
π Maira POV π
Maira bangkit dari ranjang, bersamaan dengan Mark yang keluar dan menghilang di balik pintu.
Maira segera memungut pakaian nya yang berserakan di lantai, dan memakainya kembali.
Huft, drama yang melelahkan. Gumam Maira dalam hatinya.
Tapi tak apa? kau sebentar lagi akan menjadi milikku kakak ku sayang. Ucap nya lirih dengan senyum merekah.
Ia bergegas pergi meninggalkan kamar itu, masuk kedalam kamarnya dan berendam air hangat, sungguh emosinya terkuras habis untuk hari ini.
Sejenak ia ingin merilekskan tubuhnya.
π Mark POV π
Mark mencoba melacak keberadaan Annisa, dan semalaman ia tak bisa memejamkan matanya.
Supir taksi yang mengantar Annisa saat itu pun hanya menjelaskan bahwa ia menurun Annisa di bangku taman.
Setelah melihat lokasi taman malam itu yang nampak sepi, nihil tak di temukan siapa pun di sana hanya untuk sekedar bertanya.
Hingga fajar menjelang Mark tak tidur memejamkan matanya, ia terus mencari keberadaan istrinya.
Hatinya cukup resah mengkhawatirkan keadaan istrinya.
Derttt
Derttt
Mark langsung mengangkat panggilan masuk yang berasal dari handphone miliknya.
"Halo tuan, saya sudah menemukan keberadaan nyonya Annisa." Ucap salah satu bodyguard.
"Dimana!" Ucap Mark cepat dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Di rumah sakit xxx, tuan Faiz yang mengantar ke sana." Ucap Bodyguard itu dengan gugup.
Tanpa menjawab lagi, Mark segera mematikan telfon dan melangkah keluar.
"Tuan biar saya antar." Ucap Pak Ujang yang ada di depan pintu.
"Tidak! Biar aku aja." Ucap Mark dingin langsung masuk kedalam mobil.
Mark melajukan mobilnya membelah kesunyian fajar jalanan ibu kota itu.
Tak butuh lama, 10 menit mobil yang di kendarai Mark sudah sampai di parkiran rumah sakit.
Segera Mark melangkah kan kakinya masuk kedalam ruangan inap milik Annisa.
Brak! pintu di buka dengan kasar oleh Mark dan ia menerobos masuk kedalam ruangan itu.
Langkah nya begitu cepat mendekat ke arah Faiz dan di angkatnya kerah baju yang Faiz kenakan dengan kedua tangan nya.
"Kau." Ucap Mark menatap tajam.
"Stop Mark!" Seru Annisa.
"Aku cukup bersabar tentang semua yang kau lakukan padaku! sikap buruk mu dan semuanya!"
"Walau bukti mengarah menyalahkan ku, tapi atas nama ibuku, aku tak pernah mengkhianati mu."
"Tak bisakah kau sedikit percaya padaku!" Ucap Annisa lirih.
Air matanya langsung luruh tanpa di minta.
Deg
Deg
Deg
__ADS_1
Jantung Mark berpacu dengan begitu cepat, telinganya cukup jelas mendengar semua keluh kesah istrinya.
"Aku akan pergi, ku rasa kalian berdua butuh waktu untuk berbicara." Ucap Faiz berbisik ke arah Mark dengan menepuk pelan bahu milik Mark.
Seusai kepergian Faiz yang menghilang di balik pintu, Mark perlahan melangkah menuju ke arah ranjang Annisa, mendudukkan kan dirinya di kursi yang terletak tak jauh dari ranjang itu.
"Sayang." Ucap Mark tertunduk.
"Maaf." Ucap nya lagi, entahlah hanya kata itu yang mampu ia lontarkan untuk pertama kalinya saat melihat istrinya terpuruk membuat hatinya begitu teramat sakit. Dan alasan air mata itu jatuh karena dirinya.
"Biarkan aku sendiri, kau telah mengkhianati ku bee. Dan Itu adikmu sendiri." Ucap Annisa begitu lirih.
Mark berdiri dan langsung memeluk Annisa.
"Jangan pergi, aku tak bisa membiarkan mu jauh."
"Semua tampak menyakitkan bagiku."
"Aku pernah mengalami luka masa lalu yang membuat ku harus seperti ini."
"Maaf jika selama ini sikapku menyakitimu." Ucap Mark lirih menjelaskan.
πππ
Ah.... .
Gimana nih?
Lanjut? π
ngetik nya kok pakai bawang Bombayπ«
Netes ini mataπ«π
Happy Reading ya guys.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Vote ya.
Sayang kalian pembaca setiakuβ€β€β€β€