MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 105


__ADS_3

"Dari mana kamu?!" tanya Tuan Djorgi, saat Gaby dengan santai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Padahal waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam. Dan Gaby terlihat baru saja pulang dari suatu tempat.


"Dari luar." sahut Gaby tak melihat ke arah sang papa, seraya terus berjalan. Sama sekali tidak menganggap keberadaan sang papa.


Entah kenapa, Gaby memilih berbohong, dan tidak mengatakan yang sejujurnya pada sang papa. Jika dirinya baru saja dari apartemen sang tante. Caty.


"Gaby...!!!" teriak Djorgi, menggema ke seluruh ruangan. Kehilangan kesabaran dengan sikap yang selama ini ditunjukkan oleh sang anak pada dirinya.


Hingga beberapa pembantu yang sudah tertidur lelap terbangun karena suaranya. Bahkan mereka tergopoh-gopoh mendatangi dari mana arah suara bersumber.


Bukan hanya para pembantu, Gaby juga ikut terkejut kaget. Ini pertama kali dalam hidupnya, sang papa berteriak memanggil namanya dengan aura menakutkan.


Para pembantu yang sudah berada di sekitar mereka, kembali ke belakang dengan segera. Saat tahu kenapa majikan mereka berteriak.


Mereka sepertinya dapat menebak dengan mudah apa yang akan terjadi. Sebagai orang luar, mereka sadar jika sebaiknya tidak melibatkan diri. Apalagi mereka bekerja untuk mencari uang. Bukan mencari muka.


Gaby menoleh ke samping. Menatap sang papa dengan tatapan yang sulit diartikan. "Semua fasilitas kamu akan papa cabut. Jika kamu tidak bisa merubah sikap kamu." ancam Djorgi tidak main-main.


Ekspresi Gaby seketika berubah. "Kenapa? Kamu mau mengadu pada oma opa. Silahkan. Bahkan, jika kamu ingin tinggal di sanapun, papa tidak akan melarang." tegas Djorgi.


Gaby mengeratkan rahangnya, hingga gigi-giginya beradu. "Apa kamu ingin tinggal dengan mama dan suaminya. Papa beri izin pada kamu, untuk merasakan dan menikmati fasilitas dari mereka." lanjut Djorgi, tetap dengan nada suara tinggi.


"Angkat kaki dari rumah ini, jika kamu tidak bisa merubah perilaku seenaknya yang kamu miliki." tekan Djorgi.


Gaby tersenyum miring. "Papa mengusir Gaby." bukannya tersadar jika sang papa marah. Gaby malah menunjukkan raut wajah menantang.


"Kenapa? Kamu takut kehilangan semua fasilitas mewah yang selama ini kamu nikmati. Akan papa lihat, siapa yang akan memberikan semua ini pada kamu. Jika kamu angkat kaki dari rumah ini."


Djorgi yakin, sang putri tidak akan berani pergi atau minggat dari rumah yang selalu memberikannya kenyamanan dan kemewahan. Tanpa dia harus bersusah payah terlebih dahulu.


Tanpa mengatakan apapun lagi ke sang putri, Djorgi membalikkan tubuhnya. Kembali ke ruang kerja meninggalkan sang putri yang menatapnya kepergiannya dengan tatapan benci.


Djorgi menyandarkan punggungnya ke kursi kerja miliknya. Djorgi melakukan semua ini karena saran dari Lina. "Semoga aya yang Lina sarankan benar."


Jujur, ada rasa khawatir dalam lubuk hati Djorgi. Jika Gaby benar-benar meninggalkan rumah. Semenjak bayi, dirinya yang selalu berada di samping sang putri.


Melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana tumbuh kembangnya. Bahkan, Djorgi tanpa mengeluh, selalu menyempatkan diri untuk membasuh Gaby di waktu yang sangat sibuk.


Meski Djorgi juga sudah menyewa jasa seorang pengasuh. Namun hati seorang ayah, selalu ingin dekat dengan sang anak. Memberikan hang terbaik untuk sang anak.


Djorgi memandang ke arah ponsel gang berada di dalam genggamannya. "Apa aku telpon Lina saja." gumamnya.


Berharap mendengar suara Lina, bisa menghilangkan rasa gelisah dan cemas di dalam hatinya. "Pasti dia juga sudah tidur." ujar Djorgi.


