
Djorgi sekarang kebingungan mencari cara untuk membawa Gaby ke rumah mantan istrinya, yang artinya mama kandung dari Gaby.
Yumi, Robert, serta Djorgi sepakat untuk membawa Gaby ke rumah Yumi. Membiarkan Gaby untuk tinggal di sana. Meski awalnya Djorgi menolak dengan rencana yang dikatakan oleh Yumi dan Robert.
Bukan karena Djorgi tak percaya dengan mereka berdua. Djorgi percaya. Sangat percaya. Buktinya, tanpa materi yang berlimpah, keduanya mampu membesarkan kedua anaknya dengan baik. Sopan, serta ramah.
Tidak seperti dirinya. Meski mempunyai harta berlimpah. Sang putri malah menjadi seorang pembangkang serta pembuat masalah.
Djorgi hanya khawatir, Gaby akan banyak menimbulkan masalah di keluarga mereka yang sangat damai.
Apalagi, Yumi dan Robert mempunyai dua anak. Djorgi takut, Gaby akan membawa pengaruh buruk untuk mereka. Jika Gaby tinggal bersama dengan mereka.
Djorgi sangat hapal betul tabiat dari Gaby. Ketakutan terbesar Djorgi hanya satu. Keduanya dipandang sebagai warga yang baik oleh lingkungan mereka. Bagaimana jika nanti kedatangan Gaby. Djorgi tidak bisa membayangkan.
Meski berada di luar negeri, tapi Yumi sekeluarga mendirikan rumah di sebuah tempat yang jauh dari kota pusat. Meski begitu, para tetangga di sana hidup berdampingan dengan baik. Walaupun hanya ada beberapa rumah di sekitar rumah Yumi.
Yumi mengatakan, jika sikap dan sifat Gaby yang seperti itu, tak lepas karena kesalahannya. Dan saat ini, Yumi ingin menebusnya. Meski sudah sangat terlambat.
Yumi serta Robert juga menjelaskan pada Djorgi, jika kedua anak mereka, Misca dan Romi juga setuju akan rencana mereka. Keduanya sama sekali tidak keberatan, jika kakak mereka, Gaby tinggal bersama mereka. Dalam satu atap.
Yumi terus menyakinkan Djorgi. Jika keluarga mereka tidak akan mendapat masalah hanya karena kedatangan Gaby, yang notabennya anak kandungnya sendiri.
Bahkan, Yumi memohon pada Djorgi. Yang membuat Djorgi merasa jika mungkin inilah rencana terbaik untuk Gaby. Apalagi, Robert juga setuju dengan hal tersebut.
Meski begitu, Djorgi akan terus mengirimkan sejumlah uang untuk Gaby. Yang tentu saja Yumi mengiyakan. Tapi Yumi mengatakan hanya untuk biaya sekolah Gaby. Sebab, kebutuhan sehari-hari akan Robert dan Yumi tanggung.
Djorgi juga menginginkan untuk selalu berkomunikasi dengan Robert, bukan Yumi. Hanya untuk mengetahui keadaan Gaby.
Yumi paham dan sama sekali tidak tersinggung atas apa yang akan Djorgi lakukan selama Gaby tinggal di sini. Karena kemungkinan, Djorgi tidak ingin berkomunikasi sering dengan dirinya, untuk menghindari kesalahpahaman dengan Robert.
Dan Yumi juga mengerti, kenapa Djorgi seakan berat untuk melepaskan Gaby tinggal bersama dengan dirinya. Bagaimana tidak. Selama ini, Djorgi selalu melihat wajah sang putri. Setiap hari secara langsung. Selama bertahun-tahun.
Dan setelah Gaby tinggal di tempat Yumi, kemungkinan dirinya hanya akan melihat wajah Gaby melalui layar ponselnya.
Meski bagi Djorgi, pulang pergi ke negara tempat Yumi tinggal bisa dia lakukan dengan mudah. Tapi tetap saja dia tidak akan melakukannya.
Bisa-bisa, Djorgi tidak tega dengan kehidupan Gaby yang baru. Alhasil, semua rencana mereka akan berantakan. Dan sama sekali tidak membuahkan hasil.
Djorgi tidak semerta-merta memutuskan seorang diri. Tapi, Djorgi juga mengatakan serta meminta pendapat kepada kedua orang tuanya.
Beruntung, kedua orang tua Djorgi juga sependapat dengan rencana yang dibuat oleh mantan menantunya. Mereka berpikiran, siapa tahu dengan Gaby dibawa serta tinggal bersama mama kandungnya, Gaby akan berubah menjadi lebih baik.
Djorgi memijat pelipisnya yang berdenyut. "Jika aku mengatakan terus terang, pasti Gaby akan menolak." gumam Djorgi.
