
Ah indahnya, Rama masih tampak nyenyak mendekap Kirana dalam pelukan mya, tidurnya sangat damai bahkan ia enggan untuk membuka matanya kembali.
Hingga tanpa sadar, Kirana perlahan melepaskan dekapan Rama dalam tubuhnya. perlahan namun pasti, ah masih ada rona malu dalam dirinya, benarkah? ia sudah menerima Rama menjadi suaminya. rasanya masih saja kaku dan nampak aneh.
Kakinya melangkah keluar apartemen, melihat sekeliling yang ada. Hingga terbesit dalam pikiran nya, untuk membuatkan Rama sarapan. mungkin ini akan menjadi awal yang baik.
Susu! Telur! Tak ada yang lain? Lalu ingin memasak apa!
Ah baiklah kita buat nasi goreng saja, ujarnya dengan senyum mengembang. 30 menit setelah berkutat dengan semua nya, akhirnya. dua piring nasi goreng sudah tersaji dengan sempurna dengan telur ceplok yang menjadi lauk pagi ini. Segelas susu hangat cukup menghangat kan bukan?
"Kemana dia?" Ucap Rama meraba sisi ranjang kamarnya, namun nihil tak di temukan sosok istrinya. Kakinya melangkah turun dengan tergesa-gesa "Jangan-jangan semalam, aku hanya bermimpi bahwa dia memilihku!" Monolog nya dengan pikiran negatif bahwa Kirana akan meninggalkan nya.
"Eh sudah bagun? Selamat pagi!" Ucap Kirana tergugup kala melihat Rama sudah berada di depan nya dengan celana pendek dan membiarkan dadanya terbuka.
"Kau memasak semua ini?"
"Ya tentu! maaf hanya ini yang bisa ku masak untukmu! Semoga tak mengecewakan mu, Makanlah! Baru saja aku ingin memanggilmu! Tapi kau sudah kemari!" Ucap Kirana mempersilahkan Rama duduk di kursi yang ia sediakan.
"Ku kira kau berubah pikiran dan meninggal kan ku!"
"Hah, masih ada kah rasa tak percaya padaku dalam hatimu Rama? bukankah sebuah hubungan harus di landasi dengan rasa saling percaya!" Ucap Kirana dengan menohok tajam.
"Ah! Kau marah? wajar jika aku tak... ah maksudku belum mempercayai mu sepenuhnya." Ucap Rama meralat ucapan nya.
"Ah baiklah dan ku mohon hari ini kau bersikap dan berusaha percaya dengan ku, dan aku berjanji tak akan meninggalkan atau mengecewakan mu!"
"Baiklah, mulai sekarang aku akan mempercayai mu sepenuhnya," Ucap Rama mengakhiri pembicaraan pagi itu, sebelum menikmati sarapan nya.
"Kirana!"
"Ya Rama!"
"Bisakah kau tak memanggil ku dengan sebutan nama? Tak enak bila orang lain yang mendengar, bukan kah kita sudah sepakat untuk memulai semuanya!" Ucap Rama dengan ter gugup.
Rama, Rama!!!! Kenapa semenjak kemarin hal apapun yang menyangkut Kirana kau selalu saja berbicara panjang lebar bahkan bersikap lembut kepada Kirana? Tuhan! kebaikan apa yang ia lakukan hingga bisa menaklukan macan betina seperti dirimu Rama?
"Ah ya! Aku setuju dengan pendapat mu? Lalu aku harus memanggilmu apa?" Tanya Kirana dengan lembut.
"Sayang? Suami ku!" Ucap Rama memberikan pilihan.
"Rasanya akan aneh, aku belum terbiasa? apakah ada yang lain?" Ucap Kirana melakukan negosiasi, "Ah itu masih.... bagaimana kalau aku memanggilmu dengan sebutan mas?"
"Ya sudah tak apa! tak terlalu buruk."
"Ya."
__ADS_1
🎶
Waktu terus berlalu, begitu jahat hingga ia terus bergulir dan memberikan banyak kesan dan pesan untuk mendewasakan kita dalam segala sisi dan setiap tindakan yang kita lakukan bukan?
Rama sudah memulai aktivitasnya di kantor, namun Rafa masih enggan untuk bekerja ia masih meluangkan waktu dengan terduduk dikamar, seolah sedang melayangkan protes atas keputusan yang di ambil oleh Kirana.
Suasana meja makan tampak hening, Rafa tak hadir di tengah keluarga itu, hingga usai makan Mama Annisa beranjak untuk mengecek keadaan putranya.
"Astaga! Demamnya sangat tinggi!" Lirih Mama Annisa dengan panik dan rasa khawatir.
"Tenanglah, aku akan memanggil Kirana untuk memeriksa putramu!" Ucap Papa Mark menenangkan istrinya, bukankah menantinya itu seorang dokter? bukan nya tak mampu untuk memanggil dokter ke rumah untuk memeriksa putranya Tapi itu membutuhkan waktu yang lama bukan?
