
Makan malam kali ini cukup menegangkan, karena kehadiran sosok Nadia, putra bodohnya ternyata mau menampung wanita ini, bagaimana bisa ia tunduk pada gadis seperti ini.
"Semuanya kumpul di ruang keluarga ada yang ingin saya bahas!" Ucap Papa Mark tanya menyelesaikan acara makan malam nya, menaruh kasar sendok dan garpu yang ada di tangan nya hingga menimbulkan suara.
"Sabar bee!" Lirih sang istri berbisik menenangkan suami nya serasa ingin memukul putra sulung tak tau dirinya itu.
"Bagaimana kesepakatan kalian Rama!" Tanya Papa Mark mengawali pembicaraan kala semuanya sudah berkumpul.
"Kita akan menikah bulan depan!" Ucap Nadia tanpa rasa malu!
"Seperti itukah Rama!"
"Ya!" Jawab Nadia dengan cepat begitu bersemangat.
"Apa kau mempunyai penyakit kebisuan dan tuli? Papa mu bertanya pada Ramaxelio Roman! Katakan!"
"Ya pa! Aku dan Nadia bulan depan akan menikah!"
"Baik, Papa dan Mama setuju memang kau harus bertanggung jawab!"
Angin segar apa ini? Bagaimana mungkin dia mendapat kan restu yang begitu cepat dari orang tua Rama!
"Makasih om tante!" Ucap Nadia dengan tersenyum.
"Ya kau tak perlu berterima kasih memang harusnya seperti ini kan?Tapi kau harus menandatangani berkas ini sebelum kau menikah dengan Nadia!" Ucap Papa Mark. menyodorkan berkas yang ada di tangannya.
"Pa! Apa-apa maksud semua ini!" Ucap Rama dengan nada protes milik nya.
"Memang kenapa? Semua ini kan harta Papa jadi suka-suka Papa dong mau kasih ke siapa aja!" Ucap Papa Mark cuek.
Harta? Kenapa sih? berbagai pertanyaan kepo di layangkan oleh Nadia kala telinganya bingung merangkai kata yang pas.
"Kau harus terima itu, terima bahwa semua aset perusahaan Roman jatuh kepada Rafa adikmu! Dan kau hanya seorang karyawan yang jam kerja dan pulang harus menaati peraturan yang ada." Ucap Papa Mark seolah menegaskan isi surat itu.
"Pa! Tapi aku tak ingin menerimanya, kakak adalah orang yang berhak karena dia lebih tua darimu!" Kali ini Rafa yang memprotes pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Papa nya.
"Seperti kakakmu yang bersikap seenaknya, maka keputusan yang sudah Papa buat tak boleh di ganggu gugat, termasuk dirimu sekalipun yang notabennya adalah anakku!"
Apa! Tidak! Jika semua harta kekayaan milik Rama di serahkan kepada sang adik! Dan Rama tak memiliki saham sepeserpun bagaimana caranya ia memenuhi kebutuhan nya, jujur saja! Monolognya Nadia.
__ADS_1
"Kau mau kan Nadia hidup sederhana dengan Rama?" Tanya Papa Mark pada Nadia.
"Ah ya om, aku mau... aku mencintai Rama bukan karena hartanya!" Ucapnya tergagap.
"Bagus kalau begitu, kalian memiliki waktu 1 bulan, setelah pernikahan ini dilaksanakan dan kalian resmi menjadi pasangan suami istri kalian harus pergi meninggalkan rumah ku ini!"
"Pa tapi aku ini anakmu, dan Nadia juga sedang mengandung cucumu!"
"Ya Papa tau, tapi kau harus menjadi laki-laki bertanggung jawab dengan menghidupi keluarga mu dari hasil keringat dan jerih payah mu sendiri, jangan hanya bergantung pada Papa, kau terlihat seperti benalu."
"Pa aku putri tertua di keluarga ini harusnya aku juga mendapat kan hakku!!" Ucap Rama masih melayangkan protes dan negosiasi.
"Justru itu kau harus lebih mandiri dan tangguh! jangan membawa apapun saat keluar dari rumah ini termasuk mobil dan semua aset yang Papa berikan padamu!"
