MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 128


__ADS_3

Seperti yang sudah di jadwalkan. Beberapa hari ke depan Mawar dan Jerome, beserta beberapa murid lainnya akan menjalani latihan. Mereka akan tampil di pensi yang dilakukan di sekolah setiap setahun sekali saat ujian telah usai.


Disaat Mawar sibuk latihan. Gaby juga sibuk menjalankan rencana liciknya. Dirinya ingin semua murid melihat perubahan pada dirinya.


Gaby ingin mengubah imejnya yang selama ini terkenal sebagai murid yang sombong dan angkuh. Menjadi murid yang baik. Setidaknya Gaby akan melakukan secara berkala, di saat yang tepat.


Jerome datang dengan menyodorkan sebotol air mineral dingin yang masih tersegel pada Mawar. "Terimakasih." ucap Mawar, mengambilnya.


Mawar langsung membuka dan meminumnya. Begitu juga dengan Jerome. Sebab Jerome membeli dua botol air mineral. Untuk dirinya dan Mawar.


Semakin hari, Mawar dan Jerome semakin dekat. Tentu saja hal tersebut semakin menguatkan gosip di kalangan para murid. Jika keduanya menjalin hubungan.


Tapi Mawar sama sekali tidak terganggu akan hal tersebut. Selama dirinya tidak mendapat masalah, Mawar selalu santai dan menghadapinya dengan tenang.


Di belakang mereka, Dona memandang kedua punggung Jerome dan Mawar dengan penuh benci. "Sebaiknya kita pergi." ajak Weni.


"Bagaimana bisa, Mawar dengan mudah mendapatkan hati Jerome. Padahal gue sudah sejak dulu berusaha mencuri sedikit perhatiannya. Tapi sama sekali tidak ada hasilnya." gumam Dona menahan emosi.


Weni menarik lengan Dona. Mengajaknya segera meninggalkan tempat dimana mereka berdiri.


Namun sayangnya, cuitan dari para murid sepanjang lorong, mampu membuat Dona murka dan melampiaskan emosinya. Mereka seakan menyindir Dona yang kalah telak dari Mawar.


"Lihat, hanya Mawar yang bisa membuat kak Jerome tersenyum. Bahkan tertawa."


"Benar, padahal dulu ada yang koar-koar kalau kak Jerome adalah miliknya. Nyatanya, kak Jerome hanya tercipta untuk Mawar."


"Namanya juga halu. Biarkan saja. Suka-suka dia. Asal nggak gila saja. Mengharap sesuatu yang mustahil."


Mereka berucap seraya tertawa kecil. Seolah sedang mengolok kebodohan Dona. Mereka yang dulu sangat takut pada Dona. Tapi tidak untuk sekarang. Sebab, Dona sebentar lagi akan angkat kaki dari sekolah mereka.


Weni memegang lengan Dona. Dirinya takut Dona lepas kendali dan menyerang mereka. Sebab dia juga nanti yang akan repot.


"Ya iyalah,,,, kak Jerome lebih memilih Mawar. Dari pada perempuan manapun. Elo nggak lihat. Mawar,, dia sangat sempurna. Mana bisa kakak kelas kita ada yang sebanding dengan Mawar."


Kesabaran Dona setipis kulit ari. Dona menghentakkan tangan Weni di lengannya. Dan langsung menyerang salah satu dari mereka.


Tentunya murid yang paling dekat dengan jangkauannya. "Aaww....!!" jerit murid tersebut, saat Dona menjambak rambutnya ke belakang. Hingga dia mendongakkan kepalanya.


"Apa elo bilang. Gue bisa membuat mulut elo nggak akan pernah bisa bersuara lagi...!!!" seru Dona murka.


Para murid yang berada di dekat mereka langsung membantu murid yang dijambak oleh Dona. Sementara Weni mencoba melepaskan tangan Dona di rambut murid tersebut.


"Don,,,,, sudah. Lepas...!!" seru Weni ketar-ketir.


"Dona gila..!! lepas...!!" seru mereka, membantu murid yang Dona jambak.


Tanpa disangka, Gaby datang. Dan dia langsung mendorong tubuh Dona. Hingga Dona dan Weni mundur ke belakang beberapa langkah.


Jerome dan Mawar yang melihat hanya diam. Keduanya menghentikan langkah mereka. Jerome dan Mawar mendengar beberapa murid berteriak tak jauh dari tempat mereka duduk.


