
"Sayang, memikirkan apa?" Ucap Mark memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Siapa dirimu?" Ucap Annisa pada Mark dengan pandangan lurus ke depan.
"Aku? Suami mu." Ucap Mark mengecup leher Annisa yang terbuka.
"Siapa dirimu! Apa pekerjaan mu!" Ucap Annisa dengan tegas.
"Aku berkerja di kantor, dan kau tau itu bukan?" Ucap Mark lagi.
"Kau tau maksudku bee! Jangan mencoba untuk menyembunyikan kebohongan lagi dariku!" Ucap Annisa dengan dingin
Glek!
Glek!
Mark kesusahan menelan saliva nya, Di balik kan nya tubuh Annisa menghadap dirinya, "Kita duduk." Ucap Mark menuntun Annisa untuk duduk di ranjang king size miliknya.
"Apa yang ingin kau tanyakan padaku sayang!" Ucap Mark pada Annisa.
"Kau membunuh seseorang tanpa merasa bersalah, dan kulihat kau tampak biasa saja saat membunuh mereka. Seolah itu hal biasa bagimu." Ucap Annisa.
"Apa Alex menculik mu ia berbicara sesuatu padamu!" Ucap Mark.
"Iya, dia mengatakan kau adalah seorang pembunuh." Ucap Annisa.
"Dan kau percaya?" Ucap Mark menanyakan pada Annisa.
"Awalnya aku tak mempercayai nya. Tapi aku melihatmu dari CCTV bagaiman kau membunuh dan menerobos masuk ke rumah Alex." Ucap Annisa.
"Jadi kau melihat semuanya?" Tanya Mark
"Iya, dan aku bertanya padamu." Ucap Annisa.
"Huftttt......" Helaan nafas panjang keluar dari mulut Mark.
"Lalu? Apa yang aku fikirkan tentang ku?" Ucap Mark.
"Mafia!" Ucap Annisa menebak.
"Hem," Ucap Mark.
"Apa tebakan ku benar?" Ucap Annisa harap-harap takut.
"Ya kau benar, aku seorang Mafia. Dan Aku ketua Mafia." Ucap Mark datar dan dingin.
"Kau." Ucap Annisa perlahan menjauh dari suaminya.
"Kau takut padaku?" Ucap Mark menatap sendu Annisa.
Namun tak ada jawaban dari mulut Annisa, ia hanya diam membisu dengan ekspresi takut.
__ADS_1
"Menjadi Mafia bukan lah keinginan ku, keadaan yang membuatku terjebak dalam itu!"
"Keadaan dimana aku harus di paksa lebih dewasa dan tangguh untuk menjalan kan usaha Daddy."
"Dan keadaan dimana aku harus kehilangan kedua orang tuaku."
Mark pun melangkah berdiri memandang keluar ke arah jendela.
"Maaf! jika aku tak memberitahu mu sedari awal."
"Aku menjalin hubungan dengan mu di atas kebohongan jati diriku yang aku sembunyikan."
"Tapi rasa cintaku padamu tulus tanpa ada kata bohong didalam nya, aku tak ingin kau pergi dari hidupku! Aku sadar kau wanita baik, tak pantas dengan ku seorang pembunuh!"
"Dalam hidup aku tak pernah berfikir untuk menikah dan menjalin kasih dengan sekarang wanita! namun dengan mu! Kau membuatku mengerti apa arti Cinta! Apa arti butuh! menghargai! tulus! Dan semua hal baik ada pada dirimu."
"Jika kau ingin mengakhiri ini, aku ikhlas! aku lebih mementingkan kebahagiaan mu Annisa." Ucap Mark menatap keluar dengan sendu.
Hap
Di peluknya tubuh Mark dari belakang,
"Menangis lah." Ucap Annisa lirih, setelah nya tubuh Mark terguncang, ia menangis dalam diam.
"Apa kau akan meninggalkan ku setelah tau semua fakta tentang diriku?" Tanya Mark pada istrinya.
