
Pagi hari merupakan hari yang paling membahagiakan, hari ini Rafa akan memperkenalkan Nadia sebagai calon istrinya,
Cantik, hanya satu kata itu yang mampu mendeskripsikan penampilan Nadia saat ini, gaun indah yang ia kenakan memang tak terbuka tapi cukup menampilkan gaya anggun nya.
Jas setelan warna senada yang dikenakan Rafa selaras dengan yang Nadia kenakan.
"Kau siap sayang?" Tanya Rafa meraih tangan Nadia.
"Ya aku siap!" Ucapnya dengan tampilan tersenyum bahagia.
Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan dengan mesra keluar dari apartemen, masuk kedalam mobil yang akan mengantarkan keduanya ke rumah orang tua Rafa.
...****...
"Ma, Pa! Kita duduk dulu. ada yang ingin Rafa bicarakan!" Ucapnya dengan tersenyum,
Tanpa banyak kata, Mama Annisa dan Papa Mark menuruti kemauan dari sang bungsu, keduanya duduk dengan tenang ingin mengetahui apa yang sebenarnya Rafa ingin sampaikan.
"Pa Ma aku dan Nadia akan menikah!" Ucap Rafa dengan mantap.
Brak!
Meja di gebrak dengan sangat keras oleh Papa Mark setelah kata yang mengejutkan itu keluar dari bibir putra bungsunya.
"Apa maksudmu!"
"Aku mencintainya Pa!" Ucap Rafa dengan mantap.
"Kau gila Rafa! Dia bahkan sudah mengandung putra dari kakakmu! Kenapa kamu ingin menikahinya!" Ucap Papa Mark mengepal penuh emosi.
"Cinta tak ada yang tau Pa, dan papa sudah mewariskan semua harta ini kepada Rafa, jadi papa tak bisa meminta itu kembali seperti bang Rama!" Ucapnya.
"Sialan! Brengsek!" Ucap Papa Mark langsung melayangkan bogem mentah kearah putra bungsu yang tak tau dirinya itu.
"Pa stop! itu putramu!" Ucap Mama Annisa melerai.
Nadia hanya tersenyum tipis melihat kejadian itu, sebentar lagi ia akan menjadi Nyonya Roman menikmati semua kekayaan dan hidup mewah yang ia impikan! Bodoh amat siapa yang menjadi suaminya, yang terpenting ia bisa menikmati layaknya hidup sebagai Ratu.
"Kau tak apa?" Tanya Nadia yang menolong Rafa untuk duduk kembali dengan benar, begitu juga Mama Annisa yang menyuruh suaminya juga duduk.
"Uncle! Kemari lah!" Ucap Rafa lewat telfon. Tak butuh waktu lama, derap langkah kaki terus mendekat kearah nya,
"Ini berkas yang Anda butuhkan tuan muda!" Ucapnya menyodorkan berkas itu kepada Rafa, dengan tersenyum Rafa melangkah dan meraih berkas itu, posisinya masih berdiri di sebelah Uncle Hito.
__ADS_1
"Hito! Kenapa kau berpihak pada bocah brengsek itu!" Ucap Papa Mark tak terima pada tangan kanannya.
"Pa diam, sabar pa!" Lirih Mama Annisa berbisik mengelus lengan suaminya.
"Rafa mohon Pa! Dengarkan apa yang ingin Rafa sampaikan selanjutnya, termasuk kamu sayang!" Ucap menatap lembut pada Nadia di akhir kata.
"2 Lembar foto dimana Nadia dan James bertemu di lempar kasar di depan meja."
"Sayang! Maksudnya apa!" Tanya Nadia dengan perasaan was-was.
"Duduk ditempat mu!" Ucap Rafa dengan nada dingin.
"Uncle, mana handphone nya! Putar!" Ucap Rafa langsung meraih Handphone yang di sodorkan oleh Uncle Hito.
Percakapan antara Nadia dan James seketika berputar dengan cukup keras, Seketika membuat Nadia memucat pasi kala bait kata itu terus di putar!
"Sayang! Ini jebakan aku bisa jelaskan!" Ucap Nadia gugup dengan terbata. Sungguh Nadia tak ingin lagi kehilangan impian kekayaan yang sangat berlimpah ruah yang hampir ia dapatkan didepan mata.
"Duduk di tempatmu! Jangan bergerak!" Ucap Rafa begitu dingin dan menohok.
Rekaman selanjutnya, kala Nadia merencanakan pembunuhan untuk James kembali di putar!
