
Dan esok hatinya Rafa benar-benar pergi untuk menuntut ilmu di Amerika, Mama Annisa tertunduk sedih kala melihat pesawat yang menerbangkan anak bungsunya telah mengudara.
"Sayang! Tenanglah. Kita masih bisa mengunjunginya bukan?" Kalimat penenang itulah yang hanya bisa di lontarkan oleh Papa Mark, anggukan lemah di layangkan oleh Mama Annisa.
"Jaga Mama ya kak, aku titip Mama! Jangan membuat ulah dan menyusahkan Mama, ingat kau sudah punya istri! Lebih bertanggung jawab lah!" Kalimat pesan yang terus di layangkan Rafa kepada sang kakak sebelum kepergian nya.
"Kau sudah mengulangi nya beberapa kali Rafa! Ya kakak akan selalu mengingat pesan mu!" Begitu kalimat yang jawaban yang di utarakan Rama untuk menjawab pertanyaan sang adik, Yah memori itu berputar dalam otaknya.
Rumah tampak sepi dan senyap! Papa dan Mama sudah masuk kedalam kamar mereka,
"Kirana!" Panggil Rama saat memasuki kamar mereka, nihil! Ia tak menemukan sosok sang istri. Kemana? Gumam Rama! Ah! Kenapa dia sering sekali tiba-tiba menghilang si! Dengus Rama dengan kesal.
Tap
Tap
Tap
Langkah nya begitu lebar dan cepat kalau menuruni setiap anak tangga, "Bibi tau istri saya dimana?"
"Nona Kirana tuan?"
"Ya! Jika bukan dia siapa lagi istri saya!"
"Maaf tuan. Nona Kirana ada di taman belakang!" Ucap Bibi itu memberitahu, tanpa ingin berucap kata terimakasih atau apapun! Ah Rama masih tampak enggan bahkan belum terbiasa saja.
"Kau sudah pulang?"
"Hem!"
"Duduklah!"
"Kau kenapa ada disini.... Kenapa? siapa yang membawamu kesini!" Ucap Rama khawatir takut istrinya kenapa-kenapa, Hah! Cinta memang membuat seseorang menjadi bodoh kan?
"Aku bangga padamu!" Ucap Kirana tersenyum lembut pada sang suami.
"Ya memang selain aku tampan aku juga membanggakan, aku adalah laki-laki sempurna!" Ucap Rama dengan nada sombongnya.
"Hah, dia berulah lagi!" Hembusan nafas kasar jengah Kirana keluarkan untuk melayangkan tatapan protes atas jawaban dari sang suami!
"Kenapa kau bergumam seperti itu! Kau mengumpatiku!" Ucap Rama mendelik ke arah sang istri.
"Aku menyesal memuji mu!" Sindir Kirana dan ia beranjak pergi.
__ADS_1
Hap!
"Aku hanya melakukan yang terbaik untukmu, untukku dan untuk ke depan nya! Terimakasih telah menerima orang jahat seperti ku sayang! Aku mencintaimu!" Ucap Rama berbisik lembut di telinga sang istri,
Jantung Kirana bertalu dengan keras, ah rasanya kenapa seperti ini, Ayolah jantung! Bekerja samalah jangan berdetak seperti ini.
"Kau malu ya? Bahkan jantung mu berdetak lebih keras!" Ucap Rama menggoda kala ia merasakan ritme jantung sang istri.
"Rama!!" Pekik Kirana dengan mencubit perut sang suami.
"Kau sudah tau bukan hukuman jika kau memanggil namaku saja!" Seringai tipis itu muncul di sudut bibir Rama.
Kala tubuh keduanya sudah berhadapan, Rama mengikis jarak keduanya, hingga sangat dekat dan bibir keduanya saling bertautan, tangan Kirana tanpa sadar mengalun di kedua leher Rama.
"Ehem!" Suara terbatuk membuat kedua insan itu saling mendorong lembut dan menjauh.
