Mr. Mafia Vs Gadis Muslimah

Mr. Mafia Vs Gadis Muslimah
Akhir!


__ADS_3

Duar! Duar! Duar!


Paman Hugo jatuh tersungkur di depan Mark, dengan 3 luka tembakan yang dilayangkan oleh Annisa.


"Sayang." Ucap Mark dengan lirik saat tubuhnya tak merasakan peluru timah panas.


Annisa yang saat menembak paman Hugo pun perlahan membuka matanya, Pistol ditangan nya di lempar begitu saja, tubuhnya bergetar! Ini kali pertama ia membunuh seseorang.


Annisa lari kedalam pelukan Mark, memeluk dengan erat dan menangis tersedu.


hiks....


hiks...


hiks...


"Kau tak apa?" Tanya Annisa. Dan Mark tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.


"Aku pembunuh." Ucap Annisa dengan bibir bergetar, melihat jasad Paman Hugo tergletak tak bernyawa yang berada di depan Mark.


"Tidak. kau melakukan pilihan yang terbaik sayang." Ucap Mark mengelus punggung belakang Annisa, menenangkan istri yang di cintai nya itu.


🎢 Flashback ON 🎢


Selang beberapa menit setelah kepergian Mark, rumah itu benar-benar di serang oleh pasukan Paman Hugo.


Semua bodyguard sudah bertempur di lantai dasar, semua tampak berantakan dan kacau dimana-mana.


Clek!


"Hito, Ada apa?" Tanya Annisa yang baru saja keluar dari kamar, dan melihat Asisten Hito berdiri waspada di depan pintu kamar tersebut.


"Rumah kita diserang nyonya, saya disini untuk menjaga anda." Ucap Asisten Hito.


"Suami ku dimana?" Tanya Annisa.


"Tuan Mark mengurus masalah di markas, yang juga hari ini diserang secara bersamaan nyonya." Ucap Asisten Hito menjelaskan.


"Apa!"


"Kenapa?"


"Siapa!" Ucap Annisa beruntun.


"Paman Hugo!" Hanya kata itu yang dapat di dengar Annisa.

__ADS_1


"Serahkan wanita itu." Ucap salah satu laki-laki yang di duga anak buah Paman Hugo.


"Cih jangan mimpi!" Ucap Asisten Hito remeh.


Dan pertempuran keduanya pun tak dapat di hindarkan, ternyata orang tersebut memiliki skil yang setara dengan Asisten Hito. hingga pertaruhan keduanya pun seimbang.


Brugh.


Satu pukulan di bagian perut membuat tubuh orang tersebut mundur dan terbatuk, di tariknya Annisa untuk mengikuti langkah Asisten Hito.


"Hito! Apa-apaan ini." Tanya Annisa yang tangan nya di paksa ditarik oleh Asisten Hito.


"Nyonya! kali ini berhenti pikirkan agama terlebih dahulu! Saya tau anda wanita muslimah yang tak mau bersentuhan dengan pria yang bukan muhrim anda."


"Tapi keadaan yang membuat saya harus seperti ini. Mengertilah." Ucap Asisten Hito dengan nafas terputus.


Di lantai bawah, bunyi tembakan, pukulan, jasad semua bertebaran di mana-mana. Sungguh mengerikan.


Tubuh Annisa sudah bergetar hebat saat melihat pemandangan itu.


"Nyonya! Jangan takut! Kita harus keluar dari sini." Ucap Asisten Hito pada Annisa, Dengan lemah Annisa menganggukkan kepalanya.


"Mau pergi kemana!" Teriak laki-laki anak buah Paman Hugo.


Sekarang tak hanya satu, namun sudah ada 3 laki-laki yang menghadang jalan mereka.


Tapi pilihan dengan resiko yang besar mau tak mau harus di hadapi Asisten Hito kali ini.


"Nyonya! Dengarkan saya! Kita tak punya waktu banyak." Ucap Asisten Hito dengan cepat penuh penekanan.


"Bawa ini, dan ini! Markas tuan Mark ada di jalan xxx."


"Tapi Hito!" Ucap Annisa menerima tangan bergetar.


"Firasat saya mengatakan, saya harus membawa anda menemui tuan Mark! Tapi saya tak bisa! Nyonya sekali ini! Tolong bawa mobil ini menemui tuan Mark. Dan apapun yang menghadang Nyonya di depan! Bunuh saya menggunakan pistol ini! Saya sudah mengisi peluru didalamnya dengan penuh! Anda tinggal menarik pelatuknya seperti ini." Ucap Asisten Hito.


