Mr. Mafia Vs Gadis Muslimah

Mr. Mafia Vs Gadis Muslimah
Rama yang menjengkelkan (S2)


__ADS_3

"Ya halo?" Ucap Mark di sebarang sana.


"Apa? Baiklah saya ke sana." Ucap Mark menutup telfon nya. Kepalanya terasa berdenyut! Tolong ini masih jam 12 siang dan apa yang di perbuat oleh bocah begundal itu! Hingga dirinya harus terpaksa datang ke sekolah hari itu! Detik itu juga. Jika dia bukan darah daging nya pasti dia akan lebih memilih menembak mati anak itu! Menyusahkan sekali!


Dalam perjalanan Mark mengumpat dalam hatinya, kenapa dua anak kembarnya memiliki sifat yang sangat kontras. Astaga! Gumam Mark dalam hatinya.


"Apa yang telah di perbuat anak saya ya bu? Sehingga saya harus datang kesini?" Tanya Mark saat mendudukkan dirinya di kursi berhadapan dengan wali murid dari Rama.


Wanita paruh baya itu menatap tanpa berkedip Papa dari Rama, bagaimana tidak? Pembisnis yang di gembar-gemborkan sukses dan wajahnya selalu wara-wiri di majalah, Ah aslinya dia semakin berkharisma bukan! Sangat berkharisma. Meski umurnya sudah tak muda lagi, dia masih sangat tampan. Terkesan sangat dewasa.


"Bu maaf? Kiranya apa yang di lakukan anak saya sehingga saya harus kesini?" Ucap Mark dengan penuh penekanan hingga menyadarkan lamunan ibu guru dari Rama.


Wanita yang usianya masih 30an tahun itu tersadar dengan perasaan gugup ia menjawab. "Ah itu? Maaf pak. Putra anda terlibat perkelahian dengan siswa lain dan menyebabkan siswa itu tak sadarkan diri dan sekarang harus di larikan ke rumah sakit." Tutur ibu guru menjelaskan kepada Mark.


"Apa!" Ucap Mark kaget dengan penuturan wali kelas anaknya.


Astaga Rama apa yang kau lakukan! Jika mama mu tau ini dan Papa selalu melindungi mu, Argh!!! Tak bisakah kau tak membuat masalah Rama! Ucap Mark bermonolog dalam hatinya.


"Saya tidak tau pasti apa yang menyebabkan perkelahian itu, Sementara seminggu ke depan Rama akan saya skors untuk tidak kesekolah." Ucap Ibu Guru memberikan surat itu pada Mark.


"Baiklah! Saya akan mencoba menasehati putra saya bu, Dan saya akan bertanggung jawab untuk semua biaya pengobatan teman Rama tersebut. Nanti asisten saya yang akan mengurus semuanya." Ucap Mark menjabat tangan ibu guru tersebut.


🎶


"Apa yang terjadi Rama! Jelaskan!" Ucap Mark dingin menatap putra sulungnya.


Jam masih menunjukkan pukul 1 siang, dan berakhir lah Rama di ruangan sang Papa, dengan merebahkan tubuhnya di sofa panjang tersebut, tangan nya bermain ria dengan ponsel pintar yang ada di tangan nya.


"Jelaskan? Ah bukan nya Papa sudah mengetahui semua nya dari guruku?" Ucap Rama tanpa mengalihkan pandangan nya dari handphone miliknya.


"Apa Papa dan Mama tidak mengajari mu sopan santun Rama saat ada orang yang lebih tua dari mu bertanya." Ucap Mark dengan nada tegasnya.


"Baiklah Papa." Ucap Rama beranjak untuk duduk menghadap ke arah Papa nya.


"Semua karena Papa yang tidak membelikan aku mobil." Ucap Rama dengan mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Ha? Papa?" Tanya Mark tak mengerti.


"Teman ku tau, bahwa aku hari ini ke sekolah menggunakan kendaraan umum! Dan mereka menghina ku! Aku tak terima dan aku pukul saja mereka!" Ucap Rama dengan entengnya.


