
"Apa ini ma?" tanya Lina, saat sang mama memutar rekaman suara di depannya.
Nyonya Tanti menghela nafas. Beliau sengaja mengajak Lina bertemu tanpa ada Mawar. Setelah Lina pulang bekerja, saat sore hari. Dimana Mawar juga masih bekerja di butik Nyonya Utami.
Bermaksud ingin memperdengarkan rekaman yang dia peroleh dari sang suami. "Apa kamu tidak hapal dengan suara ini?"
Dengan ragu, Lina menggeleng. "Entahlah."
"Kamu yakin?"
"Suara Gaby." tebak Lina.
Nyonya Tanti mengangguk pelan.Terlihat ekspresi datar dan sikap tenang dari Lina. Seakan sudah tahu, jika Mawar dan Gaby mempunyai masalah pribadi. "Kamu sudah tahu? Apa Mawar yang bercerita pada kamu?"
"Mama dapat rekaman itu dari mana?" Lina balik bertanya pada sang mama, sebelum dia menjawab pertanyaan sang mama.
"Sopir keluarga kita. Yang semalam mengantar Gaby pulang." jelas Nyonya Tanti.
Lina mengambil segelas minuman di depannya, lalu menyeruputnya sedikit. "Lina hanya merasa curiga. Baru pertama bertemu. Dan dia terlihat sangat welcome. Padahal, sebelumnya Djorgi mengatakan jika putrinya, Gaby memiliki sifat dingin dan cenderung angkuh. Kepadanya saja, Gaby jarang bicara."
Lina menjeda kalimatnya sejenak, sebelum melanjutkan perkataannya. "Awalnya, aku mencoba berpikir positif. Mungkin karena dia merindukan sosok seorang ibu. Karena dia dibesarkan tanpa sosok tersebut."
"Lina bertanya pada Mawar tentang Gaby. Mawar malah bertanya balik padaku, mengenai Gaby. Dan Mawar tidak menceritakan bagaimana keseharian Gaby. Tidak pernah."
"Tapi, makin lama, Lina makin merasa aneh. Setiap hari dia selalu mengirimi Lina pesan. Mengatakan jika dia menginginkan dan mendesak Lina menjadi ibu sambungnya."
"Apa Mawar sama sekali tidak pernah bercerita. Apapun?" tanya Nyonya Tanti, mencoba meminta Lina mengingatnya, barangkali Lina lupa.
Lina menggeleng yakin. "Mawar bukan gadis yang seperti itu ma. Dia sama sekali tidak pernah memuji, atau bahkan menjelekkan orang lain." jelas Lina.
Nyonya Tanti menghela nafas panjang. "Apa kamu akan menikah, dalam waktu dekat ini?"
Lina sebenarnya tahu, kemana arah pertanyaan sang mama. "Lina memang menyukai mas Djorgi. Tapi, jika harus menikah dalam waktu dekat, sepertinya tidak."
"Maaf, mama tidak ada saat kalian kesusahan."
Lina tersenyum tulus. "Jangan meminta maaf ma. Lina yang bersalah di sini. Lina yang pergi meninggalkan kalian. Dan yang paling menderita, tentu saja Mawar."
"Bujuk dia supaya fokus sekolah. Dia tidak perlu bekerja." pinta Nyonya Tanti.
Lina tertawa pelan. "Lina akan coba berbicara. Tapi mama jangan berharap terlalu besar. Mawar anaknya keras kepala."
"Persis seperti kamu." Nyonya Tanti memotong perkataan Lina dengan senyum di bibir.
"Mawar kan anaknya Lina ma." ujar Lina disertai kekehan kecil.
"Bagaimana dengan tawaran papa kamu. Apa kamu akan menerimanya?" Nyonya Tanti berharap, Lina menerima tawaran sang suami.
Dimana, Tuan Tomi akan memberikan modal pada Lina untuk membuka toko kue sendiri. Sehingga, Lina tak perlu lagi bekerja di toko kue milik Djorgi.
Lina mengangguk. Menyetujui permintaan kedua orang tuanya. Bukan tanpa alasan Lina menerima bantuan dari sang papa.
Dengan membuka toko kue sendiri, setidaknya Lina tidak terus menerus berinteraksi dengan Djorgi. Dirinya tidak perlu merasa bersalah, lantaran tidak menerima lamaran Djorgi.
"Mungkin ini jalan terbaik." ucap Lina dalam hati.
"Lagi pula, jika memang Gaby mempunyai niat tidak baik pada Mawar. Tentu Lina akan berada di depan Mawar. Dia putri satu-satunya Lina bu. Mawar yang selama ini memberi kekuatan pada Lina." tutur Lina.