"Tapi membunuh dosa Hito! Aku tak mau!" Ucap Annisa tertunduk sedih dan bergetar.


"Nyonya! Saya mohon lawan ketakutan anda saat ini."


"Anda lihat banyak bodyguard yang berjuang demi keselamatan anda detik ini! Jika anda tak membunuh! Anda akan di bunuh nyonya! tolong!" Ucap Asisten Hito.


"Nyonya! tak ada pilihan anda untuk berfikir waktu ini! Saya akan membuat Anda keluar dari rumah ini! Tolong ikuti kata-kata saya." Ucap Asisten Hito gemas saat melihat Annisa berfikir.


"Ya akan aku lakukan." Ucap Annisa.

__ADS_1


"Jangan sampai anda mendapatkan luka nyonya! jangan sampai perjuangan para bodyguard dan tuan Mark hari ini sia-sia." Ucap Asisten Hito, tampak Annisa menengguk sesekali air liurnya sendiri dengan kasar.


"Lupakan dosa tentang membunuh nyonya! anggap itu pertahanan diri anda! melindungi anda." Ucap Asisten Hito.


Dengan cepat Asisten Hito membunuh orang yang berani menghalangi jalan nya dengan membabi buta, sesekali tembakan dia keluarkan, agar Annisa bisa keluar dari rumah itu.


"Nyonya!" Ucap Asisten Hito langsung memutar tubuh Annisa saat ada peluru yang akan menembak kakinya.


Argh.


Rasa nyeri langsung menjalar kaki milik Hito, karena peluru tersebut menancap tepat pada kakinya.


"Hito!" Ucap Annisa dengan kaget.


"Mobil ada di depan nyonya, segera masuk! Ada 2 orang yang akan mengikuti anda di belakang! Jangan pedulikan saya." Ucap Asisten Hito.


Dengan sekali dorongan Annisa masuk kedalam, pikiran nya menerawang jauh ke depan, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Hanya butuh waktu 5 menit, mobil itu terparkir sempurna di depan markas.


Annisa melangkahkan kakinya masuk kedalam, sunyi sepi, senyap bau anyir menyeruak kemana-mana.


Banyak mayat dan darah, tapi Annisa harus masuk dan mencari keberadaan suaminya, dua bodyguard mengikuti Annisa di belakang dengan posisi siap siaga.


Hingga Annisa melihat suaminya tergletak tak berdaya, dengan luka memar di wajahnya, hati Annisa sakit melihat itu, tak jauh dari situ Paman Hugo sudah berdiri dengan menodongkan pistol tepat di dahi Mark yang sudah jatuh tersungkur. Dengan posisi Annisa ada tepat di belakang Hugo.


Duar! Duar! Duar!


🎢 Flashback OFF 🎢


Maira yang berdiri tak jauh di sana mendekat kearah Annisa dan Mark yang tengah berpelukan.


Dua bodyguard itu dengan sigap menghadang langkah kaki terseret Maira.


"Kak,." Ucap Maira dengan lirih, Mark pun melihat ke arah Maira, dengan sigap ia menyembunyikan Annisa di belakang tubuhnya.


"Hah, maafkan aku dan Papa ku, kami berdua penyebab semua ini, maafkan papaku yang membunuh kedua orang tua mu kak." Ucap Maira dengan begitu lirih.


"Waktuku, mungkin tak lama, aku ingin memberitahu mu di mana makam kedua orang tuamu, ada di belakang taman rumah ku kak. Makamkan kedua orang tua mu dengan layak."


Mark masih diam mendengarkan penuturan Maira, tanpa ada kata dari mulutnya untuk menjawab.


"Maafkan kami kak terutama papaku, tolong makam kan kami berdua bersebelahan dengan layak, hanya itu permintaan ku. Selamat tinggal aku mencintaimu kak." Ucap Maira dengan terbatuk dan seperdetik kemudian Maira menghembuskan nafas terakhir nya.


🎢🎢🎢

__ADS_1


Happy Reading guys.


Maafin gak UP ya, kemarin Author sidang! jadwalnya baru keluar sore dadakan kayak tahu bulat 😫


__ADS_2