
SATU HARI (2 BAB)
UP PAGI! JAM 6
🎶
HAPPY READING 😋
Mulut nya seakan terkunci, tak ada pembicaraan apapun yang terjadi setelahnya, Kirana tidur seperti biasa, menyiapkan segalanya seperti biasa.
"Kenapa kau terus mendiamkan ku hem!" Ucap Rama langsung menyudutkan sang istri di dinding.
Hening!
"Baik, maka akan aku gunakan dengan caraku agar kau bicara!" Ucap Rama dengan seringai tipis, perlahan namun pasti ia menarik pinggang sang istri dalam kungkungan nya, mendekatkan bibir dan....
"Hentikan Rama!" Ucap Kirana pada akhirnya mengeluarkan suara, tercetak jelas senyum tipis dalam sudut bibir Rama.
"Hah, kau selalu menyebalkan!"
"Beritahu aku, apa yang membuat mu sebal dengan ku!"
"Kau masih tak mengerti juga?" Jawab Rama dengan gelengan kepala lemah.
"Hah, Rafa memukulmu bukan tanpa sebab kan?"
"Kau lebih percaya dengan nya!"
"Bukan soal percaya! Aku bertanya, pasti ada sebab kenapa Rafa memukuli mu mas!"
"Dia melihat ku di peluk wanita lain." Ucap Rama tanpa berdosa.
"Kau pantas untuk mendapat pukulan nya? Minggir!" Ucap Kirana kesal mendorong tubuh sang suami.
Hanya berpelukan? he? dia marah berarti cemburu pada ku kan? Ah dia pasti sudah mencintaiku! Gumam Rama bermonolog dalam hatinya,
Demi Apapun, kau manusia paling menjengkelkan yang pernah ku temui! Astaga Rama! kau sudah memiliki istri, jadi kau tak pantas berpelukan dengan wanita lain! Itu tak sopan!
"Kenapa kau mengikuti ku!" Hardik Kirana karena jenggah Rama hari ini seperti penguntit saja, bayangkan? di rumah ia sudah menguntit di belakang Kirana sampai di rumah sakit pun ia begitu!
Apa dia tak memiliki pekerjaan? Ada yang salah dengan sistem syaraf dalam dirinya mungkin! Gumam Kirana bergidik ngeri.
"Ikut!" Ucap Rama bak seperti anak kecil pada induknya.
"Kau menjengkelkan! Tak tau kah aku kesal dengan mu Rama!" Ucap Kirana dengan jenggah, nada panggilan nya saja sudah kembali seperti awal menikah yang sama-sama menjengkelkan. Eits! dan sekarang pria ini sungguh tak tau diri, kadarnya sangat ingin di pukul centong sayur emak wkwkw (jangan tegang ih).
"Baby! Aku merindukan mu!" Ucap Tasya yang tak lain sepupu dari Rama yang datang tiba-tiba memeluk sahabat nya.
"Tasya!" Pekik Kirana kaget sekaligus bahagia.
__ADS_1
"Cie pengantin, sampai di temenin kerjanya!" Goda Tasya.
"Dia sungguh menyebalkan!" Bisik Kirana pelan pada Tasya, agar hanya dia yang tau.
"Hahahaha, Ayo! Aku akan mengajak mu jalan-jalan kita cari pemuda tampan yang tak menyebalkan!" Goda Tasya mengedipkan sebelah matanya.
"Tak boleh? Ku adukan kau pada Paman Hanafi!"
"Cih pengadu!" Cibir Tasya pada sang adik, Rama.
"Ayo, aku juga kesal dengan nya!" Ucap Kirana menambahkan.
"Tak boleh kau disini bersamaku! Tasya kau pulang sekarang! Pulang!" Ucap Rama dengan sorot mata tajam.
"Wani Piro!" Ucap Tasya memberikan tangan nya di hadapan Rama.
"50 juta! Pulang!"
"Kau memang terbaik, bye bye Kirana. next time ya! Kau jinakkan dulu singa mu itu!" Ucap Tasya berlari menghindari keduanya.
🎶
"Aku tak suka kau memeluknya!"
"Dia saudaramu!"
"Dia wanita!"
"Jangan membantah ku Kirana, aku tak suka kau berpelukan atau berdekatan dengan orang lain! hanya boleh dengan diriku!"
"Pemaksa! Kau bahkan berpelukan dengan wanita lain!"
"Kirana!" Ucap Rama dengan nada tinggi,
"Apa!" Ucap Kirana tak mau kalah berdebat dengan sang suami, selama kita benar kita harus membela diri, oke tak apa jika harus berbicara dengan nada tinggi dengan sang suami, untuk menyadarkan apa yang dilakukan nya salah!
