
Dok.. dok.. dok
Suara pintu markas tempur 1 di ketuk dengan sangat keras, membuat salah satu penghuninya mengumpat kesal.
Bagaimana tidak kesal? Jika Xander tengah memposisikan dirinya untuk mengasah pedang dengan istrinya.
"Dad! Buka pintunya dulu. Siapa tahu penting." Ucap Jeje, mendorong dada polos suaminya.
"Baiklah." Ucap Xander, lalu turun dari tubuh istrinya.
"Ahhh." Desaah Jeje, saat suaminya itu masih sempat mengulum Choco chipsnya.
"Dad!!" Kesal Jeje.
"Lihat saja aku akan menghabisimu setelah ini!" Ancam Xander kepada Jeje dengan sorot mata yang tajam saat menatap istrinya.
Glek
Jeje menelan ludahnya kasar saat melihat tatapan tajam itu, lalu dengan cepat Jeje menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Xander mengambil boxer dan juga celanya kemudian memakainya. Dan dengan perasaan kesal ia membuka pintu kamarnya dengan kasar.
"Apa apa!" Sentak Xander, saat ia membuka pintu kamar ternyata Devan yang berdiri di depan pintu.
Glek
Devan menelan ludahnya kasar ketika melihat aura mematikan dari ayah mertuanya.
"Dad, maaf sudah mengganggu waktu kesenangan Daddy." Ucap Devan, saat melihat penampilan ayah mertuanya yang hanya bertelanjang dada.
"Tapi, ini urgent! Karena Raya akan melahirkan." Lanjut Devan.
"Kenapa tidak bilang sejak tadi." Kesal Xander, kemudian ia keluar kamar tapi segera di tahan oleh Devan.
"Kenapa!!" Sentak Xander.
"Pakai baju dulu Dad. Dan jangan lupa bersihkan noda lipstik di bibirmu itu." Ucap Devan menahan tawa, sambil menunjuk bibir Xander.
Wusshh
Setelah mengatakan itu Devan segera melarikan diri.
__ADS_1
Wajah Xander memerah seketika lalu mengusap bibirnya dengan telapak tangannya.
"Memalukan!" Rutuk Xander. Kemudian ia memasuki kamarnya lagi.
"Kita harus bersiap. Karena Raya akan melahirkan." Ucap Xander kepada istrinya, lalu menuju ruang ganti untuk memakai pakaiannya.
"Apa?!" Sahut Jeje, kemudian ia memungut dressnya dan mengenakan kembali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini Raya sudah berada di bawa ke rumah sakit.
"Mi, sakit." Raya merengek kepada Jeje yang terus mendekapnya.
Sedangkan Devan menggigit lengan bajunya sambil meringis kesakitan saat kuku panjang Raya menggores kulitnya.
"Semua rasa sakitnya akan sirna dan akan tergantikan dengan rasa yang bahagia saat kau melihat dede gondrong." Ucap Jeje lembut, sambil mengusap peluh yang membanjiri kening Raya.
Raya meringis kembali saat rasa mulas itu datang kembali dan tentu saja tangan Devan yang menjadi Korban.
"Akhhhh." Jerit Devan.
"Kau itu berisik sekali sih!" Kesal Xander.
Xander mengusap-usap perut Raya dengan lembut sambil berkata.
"Gondrong, Ayo cepatlah lahir jika nanti kau lahir Popa akan memberikanmu saham 25%." Ucap Xander.
"Daddy!" Protes Jeje.
"Ya, Dede gondrong ayo cepatlah lahir nanti kau akan menjadi baby crazy rich." Ucap Devan absurd, langung mendapat cengkraman maut dari sang istri.
"Akkhh, sayang sakit!" Pekik Devan.
"Rasakan!!" Raya masih bisa mengumpati suaminya.
"Kalian ini para pria cuma bisa buatnya saja! Masih saja bisa bercanda di situasi seperti ini!" Kesal Oma Airin, yang baru datang bersamaan dengan Ricky.
"Minggir kalian semua! Karena Ciki akan memeriksa Raya." Ucap Oma Airin.
"Ricky, Oma." Ucap Ricky sambil mendesah kesal.
__ADS_1
"Kalian semua keluar kecuali Devan!" Ucap Ricky.
Setelah itu semua orang dari ruangan tersebut, kecuali Devan.
"Ya! Kau mau apakan istriku! Dokter cabul!" Pekik Devan, saat Ricky menyibakkan daster yang di kenakan Raya.
"Memeriksa istrimulah!" Jawab Ricky menghentikan gerakan tangannya.
"Tidak! Tidak bisa! Enak saja kau melihat harta karunku!"
"Yeh! Ini sudah prosedurnya dan aku hanya memeriksa pembukaan jalan lahir untuk bayimu!" Jawab Ricky menahan kesal.
"Tidak bisa! Panggilkan dokter wanita saja!" Kesal Devan. Ia tidak terima harta karunnya di lihat oleh pria lain.
"Devan kau itu bisa diam tidak Sih!!" Rasa sakit yang di rasakan Raya kini bertambah saat mendengarkan kedua pria itu berdebat.
"Huh! Oke aku akan memanggilkan Dokter lain!" Putus Ricky, karena jika meladeni Devan tidak akan ada habisnya.
"Nah, cakep kalau begitu!" Sahut Devan.
Tidak berselang lama Dokter wanita datang untuk memeriksa Raya.
Sedangkan Ricky hanya mengawasi.
"Pembukaan sudah lengkap Dokter Ricky, secepatnya kita bawa ke ruangan bersalin." Ucap Dokter tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ruangan bersalin Raya tengah berjuang untuk melahirkan bayinya.
"Huh.. huh.... huh....Akkhhhhh." Raya terus mengejan sesuai dengan intruksi dokter.
"Sekali lagi nyonya. Rambutnya sudah terlihat." Ucap Dokter yang menangani Raya.
"Ayo, semangat sayang. Kau bisa sayang." Ucap Devan, sambil mengecup kening Raya dan memenggenggam kedua tangan Raya.
"Hah... hahhhh..Akkhhhhhhhhhhhh." Raya mengejan dengan sekuat tenaga hingga urat-urat diwajahnya terlihat menonjol dan peluh membanjiri seluruh tubuhnya.
"Oweekkkkkkk....Owekkkkkkk." Suara tangis pecah begitu keras dan menggema di ruangan bersalin itu.
"Dede Gondrong!" Pekik Dokter.
__ADS_1
Kasih Vote dan hadiahnya !!