
Ah rasanya bahagia sekali, semburat merah masih menghiasi pipi Kirana, tak menyangka jika dirinya benar-benar mencintai suaminya, imam yang di pilihkan Allah untuk dirinya meski dengan cara yang salah.
Terbayang bagaimana kegiatan panas mereka semalam, tubuh Rama yang begitu kekar, err.
Dan laki-laki itu saat ini tengah mendekap nya erat sangat erat dan hangat.
"Jangan bergerak sayang, ini masih pagi apa kau tak lelah?" Ucap Rama dengan suara serak dan mata masih terpejam.
"Eh? Kau sudah bangun?" Tanya Kirana menelisik ke arah sang suami.
"Ehem... tidurlah! ini masih pagi!" Ucap Rama mengeratkan pelukan nya.
"Tapi...
"Ada apa hem?" Ucap Rama membuka kelopak matanya menatap sang istri.
"Aku ingin sholat!"
"Ah baiklah aku bantu sebentar!" Ucap Rama melangkahkan kakinya menuruni ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Ayo!" Ucap Rama menggendong istrinya.
"Kita tak mandi bersama bukan?"
"Jika istriku menginginkan itu aku tak keberatan!"
"Rama, kita akan terlambat untuk sholat."
"Hahaha, baiklah. Mandilah aku sudah menyiapkan air hangat untukmu!" Ucap Rama menaruh sang istri di dalam bet up.
🎶
Melangkah begitu gontai, Ah rasanya malas sekali jika hari libur seperti ini diharuskan untuk ke kampus mengikuti kegiatan seminar yang akan di selenggarakan.
Tapi ancaman nilai jika siswa tak menghadiri acara itu membuat Rafa harus menimbang puluhan kali untuk tidak membolos nya, meski dengan setengah hati, ia duduk di salah satu bangku peserta.
Cukup dengarkan, simak dan rangkuman materi setelah itu kirimkan melalui email guna tugas tambahan. oke, Baiklah. Dosen selalu benar dalam memberikan tugas, bahkan perkara waktu hanya dosen yang berkuasa, sebagai mahasiswa kita harus bisa mengikuti dan mengiyakan nya.
Gadis itu lagi! Ucap Rafa menatap gadis berjilbab yang kini melangkah menuju meja kursi yang digunakan untuk para Narasumber.
Cantik juga? Gumam Rafa menatap gadis itu, ah siapa namanya? Sial! Baru kali ini Rafa lupa akan nama seseorang.
Tepuk tangan bersorak menggema di ruangan itu, kala Citra sudah selesai dengan materi yang di bawakan sungguh apik bahkan sangat mengagumkan. Nampaknya dia sangat bangga menjadi muslimah, bisa di lihat dari caranya membawakan materi sesekali ada hadist dan ayat Al-Quran untuk menyeimbangkan.
...***...
(Anggep aja ini percakapan bahasa orang sana)
"Citra!" Panggil Dosen Alexander.
__ADS_1
"Ya pak? Ada yang bisa saya bantu?" Ucap Citra dengan sopan,
Alexander, dosen muda ah umurnya sudah menginjak 30 tahun saat ini, namun untuk ukuran orang luar itu masih muda bukan? Sudah 3 bulan ini menaruh hati pada Citra yang tak lain adalah assisten nya sendiri.
Citra bukan gadis yang bodoh tak mengerti tentang perasaan Bp. Alexander, Yah namun perbedaan agama yang ada di antara keduanya tak main-main. Citra bukan gadis pemaksa yang menyuruh "Jika kau mencintai ku! Maka ikutlah ke agamaku!"
Rasanya kalimat itu mengandung pemaksaan bukan? Agama adalah keyakinan kita terhadap sang Pencipta tanpa adanya campur tangan paksaan. Begitu singkatnya.
Tentang keinginan berpindah dari agama satu ke agama lain? hanya hati nurani yang bergerak untuk berpindah sendiri? Jika ada tujuan untuk berpindah? Rasanya akan setengah hati, jika kelak akan menjalankan ibadah dengan agama barunya.
"Jangan memanggil ku seperti itu, ini kan hari libur, anggap aku teman mu!" Ucap nya dengan tersenyum.
