
"Selamat pagi tuan." Ucap Asisten Hito menyapa Mark.
"Hito? Bukan nya kau masih di Inggris?" Ucap Mark bingung.
"Semua masalah di Inggris sudah saya bereskan tuan, sekarang saya akan membantu tuan kembali mengurusi semua masalah di sini." Ucap Asisten Hito sopan.
Pukul 3 dini hari tadi pesawat yang ditumpangi Asisten Hito sudah mendarat dengan sempurna di bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Asisten Hito bergegas pulang ke rumahnya, membersihkan diri untuk menghilangkan kepenatan nya setelah perjalanan panjang.
"Bagaimana keadaan disini?" Ucap Asisten Hito bertanya pada salah satu Bodyguard yang ia tugaskan untuk menjaga Mark selama dia pergi ke Inggris.
Bodyguard itu menceritakan semua permasalahan yang terjadi selama 2 bulan terakhir seusai kepergian nya ke Inggris, tanpa terkecuali termasuk pembunuhan Alex dan Kehamilan Maira.
"Huft... Nona Maira, nampaknya peringatan ku padamu waktu itu tak kau pedulikan." Gumam Asisten Hito dalam hatinya.
"Yasudah, kau boleh pergi saya ingin istirahat." Ucap Asisten Hito.
Jam menunjukkan pukul 4 dini hari pagi., masih ada 2 jam untuknya beristirahat. cukup bukan? daripada tidak sama sekali.
"Kau memang bisa di andalkan Hito." Ucap Mark tersenyum.
"Tentu tuan, karena berkat anda saya bisa seperti ini." Ucap Asisten Hito membungkuk sopan.
"Aku percayakan perusahaan ku sebulan ke depan aku ingin merawat istriku yang sakit." Ucap Mark memerintah Asisten Hito.
"Baik tuan saya akan laksanakan." Ucap Asisten Hito.
🍃
"Nona, anda harus berhati-hati." Ucap Asisten Hito menatap Maira.
Keduanya saat ini tengah berada di ruang tengah, sedangkan Mark dan Annisa berada di dalam kamar.
"Apa yang aku lakukan?" Ucap Maira berlagak tidak mengerti maksud dari Asisten Hito.
"Kau tahu pasti! dan aku tau keadaanmu! tapi aku tak percaya kau mengandung anak tuan Mark." Ucap Remeh.
"Aku tak membohongimu." Ucap Maira mengelak.
"Kita liat nanti Nona Maira, saya permisi! jangan banyak berfikir untuk rencana selanjutnya." Ucap Asisten Hito berlalu pergi.
🍃
Sebulan sudah Mark merawat Annisa penuh dengan kasih sayang dan kelembutan, perlahan namun pasti Annisa sudah berbicara pada Mark dan menghilangkan rasa takutnya.
Selamat itu pula, Asisten Hito berusaha bekerja sebaik mungkin di perusahaan Roman Corporate.
Sedangkan Maira? anak itu masih saya seenaknya sendiri di rumah, tak ingin bekerja kembali. Asisten Hito tak memperdulikan tingkah Maira selagi semuanya masih tetap aman.
🍃
Tok
Tok
Tok
"Ada apa?" Ucap Mark membuka pintu.
"Apa tuan punya waktu? Saya ingin berbicara serius." Ucap Asisten Hito.
"Ikuti aku di ruang kerja." Ucap Mark berjalan lebih dahulu.
"Maaf jika saya menganggu tuan, besok tuan harus menghadiri acara pertemuan dengan investor dari Jepang. dan dia tidak ingin di wakilkan sekalipun dengan saya. Saya sudah berusaha membujuk, tapi tidak mau." Ucap Asisten Hito menjelaskan saat keduanya sudah sampai didepan ruang kerja milik Mark.
"Hem sepenting apa kerjasama yang terjalin itu?" Ucap Mark menimang-nimang.
"Sangat penting tuan, banyak keuntungan yang bisa di peroleh dari perjanjian ini. salah satunya akan berdampak atas saham yang di miliki oleh Roman Corporate akan meningkat 50% nilai jual nya. Sedangkan jika kita menolak, maka saham kita akan mengalami penurunan yang sangat signifikan." Lapor Asisten Hito menjelaskan. Mark tampak diam dan merenungkan setiap kata yang keluar dari mulut Asisten Hito.
