Mr. Mafia Vs Gadis Muslimah

Mr. Mafia Vs Gadis Muslimah
BAB 165 (S2)


__ADS_3

Oke karena ada beberapa orang yang pengen aku lanjutin season kedua ini, Maka akan aku lanjutin.


Dan kenapa pemilihan tokoh nya aktor Indonesia, udah cinta produk lokal aja ya. Mereka gak kalah kece kok dari aktor luar. ❤


Dari wajah Papa Mark yang kalian nilai lebih dominan Indonesia, dan Mama Annisa yang juga lebih mendominasi wajah Indonesia, Maka dari itu kita putuskan bibit unggul keluarga Mark adalah aktor dari Indonesia saja. 😅


Sekian.


Oke kita kenalan dulu, Rama dan Rafa ya❤


Ramaxelio Roman


Memiliki sifat keras kepala, mudah terpancing emosi, ambisius dan apapun yang dia ingin kan harus terlaksana, tidak ada satu hal yang bisa menghalangi apalagi membantah semua keputusan nya. Hanya Mama Annisa yang mampu mengoyahkan keputusan yang ia ambil.



Rafaxelio Roman


Bersifat sabar, lemah lembut dan periang. Berbanding terbalik dengan sang kakak, ia lebih dekat dengan sang Mama dan menjadi anak kesayangan Mama Annisa.



Visual tokoh lain menyusul ya teman-teman ku❤ Happy Reading.


🎶


Saat ini Rama dan Rafa berumur 8 tahun, keduanya tubuh menjadi kakak beradik yang periang dan ceria, Rama akan selalu melindungi sang adik, Ia adalah orang pertama yang berada pada barisan terdepan saat Rafa di ganggu oleh teman sebaya nya.


Saling mengasihi dan menyayangi.


"Rama, Rafa ayo turun sarapan. Jangan sampai terlambat ke sekolah ini adalah hari pertama kalian." Ucap Mama Annisa yang sudah berdiri di depan pintu kamar anak kembarnya.


"Iya Mama." Sahut Rafa dari dalam.


"Sayang, sudah lah. Mereka sudah besar ayo turun. Pasti mereka masih bersiap." Ucap Papa Mark merengkuh tubuh istrinya.


"Rama dan Rafa sayang, Mama dan Papa menunggu kalian di bawah ya." Ucap Mama Annisa memberitahu keduanya.


Clek!


"Kami berdua sudah siap Ma." Ucap Rama singkat.


"Baiklah ayo segera turun." Ucap Papa Mark mengandeng mesra pinggang istrinya.


Bugh

__ADS_1


Bugh


Dua pukulan mendarat di lengan Mark yang melingkar indah di pinggang sang istri.


"Augh" Lenguh Mark saat merasakan dua pukulan itu.


"What son?" Ucap Papa Mark menyeritkan dahinya.


"Menyingkir lah Papa, aku ingin di gandeng oleh Mama." Ucap Rafa yang sudah menarik lengan sang Mama.


"Hey! Papa juga memiliki Hak." Ucap Papa Mark dengan protes.


Rafa terbilang manja, bahkan cukup posesif dengan sang Mama, ia sangat mencintai Mama Annisa.


"Papa!" Panggil Annisa dengan isyarat mata menyorot untuk memperingati Mark.


"Baiklah, kau menang." Ucap Papa Mark pasrah.


"Kau masih saja kalah dengan Rafa, Papa." Ucap Rama tersenyum remeh pada sang Papa dan ikut menggandeng tangan Mamanya.


"Cih! Kau!" Ucap Papa Mark kesal seolah tak terima.


"Papa! Mengalah lah." Ucap Annisa yang mendengar nada bicara sang suami yang ingin memarahi putra sulung nya.


"Baiklah sayang." Ucap Papa Mark tertunduk lesu.


🎶


"Apa yang kalian lakukan!" Ucap Rama dengan suara keras yang datang tiba-tiba saat mendengar adiknya di ganggu oleh teman sekelasnya.


"Adikmu terlalu cenggeng bung! Huhuhu... Pulang saja pakai Rok! Kau gak pantas menjadi pria." ujar salah satu teman itu. Tawa riang meremehkan mengalun di antara dua kakak beradik itu.


Melihat keadaan sang adik yang cukup berantakan, Rama langsung memukuli orang yang sudah dengan tega melukaimu adik nya.