Nyonya Tanti tersenyum dan mengangguk tulus. "Ibu juga bersalah. Malah mendekati Gaby dari pada Mawar." sesal Nyonya Tanti.
"Tidak. Jangan bicara seperti itu." hibur Lina. Dirinya tidak ingin sang ibu yang sudah berada di atas kursi roda tersebut merasa bersalah.
"Apa Mawar akan memaafkan ibu?"
"Tentu, dia anak yang manis dan baik." puji Lina untuk sang putri.
"Apa kamu tidak penasaran. Kenapa Mawar dan Gaby tidak akur?" tanya Nyonya Tanti.
Lina menggeleng. "Biarlah itu menjadi urusan mereka. Yang perlu Lina lakukan, Lina hanya akan tetap membela putri Lina. Mawar. Apapun yang terjadi." ujar Lina.
"Lina akan mendengarkan, jika Mawar sendiri yang bercerita. Lina tidak akan mendesak atau meminta Mawar untuk menceritakan hal yang menurut Mawar tidak perlu diceritakan." papar Lina.
Ternyata, sifat Mawar yang tidak mudah kepo pada urusan orang lain dia warisi dari sang ibu. Sama seperti Lina, Mawar pun juga begitu.
"Permisi." sapa seorang perempuan dengan pakaian anggun menyapa dengan ramah Lina dan Nyonya Tanti.
"Iya... " sahut Lina balik. Sebab dirinya belum mengenal siapa perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik di depannya ini.
__ADS_1
Beliau mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, saya Utami. Pemilik butik di mana Mawar bekerja." ucap Nyonya Utami memperkenalkan diri.
Segera Lina berdiri. "Maaf Nyonya, saya tidak tahu." cicit Lina dengan perasaan bersalah.
"Jangan panggil Nyonya. Panggil jeng saja." pinta Nyonya Utami.
Beliau tahu wajah Lina, dari akun sosial media milik Mawar. Sebab, Mawar pernah mengupload foto sang ibu. "Silahkan duduk." ucap Lina dengan ramah.
Nyonya Utami menatap ke arah Nyonya Tanti. "Sepertinya kita pernah bertemu." ujat Nyonya Utami.
"Beliau mama saya." timpal Lina. Nyonya Utami dan Nyonya Tanti saling berjabat tangan.
Ketiganya duduk di sebuah meja. Berbincang hangat dan tampak terlihat biasa. "Pantas saja, Mawar betah bekerja di sana. Pemiliknya baik sekali." batin Lina.
Ketiganya juga sempat membicarakan Mawar. Bagaimana seorang Mawar yang pekerja keras. Dan juga banyak mencuri perhatian banyak orang karena sifat dan perilakunya.
Pandangan Nyonya Utami tak sengaja melihat sosok yang menurutnya sangat familiar. Beliau sampai sedikit memiringkan kepalanya.
"Ada apa jeng?" tanya Lina.
"Sepertinya saya kenal dengan perempuan itu." tutur Nyonya Utami, menajamkan pandangannya. "Bukankah dia Puri." gumamnya.
Nyonya Tanti dan Lina juga menoleh ke tempat yang di tatap oleh Nyonya Utami. "Mungkin sedang makan bersama suaminya." tutur Lina.
Nyenyak Utami menggeleng. "Suaminya sudah lama meninggal." jelasnya, yang memang tidak bisa melihat wajah sang lelaki. Sebab dia duduk membelakangi Nyonya Utami.
Nampak keduanya sangat romantis. Hingga sang lelaki tak segan menyuapi Nyonya Puri. Mengelap sudut bibir Nyonya Puri. Serta mengelus lembut pipi Nyonya Puri meski sekilas. Layaknya anak remaja yang sedang berpacaran.
"Bisa jadi itu calon suaminya." timpal Nyonya Tanti.
Nyonya Utami tetap memandang tajam ke arah mereka. Ekspresi beliau tak sehangat tadi. Lina dan sang mama juga menyadari hal tersebut.
Namun mereka berdua memilih untuk diam. Dan tidak bertanya terlalu jauh. Apalagi, ini pertama kalinya merrka bertemu dan berbincang.
Nyonya Utami mengambil ponsel dari dalam tasnya. Lalu menghubungi sang suami. Dirinya merasa jika lelaki di hadapan Nyonya Puri adalah sang suami. Mungkin, itu adalah felling seorang istri.