Benar apa yang dipikirkan Djorgi. Pasti Gaby akan kabur lebih dulu, jika tahu dirinya akan di suruh tinggal di rumah sang mama.
Apalagi selama ini Djorgi tahu jika Gaby sangat membenci sang mama. Entah karena apa.
Djorgi ingin sekali menghubungi Lina. Tapi Djorgi urungkan. Dirinya tahu, jika Lina juga sedang sibuk. Apalagi, toko yang sedang dibangun hampir selesai.
Pasti Lina sedang repot mencari semua perlengkapan untuk mengisi toko kue barunya. Ditambah, Djorgi juga mendengar jika rumah Lina akan direnovasi. Sebab kedua orang tua Lina akan tinggal bersama mereka.
"Lebih baik saya tidak merepotkan Lina. Dia pasti sedang repot." gumam Djorgi.
Djorgi menyenderkan punggungnya di kursi kerja miliknya. Memejamkan kedua matanya, seraya memikirkan cara membawa sang putri ke rumah mantan istrinya.
Djorgi tersenyum. "Mungkin dengan cara itu saja." cicit Djorgi.
Segera Djorgi bangun dari duduknya, pergi ke rumah sahabatnya. Yang bekerja sebagai dokter. "Kamu serius, mau melakukan hal itu?" tanya sang dokter yang juga sahabat Djorgi.
"Aku nggak punya pilihan lain. Jika dalam keadaan sadar, pasti Gaby tidak akan mau." jelas Djorgi.
"Tapi, bagaimana jika Gaby akan marah saat membuka kedua matanya. Kamu nggak memikirkan keluarga Yumi?"
Djorgi terdiam. Apa yang dikatakan sahabatnya memang benar adanya. Jika obat bius yang ada ditubuh Gaby habis, pastinya Gaby akan sadar. Membuka kedua matanya.
Bisa saja, Gaby akan mengamuk saat tahu dirinya tak lagi di rumah yang selama ini dia tinggali. Melainkan di rumah sang mama. Rumah kecil yang dihuni empat anggota keluarga.
"Bukannya aku tidak mau membantu. Sebaiknya kamu bertanya dulu sama Yumi." ucap sang dokter, menjeda kalimatnya.
"Jika Yumi dan suaminya setuju, aku akan mendampingi Gaby dan kamu selama dalam perjalanan ke sana." lanjutnya.
Segera Djorgi menghubungi Robert, suami dari Yumi. Dia menceritakan bagaimana dirinya akan membawa Gaby ke tempat mereka. Karena sudah dapat di pastikan, Gaby akan menolak mentah-mentah keinginannya jika di bawa dalam keadaan sadar.
"Bagaimana?" tanya sang dokter, saat Djorgi mematikan panggilan teleponnya.
Djorgi mengangguk. "Mereka setuju. Robert dan Yumi mengatakan, untuk tidak perlu mengkhawatirkan cara mereka menangkan Gaby jika sampai di sana."
__ADS_1
"Apa kamu yakin, mau melakukan semua ini?" tanya sang dokter.
"Harus. Kamu sendiri tahu, bagaimana peringai Gaby. Jika dibiarkan terus menerus, pasti semakin lama, Gaby tidak bisa terkendali. Apalagi, hanya dia satu-satunya putriku yang akan mewarisi semua harta kekayaanku."
Sang dokter mengangguk, membenarkan apa yang ada dalam pikiran Djorgi. Jika Gaby tetap tidak berubah. Tidak mustahil Gaby akan menjadi pemimpin yang kejam serta semaunya sendiri.
Yang pada akhirnya, semua usaha yang dirintis Djorgi dari nol, serta perusahaan warisan dari papa Djorgi, akan hancur di tangan Gaby. Putri kandung Djorgi sendiri.
"Baiklah. Kapan kita akan melakukannya?" tanya sang dokter.
"Sekarang." tegas Djorgi.
Sang dokter terdiam sejenak. Menghela nafas dengan kasar sembari berdecih. "Sekarang." ujarnya tak percaya. "Aku lihat dulu jadwalku hari ini."
"Tenang saja. Kamu bebas sampai besok." Djorgi tersenyum penuh makna.
"Cckk,,, Astaga,,, Tuan Djorgi. Sekarang aku tahu, dari mana Gaby bisa mempunyai sifat seenaknya sendiri. Papanya." sindir sang dokter. Djorgi hanya tertawa pelan.
"Sebenarnya, siapa yang menyarankan semua ini?" tanya sang dokter, tak percaya jika Djorgi berpikir sampai ke sana.
Djorgi tersenyum simpul. "Lina."
"Lina." sang dokter mencoba mengingat nama tersebut. Sebab dirinya pernah mendengar nama itu. Dan dama sekali tak asing.