"Hah, baiklah pak, tapi saya rasa itu terlalu berlebihan."
"Apa kau ingin makan malam dengan ku?"
"Maaf pak saya tak bisa, jika tak ada yang ingin anda bicara kan saya permisi!"
"Tunggu!" Ucap nya sambil menyekal pergelangan tangan Citra.
"Astaghfirullah!" Ucap Citra kaget.
"Ah maaf!" Ucap nya melepas dengan gugup.
"Citra aku mencintaimu! Apa kau tak mau menjadi istriku!" Ucapnya frontal, 3 kali sudah Citra mendengar kenyataan cinta dari sang dosen secara gamblang.
"Saya mau mengikuti agamamu!"
"Hah, terdengar seperti keterpaksaan menghalalkan semua cara untuk mendapatkan saya?"
"Ini bukan keterpaksaan Citra... "
"Tapi maaf sekali lagi saya tidak bisa! Saya permisi pak!" Ucap Citra berlalu pergi.
Fakta mengejutkan baru saja ia dengar! Ah agaknya Rafa seperti seorang pengutit, bukan? Hanya saja ia tak sengaja mendengar pembicaraan keduanya.
Hanya satu yang ada dalam benak Rafa menggambarkan sosok Cita, "Sempurna!"
🎶
"Bagaimana hari mu sayang?"
"Abi? Assalamu'alaikum! Kau mengagetkan ku!" Ucap Cita salim kepada abinya kala memasuki pintu apartemen.
"Hahaha, baiklah maafkan abi? Bagaimana perkuliahan mu hem?"
"Semua berjalan dengan baik bi! 2 bulan lagi aku akan selesai, ku mohon abi mengizinkan aku untuk pulang, Citra kangen dengan umi!"
"Baiklah, selesaikan hanya tinggal sebentar bukan?"
__ADS_1
"Ya abi."
"Tumben abi sudah disini?" Tanya Citra kembali.
"Hah, abi hanya rindu putri Abi yang cantik ini!"
"Abi, bisa saja. Sudah makan?" Gelengan lemah di layangkan laki-laki paruh baya itu pada sang putri. "Ah baiklah, tunggu sebentar. Citra akan memasak untuk Abi."
"Baiklah Abi tunggu."
🎶
"Sayang! Aku merindukan mu!" Ucap Rama di sebrang telfon sana, Hah! Jam masih menunjukkan pukul 11 siang yang artinya mereka baru saja berpisah 3 jam yang lalu tapi Rama selalu menelfon istrinya setiap 1 jam sekali. Dan hari ini genap 6 bulan mereka mengarungi biduk rumah tangganya yang semakin hari semakin hangat.
"Kita akan berjumpa nanti di rumah, sudah dulu masih ada banyak pasien yang harus aku tangani."
"Kau mengabaikan ku? Apa kau tak merindukan ku!" Renggek Rama di sebrang sana, Oh Tuhan! Sejak kapan suaminya seperti itu berubah menjadi sangat melankolis dan menjengkelkan.
"Bukan seperti itu, ah begini kita setiap hari sudah bertemu bukan? Jadi....
"Tapi aku merindukan mu!" Ucap Rama melayangkan protes! Ah baiklah jika sang paduka sudah berkehendak demikian kita harus mengikuti saja keinginan nya.
"Lalu apa yang kau inginkan sayang!" Ucap Kirana menekan kekesalan nya dengan menegaskan kata sayang di ujung telfon.
"Kemari ke kantorku!"
"Apa!"
"Kau tadi menanyakan keinginan ku! Sekarang kau tak mau kesini ya?"
"Oke baiklah! Jam 2?"
"Sekarang!"
"Jam 2 atau tidak sama sekali Rama!!!!"
"Jam 12!"
"Jika kau terus melakukan penawaran, tak ada jatah untuk mu malam ini sayangku!"
Cih, dia sudah pandai mengancam ku! Gumam Rama.
"Baiklah! Aku menunggu mu, selamat bekerja. Aku mencintaiku sayang."
"Ya!" Singkat padat jelas, dan membuat Rama mengumpat kasar di sebrang sana.
🎶
Happy Reading, baiklah Kirana sabar ya❤
__ADS_1