Djorgi tersenyum tipis. Membayangkan dirinya dan Lina berada di satu ranjang. "Astaga. Bisa-bisanya aku berpikir mesum." segera Djorgi menepis pikiran kotor tersebut.


Gaby masuk ke dalam kamar. Meluapkan amarahnya dengan membuat kamarnya seperti tempat jualan barang bekas.


Ucapan sang papa terngiang di kepala.


...siapa yang akan memberikan semua ini pada kamu. Jika kamu angkat kaki dari rumah ini...


Gaby menjambak rambutnya dengan kasar. Tidak mungkin juga dirinya dengan berani angkat kaki dari rumah ini.


Tinggal bersama sang mama dan suaminya. Yang jelas sang mama dengan sengaja meninggalkannya demi untuk hidup dengan lelaki lain.


Ditambah lagi, Gaby juga tahu jika kehidupan sang mama dan suaminya jauh dari kesan mewah. "Bisa mati berdiri, kalau gue ikut sama mama."


Gaby dapat menebak. Berapa uang jajan yang akan di dapatkannya jika tinggal dengan sang mama. "Uang segitu. Dapat apa." cibirnya.


Apalagi mama dan suami barunya mempunyai seorang anak. Yang artinya Gaby mempunyai saudara tiri. Gaby paling tidak bisa berbagi. Entah dengan siapapun itu.


Dan yang paling Gaby benci. Sangat terlihat jelas jika sang mama lebih menyayangi anak keduanya. Terbukti sang mama hanya beberapa kali mengunjungi dirinya selama bercerai dengan sang papa.


"Beli tiket saja harus menabung." ejek Gaby.


Mungkin karena dari kecil, Gaby terbiasa hidup sebagai anak tunggal. Dengan semua kehidupan dan semua fasilitas mewah dari sang papa dia nikmati seorang diri.


"Gue heran, kenapa mama dulu bercerai dengan papa. Dan malah memilih lelaki kere kayak suaminya sekarang." sungut Gaby.


Mengolok sang mama karena keputusannya meninggalkan sang papa dan dirinya. Tanpa mencari tahu akar permasalahannya.


Dalam pikiran Gaby saat ini. Uang adalah hal utama dalam hidupnya. "Kalau gue ikut opa oma. Aisshhh,,, sama saja gue hidup di asrama." sungutnya.


Sebab Gaby pernah tinggal bersama kedua orang tua dari sang papa. Saat sang papa sedang ada pekerjaan di luar negeri.


Gaby merasa terkekang. Semuanya ada aturan. Semuanya harus dibicarakan. Semuanya harus dengan persetujuan mereka. "Pantas tante Caty lebih memilih tinggal di apartemen." gerutu Gaby.


Gaby memikirkannya dengan matang, yang memang sama sekali tidak ada pilihan. Jika dirinya angkat kaki dari rumah ini.


"Aaaa....!! Kenapa dengan papa. Ada apa?" batin Gaby bertanya.


Biasanya sang papa masa bodoh dan tidak akan melarang apapun yang Gaby lakukan atau Gaby inginkan. "Jangan sampai gue sengsara karena fasilitas di cabut. Nggak lucu. Pasti semuanya akan menertawakan gue."


Gaby yang selama ini hidup bagai tuan putri. Pastinya tidak akan sanggup jika harus hidup sederhana dengan segala keterbatasannya.


Gaby menjatuhkan badannya ke kasur empuk tepat di belakangnya. "Lebih baik gue tidur. Otak gue sudah nggak bisa berpikir." gumam Gaby. Langsung tidur tanpa membersihkan diri.


Dari rencananya yang gagal untuk menjebak Mawar. Ditambah berita mengejutkan jika tante tersayangnya, Caty akan menikah dengan ayah orang yang paling dia benci. Mawar.


Namun Gaby cukup tenang. Saat mengetahui rencana sang tante yang akan menjauhkan ayah Mawar dari Mawar.

__ADS_1


Gaby merasa tidak ada buruknya juga tante Caty menikah dengan ayah Mawar. Malah hal tersebut akan membuat Mawar semakin menderita.


Dan sekarang. Tanpa ada angin, tanpa ada hujan, sang papa marah dan mengancam dirinya. Hari yang melelahkan serta menjengkelkan bagi Gaby.


Disebuah hotel mewah, dua orang dengan jenis kelamin berbeda sedang bermesraan di bawah selimut tanpa benang sehelaipun yang melekat di badannya.


