
"Mau apa!" Ucap Rama ketus kala sang adik memasuki pintu kamarnya tanpa permisi.
"Keras kepala! Pemarah! Cih!" Sindiran Rafa.
"Pergi dari sini sialan!!!" Umpat Rama, ah terlalu malas dirinya berdebat dengan sang adik jika suasana hatinya seperti ini.
"Gunakan kepintaran mu kak! Jangan ceroboh lagi!"
"Apa maksudmu!"
"Aku tau semua kelakuan mu! Nadia! Yah aku tau wanita itu! Wanita yang berkedok sahabat bukan?"
"Kau memata-matai ku!"
"Tugasku masih banyak dari pada harus memata-matai mu! Aku hanya menjaga Kirana!"
"Kau ingin merebutnya dariku!" Ucap Rama dengan tangan mengepal.
"Dulu iya! Tapi sekarang aku hanya menganggapnya kakak ipar ku tak lebih!"
"Aku tak percaya!"
"Terserah! Kali ini gunakan otakmu! Jangan emosimu untuk menyelesaikan masalah!" Ucap Rafa berlalu pergi.
...****...
"Kirana!" Panggil Rafa kala melihat istri kakaknya termenung di taman pada malam hari.
"Boleh aku duduk!" Tanyanya.
"Ya!"
"Sudah berapa bulan keponakan ku!"
"9 bulan!"
"Wah apa aku terlalu lama di Amerika, sehingga tak menyadari keponakan ku akan segera lahir!" Ucap Rafa dengan menenangkan, entahlah ia bingung harus merangkai kata dari mana dan harus bagaimana dengan keadaan saat ini.
Yang pasti hati milik Kirana hancur akan ulah sang kakak.
"Sudahlah, katakan! Mau apa?" Tanya Kirana langsung to the point.
"Kau mencintai kakakku?"
"Jika aku tak mencintainya, tak kan seperti ini bukan?" Tanya Kirana mengusap perut buncit nya.
"Meski kau sudah di khianati?"
"Dia memiliki alasan yang kuat untuk melakukan itu, yeah! Hanya saja ada rasa kecewa dalam diriku karena dia membohongi ku!"
"Lalu? Kau mau bagaimana!"
__ADS_1
"Entahlah! Aku bingung dengan semuanya!"
"Aku akan membantu pergi, jika kau butuh waktu untuk menenangkan dirimu! Bagaimana pun kau tak boleh sedih! Ada bayi yang belum lahir yang harus kau perjuangkan kehidupan nya! Aku yakin kau pasti bisa melewati ini semua!" Ucap Rafa, "Katakan saja jika kau membutuhkan bantuan ku! Aku akan dengan senang hati membantu mu! Kau adalah kakak iparku!" Ucap Rafa berlalu pergi meninggalkan Kirana.
Rafa benar, aku tak boleh sedih atau terpuruk karena masalah ini! Aku harus kuat demi anakku! Monolog Kirana dalam hati mengusap lembut perut buncitnya.
🎶
"Sayang!"
"Aku hanya ingin memasangkan dasi dan menyiapkan segala keperluan mu!" Ucap Kirana dengan tersenyum.
"Kau tak marah padaku lagi? Kau percaya padaku!"
"Sudahlah, kita lupakan masalah itu, Mari ku bantu bersiap! Kau harus bekerja bukan!"
"Ya terimakasih aku mencintaimu!" Ucap nya dengan mencium lembut kepala sang istri.
Pagi ini Kirana tampak seperti biasanya, seperti sosok istri yang setia menyiapkan semua keperluan Rama, hingga mobil yang di kendarai sang suami menghilang menuju ke kantor.
Maafkan mama nak! Tapi mama masih kecewa dengan Papa mu! mama butuh waktu untuk memaafkan nya dan memberikan dia waktu untuk menyelesaikan semua masalah nya. -Kirana-
"Kau sudah siap?"
"Ya aku semua nya sudah siap, terimakasih!"
"Ayo!" Ucap Rafa langsung menuntun Kirana untuk pergi.
