
Perlahan namun pasti keadaan Annisa hampir pulih sepenuhnya,
Tepat 4 hari setelah sadar luka jahitan yang ada di perutnya sudah mengering dan hari ini tepat ke 7 hari Annisa sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya.
Keluarga Annisa pun silih berganti untuk menjenguknya.
Semua keadaan sudah membaik, Dengan Mark yang tak pernah meninggalkan istrinya dan selalu menjaganya. Dan Asisten Hito sangat bisa di andalkan untuk mengelola perusahaan selama Mark menjaga istrinya.
Perlahan Annisa sudah menerima kenyataan bahwa Allah belum mengizinkan nya memiliki momongan, dan Allah pasti akan memberikan momongan di waktu yang tepat bukan? Dan kita hanya bisa berserah diri kepadanya untuk mendapatkan hasil yang terbaik menurut nya.
"Ada yang perlu aku bantu bee?" Ucap Annisa pada suaminya yang kini tengah sibuk mengepak semua keperluan nya untuk pulang.
"Tidak!" Ucap Mark.
Huh dasar keras kepala. Gumam dalam hatinya.
"Jangan menyumpahi ku yang tidak-tidak sayang, aku tak ingin kau kelelahan biar aku saja." Ucap Mark.
"Hem baiklah terserah kau saja terimakasih." Ucap Annisa tersenyum. percuma bukan berdebat dengan suaminya yang sekarang jauh lebih posesif padanya.
"Bee." Ucap Annisa memangil.
"Iya sayang, ada apa lagi." Ucap Mark tersenyum.
"Kau sudah berjanji padaku bukan? kalau kau akan mempertemukan aku dengan cerry setelah aku sembuh." Ucap Annisa mengingatkan.
Deg
Deg
Deg
Jantung Mark seakan terus bertalu dengan menggila mendengar penuturan istrinya bagaimana ini? Mark sudah merapalkan segala doa semoga istrinya akan menerima kenyataan ini.
"Iya sayang, aku akan membawamu bertemu dengan Cerry." Ucap Mark dengan nada keterpaksaan.
🍃
Tepat pukul 10 pagi Annisa sudah kembali ke mansion milik Mark,
"Selamat datang sayang." Ucap Ibu Tati yang berada di meja makan, yang baru saja menghidangkan beberapa menu makanan.
"Ibu," Ucap Annisa berbinar memeluk Ibu nya.
"Ibu kenapa bisa disini?" Ucap Annisa,
"Ibu dan Ayah akan tinggal disini sementara untuk menjagamu, sampai kau benar-benar sembuh sayang." Ucap Mark menjelaskan.
"Kenapa Ibu yang menyiapkan semua nya? Kan ada pembantu bu?" Ucap Mark bertanya, mencium tangan Ibu Tati setelah istrinya melepas pelukan itu.
__ADS_1
"Tak apa, Ibu sengaja memasak untuk kepulangan Annisa, Mari makan." Ucap Ibu Tati.
"Ayah mana bu?" Ucap Annisa bertanya.
"Ayah disini sayang." Ucap Ayah Arifin yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Ayah." Ucap Annisa menghambur ke pelukan Ayahnya melepas rindu.
"Aih, putri kecil ayah? tak malu memeluk ayah seperti ini, ada suami mu itu?" Goda Ayah Arifin
"Tak apa Ayah, Annisa rindu." Ucap nya.
Setelah puas memeluk Ayah dan Ibu nya, Annisa mendudukkan dirinya di kursi meja makan, menyantap hidangan yang sudah tersaji di depan nya.
Acara makan kali ini, berbeda dari biasanya, ada rona bahagia dan tawa dari mulut Annisa.
Semoga kau selalu di beri senyum kebahagiaan sayang. Lirih Mark dalam hatinya.
Seusai makan, Annisa dan Mark mengistirahatkan tubuh mereka terlebih dahulu.