Keduanya baru saja melakukan olah raga malam yang panas. Bertukar keringat dan saliva. "Aku kangen banget sama mas." ucap sang perempuan. Dengan memainkan jari telunjuknya di dada bidang sang lelaki.


Cup,,,,, dikecupnya dengan mesra pucuk kepala sang perempuan. "Maaf, mas banyak pekerjaan."


"Sampai lupa dengan aku." selanya, memotong kalimat sang lelaki.


"Siapa bilang. Buktinya orang pertama yang aku temui setelah daru luar negeri kamu." ujarnya sembari terkekeh.


"Aaaw... massss..." rengeknya, saat tangan jahil sang lelaki masuk ke dalam selimut, memainkan sesuatu yang kembali membangkitkan gairahnya.


"Aku juga harus memantau perusahaan kamu." jelasnya lagi.


"Mas, jual saja perusahaan peninggalan suamiku. Lagian perusahaan itu hanya perusahaan kecil." sarannya, memeluk tubuh kekar sang lelaki.


"Jangan ngawur. Kalau aku jual, bagaimana aku bisa leluasa bertemu dengan kamu. Hemmm...." dikecupnya singkat bibir merah tebal milik sang perempuan selingkuhnya.


"Iya juga sih. Mas, mas nggak ada niat buat nikahin aku?" tanyanya dengan mesra.


"Serius, asal kamu mau jadi yang kedua."


"Nggak mau. Aku bercanda. Lagian begini saja lebih asyik. Main kucing-kucingan." kekehnya, menikmati perselingkuhannya dengan suami orang.


"Bagaimana putri kamu? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya.


"Baik. Dia mandiri. Sama sekali tidak merepotkan aku. Ya,,, walau beberapa hari ini, dia selalu ngotot menjodohkan aku dengan papa dari temannya." kekehnya, teringat perkataan sang anak.


"Dan kamu mau?! tanya sang lelaki dengan nada ketus. Menandakan ketidak sukaannya.


"Ya enggaklah. Aku tuh maunya sama kamu, mas." ucapnya sembari menaruh kepalanya di atas dada bidang lelaki di sebelahnya.


"Oh iya, bagaimana dengan anak-anak mas?" tanyanya balik.


"Yang laki-laki sih oke. Bisa diandalkan. Pintar dan cukup cekatan. Tapi yang perempuan. Heh,,,,, entahlah. Aku jiga sedikit khawatir."


Dia mengelus rahang tegas lelaki pujaan hatinya. "Mas, nanti tidur sini saja ya. Aku sudah izin sama putriku." ajaknya.


Cup.... "Apapun yang kamu inginkan sayang."


"Mas...." ucapnya, saat sang lelaki mulai kembali beraksi. "Mau ngapain, kan tadi sudah." ucapnya dengan tangan menyibak selimut di atas mereka.


"Awww... mas..." ucapnya lagi, mulutnya berkata tidak. Namun posisinya berbaring sungguh menggoda.


"Sungguh. Semua yang ada dalam diri kamu sangat nikmat sayang." ucap sang lelaki, dengan suara yang telah berselimut gairah kembali.


"Ckk,,,, dari luar saja. Tapi ininya, masih legit punya kamu." dengan nakal, tangan sang lelaki berada di tubuh bagian bawah milik sang perempuan. Mengelusnya dengan lembut.


"Kan aku selalu merawatnya untuk mas." ucapnya, menaikkan pantatnya ke atas dengan menggoda.


"Habiskan uang yang aku berikan untuk merawatnya. Aku sama sekali tidak keberatan."


Dia selalu memberikan uang dengan jumlah yang cukup besar pada perempuan selingkuhannya. Bahkan mungkin melebihi uang bulanan yang dia berikan pada sang istri sahnya.


"Pasti." ucap sang perempuan, menggerakkan badannya, kembali menggoda lelaki beristri di depannya.


"Kamu mau bagaimana. Katakan?" tanya sang lelaki, dengan tatapan memuja.


Jari sang perempuan menunjuk ke arah bawah tubuhnya. "Di sini. Manjakan." pintanya dengan sensual.


Tanpa banyak berkata, keduanya mengulang kembali kegiatan panas di atas ranjang. Tanpa peduli jika hubungan mereka adalah hubungan yang semestinya tidak pernah terjadi.


Hubungan terlarang yang sudah berjalan selama beberapa tahun. Bahkan mungkin selama sepuluh tahun. Namun keduanya mampu menyimpan dam menutup rapat bangkai tersebut.


