
Di kediaman keluarga Clark
Ema datang ke rumah besar keluarga Clark dengan menggunakan motor bebek. Entah ada apa yang terjadi dengan otak Ema hari ini.
Entahlah Othor juga tidak tahu. 😆
Tot...Tot..Tot...
"Yuhuu,pak penjaga hati bukain dong pintu gerbangnya buat eike." Ucap Ema, menekan klason motornya berulang kali sambil mengibas-ngibaskan tangannya karena cuaca hari itu cukup terik.
"Ihh,buruan deh eike udah kepanasan nanti eike bisa song gosong." Ucap Ema lagi.
"Iya neng Ema." Ucap,salah satu Satpam.
"Neng ? Emang yei pikir eike ini Neneng apa,huh." Ucap Ema sambil mengibaskan rambut cepaknya.
"Terus,panggil apa dong?" Tanya Satpam tersebut,sambil membukakan pintu gerbang untuk Ema.
"Call me Miss Em ! You Know !" Kesal Ema,sambil menstater motornya lagi.
"Iya." Ucap Satpam lagi.
Nggrong..Nggrong
Ema menarik gas motornya dan memasuki halaman rumah besar itu.
"Ternyata kau Em." Ucap Oma Airin,ketika keluar dari rumah.
Saat Oma di dalam rumah sambil menonton televisi,ia mendengar suara motor yang sangat berisik.
"Aloha Oma. Bagaimana penampilan Eike ?" Tanya Ema sambil duduk diatas motor sambil bergaya gemulai.
Begini kira-kira gaya Ema diatas motor.😆😆
"Astaga ! Kau sudah seperti bebek yang mau kawin,Ha ha haaa." Ucap Oma Airin tertawa geli saat melihat gaya gemulai Ema.
"Ih !! Oma Jahara Deh." Rengek Ema kesal.
"Udah cantik seperti bidadari dari khayangan masa iya di katain seperti bebek." Sungut Ema,sambil turun dari motornya.
"Ada apa kau kesini sambil membawa Motor begini ? Dan ini lagi suara motormu seperti suara Toak." Ucap Oma Airin kepada Ema.
Mereka berdua berjalan kedalam rumah dan mendudukan diri disofa ruang tengah.
"Ih,Oma ini tuh lagi trend. Dasar norak." Ucap Ema,mencebikkan bibirnya kesal.
"Ya !! Kau berani mengataiku norak ? Apa kau tidak lihat penampilanku hari ini sudah sangat nyentrik ?" Kesal Oma Airin sambil mengangkat satu kakinya keatas sofa.
"Ya Amidong,ha ha haaa Oma seperti badut. Eike yakin jika Four J,melihat Omanya seperti ini pasti akan kabur hi hi hi." Ema terkikik geli sambil menutup mulutnya dengan gaya kemayu.
"Dasar luknut ! Lebih parah lagi jika Four J melihat dirimu pasti langsung sawan." Balas Oma Airin.
"Ih !! Jahara deh. Emangnya Eike ini hantu apa." Ucap Ema,mengerucutkan bibirnya kesal.
__ADS_1
"Bukan Hantu tapi dedemit." Sahut Oma Airin asal.
"Sama saja Oma." Sahut Ema.
"Btw Aniwai basway,Four J kemenong ? Eike kangen pengen cium,hi hi hi hi." Ucap Ema,Tertawa cekikikan.
"Pada tidur siang semua." Jawab Oma Airin.
"Lalu si mulut pedas juga ?" Tanya Ema.
"Mungkin iya mungkin tidak." Jawab Oma Airin.
"Oh,Eike tahu. Pasti si mulut pedas sedang cepak-cepak Jeder sama Om Dev-Dev." Ucap Ema,sambil bertraveling ria.
"Dasar Omes !!" Oma Airin mengusap kasar wajah Ema.
"Ihh !! Oma bisa luntur nih kecantikan Eike." Sungut Ema,sedangkan Oma Airin tergelak karena melihat Ema kesal.
Tak berselang lama Raya datang memasuki rumah dengan membawa sebuah amplop coklat yang lumayan besar di tangannya.
"Loh,itu bukannya si mulut pedas ?" Ema menunjuk Raya yang berjalan menaiki anak tangga.
Oma Airin menoleh dan mengernyit heran ketika melihat Cucunya terlihat sangat lesu
"Raya !" Panggil Oma Airin.
Raya yang sedang menaiki anak tangga pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke Oma Airin.
"Ya,Oma ?" Jawab Raya,masih di tangga.
Sejak kapan Raya keluar rumah ?. Batin Oma Airin.
