
"Sayang! Aku tak bisa memakai dasi." Ucap Mark berteriak dari kamarnya.
"Sebentar." Ucap Annisa menaiki tangga menuju kearah kamar suaminya.
"Pilihkan dan pakaian" Ucap Mark manja pada Annisa.
"Astaga Sayang! Kau selalu begitu!" Ucap Annisa sinis pada Mark. Dan yang dilirik selalu menampilkan wajah tak berdosa nya.
Dengan telaten Annisa memilihkan dasi dan memasangkan nya.
"Sudah!" Ucap Annisa bertanya.
"Ah pilihkan jam tangan untukku! yang pas dengan pakaian ku ini" Ucap Mark.
"Baiklah tunggu sebentar." Ucap Annisa membuka kotak penyimpanan jam tangan dan memilihkan untuk suaminya.
"Sayang parfum ku yang mana?" Ucap Mark lagi.
"Astaga bee, kalau kau seperti ini kau akan terlambat. Aku juga sudah menyiapkan tadi di kasur! Kenapa tak ada lagi!" Ucap Annisa memijat pelipisnya.
"Aku tak tau sayang, aku mandi." Ucap Mark berpura-pura.
Sungguh! Mark akhir-akhir ini bagaikan anak kecil yang selalu meminta Annisa untuk menyiapkan keperluan nya.
Dari menyiapkan mandi, pakaian, menggunakan dasi, memilihkan dan menggunakan jam, begitu pun juga dengan parfum, tak lupa meminta Annisa menata rambut Mark.
Ingin rasanya Annisa menarik rambut hitam itu karena terlalu jengkel pada Mark.
Memang tugas istri melayani suami! Namun kadar tingkat manja Mark sudah di katakan akut dan sangat kronis.
Setiap harinya Annisa juga sudah menata baju itu di kasur dengan jas, jam tangan dan semuanya! Namun sayang! pasti hanya ada baju saja yang tersisa! Sedangkan aksesoris lain tak ada.
Setelah adegan manja Mark selama 1 jam sebelum berangkat ke kantor untuk pertama kalinya, Annisa bisa bernafas dengan lega mengistirahatkan dirinya.
Annisa juga tak di perbolehkan keluar rumah Mark ia hanya boleh didalam saja bahkan kalau bisa jangan sampai keluar dari kamar.
Ini hari pertama, Mark berangkat kerja! Tentu bersama dengan Asisten Hito.
Sebelum berangkat pun masih ada adegan ceramah dadakan dari Mark yang melarang Annisa ini itu.
Menjengkelkan bukan?
🍃
Tap
Tap
Tap
__ADS_1
Derap langkah kaki menggema di ruangan tersebut.
Gelap
Penggap
Tak ada cahaya sama sekali.
"Bagaimana kabarmu Maira?" Ucap Mark yang baru saja datang di ruangan penyiksaan itu.
Tak ad jawaban apapun dari Maira, hanya tatapan nyalang yang ia tujukan pada Mark.
"Kenapa kau menatapku? kau menyadari kesalahan mu?" Ucap Mark bertanya.
"Tidak! Aku bahagia, karena anak mu mati di tangan ku! Apakah Annisa juga menyusulnya." Ucap Maira nyalang ke arah Mark.
"Kau..... " Ucap Mark hendak menampar Maira namun ayunan tangan tersebut terhenti di udara.
"Tampar kak tampar!" Ucap Maira menatap serius Mark dengan raut wajah galaknya.
"Hahahahaha... Kau tak berani kan menamparku." jawab Maira tersenyum sinis.
"Mau mu apa Maira!" Ucap Mark menatap serius Maira.
"Annisa mati dan kau menjadi milikku." Ucap Maira.
"Menganggap ku sebagai wanita mu bukan adikmu." Ucap Maira lagi.
"Kenapa! Kita tak ada hubungan darah apapun! jadi aku ingin kau menjadi milikku!" Ucap Maira dengan kekeh mempertahan keinginannya.