🎶
Senyum selalu mekar menghiasi bibirnya, tak sabar untuk segera menyelesaikan semua pekerjanya dan pulang memeluk istri tercinta, serta menanti penuh damba kelahiran sang buah hati yang tengah menghitung hari.
Jam terus bergulir, tak terasa sekarang sudah pukul 3 sore hari, dan Rama telah menyelesaikan semua pekerjaan nya, kakinya melangkah keluar kantor dan segera melajukan mobilnya kembali ke rumah.
Kakinya melangkah masuk kedalam kamar, dengan dua kantung kresek berisi cemilan untuk sang istri.
"Kosong?" Gumamnya kala ia sudah masuk kedalam kamar, seketika perasaan tak enak menghinggapi dirinya.
"Ma... "Panggil Rama berlari ke arah kamar sang Mama.
"Ya ada apa?" Tanya Mama Annisa membuka pintu.
"Mama lihat Kirana?
"Mama gak lihat, Kirana dari tadi pagi gak keluar kamar sayang!" Ucapnya jujur.
"Kirana gak ada di kamar ma!"
"Coba kamu cari lagi."
Suasana seketika menjadi ricuh, semua ruangan rumah itu di periksa satu persatu dengan teliti, nihil tak di temukan siapapun, sang adik Rafa juga tak ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
Brengsek!!! Kalau kau yang membawa istriku pergi aku akan membunuhmu Rafa!! Umpat Rama dalam hatinya. Darah berdesir emosinya meluap seakan ingin membunuh siapa pun.
Yang terakhir hanya satu ruangan kendali CCTV yang ada di rumah itu, Kaki nya melangkah tergesa penuh harap.
Brak!!!
Meja di gebrak dan semua barang seketika bercecer di lantai, bagaimana bisa? cctv sengaja di matikan di 1 jam kala itu, dan kembali berputar di jam berikutnya, sialan.
Rafa!!!!!! Teriaknya menggema.
...****...
"Cukup son!" Ucap Papa Mark dingin, kala sebagian bodyguard miliknya di paksa bertarung untuk meredakan emosi yang ada dalam diri Rama, namun tak bergeming ia tetap melanjutkan pemukulan nya.
"Jika kau terus seperti ini, Biarkan Papa yang menjadi rival mu bertarung!" Ucap Papa Mark langsung mengambil alih posisi di depan putranya.
Gerakan mengayun tangan nya seketika terhenti kala sang Papa berdiri dengan raut dingin di depan nya! "Kalian semua keluar, bersihkan luka kalian dan periksa! Biaya pengobatan aku yang akan menanggung nya!" Ucap Papa Mark kepada seluruh Bodyguard nya.
"Baik tuan!" Ucapnya sopan berlalu pergi.
"Apa yang membuat mu marah seperti ini!"
Hening.
"Jawab Papa bocah sialan!" Umpatnya lagi.
"Rafa membawa istriku pergi!"
"Itu karena kebodohan mu bukan kesalahan Rafa!"
"Pa! Kau membelanya!"
"Ya! Kau harus belajar dewasa dengan menyelesaikan semua permasalahan mu! Jangan seperti pecundang!" Ucapnya sinis.
"Tapi aku melakukan itu semua demi Kirana Pa!"
"Jangan mencari kesalahan demi membenarkan perbuatan mu! Selesaikan masalah mu dengan gadis itu!"
"Aku pasti akan menyelesaikan nya Pa! Tapi.... "
"Biarkan Kirana menenangkan dirinya! Biarkan dia memilih ingin memutuskan untuk melanjutkan pernikahan nya dengan mu atau lebih memilih menggugat cerai dirimu di pengadilan!"
"Tapi aku tak mau berpisah dengan Kirana Pa!"
"Tanggung sendiri akibat semua kesalahan mu! Sudah ku katakan! Jangan menyakitinya kau malah menyakitinya! Dan sekarang kau harus berhadapan dengan Papa mu sendiri." Ucap Papa Mark dengan tegas.
"Bersihkan lukamu! Dan jangan membuat istriku menangis lagi karena ulah mu!" Ucap Papa Mark berlalu pergi.
🎶
Happy Reading.
__ADS_1