Untuk memastikan apa yang terjadi, Jerome dan Mawar mendatangi kerumunan di belakang mereka. Yang tak jauh dari tempat mereka duduk.


Saat Mawar dan Jerome ingin melerai pertengkaran mereka, Gaby lebih dulu datang. Dan melakukan sesuatu yang tak terduga.


Dan mungkin, ini adalah awal dari rencana Gaby. Semua murid terdiam, begitu juga dengan Dona dan Weni. Mereka menatap intens ke arah Gaby.


Gaby,, mendorong Dona,, mustahil. Bukankah mereka satu komplotan. Tapi itu benar terjadi. Ada apa sebenarnya. Itulah yang ada dalam benak semua murid. Termasuk Mawar dan Jerome.


"Apa yang elo lakukan...??!" bentak Dona tak terima dengan apa yang dilakukan Gaby pada dirinya.


Weni yang berdiri di samping Dona, memegang lengan Dona dengan erat. Dirinya tidak ingin Dona kembali berulah.


Dengan santai, Gaby berdiri di depan Dona dan Weni. "Gue capek. Dengan semua gang elo lakukan. Plisss,,,, sudahlah. Jangan membuat keributan. Jika elo memang menyukai kak Jerome. Bersikaplah dewasa. Rebut hati kak Jerome dengan cara yang baik."


Dona melongo mendengar apa yang dikatakan Gaby. Begitu juga dengan yang lain. Mereka seakan tidak percaya. Tapi mereka melihat apa yang dilakukan Gaby dan mendengar apa yang dikatakan Gaby.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Gaby pergi meninggalkan kerumunan. Raut wajah Gaby terlihat biasa, datar tanpa ekspresi. Seolah dirinya memang capek selalu berada di samping Dona.


Padahal, hatinya menjerit senang. Langkah pertama berjalan dengan lancar, dan semua karena kebodohan Dona. Dirinya dengan mudah mendapat jalan.


Sontak saja. Apa yang dilakukan Gaby menjadi perbincangan hangat. Mampu menggeser berita kedekatan Jerome dan Mawar.


Dona dan Weni penasaran. Mereka sungguh tidak percaya, jika Gaby berubah seperti itu. Pasalnya, mereka cukup tahu bagaimana watak dari Gaby.


Dona beberapa kali menghubungi Gaby. Tapi selalu ditolak oleh Gaby. Bahkan, saat di sekolah. Gaby selalu menghindar jika sudah melihat wajah Dona.


Dona benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Dirinya hanya ingin berbicara dengan Gaby. Mengkonfirmasi terkait perubahan Gaby. Hanya saja, sulit bagi Dona untuk bertemu dengan Gaby.


Begitu juga beberapa hari selanjutnya. Gaby dengan santai membantu beberapa murid yang kesusahan. Itupun Gaby melakukan dengan wajah tanpa ekspresi.


Juga dengan hari ini. Di saat Mira sedang kesulitan membawa buku dari ruangan guru, yang akan dia bawa ke perpustakaan.


"Ehh..." Mira terkejut, ada seseorang yang mengambil beberapa tumpukan buku di tangannya. Membuatnya jadi lebih ringan. Dan dia adalah Gaby.


Tanpa bicara, Gaby mengambilnya. Dan berjalan ke perpustakaan. Tapi Mira hanya mencebik dan acuh. Dirinya mengekor di belakang Gaby.


Tapi Mira juga tal bertanya dan juga tak mengucapkan terimakasih pada Gaby yang sudah membantunya. Tidak seperti murid yang lain.


Tapi Gaby memang pandai memainkan peran. Dirinya tetap menunjukkan ekspresi wajah datar. Seolah dirinya hanya ingin membantu dan tak ingin mengharap apapun.


"Brengsek. Apa dia belum percaya. Jika gue berubah." ucap Gaby dalam hati.

__ADS_1


Gaby melihat Mira kesusahan membawa buku. Dan hal tersebut langsung bisa dia manfaatkan untuk mendapat perhatian dari Mira.


Tapi, tidak seperti perkiraannya. Bahkan Mira sama sekali tidak melihat ke arahnya. "Benar-benar sombong." ucap Gaby dalam hati.


