Mr. Mafia Vs Gadis Muslimah

Mr. Mafia Vs Gadis Muslimah
Berubah (S2)


__ADS_3

Degup jantung kian memburu hebat kala ia tak tau harus berbuat apa dengan tubuh suaminya, aroma menyengat khas wine menguar mulai memasuki rongga hidung dan semua udara yang ada di dalam kamar.


"Hah, Baiklah! Kau bisa!" Kalimat yang di layangkan Kirana untuk meyakinkan dirinya bahwa ia harus segera mengganti pakaian yang suaminya kenakan! "Mari kita lakukan monolog nya dalam hati memberi semangat.


Tangan nya bergerak lembut membuka sepatu, kaos kaki milik Rama, oke, sekarang beralih ke kemeja dan jas yang Rama gunakan, dibukanya satu-satu, Kirana masih tampak malu melihat dada telanjang sang suami yang di ekspos begitu saja. walau kenyataan nya itu sah-sah saja jika memandang bahkan menyentuhnya, tapi? Ini kali pertama melihat pria dewasa dengan seperti ini dan sedekat ini. "Kau bisa!" Ucap nya memberi semangat.


Dada itu di bersihkan dengan air hangat, sedikit mengusap menggunakan kain basah dan sempurna.


Rama sudah mengenakan kaos berlengan pendek dan celana ganti!


Huh Akhirnya, Ucap Kirana merasa lega.


Kirana pun merebahkan dirinya di sofa yang ada di sana setelah menyelimuti sang suami dan perlahan ia tenggelam dalam mimpinya.


Handphone bergetar membawa kedua kelopak mata itu bangun di tengah malam, dimana semua orang masih terlelap.


Panjatan doa dalam diam Kirana memohon atas semua masalah takdir yang telah ia terima hari ini, jika memang itu yang terbaik Kirana ikhlas menjalani nya. Begitu lah garis besar doa yang Kirana panjatkan usai menunaikan ibadah sholat tahajjud nya.


"Kirana!" Ucap Rama dengan nada mengigau, perlahan Kirana mendekat ke arah suaminya.


"Rama! Kau butuh sesuatu?" Ucap Kirana dengan begitu lembut, ia mengira suaminya terbangun di tengah malam dan membutuhkan sesuatu.


"Kirana! Hah! Kau tega!" Rancau Rama sekali lagi,


"Hah... Kurasa dia hanya mengigau." Ucap Kirana sambil mengecek suhu badan suaminya, semuanya tampak normal. Alhamdulillah ucapnya lirih.


"Lihatlah! Lihat! Aku tampan bukan!" Rancau Rama dengan menunjuk wajahnya sendiri. "Ya kau memang tampan Rama kau kaya Raya! Kau sempurna kau laki-laki idaman!"


"Cih tapi kau begitu menyedihkan saat istrimu menolak mu! Kau jahat Kirana! Apa kurang nya aku untukmu! Hah! Kau jahat!" Rancau Rama dengan suara mengigau nya,


"Rama.... " Lirih Kirana memanggil suaminya, namun nihil deru nafas nya sudah kembali teratur seperti semula, tak ada kata rancau yang di keluarkan oleh Rama lagi.


Kirana pun melanjutkan tidurnya, hingga deru adzan subuh membangunkan nya kembali untuk menunaikan segera ibadah wajibnya sebagai seorang muslim.


Satu lembar halaman Quran Kirana baca usai sholat yang di lakukan nya, kakinya melangkah turun untuk membuatkan sesuatu minuman yang akan mengurangi rasa pusing Rama ketika bangun dan semangkuk bubur untuk nya.

__ADS_1


"Nona! Ini masih pagi! Apa yang nona butuhkan sepagi ini?" Ucap Bibi pelayan.


"Ah aku hanya ingin membuat semangkuk bubur untuk suami ku, dan segelas minuman hangat."


"Biarkan saya membantu Anda Nona."


"Tak usah bi, biarkan aku membuatnya sendiri. "


🎶


Seusai membuatkan Rama bubur, Kirana menyempatkan waktu untuk membersihkan dirinya dahulu, ah segarnya.


"Rama... " Panggil Kirana menepuk pipi Rama dengan lembut, kala jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi dini hari.