Sementara di apartemen Jerome, keempat lelaki yang masih berseragam putih abu-abu nampak masih berbincang di ruang tengah.


"Bagaimana dengan Raka? Mau elo apakan?" tanya Luck, saat Mawar sudah kembali ke kamar. Memastikan Mawar tidak akan keluar lagi karena terlelap dalam tidurnya.


Jerome tersenyum menyeringai. "Raka milik gue. Elo tenang saja." ucapnya terjeda sebentar.


"Bagaimana dengan mereka?" tanya Jerome, namun pandangan Jerome malah mengarah kepada Erza.


"Markas mereka bukan hanya satu atau dua. Dan gue harus menyerang secara bersamaan. Bukankah tambahan personil membuat semuanya lebih mudah." papar Luck.


Menjelaskan kenapa Erza ada bersama dengan mereka. "Gue rasa sekalian, Erza beserta teman-temannya membalaskan dendam. Elo juga tahukan, markas mereka hangus tak tersisa." lanjut Luck.


Luck berdiri, mengambil remote televisi dan menyalakannya. "Kalian lihat."


Luck kembali duduk. Tersenyum senang dengan apa yang diberitakan di layar televisi tersebut. "Elo bermain rapi dan bersihkan?" tanya Jerome.


Apa yang dilakukan mereka bahkan mampu membuat berita besar dalam sekejap. Bagaimana tidak. Beberapa tempat terbakar beberapa jam yang lalu secara bersamaan. Dan pastinya dengan korban jiwa yang banyak.


Bukan hanya itu, di dalam gedung. Dan kini kebakaran tersebut masih dalam penyelidikan pihak berwajib.


Luck memberikan ponselnya yang sudah menyala pada Jerome. "Ini." kedua alis Jerome bertautan.


"Dari mana elo dapat?" tanya Jerome penasaran.


Peredaran barang haram dan perdagangan manusia yang melibatkan orang-orang berkuasa di kota tersebut.

__ADS_1


Tian dan Erza hanya diam. Jika Erza, dirinya masih tahu apa yang mereka bicarakan. Diamnya Erza karena sedang menyimak apa yang terjadi.


Sementara Tian. Dia diam karena memang benar-benar tidak tahu apapun. Tentang masalah yang terkait geng motor, bisnis bawah tanah, dan apapun itu namanya.


Luck menatap layar televisi dengan tatapan tajam. "Flash disk kakak gue." ucap Luck.


Jerome memandang Luck dengan tatapan yang sulit di artikan. "Luck, jangan bilang jika..." ucap Jerome menggantung.


Luck mengangguk. "Dan gue baru tahu tadi. Saat berada di markas utama milik musuh. Dan asal elo tahu. Ada orang atas yang bekerja sama untuk melenyapkan kakak gue." geram Luck.


Tian melongo terkejut. "Melenyapkan. Bukannya kakak elo kecelakaan?" tanya Tian dengan polos.


Erza menyenggol lengan Tian seraya memberi isyarat dengan kedipan matanya. Tian hanya menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Gue akan bantu, jika gue bisa." tawa Erza.


"Tidak perlu. Gue sudah punya sesuatu. Yang pasti ya akan membuat mereka ketar-ketir." ucap Luck yakin.


"Dimulai dari malam ini. Pembakaran dan pembantaian besar-besaran markas mereka. Lalu ini." Luck tersenyum sempurna melihat lembaran kertas di tangannya.


"Dan elo, kenapa teman elo nggak ngikuti Mawar?" tanya Jerome dengan sarkas.


Erza tahu, jika temannya bersalah. Dan temannya tersebut telah mengakui kesalahannya serta meminta maaf pada dirinya.


Dia tidak mengikuti dan mengawasi Mawar, lantaran harus mengamankan beberapa barang berharga dari dalam markas.


Ada seseorang anak jalanan, yang memberitahu salah satu rekan Erza. Untuk mengantisipasinya, entah laporan tersebut benar atau tidak. Mereka mengamankan sesuatu yang penting menurut mereka.


"Maaf, dia juga sudah mengaku bersalah." tutur Erza merasa kecewa juga terhadap apa yang dilakukan temannya.


"Tunggu, kayak ada yang teriak." sela Tian, mendengar suara perempuan.


"Mawar." ucap keempatnya bersamaan.