Mawar dan Jerome duduk santai di pinggir lapangan basket. Keduanya baru saja selesai melakukan latihan. Lapangan tampak tak begitu ramai. Sebab memang tidak ada latihan atau pertandingan basket.


Hanya ada beberapa murid juga yang duduk di pinggir lapangan, seperti Mawar dan Jerome. Jiga ada yang duduk santai di bangku penonton.


"Haus?" tanya Jerome.


Mawar menggeleng. "Biar aku suruh Luck atau Tian untuk membelikan minuman." tawar Jerome.


"Jangan. Mawar nggak haus. Lagi pula, kak Jerome jangan menyuruh kak Luck sama kak Tian. Nggak enak." tegur Mawar.


"Iya, maaf." ucap Jerome tersenyum.


Empat murid berdiri di belakang Mawar dan Jerome. Dengan tangan sibuk membawa sesuatu. Mereka adalah Luck, Tian, Mira, dan Selly.


"Kenapa nggak enak?" tanya Luck, dengan tangan membawa nampan berisi bakso. Juga dengan Tian. Sementara Mira dan Selly membawa minuman dan camilan.


Mawar tertawa pelan. "Kalian sekarang menjadi waiters ya..." goda Mawar.


"Iya,,, dan bayaran kami mahal lo..." gurau Mira.


Mereka berenam segera menyantap bakso yang di bawakan oleh Luck dan Tian. Seraya berbincang. "Enak sekali ya, sekolah tapi bebas." ucap Mira tertawa lucu.


"Itu sih maunya elo..." timpal Selly, menoyor pelan kepala Mira.


"Mawar lihat, gimana gue nggak lelet kalau mikir. Selly selalu menoyor kepala gue." ucap Mira mengadu pada Mawar.


"Selly... jaga tangan kamu." tegur Mawar.


"Ngadu. Beraninya. Lawan dong..." tantang Selly, menatap Mira dengan remeh.


Mira hanya memandang sinis dan senyum tertahan pada Selly. Mengacungkan kepalanya tangannya ke arah wajah Selly.


"Eh,,, tadi gue ditolong Gaby." ucap Mira, teringat apa yang dia lakukan sebelum ke kantin.


"Really... Ohh,,, baik hati sekali dia. Aku tersentuh..." ucap Selly dengan nada melodrama.


Luck tersenyum samar melihatnya. "Memang apa yang dia lakukan?" tanya Tian kepo.


Mira menceritakan apa yang terjadi. "Semoga Gaby berubah. Bukankah itu juga keinginan kalian." sahut Mawar.


"Kelihatannya mustahil. Mana ada iblis berubah jadi malaikat." ketus Luck.


Selly mengacungkan jempolnya ke arah Luck. Setuju dengan apa yang dikatakan Luck. "Pasti ada udang dibalik rempeyek."


"Tapi gue tadi nggak ngucapin apapun pada Gaby. Tidak berterimakasih juga. Ogah banget. Orang gue nggak minta tolong." sungut Mira.


"Iiihh,,, Mira, kamu jahat sekali." timpal Selly dengan wajah sok melas.


Mira tersenyum. "Kalian mesti tahu. Tadi, gue lihat wajah Gaby dari pantulan cermin di depan gue. Kayaknya di kesel gitu."


"Ya iyalah, orang dia udah bantu elo. Setidaknya dia ingin elo ngucapin terimakasih." timpal Tian.


"Apaan. Mawar saja yang sering membantu gue, nggak pernah minta ucapan terimakasih. Ini baru bantu sekali saja, belagu." cicit Mira mencibir.


"Bedalah. Kan Mawar." Jerome memandang Mawar sambil tersenyum.


"Ciee.... kak Jerome, makin romantis saja. Kapan jadian?" tanya Selly seraya menggoda.


Mawar melotot ke arah Selly. "Selly,,, kita hanya berteman." tegas Mawar, meski kedua pipinya bersemu dengan warna merah.


"Tuh pipi kenapa?" Selly semakin menggoda Mawar. Mira menjawil dagu milik Mawar, sambil memainkan kedua matanya dengan gemas.


"Benar kata Mawar, kita cuma berteman." papar Jerome, meski dirinya ingin sekali menjadi belahan hati Mawar.


Tapi dengan apa yang didapat dan dirasakan sekarang, Jerome sudah sangat bersyukur. Mawar tak lagi menghindar dari dirinya.