"Putri Tuan Tomi dan Nyonya Tanti." jelas Djorgi.
"Ibu dari Mawar?" tanya sang dokter menebaknya.
Djorgi mengangguk heran. Dari mana sahabatnya tersebut mengenal Mawar. "Aku juga bekerja sebagai dokter pribadi di kelurga Nyonya Utami. Dan beberapa kali, aku pernah bertemu dengan Mawar."
"Pantas."
"Hebat sekali, ibu dan anak ini." cicit sang dokter tertawa ringan.
"Kenapa?" tanya Djorgi heran bercampur bingung.
"Dona, kenal?"
Djorgi mengangguk. "Dia teman Gaby. Kelakuan mereka sama."
"Dia sekarang berada di pondok pesantren." jelas sang dokter.
"Kenapa mesti bercanda. Dan asal kamu tahu, Mawar yang memberi saran tersebut pada Dami dan Nyonya Utami."
"Dan mereka menyetujuinya?" tanya Djorgi.
"Buktinya, sekarang Dona sudah ada di sana hampir seminggu."
Djorgi tertawa renyah sembari menggelengkan kepala. Bagaimana tidak, Mawar membuat Dona diasingkan ke pondok pesantren. Dan Lina, membuat Gaby tinggal bersama mama kandungnya.
"Tapi mereka berdua berpikir untuk kebaikan Dona dan Gaby. Tak ada yang salah." tukas Djorgi.
Sang Dokter mengangguk membenarkan ucapan Djorgi. "Lalu bagaimana dengan Gaby?" tanya sang dokter.
Djorgi memainkan kedua alisnya naik turun. "Jangan bilang jika Gaby sudah tak sadarkan diri." tebak sang dokter.
Djorgi mengangguk sambil memamerkan deretan giginya yang rapi dan bersih. "Dosis rendah?" tanya sang dokter.
Djorgi kembali mengangguk. "Astaga. Mulai pukul berapa?"
Djorgi melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sepuluh menit yang lalu." jelas Djorgi.
Tak ingin membuang waktu, Djorgi serta sang dokter segera pergi ke rumah Djorgi. Semua pakaian serta kebutuhan Gaby yang akan dibawa, sudah dipersiapkan oleh pembantu.
Dengan didampingi dokter, Djorgi membawa Gaby pergi ke negara tempat tinggal mantan istrinya dengan menaiki burung besi, yang tentunya milik Djorgi sendiri.
Djorgi membutuhkan dokter di samping mereka. Untuk memastikan Gaby tetap dalam pengaruh obat bius. Tapi tetap menjaga keamanan untuk tubuh Gaby.
Sedangkan di rumah Lina, Mawar merekomendasikan ketiga teman yang pernah bekerja bersama dengannya di butik Nyonya Utami untuk bekerja di toko kue milik sang ibu.
"Hubungi mereka." pinta Lina dengan senyum.
Mawar memeluk sang ibu. "Makasih bu." ucap Mawar.
"Kenapa kamu berterimakasih. Harusnya ibu yang berterimakasih. Ibu tak perlu repot-repot mencari karyawan." tukas Lina.
Dua pembantu yang dibawa ke rumah Lina, juga merasa betah tinggal di sini. Apalagi Mawar dan Lina memperlakukan mereka seperti Tuan Tomi dan Nyonya Tanti memperlakukan mereka.
__ADS_1
"Nyonya Muda, tenang saja. Nanti, jika pekerjaan kami di rumah sudah selesai, kami akan membantu di toko." ucap salah satu pembantu.
"Astaga,,,,, nenek lihat. Bibik mau bekerja di toko kue ibu. Pasti bayaran yang nenek berikan pada bibik kurang." goda Mawar, dengan ekspresi di buat-buat.
"Ya ampun Non,,, tidak. Bibik hanya membantu ibu Non Mawar, tidak dibayar juga tidak apa-apa." ucapnya.
"Nek.... nenek dengar...!! Bibik rela bekerja di toko kue ibu tanpa di bayar. Gratis tis.... Iiihh,,,,, pilih kasih sekali bibik." goda Mawar.
Semua lantas tertawa terbahak-bahak mendengar Mawar berceloteh menggoda bibik. Bahkan, semenjak tinggal di rumah Lina, Nyonya Tanti jarang memakai kursi roda.
Kesehatannya perlahan mulai membaik. Siapa lagi jika bukan karena kecerewetan dari Mawar. Yang selalu menyemangati Nyonya Tanti untuk kembali melakukan terapi, setelah sekian tahun dia tinggalkan.
"Mawar, bisa kakek bicara dama kamu?" tanya Tuan Tomi pada Mawar.