"Rama..."


"Rama.. " Setelah ketiga kalinya panggilan lembut itu dilayangkan pada Rama, akhirnya kedua kelopak matanya perlahan membuka melihat kiranya siapa yang berani membangunkan nya, rasa pusing langsung menghantam kepalanya, ah sangat nyeri dan berdenyut.


"Ini minumlah!" Ucap Kirana menyodorkan segelas air hangat itu dan membantu Rama untuk meminumnya.


Seolah tau, bahwa Rama sangat membutuhkan minuman itu kala bangun.


"Ya! Ini jauh lebih baik, maaf telah merepotkan mu!"


"Tak apa, aku tak merasa di repot kan, Oh ya ini aku buatkan semangkuk bubur, sebentar aku bantu untuk duduk!"


"Makanlah!" Ucap Kirana saat Rama sudah terduduk dengan sempurna, kepalanya bersandar di ranjang tempat tidur.


"Ah baiklah mari aku suapi" Ucap Kirana kala Rama terus memandang mangkuk bubur itu tanpa ingin menyentuhnya mungkin kepalanya masih berdenyut nyeri.


"Minumlah obat ini!" Ucap Kirana menyodorkan beberapa obat dan membantu Rama meminumnya. Rama tampak diam dan menuruti semua yang istrinya lakukan.


"Ada apa dengan nya? Salah minum obat atau bagaimana? kenapa dia sebaik ini padaku!" Gumam Rama merasa aneh dengan istrinya.


"Kenapa kau baik padaku hari ini!" Celetuk Rama dengan spontan.

__ADS_1


"Hah, aku hanya ingin membantumu! Aku tak ingin mama mu merasa sedih melihat keadaan mu semalam."


"Termasuk mengganti pakaian ku?"


"Ya, aku harus melakukan itu, karena pakaian yang kau kenakan semalam tampak kotor."


"Jadi kau melihat jelas bentuk tubuhku semalam! Cih lancang!"


"Tidak! Aku sudah berusaha memalingkan muka saat mengganti pakaian mu! Itu terpaksa! Kau sendiri yang menyusahkan ku!"


"Kau bilang tadi aku tak menyusahkan mu? Kau ikhlas tidak si merawat ku!"


"Hah, baiklah! Sudah kau harus beristirahat untuk memulihkan tenaga mu!" Ucap Kirana lembut mengakhiri perdebatan pagi-pagi kala itu.


Derttt


"Halo! Baik saya akan segera ke sana!" Ucap Kirana mengakhiri sambungan telfon miliknya.


"Kau mau kemana?" Lirik Rama dengan tatapan mengintimidasi nya.


"Rumah sakit! Ada pasien yang butuh bantuan ku!"


"Kau meninggalkan suami di saat sakit seperti ini?" Ucap Rama sedikit menyindir.


"Sebentar!" Ucap Kirana "Maaf!" Ucapnya lagi menyentuh bagian tubuh suaminya untuk mengecek suhu badan dan keadaaan nya.


"Kau sudah membaik, hanya membutuhkan istirahat! Sekarang istirahat lah! Kalau siang hari kau masih pusing ini sudah aku siapkan obat yang harus kau minum!" Tunjuk nya pada beberapa butir obat yang ada di atas meja.


"Dan aku pamit untuk ke rumah sakit sebentar, InsyaAllah aku akan pulang cepat!" Ucap Kirana langsung meraih tangan Rama.


"Mau apa!" Ucap Rama kaget saat tangan nya di sentuh sang istri.


"Pamit ke rumah sakit, bagaimana pun kau suamiku!" Ucapnya melanjutkan meraih tangan Rama. "Assalamu'alaikum." Ucap Kirana mengambil tas miliknya dan jas dokter berlalu pergi.


"Kenapa dia berubah baik ya?" Lirih Rama menatap kepergian sang istri. "Apa dia mencintaiku?" Ucap nya lagi bermonolog dalam hati, senyum sekilas terbit dari bibir tipis milih Rama, ah senangnya. Baiklah aku akan tidur sesuai dengan perintah sang istri.

__ADS_1


🎶


Happy Reading❤❤❤


__ADS_2