Jerome merangkul pundak Mawar. "Kita berdua berteman." ujar Jerome sambil menggoyangkan pelan tubuh Mawar.


"Kita juga berteman." goda Luck dengan tangan ingin terulur merangkul Mawar.


Tapi Jerome dengan gercep memukul tangan Luck. Mawar hanya tersenyum sempurna dan menggeleng.


"Oh iya,,, Mawar. Kami nanti bekerja atau nggak?" tanya Jerome.


Pasalnya, kemarin Mawar pernah mengatakan jika dirinya akan makan malam bersama sang ibu. Beserta kakek neneknya.


"Hari ini nggak kerja kak. Mawar juga sudah bilang sama bu Utami." jelas Mawar.


"Memang kamu mau kemana?" tanya Mira.


Mawar tersenyum. "Maaf belum cerita." Mawar menjeda kalimatnya.


"Beberapa hari yang lalu, kedua orang tua ibu datang ke rumah."


"Tunggu,,,, tunggu,," sela Selly, memotong perkataan Mawar.


"Orang tua ibu. Berarti orang tua bu Lina?"

__ADS_1


Mawar mengangguk. "Loh,, bukannya mereka..." Selly menggantung kalimatnya. Sedangkan Luck dan Tian hanya diam. Sebab keduanya memang tidak tahu apa-apa.


Mawar mengangkat kedua pundaknya. "Aku sendiri awalnya juga bingung. Tapi dilihat dari perlakuan ibu ke mereka. Menandakan jika mereka berdua adalah nenek kakek aku."


"Kok bisa. Tujuh belas tahun loh Mawar. Sebentar lagi elo akan genap berumur tujuh belas tahun. Dan selama itu, mereka nggak ada. Dan ibu, juga nggak cerita apapun. Sekarang mereka datang. Apa nggak ada penjelasan dari mereka. Ya,,, mungkin penjelasan dari ibu." tutur Selly.


Mawar menggeleng. "Dan elo diam. Nggak bertanya apapun?"


Kembali Mawar menggeleng. "Kenapa? Elo berhak tahu. Kenapa baru sekarang mereka datang. Selama ini, mereka di mana?"


Mawar tersenyum kecut mendengar rentetan saran dari Selly. Memang benar apa yang dikatakan Selly. Seharusnya Mawar bertanya. Dan seharusnya, mereka menjelaskan pada Mawar tanpa Mawar meminta. "Untuk apa?" tanya Mawar.


"Mawar...." panggil Selly lirih, memandang resah pada sahabatnya tersebut.


Mira mencondongkan tubuhnya, menggenggam telapak tangan Mawar. Lalu Mira tersenyum, dan melepaskannya. Mawar mengangguk pelan.


"Aku tidak akan bertanya apapun. Kita tidak akan pernah tahu. Bisa jadi, pertanyaan yang akan aku ajukan malah akan membuka luka lama, dan malah akan menyakiti hati mereka." cicit Mawar menunduk, memandang ke bawah.


Semuanya menatap ke arah Mawar dengan tatapan sendu. Jerome tersenyum samar. "Kamu memang hebat sayang." ucap Jerome dalam hati.


"Benar. Terlalu lama mereka tidak bertemu. Pasti ada sesuatu yang besar di balik semua itu." timpal Mira.


Mawar tersenyum. "Biarkan saja seperti ini. Biar waktu yang akan menjawab. Jika memang mereka sudah siap, pasti mereka akan menceritakannya padaku." ucap Mawar.


"Memang, siapa mereka. Maksud gue kakek nenek elo?" tanya Mira.


"Manusialah. Kamu pikir zombie." gurau Mawar.


"Iihhh,,, bukan itu maksud gue Mawar. Mungkin mereka berasal dari desa. Atau kota sebelah. Atau luar negeri." ujar Mira menjelaskan keingintahuannya.


"Ya orang negara ini juga. Kalau bule,,, nggaklah. Kamu nggak lihat, wajah aku lokal banget." sahut Mawar.


Mira dengan gemas mencubit pipi Mawar, hingga berwarna merah. "Eehhh,,,, sakit." bukan Mawar yang protes, melainkan Jerome.


"Yaaa elaaaa... kak. Pipi siapa yang Mira cubit. Kak Jerome yang protes." ujar Mira.