Diam mematung dengan penuh pengharapan! Sialan! kenapa aku bisa di tipu dengan mudahnya oleh pemuda ingusan ini! Kata itu yang kini terlintas yang dilayangkan Nadia pada Rafa.
"Kau tak mungkin bisa hidup! Kau!" Ucap Nadia tergagap, tanpa sadar ia mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan tindak kejahatan pada James.
"Memangnya kenapa Nadia? Kau terkejut?" Tanya James dengan bibir tersenyum setan.
"Kau mau mengelak apa Nadia! Jangan harap aku mencintaimu! Tak mungkin aku mau menikah dengan perempuan bekas seperti mu! Ini menjijikkan!" Ucap Rafa dengan nada ketusnya.
"Sayang... "
"Berhenti memanggilku sayang!" Sinisnya pada Nadia.
"James kau tau bukan apa yang harus kau lakukan!"
"Ya! Aku tau, terimakasih telah menyelamatkan hidupku!"
Satu buah pistol di todongkan di hadapan Nadia oleh James, membuat tubuhnya bergetar hebat melihat itu,
"Jangan membunuh di rumah ku! Bawa pergi wanita itu! Ada beberapa pengawal yang akan membantu mu! Aku serahkan wanita ular itu padamu! Jangan kecewakan aku!" Ucapnya menepuk pundak James dengan tersenyum.
Tanpa banyak kata James menyeret Nadia untuk meninggalkan area rumah itu, dengan bener pengawal, mereka semua seolah tuli dengan teriakan yang Nadia layangkan pada semua orang yang ada di sana, hingga keduanya dan beberapa pengawal menghilang di balik ointut
__ADS_1
Hap!
Pelukan hangat di dapatkan oleh Rafa, bukan dari sang Papa, melainkan kakaknya yang datang dan tiba-tiba memeluknya, Rama mendengar semua yang telah di katakan oleh sang adik tentang pengorbanan nya.
"Kau menjijikan bang!" Ucapnya langsung melepas pelukan sang kakak, "Aku masih normal, aku juga mencintai wanita. bukan pria bodoh seperti mu!" Ucapnya dengan nada lucu.
"Maafkan Papa Rafa! Papa salah menilai mu!"
"Oke Pa, tak apa." Ucapnya dengan tersenyum.
"Kau bocah nakal!" Ucap Mama Annisa langsung menjewer putra bungsunya itu.
"Ma, aduh ma aduh! sakit telinga Rafa atuh ma!" Protes Rafa dengan nada imutnya.
...****...
Keempat orang itu terduduk dengan nyaman, Rafa sudah menjelaskan semuanya, tentang rencana nya, Maaf ia layangkan pada sang Papa Mama dan abangnya karena ia tak melibatkan atau membicarakan terlebih dahulu, sungguh ini di luar rencana nya.
"Kau lebih mematikan dari pada kakakmu!" Sindir Papa Mark.
"Aku hanya tak ingin melihat orang lain berhasil menghancurkan keharmonisan keluarga kita!"
"Papa bangga padamu!" Ucap Papa Mark, "Mama juga bangga memiliki kedua putra tampan Mama!" Ucap Mama Annisa tersenyum. Sedangkan Rama hanya mengacungkan kedua jempolnya, entahlah ia tak mampu mengatakan apapun intinya hanya kata terimakasih telah banyak membantu dirinya.
"Pa, Rafa juga akan mengembalikan semuanya, kak Rama lebih berhak untuk itu!" Ucapnya dengan lembut.
"Kau juga berhak dan sangat pantas menerima itu!" Ucap Rama.
"Tidak kak, kau yang lebih tua dan berhak!" Ucap Rafa tersenyum.
"Sudah! Papa akan serahkan itu semua pada kalian berdua, jangan mengecewakan Papa dan Mama!" Ucapnya melerai perdebatan kedua kakak beradik itu.
"Oke, tapi abang sebagai pimpinan tertingginya, Rafa tak mau untuk itu terlalu sibuk!" Ucapnya memutuskan sepihak.
"Mana bisa, kau harus..... "
"Aku tak mau di bantah oleh mu bang! Oke, ayolah aku sudah berjasa untuk hari ini, jadi kau harus menuruti ku! Lagian aku tak mau terlalu sibuk dan lelah karena sebentar lagi aku akan menikah!"
"Apa? Dengan siapa!" Tanya 3 orang itu secara spontan.
"Aish! Kenapa kalian begitu kompak sih!" Gumam Rafa menatap heran.
🎶
__ADS_1
Happy Reading. ❤