"Sayang." Ucap Mark memangil istrinya.
"Ayo tidur."Ucap Mark lagi.
"Kau tidur saja duluan bee."Ucap Annisa.
"Aku ingin tidur memelukku mu, ayolah." Ucap Mark lagi.
Begitu istrinya naik keatas, Mark langsung memeluk nya dan mendesulkan kepalanya di antara gunung kembar milik Annisa.
Memeluknya dengan erat namun penuh dengan kelembutan. Tak butuh waktu lama, perlahan kedua bola mata Mark terpejam dengan nafas beraturan.
🍃
Sore harinya tepat pukul jam 4 Annisa dan Mark sudah siap untuk bertemu dengan Cerry, dan Mark tak akan menunda lagi kenyataan ini.
Annisa harus mengetahuinya dengan segera dan berasal dari mulutnya, jangan sampai ada orang lain yang menyampaikan itu akan menyakitkan lagi bukan?
Didalam mobilnya, kini sudah ada Asisten Hito di kursi kemudi. Mark dan Annisa di kursi penumpang.
Mark menggunakan penutup mata untuk menutupi mata istrinya terlebih dahulu.
Mobil melaju membelah sorenya jalanan Ibu kota dan berhenti di pemakaman keluarga milik Roman.
"Ayo turun." Ucap Mark menuntun istrinya untuk turun.
Dan Annisa menurutinya, melangkah sesuai dengan arahan Mark.
"Sudah siap bertemu dengan Cerry?" Ucap Mark berbisik pada Annisa dan ia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Perlahan Mark membuka penutup mata milik Annisa dan
Deg
Deg
Deg
Di depan nya ada sebuah nisan kecil yang tertulis dengan jelas nama Cerry di atasnya, dengan tanah yang masih basah.
"Bee Cerry." Ucap Annisa dengan mata berkaca-kaca.
"Tuhan lebih sayang kepada Cerry sayang, dan maafkan aku tak bisa menjaga Cerry untuk mu." Ucap Mark lirih.
Hap,
Mark menangkap tubuh istrinya yang hampir saja terjatuh ke tanah.
"Hiks.... Hiks.... Hiks... "
"Cerry, maafin bunda yang gak becus memjaga Cerry." Ucap Annisa dengan berlinangan air mata.
"Seharusnya bunda yang ada disini kalau Cerry tak menolong bunda. Maafin bunda Cerry." Ucap Annisa lirih.
"Hiks.... Hiks... Hiks.... "
"Aku yang salah, karena aku Cerry meninggal." Ucap Annisa lirih menatap suaminya.
"Sayang, kira tak bisa menentukan kematian seseorang, Ikhlaskan Cerry untuk pergi, dia pasti bahagia di sana dan kau tak boleh menyalahkan dirimu." Ucap Mark menenangkan istrinya.
"Doakan Cerry ya." Ucap Mark lirih pada Annisa, mengusap dengan pelan tubuh istrinya untuk menenangkan.
Setelah di rasa tenang, Annisa mulai mendoakan Cerry agar ia diberikan kebahagiaan di sana.
Beribu kata Maaf, Annisa ucapkan di depan nisan Cerry.
"Kita pulang ya?" Ucap Mark yang melihat hari sudah mulai gelap dan Annisa hanya menganggukkan kepalanya.
Sepanjang perjalanan pulang Annisa membuang tatapan nya ke luar jendela, tatapan nya kosong menerawang jauh. Dan Mark mengerti, masih ada rasa bersalah yang di tunjukkan Annisa melalui sorot matanya.
Maira! kau harus mendapatkan pembalasan yang setimpal! meski kau adikku. Lirih Mark mengepalkan kuat emosinya.
🌈🌈🌈
Happy Reading ya guys,
Jangan lupa like dan Komen
Buat yang udah Vote Terimakasih 🌈❤
__ADS_1
Part besok bahas tentang hukuman Maira ya, sabar uyyy😂😂😂😂