"Lihat aku," Di tanggkup nya pipi Mark dengan lembut.
"Aku tak akan meninggalkan kamu. Tapi kau harus bisa perlahan meninggalkan dunia yang tak seharusnya." Ucap Annisa lembut.
"Maira kemana?" Tanya Annisa setelah Mark melepas pelukan nya.
"Ada di sebuah tempat." Ucap Mark dingin.
"Kau tak membuatnya terluka kan bee?" Ucap Annisa bertanya serius. Namun Mark masih terdiam tak bergeming.
"Bee." Ucap Annisa.
"Aku tak bisa berjanji itu hal ini padamu? Dia telah membunuh Calon anak kita dan Cerry." Ucap Mark dingin.
"Maafkan dia, jika kau menyakitinya lagi, dia akan semakin membenci diriku. Bukan kah saling memaafkan adalah kunci hidup bahagia?" Ucap Annisa.
"Kesalahan yang dia perbuat terlalu fatal sayang. Mengertilah. Biarkan dia menjadi urusan ku." Ucap Mark.
"Hem, baiklah." Ucap Annisa pasrah.
Karena Maira memang telah keterlaluan bahkan sudah melebihi batas perbuatan yang bisa di maafkan. Dan biarkan Mark sendiri yang menghukum Maira, dia kakaknya dan pasti tau cara mendidik adiknya dengan benar bukan?
Begitu lah kira-kira yang di fikirkan oleh Annisa.
"Sayang." Ucap Mark.
__ADS_1
"ya?" Jawab Annisa.
"Kau tak ingin membuat proyek ganda bersama ku?" Ucap Mark menggoda.
"Proyek ganda?" Ucap Annisa tak mengerti.
"Membuat anak kembar denganku." Ucap Mark tersenyum jahil.
"Tidak!" Ucap Annisa naik di atas kasur dan membaringkan tubuhnya.
"Ayolah." Ucap Mark merenggek bak seperti anak kecil meminta permen pada ibunya.
"Tidak! Ayo tidur! Aku lelah." Ucap Annisa.
Namun bukan Mark kalau ia menyerah dengan penolakan istrinya, tangan nya perlahan meraba area sensitif Annisa dan sedikit memijit nya hingga gerakan kecil itu membuat Annisa tak nyaman dan tanpa Annisa sadari satu desahan lolos dari mulutnya, dan terjadilah.
🍃
Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, namun dua manusia itu masih senantiasa bergumul dengan selimut yang membungkus tubuh polos keduanya.
Bagaimana tidak? Mark seakan menggila melakukan pergulatan panas itu, hingga pukul 3 dini hari pagi mereka baru menyelesaikan nya.
Hanya Mark yang baru menyelesaikan nya, dan Annisa sudah kelelahan menghadapi suaminya.
Hingga pukul 9 pagi, Annisa perlahan mengerjapkan matanya, menyesuaikan pencahayaan yang ada.
Ia bergegas untuk turun dan segera membersihkan dirinya.
"Mau kemana?" Tanya Mark dengan mencekal tangan Annisa yang hendak pergi beranjak dari tempat tidur dengan mata terpejam.
"Ingin mandi." Ucap Annisa.
"Sekarang jam berapa?" Tanya Mark dengan suara serak-serak basah.
"Jam 9. Kau lanjutkan tidur mu saja. Aku ingin membersihkan diriku." Ucap Annisa.
"Tapi." Ucap Mark ragu.
"Tak apa, Nanti aku akan membangunkan mu dan menyiapkan air untukmu." Ucap Annisa lagi.
"Bagaimana kalau mandi berdua?" Tawar Mark.
"Tidak ada namanya mandi berdua! Kalau kau masih merenggek seperti itu! kau harus berpuasa seminggu!" Ucap Annisa galak.
"Hm. Baiklah" Ucap Mark pasrah.
🌈🌈🌈
Happy Reading ya guys
Jangan lupa like dan komen.
__ADS_1
Untuk yang Vote author berterima kasih❤❤❤
Dan maaf terlambat update 🙃