"Baik aku tak akan membawa apapun dari sini!" Ucap Rama berlalu pergi,
"Baik, pembahasan cukup sampai disini saja!" Ucap Papa Mark berdiri berlalu pergi meninggalkan Rafa dan Nadia yang hanya termenung di tempatnya.
Nadia melongo dengan apa yang dikatakan oleh Papa mertuanya, bagaimana mungkin ini!
Ya, memang Nadia mengakui bahwa ia mencintai Rama sangat mencintai tapi bukan berarti ia mau hidup susah dengan Rama, hidup dengan kesederhanaan yang ada.
Berfikir bahwa kekayaan akan jatuh ke tangan Rama, karena ia selalu anak pertama, tapi? Semua hanya tinggal nama, nyatanya harta kekayaan di wariskan pada sang adik.
"Kak ipar? Kau tak apa?" Tanya Rafa yang masih duduk memandang Nadia dengan ekspresi bingung nya.
"Ah ya tak aku tak apa!" Ucap Nadia memaksakan tersenyum.
...****...
Keesokan harinya saat semuanya telah selesai menikmati sarapan, Rama menyerahkan kunci mobil, kunci apartemen dan beberapa kartu kredit kepada Papa Mark.
"Pa, mulai hari ini aku akan keluar dari rumah ini, tak perlu menunggu 1 bulan!"
"Bagus kalau begitu, kau ternyata lebih tangguh dari yang Papa kira!"
"Bee!" Lirih Mama Annisa dengan wajah memelas kepada sang suami.
"Biarkan putramu hidup mandiri dan bertanggung jawab Ma! Kau tau bukan? Jika aku orang yang tak ingin di bantah?"
__ADS_1
"Baik Pa!"
"Nadia segera selesai kan makan mu, kita akan pergi dari rumah ini!"
"Ah ya Rama!" Ucap Nadia tergugup.
"Jangan lupa! Kau datang ke kantor untuk bekerja!" Ucap Papa Mark tersenyum pada putranya.
🎶
"Rama! Kau yakin kita tinggal disini?" Tanya Nadia seolah tak percaya dengan rumah yang akan mereka tempati, bagaimana bisa dirinya akan tinggal disini, dirumah sederhana yang seperti ini.
Hanya ada 2 kamar tidur tanpa AC, satu kamar mandi, ruang tamu kecil, meja makan sepetak, dan dapur dengan kesederhanaan nya.
Bagi Rama, ia pernah bergelut dengan dunia hitam mafia di Amerika meski tak sebesar milik Papa dan sudah di bubarkan kembali oleh Uncle Hito, membuatnya bisa tidur di mana saja walau tanpa AC dan segala fasilitas. Minusnya ia tak bisa memasak! Bertahan hidup susah mungkin bisa.
"Ya, kita akan tinggal disini, uang ku hanya cukup menyewa kontrakan ini!" Ucap Rama jujur.
Sialan! Ini sangat buruk dan mengerikan, ini bukan rumah tapi lebih seperti kandang sapi!!!!! Monolog Nadia bergidik ngeri dengan keadaan rumah itu.
Seminggu berlalu, mereka berdua hidup dengan penuh kesederhanaan, Nadia yang tak bisa masak dan bersih-bersih seenaknya menyewa ART untuk di pekerjaan.
Hingga uang gaji Rama yang harusnya untuk satu bulan hanya cukup untuk satu minggu.
"Nadia! Kenapa tak ada sarapan pagi ini!" Ujar Rama kepada Nadia.
"Uang mu sudah habis, bagaimana aku menyuruh orang untuk memasak! Bagaimana kita membayar nya!"
"Apa sudah habis? Itu uang gaji ku satu bulan Nadia! Kenapa kau tak bisa menghemat nya!"
"Astaga Rama, itu hanya seperti uang jajan ku seminggu saat di Amerika!" Ucap Nadia tak kalah kesal.
"Terus kita makan apa selama 3 minggu ke depan nadia!"
"Ya itu urusan mu! Kau kan kepala keluarga disini!" Ucap Nadia berlaku pergi meninggalkan rumah kontrakan butut itu.
🎶
Happy Reading❤
__ADS_1