
"Kirana? Kau mau kemana?" Tanya Mama Annisa saat ia melihat menantunya membawa tas dan jas di tangan nya.
"Assalamu'alaikum Mama Papa, Kirana pamit ke rumah sakit sebentar! Ada pasien yang membutuhkan Kirana!" Ucap Kirana pamit kepada mertuanya yang hendak sarapan pagi.
"Tunggu! Suami mu kemana? Dia tak mengantar mu?" Tanya Mama Annisa.
"Mas Rama sedang istirahat ma."
"Istirahat?" Tanya Mama Annisa penuh selidik.
"Dia agak tak enak badan ma, mungkin kecapekan. Kirana sudah memeriksa dan memberinya sarapan serta obat. Siang hari mungkin ia sudah pulih setelah beristirahat."
"Ah baiklah! Maaf jika putra Mama menyusahkan mu!"
"Kirana tak merasa di susahkan Ma, ya sudah Kirana pamit dulu Mam Pa."
"Ya hati-hati, Suruh pak ujang mengantarkan mu!"
"Baik ma."
🎶
Jam menunjukkan pukul 12 siang, retina mata Rama perlahan membuka. "Ah ternyata lebih baik! Badan ku sudah kembali segar! Dia pandai juga dalam merawat ku!" Gumam Rama beranjak duduk meregangkan anggota tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
"Cih! Dia bilang sebentar! Bahkan sudah setengah hari dia tak memberiku kabar sama sekali!" Gerutu Rama menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 12 siang, dan mengecek Handphone miliknya ternyata tak ada satupun pesan dan panggilan dari istrinya.
"Jangan-jangan dia kabur lagi! Dan menggunakan alasan itu." Monolog Rama.
"Tidak bisa di biarkan, kau harus menyusul dan memeriksanya." Ucap Rama langsung berdiri dan bergegas untuk mandi serta bersiap-siap.
Kakinya melangkah tergesa agar segera sampai di ruangan tempat bekerja sang istri, "Maaf Pak! sedang mencari siapa ya?" Tegur salah satu suster yang melewatinya karena Rama tampak ingin langsung menyelonong masuk kedalam ruangan kerja sang istri.
"Kirana! Ah dokter Kirana ada didalam?" Tanya Rama dengan sopan.
"Dokter Kirana tak ada di ruangan nya pak...
"Apa!!! Kau bohong!" Potong Rama tersulit emosi.
"Maaf Pak, maksud saya dokter Kirana masih ada di ruang operasi! Jika Bapak ada keperluan dengan dokter Kirana, Bapak bisa menunggunya di situ." Tunjuk bangku pengunjung yang berjejer di luar.
__ADS_1
"Tidak aku ingin menunggu didalam!"
"Tapi Pak....
"Apa tapi-tapi! Aku suami dari dokter Kirana." Ucap Rama dengan nada sewotnya.
"Maaf saya tetap tak bisa membiarkan seseorang masuk tanpa ijin dari dokter Kirana."
"Cih! Kau tak percaya padaku!" Dengus Rama dengan kesal.
"Biarkan dia masuk suster tak apa, Maaf telah merepotkan mu! Dia suami saya!" Ucap Kirana yang datang tiba-tiba.
"Maaf dokter saya tak tau!"
"Tak apa, Suster boleh melanjutkan pekerjaan anda kembali."
"Baik dokter saya permisi."
"Ruangan mu sempit dan panas! Cih rumah sakit ini sangat kecil!" Ucap Rama langsung duduk dan mengomentari setiap sisi ruangan sang istri namun tak di tanggapi oleh Kirana, ia masih sibuk membersihkan dirinya.
"Kau tidak mendengarkan ku!" Ucap Rama lagi melirik ke arah Kirana dengan tajam.
"Huh... Kenapa kau kemari?"
"Bukan seperti itu, aku hanya bertanya kenapa kau kemari?"
