Mr. Mafia Vs Gadis Muslimah

Mr. Mafia Vs Gadis Muslimah
Tak peduli


__ADS_3

Pagi harinya perlahan mata Mark terbuka, di lihatnya sekeliling ruangan itu. Kepalanya tampak berdenyut pusing, mungkin karena pengaruh Alkohol yang ia minum semalam.


Beberapa menit Mark terdiam, membiarkan dirinya dengan posisi berbaring terlebih dahulu. untuk mengurangi rasa pusing yang mendera kepalanya.


Ah ternyata aku sudah sampai dikamar, tunggu? siapa yang mengganti bajuku. Gumam Mark dalam hatinya saat melihat baju yang ia kenakan berbeda dengan yang terakhir dia pakai.


Ia pun langsung terduduk di ranjang dengan menyandarkan kepalanya.


sepi, sunyi tak ada siapa pun kecuali dirinya dan jarum jam yang berdenting.


Clek.


Pintu terbuka menampilkan Annisa yang membawa nampan, berisi bubur dan secangkir teh hangat untuk Mark.


Kakinya melangkah masuk dan menaruh nampan di meja kecil sebelah ranjang.


"Kau sudah bangun bee?" Ucap Annisa tersenyum pada Mark.


Yang ditatap hanya menunjukkan ekspresi dingin tak terbaca.


"Minum dulu." Ucap Annisa menyerahkan secangkir teh hangat itu pada suaminya.


Annisa tau suaminya pasti pusing, dan teh hangat di pagi hari cukup bisa membuat rileks.


Diraihnya gelas itu dan Pyar! Gelas itu di lempar oleh Mark, dan hancur berkeping-keping di lantai tak berbentuk.


Annisa begitu terkejut dengan reaksi yang di tunjukkan oleh Mark pada pagi itu.


Diraihnya mangkuk berisi bubur dan di dorong jatuh ke bawah.


Pyar!

__ADS_1


Nasib mangkok bubur tersebut kini sama dengan gelas yang di lempar Mark, jatuh berserakan tak berbentuk.


Percikan dari bubur itu, sedikit mengenai kaki milik Annisa, Augh rintih Annisa yang terasa panas di kaki namun tertahan di dalam hatinya.


"Pergi! Aku tak mau melihatmu." Ucap Mark membentak Annisa


Annisa mematung di tempatnya. "Bee, jangan seperti ini, percayalah padaku." Ucap Annisa lembut pada Mark.


Perlahan kaki Mark turun dari kasur, melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Namun tubuhnya masih belum bisa berdiri dengan sempurna.


Annisa dengan sigap membantu menopang tubuh suaminya, Namun lagi-lagi di tepis oleh Mark.


"Lepaskan." Ucap Mark pada Annisa, namun ia tak melepaskan dan menuntun suaminya.


"Biar ku bantu." Ucap Annisa lembut.


Dan salah satu telapak tangan nya terkena pecahan kaca,


Aughhh


Mark langsung masuk kedalam kamar mandi membiarkan Annisa terduduk di lantai.


Buliran Air mata lolos dari sudut mata Annisa melihat sikap Mark yang keras kepala padanya pada pagi hari ini.


Namun Annisa segera menghapus air mata itu, di usap nya dengan kasar.


Annisa segera berdiri dan membersihkan tumpahan bubur dan teh yang ada di lantai.


Tak lupa, ia juga sudah menata baju untuk suaminya, ditaruh nya dengan rapi di atas kasur.

__ADS_1


Setelahnya Annisa mengobati tangan nya yang terluka, tak lupa mengoleskan salep pada kakinya yang memerah.


"Kakak ipar? Dimana kak Mark?" Ucap Maira saat melihat Annisa sudah sampai lantai bawah.


"Dia sedang mandi." Ucap Annisa tersenyum pada Maira.


"Oh.." Ucap Maira yang mendudukkan dirinya di kursi ruang makan.


Tak lama Mark muncul dengan setelan jas yang sudah rapi di tubuhnya. Namun setelan jas itu bukan yang di siapkan Annisa untuknya.


"Morning kak." Ucap Maira tersenyum pada Mark.


"Hem, Morning." Ucap nya singkat.


"Maira, kakak akan langsung ke kantor? jika kau ingin sarapan? kau bisa menyusul." Ucap Mark pada Maira.


"Ah, aku sudah selesai Ayo." Ucap Maira menggandeng tangan Mark.


Keduanya melangkah keluar tanpa memperdulikan kehadiran Annisa.


🌈🌈🌈


Happy Reading ya guys.


Jangan lupa like komen dan Vote.


sayang kalian pembaca setiaku.


🍃


Disini Mark seorang Mafia ya, dia gak suka di khianati. Dan Annisa tidak memiliki bukti yang menunjukkan dia tidak bersalah dan di jebak😊

__ADS_1


Oke, ikutin alurnya.


__ADS_2