
Apa kau datang untuk membela nya Annisa! Kakak terlalu bodoh membiarkan mu menikah dengan orang seperti nya." Ucap Kakak Hanafi dengan raut wajah sedih.
"Kakak tenangkan dirimu. Istighfar jangan membuat emosi menguasai dirimu." Ucap Annisa menepuk pelan pundak kakaknya.
"Astaghfirullah." Ucap Kak Hanafi lirih mengelus dadanya.
"Kakak berhak marah bahkan kecewa pada suamiku, yang membohongimu bahkan Ayah dan Bunda. Annisa juga kecewa dengan nya. Pernikahan yang seharusnya suci namun terselip kebohongan didalam nya." Ucap Annisa.
"Sayang, tapi kau bilang sudah menerima ku bukan?" Ucap Mark lirih menatap Annisa.
"Iya kau memang benar! pernikahan tak seharusnya ada kebohongan." Ucap Kak Hanafi.
"Sayang.... " Ucap Mark beranjak dari duduknya ingin mendekati istrinya karena sang istri tak kunjung merespon ucapan nya.
"Berhenti di tempatmu!" Ucap Kak Hanafi dengan galak pada Mark.
"Lalu?" Ucap Kak Hanafi menunggu kelanjutan kata dari Annisa, sedangkan Mark harap-harap cemas dengan kata yang dilontarkan oleh sang istri.
"Tapi menurut kakak apakah perceraian adalah solusi terbaik yang dilakukan untuk Aku dan Mark?" Ucap Annisa tersenyum pada kakaknya.
"Tentu! Dia tak pantas bersama mu, tangan nya selalu membunuh orang yang tak berdosa." Ucap Kak Hanafi yakin.
"Sayang ku mohon, aku tak ingin kau mengucapkan kata pisah lagi dari bibirmu." Ucap Mark menyela perkataan dua kakak beradik di depan nya.
"Ah Mark berdosa ya? Apa kakak juga seseorang yang suci tanpa dosa?" Ucap Annisa tersenyum.
"Kakak bukan orang yang suci Annisa, kakak memiliki dosa." Ucap Kak Hanafi.
"Apakah kakak pantas menghakimi Mark yang berdosa? Bukan kah kakak juga sama-sama berdosa?" Ucap Annisa menatap manik mata milik Kak Hanafi.
__ADS_1
"Tapi Annisa, Dosa dia sudah terlalu banyak." Ucap Kak Hanafi dengan kekeh.
"Sedikit atau banyak? tapi itu tetap dosa bukan? Apa gunanya ada kata Maaf? Bukan kah kita di ajarkan untuk saling memaafkan. Bunda dan Ayah selalu menanamkan kata baik itu pada diri kita bukan?" Ucap Annisa.
"Sudah! Kakak tak ingin berdebat denganmu! Sekarang katakan apa mau mu." Ucap Kak Hanafi cepat.
"Kenapa kakak menjadi seseorang yang keras kepala dan pendendam?" Ucap Annisa tersenyum.
"Sama seperti kakak, Annisa juga kecewa mendengar Mark membohongi Annisa tentang jadi dirinya. Annisa tidak membenarkan apapun alasan yang Mark ucapkan berkaitan dengan keterlibatan nya dalam dunia Mafia." Ucap Annisa.
"Huft... Tapi perceraian bukan lah jalan satu-satunya dan terbaik. Annisa memaafkan Mark tentang kebohongan itu. Mark juga sudah berbesar hati menceritakan semua padamu kak, Jika dia mau! selamanya ia akan menyembunyikan nya dari mu bukan?" Ucap Annisa tersenyum.
"Soal kejahatan Maira yang dilakukan terhadap Annisa, biarlah Allah yang membalasnya."
"Siapa yang menanam kebaikan di muka bumi, maka ia juga akan menuai kebahagiaan itu, dan siapa yang menanam keburukan maka hanya kesengsaraan yang akan ia dapatkan."
"Annisa percaya, Mark akan menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya."
"Untuk itu? Apakah kakak bisa memberikan satu pintu maaf untuknya. Mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Percaya bahwa inilah takdir terbaik dari Allah untuk keluarga kita. Apakah kakak ragu atas janji kebahagian yang Allah siapkan di setiap luka yang kita dapat?" Ucap Annisa panjang lebar dan tersenyum ke arah Kak Hanafi.
Kak Hanafi mencerna setiap kata maupun kalimat yang terucap dari bibir Annisa, sungguh bagaiman bisa ia memiliki adik yang berhati malaikat seperti ini.
"Ya kau benar. Maafkan kakak. Kakak menerima suami mu, dan memaafkan nya. Kakak yakin! Kau bisa membuatnya mengubahnya menjadi pribadi yang lebih baik." Ucap Kak Hanafi memeluk tubuh Annisa.
"Terimakasih kak." Ucap Annisa tersenyum membalas pelukan kakak tersayang nya.
"Ehem... "Deheman yang di keluarkan Mark membuat Kak Hanafi melepaskan pelukan nya.
"Dia istriku! Aku jangan memeluk nya meski kau adalah kakak kandungnya." Ucap Mark berdiri, ia membawa tubuh Annisa di belakang dirinya.
__ADS_1
"Ah kau pelit sekali! Ayolah Annisa juga adikku! Saat dia kecil aku yang memandikan dia." Ucap Kak Hanafi menggoda.
"Kau!" Ucap Mark melotot ke arah Kak Hanafi.
"Kakak sudah lah jangan menggoda suamiku." Ucap Annisa menepuk pelan pundak Mark.
"Hahahahaha.... kau punya suami posesif sekali Annisa ku sayang." Ucap Kak Hanafi.
"Karena aku sangat mencintai nya, dan berhenti memanggil Annisa dengan sebutan sayang. Hanya aku yang boleh memanggil nya sayang." Ucap Mark memeluk posesif Annisa.
"Hahaha... dasar posesif, ya sudah ya dek. Kakak keluar dulu selamat beristirahat sayangku." Ucap Kak Hanafi berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Mark masih mendengus kesal melihat tingkah kak Hanafi yang menggoda dirinya.
"Sudah! kakak hanya menggoda mu saja." Ucap Annisa menepuk puncak kepala Mark lalu pergi meninggalkan Mark di ruang kerja itu.
"Sayang! aku masih kesal, tapi kenapa kah yang malah meninggalkan ku." Ucap Mark berteriak agar Annisa membujuknya lagi.
Annisa berhenti dan menoleh ke arah Mark, dengan isyarat kedipan mata dan gerakan tangan yang berarti "Ayo! Aku menunggu mu di kamar."
πππ
Happy Reading ya guys.
Jangan lupa like dan komen nya ya.
Untuk yang udah Vote terimakasih banyak.
Sayang kalian deh pembaca setiakuππ
__ADS_1