
"What!!" Pekik Devan, ketika mendengar ucapan istrinya.
"Ish, biasa saja kagetnya." Raya mencebikan bibirnya kesal, karena teriakan Devan membuat orang-orang yang ada disana menoleh kepadanya.
"Sayang, apa tidak ada permintaanmu yang lain?" Tanya Devan dengan wajah yang lesu.
"Tidak! Aku ingin peluk kau tanpa merasakan rasa mual dan inilah caranya, kau harus memakai parfume ini." Raya memberikan parfume tersebut kepada Devan.
Devan berpikir sejenak ketika mendengar penjelasan istrinya.
"Baiklah." Ucap Devan pada akhirnya.
Dede gondrong, kenapa kau masih sebiji jagung saja sudah menyusahkan, Papi. Gerutu Devan dalam hati.
Jatuh sudah wibawaku! Masa iya, tampang bule, ganteng, macho dan gagah sepertiku memakai parfume Stroberry. Apa kata orang-orang nanti? Gerutu Devan lagi.
Setelah mendapatkan Parfume yang di inginkannya, Raya pun mengajak suaminya pulang karena hari pun sudah malam.
Saat ini mereka sudah di dalam mobil dan Devan sejak tadi mengendarai mobilnya dengan tidak tenang.
"Sayang! Fokus nyetirnya, kau ingin kita celaka." Tegur Raya pada suaminya karena beberapa kali mobilnya oleng.
"Maaf, a ku ha—"
Broootttt
Belum selesai bicara, Gas beracun sudah keluar mendahului dari bawah sana.
__ADS_1
"Omaigat!! Sayang. Kau ini tidak sopan sekali." Tegur Raya, sambil mengipaskan tangannya di depan hidungnya. Kemudian Raya membuka kaca mobil agar bau gas beracun tersebut cepat musnah.
"Maaf sayang, sepertinya perutku bermasalah karena memakan bakso mercon tadi." Jelas Devan, sambil menahan sesuatu di bawah sana.
"Benarkah? Tapi itu salahmu sendiri kenapa kau memakan bakso itu! Sudah tahu banyak cabainya." Ucap Raya, tanpa merasa bersalah menyalahkan Devan.
"Lah! Kan kau tadi yang memaksa aku memakan bakso mercon itu." Kesal Devan.
"Aku?!" Raya menujuk hidungnya sendiri. "Kau menyalahkan aku! Salahkan saja dirimu sendiri karena kau mau aku suapi." Balas Raya tak kalah kesal.
"Hah!" Devan menghembuskan nafas lelahnya.
Jadi ini yang di maksud kebanyakan orang 'Jika wanita itu selalu benar?'. Batin Devan, mendesah frustasi.
"Ya, aku salah." Ucap Devan, mengalah.
Ya! Dan memang, laki-laki itu selalu salah!. Batin Devan lagi, menggeram kesal.
Ternyata penderitaanku melebihi yang di rasakan Daddy, Huh.
Tak berselang lama mereka sampai di kediaman Keluarga Clark, Devan yang sudah ingin mengeluarkan Bom merconnya pun langsung keluar dari mobil dengan terburu-buru.
Raya yang melihatnya pun hanya menggelengkan kepalanya, sambil mematikan mesin mobil.
Sedangkan Devan yang sudah terburu-buru ingin mengeluarkan Bom Merconnya, ditahan oleh Xander yang berpas-pasan di ruang tengah.
"Dad, cepatlah! Aku sudah tidak tahan." Ucap Devan, sambil menggertakan giginya.
__ADS_1
"Ck! Santai saja sih. Masih banyak waktu untuk main jungkat-jungkit." Ucap Xander salah paham.
"Dad, aduhhhh." Devan merapatkan kedua kakinya, sambil meringis dan keringat sebesar biji kacang pun menghiasi wajah tampannya.
"Aku ingin membahas—"
"Lama!" Devan segera ingin berlari tapi kerah bajunya bagian belakang ditarik Oleh Xander.
"Tunggu dulu! Aku belum selesai bicara." Kesal Xander.
"Dad! Nanti saja karena aku benar-benar sudah tidak tahan!" Kesal Devan.
"Kau itu tidak Sop—" Xander menghentikan ucapanya ketika mencium bau tidak sedap.
"Hem, Bau apa ini?" Xander malah mengendusi tubuh Devan.
"A aku—"
"Ya Tuhan Devan!" Pekik Xander ketika melihat celana menantunya basah.
"Daddy!!" Kesal Devan, lalu segera berlari menuju kamar mandi yang terdekat.
"Dasar payah!! Ha ha ha ha." Xander malah menertawakan Devan.
"INI SEMUA KARENA DADDY!!" Devan berlari menuju kamar mandi sambil terus mengumpati ayah mertuanya.
Poor Om Devan 🤣
__ADS_1
Kasih hadiah dan Vote, udah bikin emak seneng banget dan semangat🥰