Mawar hanya tersenyum seraya mengusap pipinya yang terasa sedikit sakit karena belas cubitan Mira.


"Tuan Tomi. Beliau adalah kakek Mawar." jelas Jerome.


Luck yang sedang meneguk air minum langsung tersedak mendengar Jerome menyebut nama kakek Mawar. "Uhukkk..."


"Tuan Tomi yang itu?" tanya Tian memastikan. Sebab Jerome memanggilnya dengan sebutan Tuan. Dan setahu Tian, hanya ada nama satu Tomi, yang dipanggil Jerome dengan sebutan Tuan.


Mira dan Selly, juga Mawar hanya memandang bergantian ke arah ketiga lelaki di dekat mereka. Jujur, ketiga gadis tersebut memang tidak tahu. Bahkan Mawar, yang cucunya sendiri jiga tidak tahu. Kenapa Luck dan Tian sampai seheboh itu.


Jerome mengangguk, membenarkan pertanyaan Tian. "Pantas saja jika Mawar punya karakter yang tenang. Mampu berpikir jernih, meski berhadapan dengan musuh." ucap Luck dalam hati.


"Memang, siapa sih kakek Mawar?" cicit Mira penasaran. Menatap ke arah Mawar.


"Bukankah sudah aku bilang. Dia manusia, sama seperti kita." tukas Mawar.


"Bukan itu. Maksudnya pekerjaan kakek kamu?" tanya Selly, melihat bagaimana terkejutnya Tian dan Luck.


"Mana aku tahu. Bertemu hanya beberapa kali. Lagipula, kami belum sedekat itu." jelas Mawar dengan jujur.


"Kalian pengen tahu pekerjaan kakek Mawar?" tanya Tian. Yang mendapat anggukan dari Mira dan Selly.


"Tanyakan saja pada papa kalian." lanjut Tian.


"Papa." cicit Mira dan Selly bersama. Keduanya saling bersitatap meski hanya sesaat.


Keduanya kini bisa menebak, apa pekerjaan kakeknya Mawar. Pengusaha seperti papa mereka. Namun seberapa besar nama beliau, mereka tidak tahu.


"Mawar, bisa jadi elo cucunya orang kaya." Mira tersenyum senang.


"Benar, dan pasti mamanya kak Jerome akan merestui hubungan kalian." timpal Selly.


Mawar melotot pada Selly. "Maaf kak." Mawar tersenyum sungkan pada Jerome.


Jerome tertawa. "Nggak apa-apa. Yang dikatakan Selly memang benar."


"Gue mah, selalu jujur. Memang Nyonya Mesya orangnya matre." gumam Selly, tapi masih bisa didengar semuanya dengan jelas.


Tian dan Luck hanau bisa menahan tawa akan sikap Selly yang memang suka bicara ceplas ceplos. "Elo nggak boleh begitu Selly,,, dijaga kalau bicara." tegur Mira sok bijak. Padahal mereka berdua sama saja.


Mawar tertawa pelan mendengar Selly ditegur Mira. "Eladaaaahhh... kenapa malah fokus ke gue." ucap Selly heran.


"Benar juga. Bukankah kita sedang membicarakan kakek Mawar yang kaya." Mira tersenyum sumringah.


"Apa?" tanya Mawar menatap Mira.


"Berarti elo nggak usah kerja. Fokus sama pendidikan elo. Benarkan?" tanya Mira dengan antusias.


"Sudah,, jangan ngomongin aku. Jadi ribetkan." ucap Mawar, buktinya sampai sekarang dirinya masih bekerja.


Mira dan Selly menatap ke arah belakang Mawar dengan kedua mata tak berkedip. "Kalian kenapa?" tanya Mawar, merasa aneh dengan kedua sahabatnya.


Luck dan Tian hanya menghela nafas. Keduanya tahu kenapa kedua gadis di samping mereka menampilkan ekspresi seperti itu. "Dasar perempuan. Lihat yang bening dikit langsung ngeces." sindir Luck.


Jerome merasa penasaran. Segera membalikkan badan. Kedua alisnya bertaut melihat siapa yang berjalan dengan senyum sempurna ke arah mereka. "Ngapain dia ke sini?"

__ADS_1


Terlihat jelas rasa tak suka Jerome pada orang tersebut.


__ADS_2