Mawar mengangguk. Tuan Tomi mengajak Mawar ke taman belakang rumah, yang masih dalam proses pembangunan.
Tuan Tomi bahkan rela membeli beberapa rumah yang ada di belakang serta samping rumah Lina. Apalagi jika bikan karena dirinya ingin tinggal bersama mereka.
Tentu saja, rumah Lina yang sempit tak akan mempu menampung semua pekerja yang akan dibawa Tuan Tomi dari rumah lamanya.
Itulah alasan Tuan Tomi membeli beberapa rumah di sekitar rumah Lina. Meski harus merogoh uang yang tidak sedikit.
"Kakek sudah mulai tua. Tak mungkin kakek akan terus memimpin perusahaan. Bagaiman tawaran kakek waktu itu, kamu menerimanya?" tanya Tuan Tomi tanpa bertele-tele, langsung ke tujuan.
Mawar mengangguk. "Tapi Mawar harus menyelesaikan sekolah dulu kek. Mawar tidak mau dipandang rendah dan remeh oleh mereka." tekan Mawar.
Tuan Tomi menepuk pelan pundak Mawar seraya tersenyum senang. "Setidaknya, kamu sudah memberikan jawaban. Tenang saja, sebelum kamu mengambil alih perusahaan. Orang kepercayaan kakek yang akan menjalankannya. Tapi tetap kakek akan memantau."
Tuan Tomi merasa jika keadaan fisiknya tak lagi bisa diajak untuk pergi jauh. Badannya serta otaknya jiga butuh untuk istirahat. Mengingat umur beliau yang memang sudah lanjut usia.
Keduanya kembali ke depan. Bergabung bersama dengan Nyonya Tanti dan Lina. "Sebentar ya bu, Mawar hubungi mbak Santi, mbak Amel, dan mbak Tia." ucap Mawar.
"Semoga mereka bisa, jadi ibu nggak perlu bingung cari karyawan."
Mawar mengangguk setuju. Terlebih Mawar juga sudah kenal dengan ketiganya. Ketiganya adalah perempuan baik, yang selalu melindungi Mawar saat berada di butik.
Meski diantara mereka ada salah satu yang menjadi anggota geng motor. Tapi Mawar yakin, dia tidak akan mencampur adukkan dengan pekerjaan.
Terbukti, butik Nyonya Utami tetap terjaga kedamaiannya.
Mawar menghubungi satu persatu mereka bertiga. Menanyakan kabar, serta mengatakan tujuan Mawar menghubungi mereka.
"Bagaimana?" tanya sang ibu, saat Mawar telah selesai menghubungi ketiganya.
Mawar mengangguk seraya tersenyum. "Syukurlah." ujar Lina.
"Nanti, ibu akan buatkan mereka tempat tidur di sini. Jadi, mereka tidak perlu kebingungan untuk mencari kontrakan." jelas Lina.
"Kalau begitu, nanti Mawar kasih tahu ke mereka bu. Takutnya mereka keburu cari kontrakan." tukas Mawar, kembali memberitahu mereka terkait tempat tidur melalui pesan tertulis.
"Mawar,,,,," panggil sang nenek.
"Apa nek?" tanya Mawar, dengan jari masih sibuk dengan ponselnya.
"Beberapa hari lagi, mama Jerome akan berulang tahun. Kamu sudah tahu?" tanya Nyonya Tanti.
"Sudah, tapi Mawar belum diundang."
"Tunggu saja, pasti kamu nanti akan diundang." timpal Tuan Tomi.
"Sudah kamu pikirkan, hadiah apa yang akan kamu berikan pada mama Jerome?" tanya sang ibu.
Mawar mengangguk. "Apa?" tanya Nyonya Tanti.
Mawar memandang sang kakek, nenek, serta ibu secara bergantian. "Berlian." jawab Mawar dengan singkat.
Mawar memainkan bibir serta alisnya dengan lucu. "Kamu itu." ujar Nyonya Tanti tertawa.
Sebab, apa yang dikatakan Mawar memang tepat. Nyonya Meysa adalah penggemar perhiasan. Tentu saja dengan harga mahal, dan tidak pasaran.
"Kamu sudah beli?" tanya Tuan Tomi.
"Mawar pesan kek. Tapi uangnya kakek." tukas Mawar tertawa lirih.
"Pasti calon mertua kamu akan senang sekali." goda sang ibu.
"Ya,,,, begitulah. Sangat mudah menebak, apa yang tante Meysa inginkan. Beruntung, Mawar sekarang mempunyai kakek kaya." kelakar Mawar.
__ADS_1
Tuan Tomi tertawa lepas. Bahkan, Nyonya Tanti sampai menitikkan air mata karena terus tertawa sedari tadi.