Tampak sang lelaki mengambil ponselnya. Lalu menaruhnya di atas meja. Dan bersamaan, panggilan yang Nyonya Utami tujukan pada sang suami di matikan secara sepihak.
Lagi. Nyonya Utami memanggil sang suami lewat panggilan telepon. Lagi-lagi tak diangkat. Dan malah dimatikan.
Nyonya Utami berdiri. Meninggalkan tasnya di kursi. Berjalan menghampiri mereka dengan ponsel berada di telinga.
Namun, baik Lina maupun sang mama masih duduk memantau keadaan. Mereka yang notabennya orang lain, hanya bisa melihat.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Nyonya Utami dengan wajah datar. Menahan emosi yang saat ini ada di ubun-ubun.
Sontak, Tuan Joko dan Nyonya Puri langsung berdiri dan menatap kaget ke arah Nyonya Utami. "Mama." cicit Tuan Joko.
Nyonya Utami menatap tajam ke arah keduanya secara bergantian. Sementara Nyonya Puri terlihat kebingungan bercampur gelisah. "Khemmm..." segera Tuan Joko bersikap biasa.
Tuan Joko menarik sedikit sebuah kursi ke belakang. "Duduk sini ma."
Tapi Nyonya Utami tetap diam tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. "Mama kenapa bisa ada di sini. Kebetulan aku dan Puri sedang membicarakan bisnis."
Nyonya Utami mengeratkan rahangnya dengan kuat. Ingin sekali dia menampar kedua orang di depannya. Mempermalukan mereka. Dan berteriak mengeluarkan semua emosi di dalam hatinya.
Nyonya Utami menghela nafas. Menetralkan rasa yang saat ini mampu menyesakkan dadanya. "Saya tidak ingin menganggu. Silahkan lanjutkan bisnis kalian."
Nyonya Utami memandang tajam ke arah Nyonya Puri. "Ingat Nyonya Puri Prameswari, anda juga mempunyai seorang putri." ucapnya.
"Ma,,, mama bicara apa sih." Tuan Joko tampak masih berusaha mengendalikan suasana.
Nyonya Utami menatap tajam ke arah sang suami. Tersenyum remeh. "Kita akan bertemu di pengadilan. Itukan yang kamu inginkan?"
Tuan Joko kelabakan. Tapi, dirinya sebisa mungkin menampilkan ekspresi tenang. "Ma, apa maksud mama. Pengadilan apa. Jangan bicara aneh-aneh." tegurnya.
"Nyonya Puri, apa anda selamanya menginginkan menjadi selingkuhan. Tidakkah anda menginginkan posisi saya. Sebagai Nyonya Joko Gianindra." sindir Nyonya Utami
"Ma... Cukup..!!! Jangan berbicara omong kosong...!!" bentak Tuan Joko.
Nyonya Utami tersenyum miring. "Baiklah. Tinggalkan dia. Atau saya. Pilih salah satu." tegasnya.
"Ma, kenapa harus memilih. Pasti papa memilih mama. Hanya mama yang ada di hati papa. Hanya mama yang akan menjadi Nyonya utama di rumah. Saya dan Puri, kami hanya sebatas rekan kerja. Tidak lebih. Dan tidak akan lebih." tekan Tuan Joko.
Nyonya Utami tersenyum memandang Nyonya Puri yang memegang sandaran kursi dengan erat. "Kamu dengar. Kamu hanya sebagai teman. Dan tidak akan lebih. Terimakasih, telah memberi kenyamanan suami saya di atas ranjang."
"Ma,,,, jangan bicara omong kosong." tegur Tuan Joko.
__ADS_1
"Saya tahu, kamu selalu menemani dan memanjakan suami saya di atas ranjang. Lalu kamu akan diberikan uang untuk mempercantik diri. Benar-benar cara pemasaran yang hebat."
Tuan Joko memegang lengan sang istri.
"Ma, sebaiknya kita pulang." ajak Tuan Joko.
Nyonya Utami menepis dengan pelan, tangan sang suami di lengannya. "Sadar diri. Sadar posisi. Sekali selingkuhan, tidak akan pernah menjadi Nyonya. Selamanya, kamu akan disembunyikan. Hanya Nyonya, istri yang sah di mata hukum yang akan berdiri di samping suami." ejek Nyonya Utami.
"Dan kamu, Tuan Joko. Tinggalkan dia. Atau kamu akan tahu akibatnya." ancam Nyonya Utami.
Lina memandang kagum Nyonya Utami. Dari luar beliau terlihat lemah lembut. Ternyata dia adalah perempuan hebat dan kuat.
"Kita pulang ma." ajak Tuan Joko. Tidak ingin suasana dan keadaan menjadi kacau.