"Ah,ini tugas dari kampus." Jawab Raya,sekenanya.
"Sudah dulu Oma,aku lelah." Ucap Raya,berpamitan ingin segera kekamarnya.
"Si mulut pedas kenaposeh,Oma ? Tidak biasanya." Tanya Ema,sedikit heran dengan tingkah Raya yang biasanya selalu mengajak bertengakar jika bertemu dengannya.
"Huh." Oma Airin membuang nafasnya kasar,kemudian menceritakan kejadian yang terjadi tadi pagi di rumah tersebut,ketika Nyonya Fadaei membahas tentang kehamilan.
"Eike jadi kasiman Sama si mulut Pedas. Pasti sedang sedih sekali. Dan itu lagi ibu mertuanya mulutnya seperti Sambal level seratus." Sungut Ema,ikut kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Raya mendudukan diri di tepi tempat tidur sambil mengusap wajah suaminya yang masih tertidur lelap.
"I Love You." Bisik Raya tepat di telinga Devan.
Air matanya meluncur seketika ketika dan menetes di pipi Devan.
Membuat Devan terusik dari tidurnya,kemudian dengan cepat Raya menghapus air matanya lalu berpura-pura mengelus wajah suaminya untuk menghapus air matanya yang menetes disana.
"Sayang ?" Panggil Devan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ya,sayang." Raya tersenyum lembut menatap wajah suaminya.
"Hah,sudah berapa lama aku tidur ? Kenapa tidak membangunkan ku ?" Protes Devan dan segera mendudukan diri sambil memegangi selimutnya karena saat ini tubuhnya masih polos.
__ADS_1
"Kau pasti lelah karena habis bermain jungkat-jungkit tadi,jadi aku tidak tega membangunkanmu." Ucap Raya,terkekeh geli.
"Heum,kamu benar. Jadi pengen lagi." Ucap Devan kemudian memeluk pinggang Raya.
"Ih,sayang lepas !! Geli ha ha ha ha." Raya tertawa terbahak ketika Devan mengusap-usapkan jambangnya di pipi dan lehernya.
"Tidak mau,sebelum kau berkaya iya." Ucap Devan.
"Iya oke tapi lepas dulu." Ucap Raya,lalu Devan pun melepaskan pelukannya.
"Tapi sebelum itu aku mau memberimu sesuatu." Ucap Raya,beranjak dari tempat tidur kemudian mengambil Amplop coklat yang ada di atas nakas.
"Bukalah." Ucap Raya,sambil menyerahkan Amplop tersebut.
"Sayang jangan bercanda ya !" Seru Devan,ketika melihat Amplop tersebut,karena di Amplop itu tertera nama rumah sakit disana.
"Maaf tadi aku kerumah sakit tanpa memberitahumu." Lirih Raya.
"Lalu apa maksudnya ini ? Apa kau mengetes kesuburanmu ?" Kesal Devan kepada Istrinya.
"Maaf." Ucap Raya dengan wajah tertunduk.
"Setidaknya kau buka dulu Amplop ini." Raya memaksa Devan untuk menerima Amplop tersebut.
"No !! Apa kau sudah gila !" Sentak Devan.
"Yes ! I'm Crazy !" Balas Raya tak kalah kesal.
"Ayolah buka dulu Amplopnya." Mohon Raya.
"Big No Raya !" Ucap Devan dengan tegas.
"Please !"
"Huh." Devan membuang nafasnya dengan kasar.
"Apa kau takut jika diriku mandul ?" Tanya Raya.
"Shut Up !! Tutup bibir manismu itu dan jangan pernah mengatakan hal menyakitkan itu lagi ! Apapun kondisimu aku akan tetap bersamamu !" Ucap Devan dengan tegas sambil menempelkan telunjuknya di depan bibir Raya.
"Terimakasih." Ucap Raya,terisak kemudian memeluk Devan dengan erat.
"Jangan bersedih atau menangis lagi." Ucap Devan sambil mengelus rambut panjang Raya.
"Maka dari itu buka dulu Amplop itu." Ucap Raya.
"Huh,Baiklah" Ucap Devan pada akhirnya.
Dengan perlahan ia membuka Amplop tersebut dan mengambil selembar kertas yang ada di dalam sana kemudian membaca setiap kata yang tertera disana.
DEG
Jantung Devan berdetak dengan cepat dan kedua matanya membola,ketika membaca kata terakhir yang tertera di kertas tersebut.
Penasaran Apa isinya enggak ?
Kasih vote dan hadianya dulu dong 😆😆😆ðŸ¤
__ADS_1