
"Apa kalian sudah merasa hebat!" Ucap Papa Mark dengan duduk menghadap kedua putranya, menatap tajam! bahkan sangat mengintimidasi.
Hening...... Hening..... Hening.....
Meskipun dua pemuda tampan yang ada di hadapannya adalah darah daging nya sendiri, tapi ia tak akan bisa terima melihat sang istri begitu sendu dan sangat terpukul kala melihat kedua putranya saling melayangkan pukulan.
"Tak ada yang ingin menjawab perkataan Papa mu ini son!" Ucap Mark dengan seringai tipis mematikan.
"Maaf pa!" Ucap Rafa begitu lirih.
"Rafa! Kau putra kesayangan Mamamu, tapi hari ini kau mengecewakan Papa dengan membuat air mata mamamu menetes demi kalian berdua! Meski kalian putra ku! Tapi siapapun yang membuat istriku menangis akan berhadapan dengan ku!"
"Maaf pa! Semua ini karena bang Rama!"
"Apa maksudmu menyalahkan ku! Kau yang memukulku duluan!"
"Karena kau yang mencari gara-gara."
"Apa yang aku perbuat! Toh Kirana setuju dengan menggantikan posisi mu dengan diriku!"
"Brengsek! Brugh!"
"Hentikan!" Teriak Papa Mark dengan menggebrak meja kerjanya.
Kedua pemuda itu pun duduk dengan rapi kembali ke tempat semula setelah ada ultimatum dari sang Papa.
"Lebih baik Kirana mati! Daripada membuat kalian bertengkar seperti ini!" Seringai Mark dengan dingin.
"Pa!! Jangan menyentuhnya!" Ucap Rama.
"Pa!!! jangan lakukan itu!" Ucap Rafa.
"Maka selesaikan dengan baik masalah yang ada diantara kalian! Atau kalian mau ku nikahkan kalian berdua dengan Kirana!".
"Aku tak mau berbagi dengan nya!" Ucap keduanya secara bersama-sama.
"Jadi harus ada yang mengalah diantara kalian berdua jika kalian tak ada yang ingin berbagi satu sama lain!"
"Bang Rama adalah orang yang harus mengalah Pa! Karena Kirana sudah menjadi tunangan ku!"
"Hanya tunangan bung! Bahkan saat ini dia mau menikah dengan ku bukan dengan mu!"
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan hingga Kirana mau menikah dengan mu Rama!" Jawab pertanyaan Papa dengan jujur, begitu arti sorot matanya yang nyalang.
"Maaf pa! Rama dan Kirana... "Ucap Rama tertahan dan mengeluarkan beberapa kertas foto yang menampilkan dirinya dan Kirana yang berada di atas ranjang yang sama dengan hanya berbalut selimut, dimana posisi keduanya sangat intim bahkan Kirana nyaman begitu terlelap dalam pelukan Rama.
"Brengsek! Aku tak menyangka kau menodainya demi menjadikan milikmu bang! Aku membencimu!"
Bugh
Bugh
Bugh
Brak!!!
3 bogem mentah langsung di layangkan oleh Rafa dan ia keluar dari ruangan kerja sang Papa, meninggalkan kakak nya berdua dengan Papa Mark.
"Pukulan itu aku rasa tak sebanding dengan perbuatan yang telah kau lakukan pada adikmu sendiri!"
"Tak apa pa! yang terpenting Kirana mau menikah dengan ku!"
"Kau merencanakan ini semua dengan sangat matang son!"
"Aku tak merencanakan apapun Pa!"
"Papa cukup baik dalam menganalisis semuanya. Tapi aku tak merencanakan apapun, hanya waktu dan keadaan saat itu yang mendukung semuanya."
"Kau gila! Kau tak kasihan dengan adik kandung mu sendiri! Kau memisahkan dua orang yang saling jatuh cinta!"
"Tapi aku mencintainya!"
"Omong kosong! Kau terobsesi olehnya!"
"Terserah apa yang papa katakan! tapi pernikahan itu harus berlangsung jika tidak! Keluarga kita akan lebih malu karena penerus keluarga Roman menghamili wanita di luar nikah!"
"Kau tau resiko memaksa seseorang untuk mencintaimu bukan?"
"Akan ku buat Kirana mencintaiku dan melupakan adikku!"
🎶
"Duduk Kirana! Apa yang sebenarnya terjadi coba jelaskan pada Bunda dan Ayah." Ucap Bunda Amelia dengan menatap sendu sang putri, sebagai seorang itu, jelas dia mengetahui bahwa ada sorot mata terpaksa menikah dengan Rama dan membatalkan pernikahan nya dengan Rafa orang yang dicintai nya sedari duduk di bangku perkuliahan.
__ADS_1
Bunda Amelia begitu tau dan faham bagaimana kisah perjuangan bahkan romansa cinta yang terjalin antara Kirana dan Rafa.
"Bunda... hiks.... hiks.... hiks.... Kirana terpaksa melakukan ini semua." Ucap Kirana dengan tangis tersedu salam pelukan sang Bunda.
"Sudah jangan menangis! Coba jelaskan perlahan pada Bunda dan Ayah ya." Bujuk Bunda Amelia lagi dengan mengelus punggung belakang putrinya dengan begitu sayang.
"Bunda ingat saat dimana Kirana tak pulang. pada hari itu, saat itu Kirana sudah terbangun di ranjang hotel dengan Rama yang ada di samping Kirana!" Ucap Kirana begitu lirih dan sangat menyakitkan.
"Bagaimana itu terjadi?"
"Kirana tak tau Bunda, yang Kirana ingat saat itu Rama menolong Kirana saat mobil yang Kirana kendarai mogok dan Rama datang menawarkan tumpangan pada Kirana." Lirih nya begitu sakit.
"Seperti ada salah faham di sini!" Celetuk Ayah Faiz.
"Apa maksudmu Ayah." Ucap Bunda Amelia menatap sang suami.
"Rama tampaknya sudah merencanakan semuanya! Apa dia mencintaimu Kirana?"
"Ya Ayah! Dia mencintai Kirana tapi selama ini Kirana selalu menghindar darinya!"
"Dia merencanakan semuanya agar kau menjadi miliknya! Cinta nya untuk mu membutakan segala hal agar kau menjadi miliknya!"
"Lalu bagaimana ini Ayah!"
"Ayah tak tau Bunda, sebaiknya kita istirahat dahulu, Kirana juga butuh istirahat untuk menenangkan pikiran nya!"
🎶
Seringai senyum tipis muncul di bibir Rama saat dirinya sudah berada di dalam kamar, segelas wine ia sesap untuk kemenangan yang sebentar lagi akan di raihnya, cintanya, kekasihnya, Kirana nya, Akan menjadi milik seorang Rama seutuhnya hanya miliknya.
Meskipun harus mendapat bogeman mentah dari sang adik, tak apa asalkan keinginannya bisa terwujud dan tercapai.
"Kau harus datang ke pernikahan ku Chris!" Ucap Rama begitu ponggah pada sang sahabat.
"Pernikahan! Kau ingin menikah dengan siapa bung!"
"Kirana! Siapa lagi! Kau jelas tau wanita yang hanya ku cintai adalah Kirana!"
"Apa! Bagaimana!"
"Kau tak perlu tau! Yang terpenting dia sudah menjadi milikku! Rama akan selalu menjadi pemenang! dan semua keinginan Rama akan bisa terwujud!" Ucap Rama dengan nada sombong nya.
__ADS_1
🎶
Happy Reading.