
Semenjak hari itu, Citra mendapatkan pengawalan ketat dari sang Ayah, hingga menyebabkan ia tak bisa lagi bertemu dengan Hugo.
Kemana pun ia akan pergi keluar harus di antar oleh sopir yang sudah disiapkan untuk dirinya, jangan lupakan dua pengawal yang selalu membuntuti kemanapun ia pergi.
Handphone milik Citra di sita oleh Sang Ayah, dan mulai minggu besok, Citra akan melanjutkan studinya di Amerika. Tak ada bantahan apapun yang keluar.
Marah? Tentu! Tapi tak baik kan jika kita membangkang terhadap perintah orang tua?
Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya bukan?
Sehari sebelum ia pergi meninggalkan Indonesia, Citra diam-diam bertemu dengan Hugo di taman yang biasa mereka bertemu sejak pacaran dulu.
Tentu Hugo sangat senang karena kekasih hatinya mengajak ia bertemu, Ia sangat rindu karena sudah berhari-hari kekasihnya tersebut tidak bisa lagi di hubungi.
Keduanya pun saat ini tengah duduk di bangku taman tersebut,
"Hugo." Ucap Citra mengawali pembicaraan di sore hari itu.
"Iya sayang?" Jawab Hugo tersenyum menatap manik mata indah milik Citra.
"Mungkin keputusan ku mengecewakan mu." Ucap Citra begitu lirih hingga seperti bergumam namun Hugo masih bisa mendengarkan ucapan nya.
"Maksudnya!" Ucap Hugo tak mengerti arah pembicaraan Citra.
"Ini, Kita akhiri semuanya di sini Hugo." Ucap Citra menyerahkan cincin kepada Hugo.
Cincin putih bertuliskan nama Hugo dan Citra terukir indah di sana, Cincin yang Hugo beli dengan hasil bekerja paruh baya di berbagai warung maupun cafe.
__ADS_1
Tak mewah, sangat sederhana tapi perjuangan Hugo untuk membelikan nya tentu itu hal yang paling langka dan berharga.
"Kamu menyerah sayang? Kau tak percaya padaku?" Ucap Hugo lirih.
"Maaf Hugo, aku tak bisa melawan kedua orang tuaku, ini pilihan yang sangat sulit. Kalian berdua sangat berarti bagiku!" Ucap Citra dengan mata berkaca-kaca.
"Ha! Kau bilang aku berarti untukmu? Tapi kau memilih mengakhiri hubungan kita." Ucap Hugo sendu.
"Aku tak ingin menjadi anak durhaka Hugo dengan melawan perintah orang tuaku, terutama Ayahku." Ucap Citra lirih berharap Hugo mengerti keadaan nya.
"Ayah? Ayah yang menganggap remeh seseorang melalui status sosial nya Citra?" Tanya Hugo dengan nada suara tak bersahabat.
"Maafkan ayah ku jika ada perkataan nya yang menyakiti mu Hugo." Ucap Citra dengan tulis.
"Maaf kau bilang! Bukan hanya ayah mu saja yang menyakitiku! Tapi aku juga Citra." Ucap nya dengan nada dingin.
"Kau ingin mencari laki-laki kaya seperti keinginan Ayah mu di sana?" Tanya Hugo tersenyum remeh kearah Citra.
"Hugo! saat ini Ayah ku tak menjodohkan ku dengan seorang pria sama sekali di sana, aku murni hanya menuntut ilmu." Ucap Citra berusaha tak tersulut emosi menjelaskan pada Hugo dengan kalimat yang begitu lembut.
Ia sadar, keputusan nya pergi pasti akan mengecewakan Hugo, dan perkataan Ayahnya pun pasti meninggalkan luka yang menyakitkan pada hati Hugo, memandang remeh seseorang berdasarkan status sosial nya.
"Lalu? Hah, Apa kalian orang kaya selalu menganggap remeh orang miskin seperti ku?" Tanya Hugo mengintimidasi.
"Hugo! Selama ini aku tak pernah memandang status sosialmu!" Ucap Citra mulai menaikkan nada bicaranya.
"Aku tak percaya! Kau dan Ayah mu sama! Sama-sama Sombong!" Ucap Hugo menekankan kata sombong.
__ADS_1
Plak!
Tamparan keras mendarat pada pipi Hugo,
"Kau melebihi batas mu Hugo! Jangan pernah menghina Ayahku lagi." Ucap Citra dengan menatap nyalang ke arah Hugo.
"Itu faktanya! Kalian Sombong!" Ucap Hugo lagi dengan penuh penekanan kata sombong dan sedikit berteriak.
"Ternyata sifat aslimu seperti ini! Aku tak menyangka! Kau wanita kasar yang beraninya menamparku." Ucap Hugo dengan memandang remeh ke arah Citra.
"Kau keterlaluan Hugo, dan Terimakasih! Diantara kita sudah tak ada yang harus di bicarakan lagi." Ucap Citra berlaku pergi.
"Aku akan membalas penghinaan kalian hari ini Citra!" Ucap Hugo berteriak ke arah Citra yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkan nya.
Arghhh
Arghhh
Erangan frustasi keluar dari mulut Hugo, rasa sakit Hati atas apa yang Ayah Citra lakukan kepada dirinya memandang remeh, dan tak berhenti sampai disitu, kekasih yang ia cintai lebih memilih mengakhiri hubungan mereka dari pada berjuang terlebih dahulu.
Hugo menganggap Citra sama dengan Ayahnya sombong! Takut Miskin, Dan tak ingin berjuang menemani Hugo untuk mencapai kesuksesan nya.
🌈🌈🌈
Happy Reading ya guys🙃
Jangan lupa like dan komen.
__ADS_1
Untuk yang udah Vote terimakasih 💜🤗❤