"Kirana sudah menyuntikkan obat penurun demam pada tubuh Rafa, kita tunggu dua jam kemudian mungkin panasnya akan turun!" Ucap Kirana dengan tersenyum.
"Makasih sayang!" Ucap Mama Annisa memeluk menantunya.
"Ya ma, kita keluarga sudah seharusnya kita saling tolong menolong bukan?"
"Kirana... Kau jahat.... Kirana.... kenapa kau memilih abang ku yang menyebalkan itu..
Kirana.... " Ucap Rafa dengan segala celotehnya di bawah alam sadar miliknya. Tangan nya reflek menarik Kirana untuk mendekatinya bahkan sangat dekat.
Darah Rama berdesir melihat apa yang ada di depan nya itu! "Jangan menyentuhnya!" Ucap Rama langsung menarik Kirana dan melepaskan cengkraman tangan itu.
"Ma, Pa! Istirahat biarkan Kirana yang memantau perkembangan Rafa!" Ucap Kirana lembut kepada Papa dan Mamanya seolah tau dengan suasana yang kurang mengenakan.
"Ya ma? Kirana yang nantinya akan menjaga Rafa dan memantau perkembangan nya! Mama dan Papa jangan khawatir!"
"Baiklah."
"Apa yang kau katakan! Kenapa kau ingin menjaganya! Kau masih mencintainya! Makanya kau peduli dengan nya!" Ucap Rama langsung tersulut emosi atas tindakan sang istri saat kedua orang tua nya sudah pergi untuk beristirahat.
"Tenanglah!"
"Tenang-tenang kau bilang! Apa kau ingin menghabiskan waktu dengan nya semalaman disini! Kau terpaksa memilih ku kan!" Cercah Rama pada sang istri.
"Hah...
"Kenapa kau menghela nafas! Artinya itu benar bukan!" Ucap Rama dengan nada sinis.
"Kemari lah duduk! Tunggu disini aku akan membuatkan mu sesuatu!"
"Aku tak percaya kau pasti akan berusaha kabur!"
"Rama!" Ucap Kirana dengan mata mendelik tajam kearah suaminya.
__ADS_1
"Pergilah!"
"Hah, kau sangat keras kepala! Bahkan aku hanya ingin mengambilkan minum untukmu" Ucap Kirana dengan lembut!
"Hem....
"Dengarkan penjelasan ku, Yang pertama aku seorang dokter? jadi sudah tugasku kan membantu seseorang yang membutuhkan bantuan ku! Termasuk adikmu! jika bukan kita yang menjaganya lantas siapa? Papa dan Mama? apa kau tak kasihan melihat kedua orang tua mu tak tidur semalaman? Rafa adalah adik kandung mu kau seharusnya ada di samping nya dan menjaga dirinya selalu! Tak ada maksud apapun dari ini semua! hanya sebatas aku dokter dan menganggap Rafa seperti adikku!" Ucap Kirana dengan tersenyum.
"Yayaya!"
"Kau tidurlah aku akan memeriksa Rafa sebentar!"
"Tak mau! Kau yang seharusnya tidur!"
"Lalu? bagaimana dengan.... "
"Biarkan aku yang menjaganya."
"Hah baiklah! Jangan lupa menganti kompres nya setiap 30 menit sekali"
"Yayayaya!!! Aku tau! tidurlah sana!"
"Baiklah, aku akan tidur di sofa sini menemanimu, jika demamnya masih tinggi kau boleh membangunkan ku!"
"Hem."
🎶
...HARAP DIBACA! JANGAN DI SKIP!!!!...
Halo readers, kayaknya agak gak terima ya kalau Kirana milih Rama wkwkwk,
Sudut pandang author gini.
"Kirana sudah di kasih pilihan sama Papa Mark untuk memilih, dan apapun pilihan nya kedua anak ingusan itu harus menghormati nya. So Kirana pilih Rama."
Kok Rama si? kenapa ga Rafa! kan mereka saling mencintai. Kalau Tuhan selalu mengabulkan apapun yang kita inginkan? Dimana kita sebagai manusia bisa memahami arti syukur? Cinta gak harus memiliki kan? Makna cinta yang sebenarnya adalah saat kita melihat orang yang kita cintai bahagia.
Dan Rafa sama Kirana statusnya masih tunangan ya, sedangkan sekarang posisinya Rama dan Kirana adalah suami istri yang sah.
Bagi Author, kalau kita udah komitmen menikah entah itu paksaan atau tidak, setidaknya kita harus bisa menyelesaikan permasalahan, jangan langsung mengambil keputusan bercerai jika masih ada cara lain untuk memperbaiki semuanya, intinya usaha dulu.
Wkwkwk gimana? Udah mengikhlaskan Kirana dengan Rama? Author harap udah!
Untuk Rafa, maafin author yang udah bikin kamu sakit hati, doa mama Annisa pasti membawamu menemukan cinta terbaik mu.
__ADS_1
Salam manis dari author yang receh ini❤