
"Dimana istriku!!!" Ucapnya langsung menghadang sang adik yang baru saja tiba di rumah, mencengkram kuat lengan kerah milik Rafa.
Kilat emosi akibat kehilangan sang istri membuat darahnya ingin mencabik, peringatan dari sang Papa nyatanya hanya angin lalu bagi Rama.
"Apa maksud mu aku tak mengerti?" Ucap Rafa berkilah.
Brugh "Dasar sialan? Dimana istriku! Kau sembunyikan dimana Kirana ku! Katakan!" Ucap Rama menggebu.
Tangannya mengusap kasar sudut bibir miliknya yang mengeluarkan darah akibat bogem mentah dari sang kakak.
"Sekalipun kau membunuh ku! Kau tak akan mendapat informasi yang kau inginkan kak! Kau sendiri yang menyakitinya setelah kebaikan ku melepaskan Kirana, mempercayakan nya padamu! Tapi kau... Jika kau mencintainya! Kau seharusnya tau dimana dia? Bagaimana perasaannya?" Ucap Rafa melepas kasar tangan sang kakak dan berlalu pergi ke dalam.
🎶
"Aughhh! Lelahnya!" Ucap Tasya merebahkan tubuhnya di atas sofa itu, tugas memeriksa pasien seharian sungguh membuat dirinya sangat lelah.
"Ini.. "
"Terimakasih!" Ucap Tanya tanpa rasa curiga, menengguk air dingin dalam gelas hingga tandas dan menaruhnya kembali di atas meja.
"Kau..... " Pekik Tasya kaget, "Kenapa kau masih di apartemen ku! Pulang sana!" Ucap Tasya lagi menatap galak pada chris yang belum juga beranjak pergi meninggalkan apartemen milik Tasya.
"Kau mengusir ku nona?"
"Ya! Tak baik jika wanita dan perempuan bukan muhrim ada di satu atap!"
"Apa kau tengah memberi kode berupa perintah agar aku menikahi mu!"
"Uhuk... Uhuk.... Apa!!!" Ucapnya dengan kaget, "Sok kecakepan banget si jadi orang, siapa juga yang mau nikah sama kamu! Sudah pulang!"
"Tapi aku ingin menginap disini!"
"astaga! Kau sudah sembuh kenapa menjengkelkan sekali, apartemen ku bukan tempat penampungan!"
"Akan ku beli apartemen milik mu ini 2 kali lipat bagaimana!"
"Kau gila! Terserah apa katamu! Kau boleh menikmati apartemen milikku sesuka mu, aku pulang saja!" Ucap nya beranjak pergi.
"Tinggu!" Cekal Chris mencegah Tasya pergi.
Bugh! Brak!
__ADS_1
Tangisan tangan itu dilayangkan Tasya dan membuat tubuh Chris meringis kesakitan dan tumbang di atas lantai dengan benturan yang cukup keras.
"Auhhhh!!! Sadis banget jadi cewek!"
"Ya siapa suruh pegang-pegang! Gak sopan! Emang kamu kira aku truk gandeng apa?"
"Ya bukan seperti itu! Maaf!"
"Hem, sudah jangan menghalangi ku untuk pulang ke rumah!"
"Siapa namamu!" Tanya Chris tanpa ingin menjawab pertanyaan Tasya.
"Tasya!" Ucapnya berlalu pergi dengan di iringi teriakkan "Aku Chris! seringlah main kesini!" Ucapnya dengan bahagia sesekali tangannya melambai kearah Tasya yang sudah pergi.
...****...
Kediaman Rama pagi hari sudah di gegerkan dengan datangnya Nadia dengan menenteng koper miliknya melangkah masuk, lebih tepatnya memaksa masuk tanpa rasa malu sama sekali!
Mengatakan bahwa ia adalah calon nyonya rumah tersebut yang akan menjadi istri Rama.
Papa Mark lebih memilih untuk pergi ke kantor, memeriksa perkembangan setelah itu menyewa hotel dan pulang sore hati, tentu bersama sang istri,
Untuk Rafa, dia lebih suka berdiam diri di kamar sambil bertukar kabar dengan gadis pujaan hatinya.