Keempatnya berlari ke kamar di mana Mawar tidur. Jerome langsung menyalakan lampu kamar. Nampak Mawar masih tertidur, memejamkan kedua matanya.


Tapi keringat membasahi wajahnya. Dengan raut wajah gelisah. Dan nafas tersengal. Serta teriakan-teriakan kecil meminta tolong serta pengampunan.


Jerome segera duduk di tepi ranjang bagian kanan. Dekat dengan kepala Mawar. Erza berdiri di samping Jerome. Sementara Luck dan Tian duduk di tepi ranjang bagian kiri.


"Mawar... Mawar..." perlahan, Tian menepuk pipi Mawar dengan lembut. Berusaha membangunkan Mawar dari mimpi buruknya.


"Jangan...!!!" teriak Mawar, spontan membuka kedua matanya dnegan posisi langsung duduk. Nafas tersengal serta ketakutan.


Erza berlari mengambil air minum. "Mawar." panggil Tian lirih.


"Jangan...!!" seru Mawar memundurkan badannya.


"Mawar, ini kita. Lihat. Ini kita." tutur Luck dengan lembut.


Semua mata menatap sendu ke arah Mawar. Kasihan. Tentu saja. Mereka merasa kasihan. Sosok Mawar yang baik. Mendapatkan kejadian yang pastinya berimbas untuk kesehatan mentalnya.


Mawar memandang mereka secara bergantian. "Kak.." cicit Mawar.


"Ini, kamu minum dulu." Erza memberikan segelas air minum pada Mawar. Siapa tahu Mawar alan lebih tenang.


Dengan tangan gemetar, Mawar mengambil segelas air tersebut. Segera Erza kembali memegang, membantu Mawar untuk meminum air tersebut. Takut jika air dalam gelas akan tumpah.


Jerome meremas sprei yang ada di bawahnya. Kedua bola matanya berwarna merah menahan amarah. Bahkan Jerome sama sekali tidak bersuara atau mengatakan apapun.


"Jerome..." panggil Tian, saat Jerome tiba-tiba berdiri dan meninggalkan kamar Mawar.


"Elo temani Mawar." pinta Luck pada Erza, yang dibalas anggukan oleh Erza.


Luck dan Tian segera mengejar Jerome yang keluar dari dalam kamar dengan raut wajah beringasnya. "Kemana perginya Jerome, cepat sekali."


Luck dan Tian mencoba mencari Jerome di dalam apartemen. Keduanya berhenti dan saling pandang. "Dia pasti ke sana." tebak Luck.


Dengan segera, Luck dan Tian menyusul kepergian Jerome. Keduanya menebak jika Jerome akan pergi ke markasnya. Tentu saja untuk bertemu dengan Raka.


Sedangkan di dalam kamar, Erza menatap Mawar dengan tatapan sedih. "Sebaiknya kamu tidur lagi." saran Erza.


Mawar menggeleng. "Kalau kamu ngantuk, kamu tidur dulu saja. Aku nggak ngantuk." tolak Mawar.


Erza tahu jika masih ada rasa ketakutan dalam diri Mawar. Erza memegang kedua pundak Mawar. Membuat keduanya saling bersitatap.


"Kamu percaya Jerome? Kamu percaya kami?" tanya Erza serius.


Mawar mengangguk pelan. "Aku bisa jamin, Raka tidak akan lagi menampakkan wajahnya di depan kamu. Juga dengan teman-temannya." tekan Erza menyakinkan Mawar.


"Apa karen Luck?"


Yang Mawar tahu, Luck adalah kelompok organisasi besar. Seperti mafia. Dan Luck menggantikan kedudukan sang kakak yang sudah tiada.


Tanpa Mawar tahu. Jika Jerome bahkan lebih berpengaruh dan lebih berkuasa dari pada Luck.


Erza mengangguk. Dirinya tidak mungkin menceritakan siapa sebenarnya Jerome pada Mawar.


Erza sangat kesal pada Jerome pada beberapa kesempatan, namun Erza bukan lelaki picik yang akan menjatuhkan orang yang telah beberapa kali menolongnya.


Meski Jerome menolongnya dengan Erza harus melakukan sesuatu untuk Jerome. Namun Erza merasa, Jerome tetap membantu dirinya.


"Tidurlah, aku akan menemani kamu di sini."

__ADS_1


Mawar mengangguk, membaringkan badannya. Erza membenarkan letak selimut di atas tubuh Mawar.


__ADS_2