Ada keraguan di dalam hatinya meninggal kan istrinya sendiri, meskipun ada Cerry yang menemaninya.
"Pertemuan nya jam 12 siang tuan, hanya 2 jam saya pastikan semua telah usai. dan anda akan segera pulang." Ucap Asisten Hito seolah tau bahwa tuan nya mengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Baiklah, aku akan pergi menghadirinya." Ucap Mark.
"Baik tuan saya permisi dulu." Ucap Asisten Hito berlalu pergi.
🍃
Tanpa mereka sadari, ada sorot mata yang mendengar semua cerita itu, dan senyum setan tersungging dalam sudut bibirnya.
__ADS_1
Tanda bahwa rencana nya akan di laksanakan pada esok harinya!
Persiapan dengan begitu matang sudah ada di jajaran otak ambisinya. Hanya tinggal di implementasi kan saja.
🍃
Pagi hari.
"Sayang aku akan pergi sebentar, tak akan lama. Kau tunggu di rumah ya. Cerry akan menemanimu nantinya." Ucap Mark berpamitan pada Annisa.
"Iya, kau bekerjalah." Ucap Annisa senyum.
"Tapi entahlah, aku terasa berat meninggalkan mu sendiri an." Ucap Mark.
"Tak apa, Ada Cerry yang menemani ku." Ucap Annisa tersenyum menenangkan.
Hap
Mark memeluk Annisa, entahlah perasaan khawatir mendominasi dalam hatinya. tapi mau bagaimana lagi, ia harus menghadiri pertemuan dengan investor ini.
Sudah cukup Asisten Hito membantunya selama sebulan terakhir ini.
Akhirnya Mark dan Asisten Hito berangkat menuju tempat acara pertemuan itu.
Annisa dan Cerry saat ini sedang berada didalam kamar bercanda ria.
"Bunda haus?" Ucap Cerry bertanya.
"Iya, boleh minta tolong bilang sama Bibi untuk mengambilkan air minum untuk Bunda" Ucap Annisa pada Cerry.
"Oke Bunda." Ucap Cerry mencium pipi Annisa berlalu pergi meninggalkan Annisa sendirian di dalam kamar.
Beberapa menit kemudian, Maira tampak masuk kedalam kamar itu, menutup pintu.
"Maira? ada apa?" Ucap Annisa
"Tak apa, aku hanya ingin bertemu dengan mu. Aku bawakan vitamin untukmu! kau kan sedang mengandung." Ucap Maira menyodorkan vitamin dan segelas air.
"Ah tidak Maira, nanti saja." Tolak Annisa dengan halus.
"Ayolah kak, aku punya niat baik untuk mu. Agar kandungan mu lebih kuat." Ucap Maira meyakinkan Annisa.
Perlahan Maira mendekat ke arah Annisa, di tarik nya leher Annisa dengan satu tangan nya.
"Ku bilang minum! Ya kau harus minum!" Ucap Maira melotot ke arah Annisa.
Maira perlahan memaksa Annisa untuk meminum obat itu.
Dan Glek!
Pil itu langsung terminum oleh Annisa.
Tak butuh lama, Annisa merasakan nyeri hebat di pangkal paha nya, darah segar mulai keluar dari pangkal paha itu.
"Maira tolong sakit! ini sakit!" Ucap Annisa lirih.
"Hahahaha.... Bagaimana rasanya sakit kakak ipar! Hahaha.... kau harus mati! asal kau tau itu bukan vitamin tapi itu obat penggugur kandungan dengan reaksi paling sakit dan kuat!"
"Hahahaha.... Aku ingin melihatmu mati secara perlahan! Kau telah merebut Kak Mark dariku! Kau tak pantas bersamanya" Ucap Maira remeh dengan melipat kedua tangan nya di dada.
"Tolong Maira! Ini sakit." Lirih Annisa.
"Jangan sakiti anakku! aku akan menyerahkan Mark padamu! Tolong Maira! Sakit." Lirih Annisa menangis menahan kesakitan di pangkal paha nya yang terus mengalir kan darah
"Hahahaha...melihat mu seperti ini, sangat membuatku bahagia! Tawa Maira menggelegar dalam kamar itu.
