
"Astaghfirullah nyonya Annisa, nona kecil." Ucap Bibi Inah kaget melihat tuan Mark membopong Annisa uang tak sadarkan diri.
"Bibi, bantu Hito membawa Cerry." Titah Mark.
"Baik tuan." Ucap Bibi Inah.
Asisten Hito masuk kedalam mobil, dengan di sampingnya Bibi Inah yang memangku Cerry, sedangkan di bangku penumpang ada Mark yang memangku Annisa.
Kumohon maafkan aku, maafkan telah meninggal kan mu sendiri an, bangun lah aku tak bisa hidup tanpamu. Lirih mark yang terus menggenggam tangan Annisa.
Mobil melaju dengan cepat, hanya butuh waktu 5 menit saja. Mobil sudah ada di depan rumah sakit.
Mark melangkah keluar dengan cepat, disusul dengan Asisten Hito dan Bibi Inah.
Diletakkan nya dengan hati-hati tubuh kedua wanita itu.
"Maaf tuan, anda harap tunggu diluar." Ucap sang Dokter menahan Mark yang ingin masuk.
"Apa maksud mu! istriku sedang sekarat! aku ingin menemaninya." Ucap Mark tak terima.
"Biarkan kami bekerja semaksimal mungkin tuan. Anda harap tunggu di luar." Ucap Dokter itu lagi.
"Kau mau mati ya! Aku ingin menemani istriku." Ucap Mark dengan kilatan emosi.
"Dokter lakukan segera tugasmu, dan selamatkan mereka." Ucap Asisten Hito langsung menengahi. Dan tertutup lah pintu ruang tindakan rumah sakit itu bersama dengan Sang dokter yang masuk kedalam.
"Tuan, biarkan Dokter memeriksanya." Ucap Hito pada Mark.
"Kau!" Ucap Mark mengangkat kerah kemeja Hito dan ingin memukulnya.
"Tenangkan dirimu tuan! nyonya Annisa dan Nona kecil pasti selamat." Ucap Asisten Hito.
"Jangan ganggu para dokter dulu tuan, biarkan mereka bekerja semaksimal mungkin! Anda duduk dan tunggu lah." Ucap Hito menjelaskan.
Seketika tubuh Mark terduduk di lantai, banyak noda darah yang tertinggal di bajunya.
Tangan nya di lipat di atas kaki yang ditekuk, kepalanya ia benamkan di kedua lutut nya.
Tubuhnya bergetar hebat membayangkan sang istri dan putri kecilnya berjuang dari kematian yang sedang mengancam nyawanya.
30 menit dokter menangani kedua wanita itu, namun tak kunjung keluar, Mark sudah bolak balik menunggu.
Arghhh
Sial, ini terlalu lama, apa yang mereka lakukan di dalam. Gerutu Mark, dan masih banyak umpatan lain nya.
Clek!
Pintu terbuka, Mark segera bertanya pada dokter tersebut.
"Maaf tuan, Kami tidak bisa menyelamatkan anak anda, Tuhan lebih sayang kepadanya. Pengaruh obat penggugur kandungan itu bekerja dengan sangat baik." Ucap Sang dokter.
"Apa?" Ucap Mark tak percaya, Hingga tubuhnya mendadak lemas dan jatuh ke lantai. untung saja, ada Asisten Hito yang menopang tubuhnya.
"Lalu bagaimana keadaan kedua nya?" Lirih Mark.
"Keduanya sekarang masih dalam kondisi kritis tuan, masih belum ada perkembangan.
__ADS_1
Kita harus menunggu sampai esok tuan, jika keduanya tak kunjung melewati masa kritis nya dengan berat hati saya mengatakan bahwa keduanya tidak selamat."
"Benturan di kepala nona kecil cukup serius dan pendarahan yang terjadi pada Sang Ibu juga sama."
"Hanya Tuhan yang mampu menyelamatkan keduanya. saya permisi." Papar Sang dokter.
Air mata Mark luruh tanpa di minta, detik ini! bayangan kematian adalah hal paling memilukan. Kedua wanita nya masih berjuang dengan maut.
Hanya kuasa Tuhan yang mampu menyelamatkan keduanya.
π
Disinilah seorang Markxelio Roman.
Masjid sederhana tak jauh dari rumah sakit, menginjakkan kakinya. Berdoa hanya untuk kesembuhan dua wanita hebat yang ia miliki.
Pembunuh kejam, detik ini menangis! berlutut dan tertunduk tak berdaya! meminta belas kasih Tuhan untuk menyelamatkan kedua wanitanya.
"Ya Allah! Tak pantas memang diriku berada disini! Hanya datang kemari saat membutuhkan mu! Aku rela menukar hidup ku demi kedua wanita itu! Disini aku meminta belas kasihan mu untuk menyelamatkan hidup keduanya! Aku mohon! selamatkan!" Lirih Mark begitu pilu.