"Anda lihat. Seorang suami akan tetap memilih istri sahnya." ejek Nyonya Utami.
Nyonya Puri memandang tak percaya pada Tuan Joko. "Tunggu...!!" teriaknya.
"Kamu tidak bisa begitu saja meninggalkan aku mas. Setelah lebih dari sepuluh tahun aku selalu ada untuk kamu. Lalu kamu seenaknya membuang aku." ucap Nyonya Puri, tidak terima.
Tuan Joko menggeleng. Memasang wajah memelas. Meminta Puri untuk bersikap biasa. Jangan terpancing oleh omongan Utami.
Tapi, tetap saja Puri tak bisa diam. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Utami bagaimana sebuah belati dengan dua sisi yang sama tajamnya.
"Selesaikan dulu, urusan bisnis kalian. Papa, aku tunggu di rumah."
Nyonya Utami membalikkan badan dan berjalan pergi meninggalkan restoran. Hingga dia lupa, jika meninggalkan tasnya di kursi dekat Lina.
"Mas mau kemana. Kita perlu bicara." tegas Nyonya Puri, saat Tuan Joko hendak mengejar sang istri.
Lina yakin. Nyonya Utami hanya menguatkan hati. Dirinya pernah di posisi itu. Dan tahu bagaimana rasa sakit itu.
"Kami bawa saja tasnya. Titipkan ke Mawar." saran Nyonya Tanti, merasa sesak melihat kejadian di depannya.
Beliau sangat bersyukur. Mempunyai suami yang setia. Meski kesehatannya sering bermasalah, tapi sang suami tetap bertahan dan selalu menemaninya.
Ternyata, hari ini Mawar tidak masuk kerja. Sebab, hari ini adalah hari terakhir dirinya bersama yang lain melakukan gladi bersih untuk pentas yang akan mereka lakukan besok.
Mawar bersama dengan beberapa pemeran serta peserta pentas lainnya yang berjenis kelamin perempuan berada di dalam satu ruangan.
Termasuk Mira dan Selly, meski keduanya tidak terlibat dalam pensi tersebut. Keduanya beralasan ingin menemani Mawar.
Mereka semua mencoba pakaian yang akan mereka kenakan besok pada saat acara. Juga para pemeran atau pemain pensi yang berjenis kelamin lelaki. Mereka juga sedang melakukan hal yang sama. Di ruangan berbeda.
Mawar bersama kedua temannya, Mira dan Selly berada di dalam ruang ganti. Mencoba pakaian ala putri kerajaan yang akan Mawar kenakan besok.
"Mawar,,, sumpah. Elo cantik banget." puji Mira dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Gue ambil gambar Mawar, gue tunjukkan pada kak Jerome." pinta Selly.
"Jangan." sahut Mawar dan Mira bersamaan.
Selly menatap keduanya bergantian. "Nggak surprise dong. Malah nanti kak Jerome tahu lebih dulu. Nggak asih." tukas Mira.
Mawar mengangguk, menyetujui ucapan Mira. Padahal, sebenarnya Mawar malu jika Selly mengirimkan fotonya pada Jerome. Sebab dirinya belum memakai riasan wajah yang sesuai dengan bajunya. Membuat Mawar sangat tidak percaya diri.
"Benar juga." cicit Selly.
Mawar melepas pakaian yang dia gunakan. Menaruh kembali ke tempatnya. Bersama dengan pakaian siswi lainnya, yang digantung di hangeran.
"Yang terakhir, jangan lupa mengunci pintu..!!" teriak salah satu dari mereka. Saat yang lainnya keluar dari ruangan. Juga dengan Mawar dan kedua sahabatnya.
Jerome duduk di atas kap mobil. Memandang Mawar yang berjalan bersama kedua sahabatnya dengan senyum di bibir.
"Kita duluan ya. Kak Jerome, titip Mawar." ujar Selly.
Jerome mengangkat jempol tangannya ke atas. "Sudah lama?" tanya Mawar.
"Belum sayang. Baru saja." sahut Jerome.
"Kak Jerome..." tegur Mawar, memandang ke kiri dan kanan. "Untung nggak ada yang dengar." gumam Mawar.
Jerome hanya tersenyum. "Kita pergi makan dulu. Lalu kamu temani aku." pinta Jerome.
"Kemana?"
"Melihat universitas baru aku."
__ADS_1
"Nggak bersama kak Tian dan kak Luck?"
Jerome menggeleng. "Enakan bersama kamu." tukas Jerome, mendapat cebikan dari Mawar.