"Ku beri tahu padamu, aku tak pernah mengandung anak dari Kak Mark! dan aku tak melakukan apapun saat itu! Semua hanya jebakan ku!" Ucap Maira tersenyum bangga.
"Hahahaha... bagaimana? apa kau terkesan?" Ucap Maira tersenyum campah.
"Kau jahat! kau iblis Maira! kau tak punya hati!" Ucap Annisa lirih di sela sakit yang menderanya.
Plak
Plak
Dua tamparan mendarat pada pipi mulus Annisa.
"Jahat? Coba ulangi sekali lagi." tangan Maira mencengkram dengan kasar dagu Annisa.
"Kau jahat! kau manusia tak punya hati." Ucap Annisa tegas.
__ADS_1
"Hahahaha... Ucapkan selamat tinggal Annisa." Perlahan kedua tangan Maira mencekik leher Annisa.
"Apa yang kau lakukan pada Bunda tante!" Ucap Cerry yang datang tiba-tiba.
"Cerry pergi! Pergi dari sini!" Ucap Annisa terbata.
"Tapi Bunda!" Ucap Cerry.
"Cerry pergi! pergi! telfon ayah! pergi Cerry." Teriak Annisa pada Cerry.
"Shit!!!! Akan ku bereskan anak kecil sialan itu! setelahnya baru dirimu!" Ucap Maira melepas cengkraman nya perlahan. mendekat ke arah Cerry.
"Cerry lari, Cerry pergi! " Ucap Annisa berteriak.
Hap.
Tubuh Cerry yang hendak pergi sudah di cekal oleh Maira.
"Mau pergi kemana anak manis?" Ucap Maira.
"hiks... hiks... hiks... jangan sakiti aku tante." Ucap Cerry menangis tersedu-sedu.
Dengan sekuat tenaga Annisa berdiri untuk melindungi Cerry.
"Maira lepaskan!" Ucap Annisa tajam berteriak.
"Kalian berdua menyusahkan! Sudah cukup aku bermain-main." Ucap Maira.
Didorongnya tubuh Annisa,
Argh
Rintih Annisa yang terduduk di lantai menahan sakit.
Di ambilnya gelas kaca dan di arahkan nya ke kepala Annisa.
"Bunda...." Teriak Cerry.
Pyar!
Gelas kaca itu hancur berkeping-keping, tapi tunggu! Annisa tak merasakan sakit di kepalanya.
"Cerry!" Teriak Annisa yang melihat tubuh Cerry dalam pangkuan nya yang bersimbah darah.
"Cerry bangun! bangun Bunda mohon." Ucap Annisa lirih melihat Cerry dengan kepala penuh darah.
"Bunda! sakit!" Ucap Cerry lirih.
"Bunda! gak boleh nangis." Di ucapnya pipi Annisa dengan tangan mungil Cerry yang berdarah.
"Sakit Bunda!" Lirih nya menahan sakit di kepalanya.
"Bunda baik-baik ya! Maafin Cerry yang ga bisa jagain Bunda lagi."
"Cerry sayang Bunda." Ucapan Cerry yang dapat Annisa dengar, untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya mata kecil Cerry menutup dengan sempurna.
"Cerry... hiks... hiks.. " Teriak Annisa dengan perasaan pilu.
"Kau jahat Maira! kau jahat! kau iblis Maira!" Ucap Annisa tersedu.
Sungguh berdiri saja, Annisa sudah tak mampu! rasa sakit di ujung pangkal paha nya kian menjadi-jadi.
Diusapnya perut datar Annisa. "Tunggu Bunda ya! Bunda akan menyusul Adik dan Kak Cerry ya." Ucap Annisa lirih dengan gerakan lemah mengusap perut nya.
Perlahan namun pasti! Annisa sudah kehilangan kesadaran, akibat sakit perut yang begitu menyiksanya.
"Hahahhaha.... Sungguh mengenaskan!"
"Aku bahagia akhirnya kalian berdua akan mati dikamar ini." Tawa Maira menggelegar.
🌈🌈🌈🌈
Happy Reading guys.
Jangan lupa like , komen dan Vote.
Hiks.... hiks... hiks...
Part mengandung bawang.
Kasihan Cerry. Mark sama Asisten Hito dimana? 😫😫😫😫
__ADS_1