
Mark melajukan mobil nya dengan kecepatan penuh, ia ingin segera membawa Annisa ke rumah sakit untuk di periksa.
Darah mengucur di kaki kanan dan lengan nya, Ia tak memperdulikan itu.
Sesampainya di rumah sakit, "Dokter!" Teriak Mark dengan menggema tak memperdulikan sekarang jam berapa.
Di gendongnya tubuh Annisa dengan kaki terseok-seok.
"Mohon tenang tuan, saya akan periksa istri anda." Ucap sang dokter membawa Annisa masuk kedalam untuk di periksa
Erangan frustasi Mark mengacak rambutnya, Argh! Umpat nya dengan tertahan!
Maafkan aku, yang tak mempercayaimu! maafkan aku yang mengecewakan mu! Lirih Mark dalam hati menangis menyayat pilu.
Semua hanya tinggal penyesalan! Argh! Sial kenapa ia tak bisa mengontrol emosinya! bertindak brutal dalam membunuh Alex didepan istrinya.
Bukan sengaja! tapi Mark lupa! jiwanya sudah di penuhi amarah pada diri Alex.
Cukup lama ia menunggu, 10 menit dokter keluar dari ruang tindakan itu.
"Bagaimana?" Ucap Mark berdiri menahan sakit yang ada di kakinya.
"Pasien mengalami syok berat! setelah ia sadar nanti, mungkin akan lebih banyak diam dan tak merespon!"
"Tapi bisa sembuh kan dok?" Ucap Mark dengan serius, berharap masih ada kesembuhan untuk istrinya. Melihatmu ceria seperti sedia kala.
"Ada, ajak berbicara lah dan bersabar." Ucap Dokter.
"Oh ya! bagaimanapun pastikan istri anda harus makan dengan teratur, karena kandungan nya saat ini sedang lemah." Ucap dokter itu menjelaskan.
"Kandungan?" Ucap Mark ragu terbata.
"Iya, istri anda sedang hamil muda. 2 bulan usia kandungan nya." Ucap sang dokter.
Mengandung? Dua bulan? Astaga! apa yang aku lakukan! kau bodoh Mark! kau bodoh! bodoh!
"Baik dokter saya akan pastikan itu!" Ucap Mark tertunduk sedih namun harus di paksakan untuk tersenyum.
"Sama-sama, dan perban yang ada di tangan dan kaki anda harus segera di obati kembali. Ikuti saya." Ucap Dokter itu.
Mark pun mengikuti langkah dokter itu untuk mengganti perban dengan yang baru, dan mengobati luka nya kembali.
__ADS_1
Mark juga sudah berganti dengan pakaian yang bersih, setelah di bawakan baju pengganti oleh salah satu bodyguard nya.
Kakinya melangkah masuk kedalam ruang inap istrinya, terbujur tak berdaya, terasa dingin dengan bibir pucat.
Bangunlah! maafkan aku! jangan membenciku! Ucap Mark lirih melihat keadaan istrinya.
Diraihnya tangan dingin itu, di kecupnya dengan berulang, sesekali menaruhnya di pipi kanan dan kiri Mark untuk memberikan kehangatan.
Jangan hukum aku seperti ini, kau harus kuat demi anak kita sayang. Lirih Mark.
🍃🍃🍃🍃
Jam menunjukkan pukul 5 pagi. Bola mata Annisa perlahan melihat isi ruangan itu, warna putih, dan bau obat yang menyeruak tajam dalam indera penciuman nya.
"Hangat?" Gumam nya melihat tangan nya yang di genggam seseorang. Di tariknya dengan perlahan, namun justru itu membuat si empu nya mengerjapkan mata.
Mark bangun memandang istri cantik nya dengan senyuman.
"Selamat pagi sayang." Ucap Mark dengan senyum secerah mentari.
Annisa memandang ke arah Mark dan merenung sekilas, kejadian pembunuhan keji yang di lakukan Mark terngiang-ngiang di dalam otaknya.
"Hiks.... hiks... hiks.... jangan bunuh aku ku mohon! jangan bunuh aku!" Ucap Annisa saat di tatap oleh Mark.
"Hiks... Hiks.... Hiks.... jangan mendekat! jangan mendekat ku mohon." Ucap Annisa lirih dengan tubuh bergetar hebat.
"Hiks... keluar aku takut... jangan bunuh aku... kau kejam kau jahat." Ucap Annisa menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan menangis tersedu.
"Oke, aku akan keluar!" Ucap Mark lembut.
Mark perlahan melangkah keluar, meninggalkan Annisa didalam ruangan itu yang sedang menangis.
Air matanya luruh tanpa di minta, "Aku merindukanmu! tapi kau takut akan kehadiran ku! kau benar aku hanya seorang pembunuh! aku kejam aku jahat!" Lirih Mark
Argh..
Argh...
Argh...
Tangan nya terkepal kuat sesekali menunjukkan tembok rumah sakit yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
"Halo, Assalamu'alaikum kak. kau bisa ke rumah sakit? Annisa sakit. tapi jangan beritahu ibu dan Ayah?" Ucap Mark menelfon hanafi.
"Baik." Ucap Hanafi.
Tak butuh waktu lama, Hanafi sudah sampai di rumah sakit.
"Ada apa sebenernya?" Ucap Hanafi bertanya pada Mark yang ada didepan ruang rawat inap.
"Ku mohon bantuan mu, tenangkan istriku! pastikan dia makan, dan minum obat." Ucap Mark lirih.
"Annisa tak mau melihatku! ku harap kamu bisa membantuku kak." Ucap Mark lagi , tak terasa air matanya luruh tanpa di minta.
"Baik aku akan usahakan." Ucap Hanafi.
Hanafi perlahan masuk kedalam ruang rawat inap itu.
"Annisa, ini kakak." Ucap Hanafi.
Perlahan, Annisa mendonggakkan kepalanya menatap siapa yang memanggilnya itu,
"Kakakk... hiks... hiks..." Ucap Annisa menangis, Hanafi perlahan maju dan memeluk adik kesayangan nya itu.
"Sudah, kau tak boleh menangis." Ucap Kak Hanafi.
"Annisa takut... " Ucapnya dengan bibir bergetar.
"Kau tak perlu takut, ada kakak di sini bukan?" Ucap Hanafi menenangkan.
Setelah di rasa cukup tenang, Hanafi melepas pelukan itu, menyuapi Annisa dengan telaten, dan memberinya obat agar segera sembuh.
Tak banyak Annisa mengeluarkan katanya, ia hanya diam terkadang memberi jawaban hanya melihat melalui sorot mata.
Hanya beberapa suap makanan yang masuk dalam tubuhnya, dan setelah semuanya selesai, Annisa perlahan istirahat memejamkan matanya.
Semua tindakan Hanafi di dalam tak luput dari pantauan Mark, sungguh hati Mark terasa nyeri melihat keadaan istrinya.
"Kau harus sembuh Annisa, harus secepatnya, demi anak kita. meski aku harus menjauhi mu." Lirih Mark sendu.
🌈🌈🌈
Happy Reading ya guys💙
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Vote.
Terimakasih 💙