Niat awal ingin meminta restu, namun dirinya harus terjebak dengan masalah sang kakak yang begitu memusingkan.
"Apa mau mu!"
"Aku ingin tinggal disini! Dan kau sudah setuju akan menikah dengan ku! Ingat ini juga darah daging mu!" Ucapnya dengan bangga sambil mengusap perut datar miliknya.
"Tapi aku tak mengizinkan mu untuk tinggal disini!"
"Lalu? Aku harus tinggal dimana? Aku tak ingin berjauhan dengan mu! Anak ini yang menginginkan untuk selalu dekat dengan Papanya!" Kilahnya membuat Janin menjadi alasan kuat agar ia bisa tinggal di rumah mewah dengan segudang fasilitas.
"Terserah aku tak peduli!"
"Dan kau harus menikah dengan ku bulan depan,"
"Apa!!! Aku tak bisa!!!" Tolak Rama dengan nada kesalnya.
"Lalu kapan kau akan menikah dengan ku! Aku tak ingin perutku semakin membesar tapi kita tak memilki status yang jelas!"
__ADS_1
"Sialan! Kau menjebak ku!"
"Semua sudah terjadi! Dan kau tak bisa menghindari nya! Bibi antar kan saya ke kamar!" Ucapnya menyuruh bibi yang tak sengaja lewat dengan tak tau malunya.
Demi apapun, Rama ingin sekali membunuh wanita yang tak tau diri ini, jika saja dulu wanita ini tak membantunya, ia tak memiliki hutang budi dan janji sialan yang harus ia pegang dengan sahabat nya Chris, timah panas adalah jalan Satu-satunya jalan untuk meredakan amarahnya.
"Bibi, antar kan nona Nadia di kamar sana saja! Karena itu kamar tamu terbaik yang paling nyaman di rumah ini! Ucap Rafa tiba-tiba dengan tersenyum.
"Kau... "
"Kita kembar, tapi tak identik! Aku adik kak Rama, namaku Rafa!" Ucapnya tersenyum mengulur tangan.
Dengan genit, Nadia membalas uluran tangan itu, dan memperkenalkan dirinya.
Pikiran nya berfantasi liar, ah dia tak tau bahwa Rama juga memiliki adik dan mereka sama-sama berwajah sempurna.
"Kau ternyata lebih cantik dari yang aku bayangkan calon kakak ipar! Ah kau begitu sempurna dari wanita itu!" Ucapnya tersenyum memuji Nadia.
"Ah benarkah?" Balas Nadia begitu senang.
"Ya kau sangat cantik! Kak Rama begitu beruntung mendapatkan mu!" Ucapnya tersenyum simpul!
Hatinya begitu berbunga mendapatkan pujian dari adik Rama, itu tandanya ada seseorang yang mendukung hubungannya, dan membenci gadis bernama Kirana, begitu kira-kira spekulasi yang ada di otak Nadia.
...****...
Disisi lain, Kirana masih termenung dengan semua ujian yang diterimanya, kenapa Tuhan terasa begitu kejam, apa benar pilihan nya saat ini? Dengan meninggalkan suaminya, apa benar pernikahan nya hanya sampai disini.
Air mata itu menggenang luruh di pelupuk mata, tangan nya senantiasa mengelus perut buncit miliknya.
"Nona makanan anda sudah siap!"
"Nanti aku akan makan!" Ucapnya dengan begitu lirih seolah tak peduli, bagaimana mungkin mulutnya bisa mengunyah makanan jika hatinya tercabik-cabik.
"Nona, kau harus memperhatikan kandungan anda, Nona harus berjuang untuk calon buah hati nona, jangan bersedih nanti bayi nona juga ikut sedih!"Berbagai bujukan lembut terus di layangkan oleh pelayan yang di tugaskan menjaga Kirana.
Dengan memaksa, ia pun memakan sedikit demi sedikit mengunyahnya secara perlahan memang benar! Ia harus makan dan harus kuat.
🎶
Happy Reading.
__ADS_1