"Astaga Rama! Bukan kah kau sudah berjanji dengan Mama mu untuk menjaga emosi mu! Semua permasalahan tak bisa di selesaikan dengan bertarung Rama." Ucap Mark memijat pelipisnya.


"Ya! Aku berkata berusaha Papa, ya maaf bukan salah ku jika aku tak bisa mengendalikan emosiku!" Ucap Rama dengan santai nya.


"Papa bahkan lebih kejam dariku bukan?" Ucap Rama tersenyum miring.


"Astaga Rama! Tapi itu tak patut kau tiru!" Ucap Papa.


"Lha aku kan anak Papa? Tak salah bukan jika kelakuan ku meniru dirimu?"


"Tidak bisakah kau bersikap baik seperti adikmu?"


"Aku tak suka di bandingkan Papa." Ucap Rama dingin, kakinya beranjak pergi merebahkan dirinya kembali ke sofa tersebut.


🎶


Dengan kelakuan Rama yang selalu memusingkan Mark dan Mama Annisa yang tak tau akan hal itu? Baginya Rama dan Rafa tak pernah menyusahkan dirinya. Mereka anak baik dan membanggakan.


"Papa, Mama, Rama sudah mendaftar di salah satu universitas negeri di Amerika, dan Rama berhasil mendapatkan beasiswa disana." Ucap Rama memberitahu kedua orang tuanya.


Ke empat orang tersebut kini tengah berada di ruang keluarga menghabiskan waktu bersama, Dengan sang adik Rafa merebahkan diri di atas paha Mamanya.


"Apa kak? Kau akan kuliah di luar negeri?" Ucap Rafa langsung terduduk.


"Ya."


"Kau tega sekali meninggalkan ku sendiri an?" Ucap Rafa dengan ekspresi sedihnya.


"Berhenti memang wajah seperti itu! Sangat menjijikkan kau sudah dewasa Rafa." Ucap Rama dengan bergidik ngeri.


"Rama.... " Deheman Mama Annisa memanggil dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Oke Mama, I am so sorry." Ucap Rama menyatukan kedua tangan nya di dada.


"Kenapa kau tak memilih melanjutkan studi mu di sini saja Rama?" Tanya Mama Annisa.


"Ah Mama, aku hanya ingin belajar mandiri, ku harap Mama dan papa mendukung keputusan ku." Ucap Rama dengan tersenyum.


"Baiklah, Mama mendukung mu jaga diri mu baik-baik di sana, Mama akan sesekali mengunjungi mu nanti." Ucap Mama Annisa.


"Thanks Mama, Aku sayang padamu." Ucap Rama mengecup pipi Mamanya.


"Hey! Kau tak boleh mencium istriku!" Ucap Papa Mark menarik Annisa dalam pelukan nya.


"Kau pelit sekali Papa." Ucap Rama mengerucut kan bibirnya.


"Sudahlah! Jangan Marah. Itu juga darah dagingmu sendiri bee." Ucap Annisa berbisik,


"Hahahaha... "


🎶


"Aku tau apa yang kau fikirkan Rama! Jangan melampaui batasan mu jika kau sudah kuliah di luar negeri! Jika ku dengar kau membuat masalah! Kali ini kau akan berurusan dengan Papa! Ingat itu baik-baik Rama." Nasihat Papa Mark berbisik pada telinga Rama saat istri dan anak bungsunya tengah asyik menonton televisi.


"Apa kau baru saja mengancam ku Papa?" Tanya Rama penuh selidik.


"Anggap saja itu semua ancaman dan perintah yang harus kau laksanakan Rama"


"Baik Papa, aku akan mengingatnya!" Ucap Rama tersenyum.


🎶


Promosi ya! Hehehehehe.


Yang mau ngobrol tips menulis ala author yang receh, sharing ilmu kuy dm aja ig author yang biasa-biasa aja nih.


Happy Reading guys.

__ADS_1



__ADS_2