Keheningan langsung terasa, Rama duduk di sofa ruang kerja Kirana dengan wajah sangat kesal bahkan tak ingin lagi berdebat dengan sang istri, ayolah sejak kapan dirinya kalah dengan orang lain bahkan seorang wanita! dan sialnya itu istrinya sendiri.
"Minumlah!" Ucap Kirana menyodorkan air minum ke hadapan sang suami, percuma ternyata memperdebat sang suami? ah nyatanya pria ini adalah pria yang tak pernah peka akan kesalahan yang dilakukan nya.
Tak ada pergerakan apapun yang dilakukan Rama, diam, dan dengan kedua tangan di atas dada dengan ekspresi kesalnya.
Lalu, dengan helaan nafas panjang Kirana berucap, Aisyah R. A pernah berkata : Rasulullah tidak pernah sama sekali menyentuh tangan perempuan, kecuali perempuan yang di milikinya.
"Mas kamu sudah memiliki istri, itupun jika kau menganggap saya sebagai istrimu.....
"Aku menganggap mu." Potong Rama dengan tiba-tiba.
"Maaf telah berbicara dengan nada tinggi seperti tadi, aku tak membela siapapun, tapi tak baik jika kau menyentuh wanita lain apalagi berpelukan dengannya, Jika di luar negeri kau bebas melakukan nya karena alasan budaya, disini kau harus mempelajari bahwa itu tak boleh lagi kau lakukan, ada agama yang mengatur, dan status mu yang sudah menjadi suami yang tak bisa membuat mu bebas seperti pria lajang lain nya!' Tutur Kirana dengan lembut.
__ADS_1
Rama tampak mendengarkan dengan seksama penuturan lembut sang istri. "Maaf!" lirihnya menunduk! "Bukan aku yang memeluknya, tapi dia yang memelukku!" Ucapnya dengan suara yang hampir menghilang.
"Sudahlah, jangan terpenting jangan mengulangi nya lagi! Harga diriku sebagai istrimu, tergantung bagaimana kamu memperlakukan ku mas"
"Ya, aku akan berusaha memperlakukan mu dengan baik dan aku tak mengulangi nya lagi!" Ucap Rama langsung memeluk tubuh sang istri.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk!" Ucap Kirana melepas paksa pelukan sang suami. "Cih penganggu!" Gumam Rama menatap galak pada sang suster.
"Dok maaf, pasien di luar sudah banyak yang menunggu!"
"Baiklah suster, panggil satu persatu pasien sesuai urutan ya!" Ucap Kirana dengan lembut.
"Baik dok!"
"Kau tak bekerja?" Tanya Kirana pada sang suami.
"Tidak aku ingin disini!" Ucap Rama merebahkan dirinya di sofa.
"Hah, terserah. Tapi jangan menggangguku!"
Jam 2 Kirana sudah kembali ke rumah, jam pulang yang seharusnya ia pukul pukul 4 harus di percepat 2 jam, Jika orang lain sangat bersyukur, bagi Kirana ini sangat menjengkel kan.
"Bagaimana bisa dia genit seperti itu...
"Dia kurang ajar....
"Pria jelek seperti nya, sudah tua dan berumur kau mau menyentuhnya di bandingkan diriku yang lebih tampan...
Dan masih ada kata bualan Rama yang sungguh menjengkelkan, ingin Kirana menyumpal mulut tampan sang suami. Senyum yang ia tunjukkan kepada pasien itu memang hanya batas wajar ke formalan interaksi antara dokter dan pasien nya!
Terkait sentuhan, ayolah. Kirana hanya ingin menyuntikkan obat pada kakek tua, tak mungkin sang pasien menyuntikkan obat di tubuhnya sendiri. Semuanya membuat kepala Kirana pusing seketika.
"Sayang? Kau kenapa sudah pulang jam segini?" Tanya Mama Annisa saat melihat wajah menantunya yang tampak kesal kala memasuki rumahnya dengan Rama sang anak yang mengoceh tanpa henti!
"Assalamu'alaikum mama, Maaf Kirana tak bisa menemani mama dulu ya. Kirana langsung ke kamar ya!" Ucap Kirana dengan senyuman di paksakan.
"Waalaikumsalam, istirahat lah nak! Pasti kau lelah kan?" Ucap Mama Annisa lembut dengan menantunya.
"Eits! Anak nakal duduk!" Ucap Mama Annisa menarik lengan putranya kala ia melangkah masuk kedalam.
🎶
Happy Reading❤❤❤
__ADS_1