"Mama!" Pekik Kirana merasa malu, ia pun bergegas pergi meninggalkan suami dan Mama mertuanya, Ah memalukan sekali tertangkap basah seperti itu.
"Ku kira siapa! Ah mama datang di waktu yang tidak tepat!"
"Dasar bocah nakal! Kau tak seharusnya melakukan adegan seperti itu disini!" Ucap Mama Annisa menjewer putranya.
"Papa.... "Panggil Rama kala melihat sang Papa turun untuk mendekati keduanya.
"Pa! Kau menyebalkan! Ampun ma!" Ucap Rama.
"Jangan seperti itu! Kau memalukan!" Ucap Mama Annisa menasehati.
"Baiklah ma! Rama ke atas dulu ya!"
"Mau ngapain?"
"Bikin cucu buat Papa dan Mama!"
"Astaga! Rama ini masih sore!!!"
"Biarkan sayang!" Ucap Papa Mark merangkul mesra pundak sang istri.
"Hah, anak itu selalu ada aja kelakuan nya!"
"Apa kau iri dengan Rama sayang! Ah kita bisa membuatkan adik untuk Rafa juga kan?" Ucap Papa Mark dengan menggoda istrinya.
"Astaghfirullah bee! Kita sudah tua! tak pantas rasanya jika kita memberi adik untuk Rafa!"
__ADS_1
"Hah, tapi kau masih saja kelelahan dengan permainan ranjangku kan?" Ucap Papa Mark berbisik mesra ke telinga sang istri.
"Bee! Ayolah! Jangan seperti ini! Jangan menggodaku!"
"Hehehe, kau tampak lucu!" Ucap Papa Mark mengecup sekilas pipi sang istri.
"Mark!!!!"
"Ya sayang, aku mencintai mu!" Ucap Papa Mark berlalu pergi.
Hah, memiliki kedua anak, istri dan hidup tenang seperti ini, sebelumnya Papa Mark tak membayangkan akan mendapatkan kehidupan bahagia seperti ini, dulu hidupnya penuh dengan dendam ambisi dan kekejaman, hingga Tuhan terlalu baik mengirimkan malaikat seperti Annisa untuk menerangi jalan kehidupan nya yang suram. Terimakasih dua putra tampan! Markxelio Roman mencintai Annisa❤
🎶
Perjalanan cukup melelahkan bahkan sangat panjang, Baiklah, dia sudah bahagia Rafa kini saatnya kamu melupakan dan memulai semuanya di sini! Ujar Rafa lirih berusaha tersenyum atas sakit hati yang ada dalam hatinya.
"Tuan muda! Mari saya antar!"
"Paman, jangan berbicara formal seperti itu!"
"Tidak apa-apa tuan muda, saya sudah terbiasa!"
"Hah, berhentilah memanggilku tuan muda!! Itu tak enak di dengar olehku! Panggil saja Rafa!"
"Tadi tuan muda... "
"Paman!"
"Baiklah bagaiman kalau den Rafa saja!"
"Nah itu cukup enak untuk di dengar, maaf paman jika aku merepotkan mu disini!"
"Tidak masalah den Rafa, anda tidak pernah merasa merepotkan saya!"
Satu unit apartemen mewah yang akan menemani Rafa setidaknya maksimal 2 tahun kala ia menuntut ilmu disini! Satu kamar, dapur kecil, ruang tamu! Semua tampak minimalis namun sangat mengesankan.
Kelas begitu tenang, Rafa terduduk di kursi sudut belakang kelas kala itu, acuh akan semua teman dan ia masih asyik berkelana dalam bacaan nya, Baiklah! Ini hari pertamanya sekolah semoga ke depan nya tak ada masalah.
🎶
Happy Reading.
Author mohon maaf, kemarin ga UP ga, huhuhu......
__ADS_1
Badan bener-bener ga bisa nulis, kadang kangen juga masa jadi pembaca aja bukan Author, wkwkw tapi ya tetap di syukuri semua nya. ❤