"Ya,,, kak Tian. Kalau di sana jangan diceritakan." sungut Mawar.


Tian tertawa melihat raut antusias dari Mawar, berubah jadi kesal seketika. Sedangkan di Mira, Selly, dan Luck berjalan di belakang Mawar, Jerome, dan Tian.


Jerome memperlambat langkahnya. Dengan segera, dia menduselkan badan besarnya di tengah Tian dan Mawar. Awalnya Mawar yang berada di tengah. Kini Jerome lah yang menggantikan tempat Mawar.


Semua menggeleng melihat tingkah Jerome. "Gue yakin, kak Jerome bibit-bibit bucin dan posesif tingkat dewa.'' lirih Mira.


Luck yang mendengarnya hanya tersenyum samar. Memang baru kali ini, Luck dan Tian melihat Jerome begitu posesif pada seorang perempuan. Padahal mereka belum mempunyai status hubungan.


Mawar acuh dengan apa yang dilakukan Jerome. Dia lebih menikmati keramaian yang menurutnya sangat menyenangkan ini. Dan jarang dia dapatkan.


Jerome tersenyum samar melihat wahana di depannya. Rumah hantu. Dengan mudah bisa ditebak apa yang sedang Jerome rencanakan.


"Bagaimana jika kita uji nyali." tantang Jerome.


"Uji nyali." cicit Mira, memandang ke mana Jerome memfokuskan penglihatannya. Begitu juga dengan yang lain.


"Boleh." ucap Tian dan Luck bersamaan. Berbeda dengan Mira dan Selly yang hanya diam tak menyahuti perkataan Jerome.


Mawar melihat ke arah Mira dan Selly. "Jangan deh kak. Kita coba wahana yang lain saja." tolak Mawar.


"Ayolah,,, Mawar. Lagian ada aku, kamu nggak perlu cemas dan takut." cicit Jerome, menebak jika Mawar takut. Dan itulah yang diinginkan oleh Jerome.


"Kalian ini penakut sekali." ejek Luck. Sebenarnya Luck tidak bermaksud untuk mengejek mereka. Tapi, dia seakan bisa membaca rencana apa yang akan di mainkan oleh Jerome, hanya demi berdekatan dengan Mawar.


Sontak Selly tentu saja tidak terima di katakan penakut oleh Luck. Sebab dirinyalah yang selama ini terkenal paling bar-bar di antara Mawar dan Mira.


"Jaga tuh mulut. Pake ngomong penakut." ujar Selly tidak terima.


"Buktikan,,,,, buktikan,,,,," tantang Luck memandang Selly dengan tersenyum remeh.


Mira memegang pundak Selly. "Sudahlah Sell,, niat kita pengen seneng-seneng. Ngapain juga kamu termakan omongan dia." kesal Mira, menatap ke arah Luck yang masih tersenyum.


Selly menepis tangan Mira yang berada di pundaknya. "Gue nggak terima. Ayo,,, siapa bilang kita penakut."


Selly yang dikuasai emosi karena dibilang penakut oleh Luck, bejalan lebih dulu ke rumah hantu. "Siapa juga yang takut. Semua hantu di dalam hanyalah hantu pura-pura. Di pukul juga pasti bakal lenyap." dengus Selly sambil berjalan.


Mira dan Mawar saling pandang. Mira mengangkat kedua bahunya. "Ayo, kita susul Selly." segera Mawar dan yang lain melangkahkan kaki menyusul Selly.


"Thank's." lirih Jerome pada Luck.


"Semoga saja kali ini berhasil." cicit Tian.


Sebab, saat mereka menaiki roller coster, dan beberapa wahana lainnya yang terbilang sedikit ekstrim, Mawar sama sekali tidak menampilkan raut wajah ketakutan seperti yang diharapkan Jerome.

__ADS_1


Padahal, Jerome sengaja selalu duduk di samping Mawar. Berharap Mawar takut dan memegang tangannya. Ternyata, tak seperti yang di bayangkan oleh Jerome.


__ADS_2