"Hanya memastikan! Ku kira kau berbohong dan ingin kabur dariku!"
"Hah, " Lengguhan berat Kirana layangkan, kakinya melangkah pergi masuk kedalam kamar mandi.
"Hey kau mau kemana?" Ucap Rama saat melihat langkah Kirana.
"Aku ingin mengambil wudhu, aku ingin sholat."
Tempat kecil di ruangan itu di tata sedemikian mungkin untuknya menunaikan ibadah sholat, jika harus Sholat di masjid rumah sakit, itu bisa saja ia lakukan, namun meninggalkan Rama sendiri di ruangan nya itu bukan pilihan yang tepat.
Rama menatap wanita itu dengan pandangan yang sudah di artikan, tutur kata, kepribadian. Kadang timbul rasa tak percaya diri menghantui diri Rama, bagaimana mungkin ia seorang pendosa mendapatkan istri sholehah seperti Kirana taat agama dan sangat lembut bertutur kata.
🎶
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Kirana langsung mengganti pakaian nya dengan pakaian rumahan. Kakinya hendak melangkah keluar namun suara itu lagi-lagi harus menguji kesabaran nya.
"Kau mau pergi kemana! Apa tak bisa kau duduk dan diam dengan baik."
"Hah, Kau sudah makan?"
"Tentu belum, kau pergi mementingkan pekerjaan mu tanpa memperdulikan ku." Ucap Rama dengan ketus.
"Sabar Kirana, sabar!" Ucap Kirana dalam hati sambil mengelus dadanya.
"Baiklah! Kau tunggu sebentar, aku akan ke bawah mengambil makan siang untukmu!"
Jam sudah menunjuk kan pukul 2 siang, rumah tampak sepi tak ada siapa pun hanya beberapa pelayan yang menjalan kan tugasnya.
"Bibi kemana semua orang?" Tanya Kirana. "Nyonya besar ikut Tuan besar ke kantor nona, sedangkan aden Rafa juga masih di kantor."
"Ah begitu, baiklah!"
"Apa nona butuh sesuatu?"
"Ya bi, aku ingin membuat makan siang untuk suami ku! Kira-kira apa yang dia suka?" Tanya Kirana pada sang bibi,
"Ah itu, ini bibi sudah siapkan makan siang untung Nona dan aden Rama, Nona tunggu saja di kamar biar pelayan yang mengantarkan nya."
"Tidak usah bi, aku tak ingin merepotkan bibi."
"Tak apa nona, ini sudah menjadi tanggung jawab saya! Sudah nona kembali ke kamar saja."
"Baiklah terimakasih bibi."
Kedua nya menikmati makan siang itu dengan keheningan, Kirana tampak lahap menikmatinya tenaganya cukup terkuras saat bekerja tadi dan harus mengurus Rama yang tampak sangat bawel dengan semua yang ia kerjakan.
"Kau seperti orang yang kelaparan." Celetuk Rama.
"Memang itu kenyataan nya, sudah lah aku malas berdebat dengan mu! Aku merasa lelah hari ini." Ucap Kirana menyudahi makan nya yang sudah selesai dan membersihkan piring yang ada.
Merebahkan diri di sofa, namun tetap menjaga jarak dengan Rama yang tengah asyik dengan tontonan yang ia liat. Perlahan kedua kelopak matanya terpejam dan Kirana pun tidur dengan posisi terduduk di atas sofa.
"Dia terlihat lelah sekali!" Lirih Rama saat tau sang istri sudah tertidur. Diangkat nya tubuh Kirana dan di letakkan dengan hati-hati di atas tempat tidur, Rama pun perlahan naik untuk menyusul sang istri menyelami alam mimpinya, menarik Kirana dalam pelukan nya. "Ah nyaman! Selamat tidur istriku! Aku mencintaimu!" Ucap Rama lirih mencium puncak kepala Kirana.
__ADS_1
🎶
Happy Reading❤❤❤