
Acara pernikahan itu pun berjalan dengan begitu sempurna sesuai dengan yang diinginkan kedua pasangan tersebut
seusai resepsi, kedua orang tua Annisa memutuskan untuk menginap di rumah menantunya.
Mereka pun berdua pun tidak sempat mengabari Annisa terlebih dahulu. karena mereka semua berfikir.
Annisa sudah pulang dan mungkin sedang beristirahat. mereka takut mengganggu istirahat Annisa begitu kiranya yang ada di fikiran mereka.
π Disisi lain π
03.00 WIB
Annisa terbangun dari tidur nya, ia pun perlahan membuka matanya.
Rasa pusing yang mendera kepalanya pun masih terasa sama, Annisa melihat sekeliling kamar yang ia tempati saat ini. Semua tampak berbeda.
Sekelebat ingatan Annisa pun berputar. Ia pun mengingat kejadian petang tersebut.
Ia pun merogoh saku bajunya, berharap akan menemukan ponsel nya.
Alhamdulilah, Gumam Annisa saat ia menemukan apa yang dicarinya.
Di ambilnya dengan segera.
Deg, Astaghfirullah.
Namun malang, ponsel yang menjadi harapan terakhir nya tidak bisa menyala karena kehabisan baterai
Annisa hanya bisa menghela nafasnya pasrah.
Lalu di sandarkan kepalanya yang terasa pusing. Perlahan kesadaran Annisa mulai menghilang. Ia pun kembali pingsan.
Keesokan Harinya.
Ibu dan Ayah Annisa pulang kerumah nya, diantar oleh supir pribadi menantunya.
Ibu kasihan dengan Annisa yang sendiri an dirumah.
sedangkan Hanafi masih harus beberapa hari tinggal di rumah tersebut.
Sesampainya dirumah, ibu Annisa mengetuk pintu namun tidak ada sahutan dari dalam.
Apa Annisa belum bangun ya? atau sudah kekampus? tapi dia kan masih masa libur. Gumam Ibu Annisa.
Ia pun menatap suaminya. "Mungkin Annisa tidak mendengar bu." Ucap Arifin ayah Annisa.
Ibu Annisa pun berkata "Mungkin yah." Ia pun merogoh tas nya dan mengambil kunci cadangan rumah nya.
__ADS_1
Mereka pun memasuki rumah bersama-sama.
Keadaan didalam rumah terasa sepi dan sunyi.
Ibu Annisa pun melangkah kan kakinya menuju ke kamar Annisa
Clek.
Hanya terlihat tempat tidur yang kosong tak berpenghuni dan semua barang nampak masih tapi seperti sebelum nya.
Seketika, perasaan gelisah menyelimuti dalam diri Ibu Annisa.
Ibu Annisa pun lekas turun ke bawah menghampiri suami nya yang tengah duduk di ruang keluarga menonton televisi.
"Ayah, Annisa tidak ada di kamar." Ucapnya gelisah pada suaminya itu.
"Ibu jangan panik, mungkin Annisa sedang ke luar membeli sesuatu." Ucap pak Arifin menenangkan istrinya.
Dert.
Dert.
Dert.
ponsel ibu Annisa pun berbunyi, ia segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo bu, Assalamu'alaikum." Ucap Mark di sebrang sana.
"Bu, apa Annisa sedang sibuk.? Aku mencoba menghubungi nya namun ponselnya tidak aktif. tidak biasanya Annisa mematikan Handphone nya." Ucap Mark melayangkan pertanyaan yang bertubi-tubi pada ibu Annisa.
Deg
Jantung Ibu Annisa berpacu semakin cepat seketika itu, mendengar penuturan Mark.
Perasaan gelisah pun menghampirinya lagi.
"Halo bu apa ibu masih disana? " Ucap Mark lagi yang tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Oh-Oh iya nak Mark, Annisa masih tidur. Nampaknya dia sangat kelelahan."Ucap Ibu Annisa gugup dan berbohong pada Mark karena ia tidak ingin menambah beban calon menantunya
"Yasudah bu, Jika Annisa sudah bangun sampaikan padanya untuk segera menghubungi ku." Ucap Mark lagi
"Baik Nak. Assalamualaikum." Ucap Ibu Annisa mengakhiri panggilan telfon nya.
Ibu Tati seketika menunduk dan terduduk lemas di samping suaminya.
"Bu ada apa?" Ucap Pak Arifin pada istrinya.
__ADS_1
Ibu Tati pun menjelaskan semua apa yang dikatakan Mark di telfon.
beberapa kali Ibu Annisa menghubungi putri bungsunya itu, namun tidak bisa.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara pintu diketuk. Ibu Annisa menyeka air matanya yang hendak menetes itu.
Ia berharap yang mengetuk pintu adalah Annisa putri bungsunya.
Namun hanya kecewa, yang berdiri di hadapan Ibu Annisa adalah tetangganya.
"Bu maaf, itu anu...... "Ucap Seseorang itu tergagap.
"Ada apa? bicara yang jelas." Ucap Ibu Annisa penuh penekanan.
"Mobil yang di tumpangi Annisa ditemukan di tengah jalan dengan beberapa bagian yang rusak. tak jauh dari mobil tersebut ada seorang pria paruh baya yang tidak sadarkan diri bu, mungkin itu supir Annisa." Ucapnya menjelaskan.
"Lalu? Annisa bagaimana." Ucapnya Ibu Annisa lagi.
"Itu bu, Annisa tidak ada." Ucapnya.
Bagai disambar petir di pagi hari, Ibu Annisa tak mampu lagi menopang badan nya.
Beruntung ada Pak Arifin yang setia di belakang ibu Annisa.
Pak Arifin pun memegang tubuh istrinya supaya tidak jatuh.
"Bagaimana keadaan supir Annisa pak." Ucap Pak Arifin pada tetangganya itu.
"Keadaan nya kritis pak, sekarang ada di rumah sakit. Saya harap bapak ke sana melihatnya. Saya permisi dulu." Ucap tetangga itu pergi meninggalkan rumah Pak Arifin setelah memberikan informasi penting pada keluarga nya.
Dituntunnya tubuh istrinya itu masuk kedalam dan didudukkan nya di sofa.
Tak lupa Pak Arifin memberikan secangkir teh untuk Ibu Annisa yang syok mendengar berita tadi.
Pak Arifin berusaha tegar dengan keadaan. Beliau tidak ingin menunjukkan kekhawatiran nya karena itu akan memperburuk keadaan saja.
πΎπΎπΎ
Happy Reading ya teman-teman π
Maaf jika masih banyak typoπ
__ADS_1
Ditunggu aja ya part selanjutnya π€
Penasaran? Like nya yang banyak dulu yaπ