"Kau gila Maira! Kau gila!" Ucap Mark memijat pelipisnya.
"Ya! Aku gila karena mu kak! aku mencintaimu! tapi matamu buta akan cinta itu!" Ucap Maira tegas.
"Aku tak mencintaimu Maira! aku menganggap mu adikku!" Ucap Mark memberikan pengertian.
"Persetan dengan pendapatmu! Aku ingin kau menjadi milikku!" Ucap Maira!
"Ku pastikan jika nyawaku masih ada! Annisa akan mati!" Ucap Maira dengan nada seriusnya.
"Aku tak akan membiarkan mu menyentuh istriku Maira." Ucap Mark.
"Aku akan membuatmu sendiri mengusirnya lagi dan aku akan segera membunuh istrimu!" Ucap Maira.
"Apa maksudmu dengan kata lagi!" Ucap Mark menatap Maira serius seakan bertanya-tanya.
"Hahahaha.... Kau terlalu bodoh dan mempercayai ku kak!"
"Aku yang bekerja sama dengan Alex saat penjebakan Annisa saat di hotel itu! Aku yang mengatur semuanya dan aku yang membuatmu pusing di kantor hingga memutuskan untuk pulang! Dan aku yang mencampur kan obat perangsang pada minuman mu saat di kamar. Hahahaha...." Ucap Maira panjang lebar menjelaskan semua rencana nya tanpa ada rasa penyesalan.
__ADS_1
Plak
Satu tamparan keras didaratkan pada pipi mulus Maira sehingga darah segar keluar dari sudut bibirnya.
"Kau berani menampar ku kak!" Ucap Maira tak percaya!
"Ya aku berani menamparmu!"
"Kau sudah gila! Kau memanfaatkan semua kebaikan dan kepercayaan ku padamu! kau gila." Ucap Mark di selimuti dengan emosi.
"Hahahaha... Kau kira Annisa akan menerima pembunuh seperti mu!" Ucap Maira remeh.
"Annisa menerimaku!" Ucap Mark cepat dengan penuh percaya diri.
"Hahaha... Dirimu tak pantas bersama Annisa, dia wanita suci bahkan semasa hidupnya dia selalu taat pada Agama nya, dan kau adalah seorang pembunuh sejati! tangan mu di penuhi darah, dosa dan dendam." Ucap Maira.
"Kau tak pantas bersamanya." Ucap Maira remeh tersenyum campah.
Plak!
"Apa mau mu Maira! Jangan memancing emosiku! aku akan membunuhmu!" Ucap Mark dengan nada mengintimidasi.
"Bunuh aku! lakukan seperti yang kau lakukan pada Alex! Lakukan!" Ucap Maira nyalang.
"Kau lupa kak! Dulu siapa yang menolong mu dari maut! Kau lari terseok-seok seperti orang tak berguna! meminta bantuan!" Ucap Maira mengingatkan masa lalu Mark.
"Kau lari saat Daddy dan Mommy mu dibunuh! Laki-laki macam apa kau itu!" Ucap Maira mengingatkan masa lalu nya.
"Jangan membawa Daddy dan Mommy ku Maira!" Ucap Mark menatap remeh.
"Tuan, anda harus sabar! nona Maira memancing emosi anda." Lirih Asisten Hito melihat emosi tuan nya yang seakan-akan ingin meledak.
"Asisten Sialan! kau bisikkan apa pada kakak ku!" Ucap Maira yang tak Terima saat asisten Hito membisikan sesuatu pada telinga Mark.
Maira sengaja memancing emosi dari Mark, memberikan fakta bahwa Mark tak pantas bersama istrinya dan nantinya Mark akan meninggalkan Annisa dan menyakitinya lagi.
🌈🌈🌈
Happy Reading ya guys.
Jangan lupa like dan komen
untuk yang udah vote makasih❤❤❤
Sabar tenang! Jangan emosi para pembaca 😂
Up pagi ya.
Untuk yang Uncle UP nya nanti sore,
__ADS_1
Semoga kalian suka ya sama semua cerita ku❤❤❤