Mr. Mafia Vs Gadis Muslimah

Mr. Mafia Vs Gadis Muslimah
Matahari (S2)


__ADS_3

Tepat pukul 8 Malam, Rama baru sampai di rumah itu,


"Kak! Lu bisa ga sih ga bikin masalah! Inget ini hari pertama lu masuk kuliah!" Ucap Rafa langsung menghadang kakaknya yang hendak masuk kedalam kamar.


"Shut! Diem ih! Jangan keras-keras, nanti Mama denger."


"Biarin! Makanya lu jangan bikin masalah."


"Dosen nya ngebosenin tau! Lagian gue juga udah faham materinya!"


"Ya tapi! Ga gitu dong kak cara lu ah!"


"Rama... Rafa... Kalian kenapa?" Tanya Mama Annisa saat melihat keduanya tengah mengobrol sambil berdiri, jam memang menunjukkan pukul 8 yang artinya makan malam akan segera di lakukan dalam rumah itu.


"Gak papa Ma, hanya mengobrol." Ucap Rama dengan cepat.


"Kau baru pulang Rama?"


"Ah ya ma, banyak tugas yang harus di kerjakan dan berkas yang harus aku lengkapi karena aku mahasiswa baru."


"Cih sok! Padahal paling keluar seneng-seneng! Mama ih jangan mau di kibulin kakak." Ucap Rafa dalam hati, tak ada keberanian yang cukup untuk mengungkapkan kebohongan sang kakak.


"Oh begitu! Ya sudah segera mandi dan langsung turun." Ucap Mama Annisa memperingati.


"Ya Mama." Ucap Rama tersenyum pada sang Mama dan masuk kedalam kamar.


"Rafa! Kau mau langsung turun?" Tanya Mama Annisa.


"Ya ma, ayo." Ajak Rafa pada Mamanya.


🎶


"Polisi! Polisi! Polisi!" Teriak Kirana pada malam itu dengan menggema.


"Kabur-kabur!" Ucap Segerombolan preman itu lari terbirit-birit.


Cukup malam memang, saat ini Rama tengah dikroyok dengan preman yang jumlahnya cukup banyak, ada beberapa bagian tubuh milik Rama yang memar dan mengeluarkan darah. Entah kegilaan apa yang Rama lakukan sehingga memancing sekelompok preman untuk menghajar dirinya kala malam itu.

__ADS_1


"Kau tak apa?" Suara lembut Kirana mendekat ke arah Rama lalu dengan gerakan cepat membantunya berdiri dan duduk di kursi yang tak jauh dari situ.


"Kau terluka! Sebentar." Ucap Kirana lembut.


"Jangan sentuh!" Ucap Rama memperingati keras saat Kirana mengambil tangan nya untuk di obati.


"Tenang! Aku tak ada niat jahat padamu! Aku akan mengobati luka mu." Ucap Kirana dengan nada lembut.


Srek!


Srek!


Kirana merobek sedikit kain hijab miliknya untuk membalut luka Rama yang cukup dalam.


"Kau!"


"Sudah tenanglah! Percaya padaku!" Ucap Kirana terus mengobati lengan dan beberapa luka yang ada di tubuh Rama.


"Sudah!" Ucap Kirana tersenyum.


"Ha?" Tanya Rama tak mengerti, ia cukup kagum dengan wanita itu, meski awalnya dia ragu, tapi melihat senyum dan caranya membalut luka miliknya, mengorbankan hijab yang ia pakai untuk membalut luka Rama. Baik sekali. Gumam Rama dalam hatinya.


"Ah makasih."


"Ya sama-sama." Ucap Kirana tersenyum.


"Kau pulang dengan siapa?" Ucap Kirana bertanya lagi, cukup jahat jika ia meninggal kan Rama sendirian dengan keadaan masih terluka meski dirinya sudah membantu untuk mengobati.


"Ah itu, aku sudah menelfon adikku untuk menjemput." Ucap Rama tergugup.


"Ya sudah aku temani kau menunggu sampai adikmu kesini."


"Ah tidak usah! kau pergi saja. sudah malam. tak baik wanita masih ada di luar."


"Kau yakin?" Tanya Kirana memastikan


"Ya."

__ADS_1


Dan bersamaan dengan itu, supir yang biasanya mengantar Kirana datang, dengan gerakan cepat Kirana berpamitan dan melempar senyum kearah Rama.


"Lekas sembuh." Ucap Kirana dengan senyum tulus. Ah sungguh baik dan sangat baik.


🎶


"Astaga kak! Lu tuh!" Ucap Rafa mengomel kepada kakaknya. Kini keduanya sudah berada dalam mobil Rafa dan melajukan nya untuk pulang ke rumah.


Namun yang terkena omelan tak sedikit merasakan sakit di semua luka yang dia peroleh, pikiran nya malayang tentang senyum manis, ah sangat tulus. Telinganya tuli walau hanya sekedar mendengar omelan sang adik.


"Kak woy!!!" Ucap Rafa sedikit menggeplak lengan kakaknya dan membuatnya mengaduh kesakitan.


"Lu tuh! Ada dendam apa si sama gue! main geplak-geplak!" Sewot Rama pada adiknya.


"Lu tuh dengerin gue ngomong ga sih kak."


"Emang lu ngomong apaan?"


"Astaga kak! Lu baiknya gue buang aja ke jurang!"


"Kenapa? Lu takut kalah saing sama gue? karena gue lebih tampan dari lu? Ya memang! Gue lebih tampan dari lu." Ucap Rama dengan pedenya.


"Astaga kak! Lu beli paket pede itu dimana sih! Heran gue sama lu."


"Faktanya gue memang ganteng dari lu!"


"Lu tuh! Pikirin, alesan apa yang lu kasih ke Mama! pulang dengan luka-luka gitu! mana ini apaan sih! Balut pake kain! Ga mampu lu beli perban." Ucap Rafa menunjuk kain dengan sedikit mengangkat dan mengibaskan.


"Jangan pegang!" Ucap Rama menepis kasar tangan adiknya Rafa.


"Apaan sih kak! cuman kain lusuh doang kayak gitu?" Ucap Rafa melenggos.


"Diem! Ganggu aja!" Ucap Rama singkat.


Duh sial! Gue lupa lagi tanya namanya! Cantik banget sih dia! apalagi kalau senyum! Matahari! Kita pasti akan bertemu! Gumam Rama dalam hatinya.


Kata Matahari ia sematkan pada Kirana, gadis cantik dengan senyum indah secercah mentari.

__ADS_1



Happy Reading


__ADS_2