Dan begitulah mereka berdua tumbuh saling mengasihi dan menyayangi.


Rama lebih dominan dengan sikap sang Papa, ia sangat pandai dalam beberapa olahraga beladiri, karate, pencak silat dan masih banyak lagi.


Sedangkan Rafa sang adik lebih tertarik dengan olahraga basket dan Volly.


Genap saat umur Rama berusia 15 tahun, Papa Mark diam-diam mengajari tehnik menembak dan menggunakan beberapa bahan peledak.


Itu bukan keinginan Mark untuk melatih buah hatinya, tapi karena keusilan sang buah hati mau tak mau Mark harus menerima perjanjian sepihak yang di layangkan oleh Rama.


Tahun kian berlalu, Mark menjaga Annisa dengan sebagai mungkin membesarkan kedua putranya dengan sangat baik. bahkan bisa di bilang Mark selalu memanjakan kedua putra kembarnya itu.

__ADS_1


Hingga saat masa Putih Abu-Abu hanya tinggal 1 tahun keduanya selesaikan.


Rama dan Rafa terpaksa tak bisa menuntut ilmu di sekolah yang sama.


Rama sudah beberapa kali terlihat tawuran dan perkelahian yang dilakukan oleh kalangan Remaja, hanya sekedar untuk melatih beladiri yang di milikinya.


Kemenangan beladiri yang sering Rama dapatkan mencetak pemikiran bahwa tak ada seorang pun yang bisa ataupun menandingi ilmu beladiri yang ia miliki.


Gila memang? Tawuran bukan ajang untuk melatih sebuah kemampuan seseorang bukan? Tapi Rama menganggap itu hal yang mengasyikkan.


"Rama! Kenapa kau selalu membuat masalah? Tidak bisakah kau seperti adikmu sayang? Yang baik dan tak membuat masalah. Apa yang kau inginkan dari semua ini sayang!" Ucap Mama Annisa tertunduk sedih.


"Maafin Rama ma, jika belum bisa menjadi anak kebanggan Mama." Ucap Rama berlalu pergi meninggalkan Mama Annisa.


Kakinya melangkah menuju taman rumah tersebut dan duduk di bangku taman yang ada.


"Kau berkelahi lagi Rama?" Tanya Papa Mark yang tiba-tiba datang.


"Ya Papa." Ucap Rama dengan santainya.


"Kenapa kau selalu menyakiti hati Mama mu, kau tau betul Mama mu tak suka putra kesayangan nya berkelahi." Ucap Papa Mark.


"Aku hanya ingin melatih kemampuan bela diriku Papa, kau yang mengenalkan ku beberapa bela diri dan menggunakan senjata tajam. Kau bilang aku harus bisa menjadi seorang yang kuat dan tak terkalahkan." Ucap Rama dengan nada sombong nya.


"Kau putra sulung Papa, dan kau mengetahui semua masa lalu Papa lebih dari adikmu Rama, itu pun karena ulah nakal mu mengikuti Papa waktu itu. tapi bukan berarti kau menyalahgunakan ilmu yang kau peroleh Rama." Ucap Papa Mark menasehati putranya.


"Kita tak bisa tau sampai mana kemampuan dalam diri kita jika tak mencobanya Papa, bukan begitu?"


"Berada di area lomba itu tak bisa menjamin sampai mana ilmu beladiri kita Papa, semua masih terikat dengan aturan dan selama ini semua lawan ku saat lomba tak ada yang mampu mengalahkan ku." Ucap Rama.


Rama lebih tangguh bahkan menjadi pemuda yang sangat kuat dan ia beberapa kali memenangkan cabang beladiri yang pernah ia ikuti.


"Tapi tak begini Rama." Ucap Papa Mark.


"Sudahlah Papa, Aku ingin istirahat." Ucap Rama beranjak pergi dari tempatnya.


semua ke egoisan ku, kekejaman ku dimasa lalu tanpa sadar turun dan mewariskan semua nya pada mu Rama. Hukum alam memang benar apa adanya.


Adikmu Rafa ia lebih mendominasi semua sifat welas asih dan budi pekerti yang baik dari Mamamu.


🎶


Happy Reading ya guys.


Semoga aku bisa memberikan tulisan ku lebih baik lagi di season kedua ini ya❤

__ADS_1


Yang selalu dukung aku lewat komen like maupun Vote Terimakasih banyak💜💜💜


__ADS_2