π
Seusai beribadah, kakinya melangkah keluar kembali ke ruang tindakan istri dan anaknya.
"Tuan, mari ikut saya. Nona kecil sudah melewati masa kritisnya. Nona kecil sudah sadar dan ingin bertemu dengan anda." Ucap Sang dokter saat melihat Mark tiba di sana.
"Apa itu benar? Baik dokter mari." Ucap Mark berbinar senang dan mengikuti langkah Sang dokter, namun sebelum masuk ia harus memakai pakaian khusus.
"Cerry." Lirih Mark dengan lembut dan di genggam nya tangan mungil Cerry.
Tubuh kecil dengan alat bantu pernafasan yang masih terpasang. Wajah pucat dan bibir dingin.
"Cerry anak yang kuat ya, pasti sembuh." Ucap Mark menenangkan, mesti air matanya terus menetes.
"Ayah gak boleh nangis, Cerry akan kuat kok." Ucap Cerry lirih.
"Iya ayah gak nangis lagi, Cerry harus sembuh ya nemenin Bunda Annisa dan Ayah terus." Ucap Mark membelai lembut pipi dingin Cerry.
"Maafin Cerry ayah, Cerry gak bisa jaga Bunda lagi, Cerry ingin ketemu Papa dan Mama." Lirih nya.
"Ayah harus janji ya jaga Bunda Annisa, selalu percaya sama Bunda ya. Jangan biarkan tante jahat menyakiti Bunda lagi." Ucap Cerry lirih.
"Iya Cerry, ayah janji bakal jaga Bunda dan selalu percaya padanya." Ucap Mark terpaksa tersenyum.
"Terimakasih ayah." Ucap Cerry menutup mata, dan seketika monitor jantung menunjukkan garis lurus.
"Maaf Pak, anda bisa mundur sebentar, saya akan memeriksa." Ucap Dokter yang tadi ada di samping Mark.
Perlahan Sang dokter memeriksa tubuh Cerry dan denyut nadi serta jantung nya.
"Maaf Pak, Tuhan lebih sayang nona kecil. Dia sudah meninggal." Ucap Sang dokter.
"Tidak tidak tidak." Ucap Mark menggelengkan kepalanya.
"Cerry." Lirih Mark memeluk tubuh Cerry dengan menangis tersedu.
π
__ADS_1
"Cerry." Teriak Annisa.
"Bunda." Ucapnya memeluk Annisa.
"Cerry dengan siapa ini cantiknya?" Ucap Annisa mencoba menangkup kedua pipi gadis yang di sebelah Cerry.
"Ah ini, adik Cerry yang ada di perut bunda." Ucap nya dengan gembira.
"Adik?" Ucap Annisa bingung.
"Iya bunda."
"Bunda, maafin Cerry ya yang gak bisa jagain Bunda lagi, Cerry sudah bahagia disini." Ucap Cerry tersenyum.
"Cerry udah bisa ketemu Papa dan Mama Cerry yang sesungguhnya." Ucap Cerry bahagia.
"Maafin Bunda yang gak bisa jaga Cerry." Ucap Annisa sedih.
"Bunda ga boleh sedih ya. Cerry bahagia di sini." Ucap Cerry tersenyum.
"Bunda ingin ikut Cerry saja dengan adik manis ini." Ucap Annisa meneteskan air matanya.
"Belum saat nya Bunda ikut Cerry, kasihan Ayah Mark Bunda." Ucap Cerry.
"Tapi? Bunda ingin ikut...." Lirih Annisa.
πππ
Happy Reading ya guys.
Jangan lupa like komen,
dan makasih yang udah Vote aku yaππππ
πΆπΆπΆ
Buat jawab pertanyaan kalian, kenapa aku kok buat cerita baru lagi. kenapa ga di selesaikan satu-satu dulu ceritanya.
Gini aku jelasin.
Aku nganggep nulis ini sebagai Hobi ku, dan kebetulan akhir-akhir ini lagi viral tentang video tik tok yang mengisahkan gadis muda nikah nya sama pria yang lebih dewasa dan matang. hehehehehe
Jadi aku bikin deh ceritanya seneng gitu.
Tapi tenang, untuk Mr. Mafia vs Gadis Muslimah aku tetep bakal usahain Up minimal 1 part tiap harinya kok. π
πΆ
Satu lagi, kemarin aku sempet hapus beberapa novel aku, nah cerita di novel itu bukan ide murni dari aku! tapi juga dari mas ku.
Karena ada permasalahan pribadi yang gak bisa aku jelasin, makanya aku hapus novelnya.
Dan untuk Mr. Mafia vs Gadis Muslimah. sama Uncle, Love Me Please!!! Aku janji akan tamat in kedua nya dengan semaksimal mungkin.
Karena 2 novel itu memang murni dari ide ku aja.
Gimana? udah jelas? atau ada yang di tanyakan?
__ADS_1
Mohon maaf kalau tidak nyaman ya. Terimakasih πππ