
Setelah melakukan pergumulan panas dan membuat arena tempur terguncang, Devan dan Raya segera membersihkan dirinya. Setelah membersihkan diri masing-masing, Devan memindahkan lagi Crystal ketengah tempat tidur.
"Selamat malam, Mami." Ucap Devan.
"Selamat malam juga, Papi." Balas Raya tersenyum, lalu keduanya itu memeluk Crystal yang ada di tengah mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Minggu pagi di kediaman keluarga Clark.
Sudah sangat biasa jika setiap harinya rumah besar itu akan terlihat sangat ramai sejak kehadiran Four J dan juga Crystal.
"Ansel!!!! Sean!!" Teriak Crystal sambil menangis, lalu berlari menghampiri Devan yang sedang menonton Televisi di ruang tengah.
"Papi!! Hikss lihat kedua pria yang menyebalkan itu sudah merusak barbie ku." Adu Crystal kepada Devan, sambil memperlihatkan boneka barbie yang sudah botak karena rambutnya di tarik oleh Ansel dan Sean.
"Huh." Devan menghembuskan nafasnya pelan. "Sudah yang ini buang saja, nanti Papi akan membelikannya yang baru." Ucap Devan, sambil mengelus rambut putrinya dengan lembut.
"Tidak mau! Aku maunya yang ini, hiikksss Papi!" Rengek Crystal sambil menghentakan kakinya dengan kesal.
"Dasar cengeng, begitu saja menangis." Cibir Ansel.
"Wlekkk ... dasar manja." Sean menjulurkan lidahnya dan terus meledek Crystal.
"Sean Ansel!! Kakak marah ya!" Ucap Devan dengan tegas.
"Ha ha haaa, Kakak? Papi ini sudah tua masa iya menjadi kakak kami" Ucap Ansel dan Sean tertawa terbahak.
"Dasar turunan Xander Clark, menyebalkan!" Kesal Devan, dan juga pusing dengan kedua adiknya yang super badel itu.
Tidak berselang lama Xander datang dan menatap kesal menantunya.
"Ya! Kenapa kau membentak kedua putraku?" Tanya Xander kepada Devan dengan nada kesal.
"Lihat! Barbie Crystal dibuat botak oleh kedua putramu, apa kau tahu harganya ini berapa? 10 juta!" Balas Devan tak kalah kesal, lalu mengambil barbie yang sudah botak itu dari genggaman putrinya dan ditunjukan kepada Ayah mertuanya.
Melihat semua itu, Xander langsung menatap tajam kedua putranya.
"Minta maaf kepada Crystal!" Ucap Xander dengan tegas, membuat Ansel dan Sean beringsut mundur dan menunduk ketakutan.
"Kami hanya bercanda, Dad." Lirih Sean, tanpa berani menatap Ayahnya yang tengah murka.
"Bercanda? Bisa tidak kalian ini sehari tidak membuat kekacauan!"
"Maaf Dad." Ucap Sean dan Ansel bersamaan.
"Sekarang minta maaf kepada Crystal dan setelah itu berdiri di pojokan sana dengan kaki satu dan kedua tangan kalian letakkan di telinga." Ansel dan Sean menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menghampiri Crystal yang berdiri tak jauh dari tempat bermain yang ada di ruang tengah.
"Kami minta maaf." Ucap Sean dan Ansel bersamaan, sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Tidak mau!" Ketus Crystal sambil bersedekap di dada dan memalingkan wajahnya.
"Crystal!" Tegur Devan, dan mau tidak mau akhirnya Crystal menjabat tangan Ansel dan Sean bergantian.
"Terimakasih, Anak MANJA." Ansel berucap sambil menekan kata 'Manja' dan sontak saja hal itu membuat Crystal histeris lagi. Dan setelah mengatakan hal tersebut, kedua pria kecil itu langsung melarikan diri.
"Astaga anak itu." Keluh Xander sambil memijit keningnya, lantaran pusing dengan tingkah dua anaknya itu.
"Titisan Xander Clark!" Gumam Devan, dan masih di dengar Xander.
"Berarti anakmu itu juga titisanku." Sahut Xander kesal, kemudian meninggalkan Devan dan mencari keberadaan dua putranya yang melarikan diri.
Devan menggaruk pelipisnya dengan jarinya sambil bergumam. "Eh, iya ya, pantas saja Crystal sangat menyebalkan." Wajah Devan terlihat bodoh sekali jika seperti itu. 😆
Disisi lain Xander mengelilingi rumah mencari keberadaan kedua putranya yang bandel itu. Ia bertanya kepada para pelayan tapi semua tidak ada yang tahu keberadaan kedua putranya.
"Apa kalian melihat Sean dan Ansel?" Tanya Xander, kepada Nathan dan Aiden yang tengah membaca buku di taman belakang.
Nathan dan Aiden kompak menggelengkan kepalanya, memang mereka tidak tahu dimana kembaran mereka bersembunyi.
"Ada apa lagi, Dad?" Tanya Jeje, sambil membawa nampan berisi makanan ringan dan jus jeruk untuk Nathan dan Aiden.
"Ansel dan Sean bersembunyi setelah merusak barbie Crystal." Jelas Xander.
"Anak itu, dasar titisan Xander Clark." Gumam Jeje, sambil melatakan nampan diatas meja tepat di hadapan kedua putranya yang tengah belajar.
"He he hee. Ayo kita mencarinya." Ucap Jeje, lalu menggandeng mesra tangan suaminya, tapi sebelum itu ia berpamitan dulu dengan kedua anaknya yang tengah belajar.
"Kau memang pandai merayu ya." Xander mencubit gemas hidung istrinya.
Xander dan Jeje mencari keberadaan Sean dan Ansel di setiap ruangan yang ada di rumah besae itu. Langkah mereka terhenti ketika mendengar suara lagu dangdut dari kamar Oma Airin, lalu Xander dan Jeje saling pandang kemudian mereka berjalan mengendap kearah kamar tersebut.
"Astaga!!! Lihat kedua putramu, Dad." Pekik Jeje, sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sedangkan Xander hanya bisa mengelus dada karena tingkah kedua putranya seperti Omanya.
Bagaiman tidak? Kedua putranya dan Oma Airin tengah berjoget tok-tik diringi lagu dangdut yang berjudul 'Oplosan'.
Tutupen botolmu, tutupen oplosanmu
Emanen nyawamu, ojo mbok terus-teruske
Mergane ora ono gunane
Oplosan
Oplosan
Oplosan
Opo ora eman duite? Gawe tuku banyu setan
__ADS_1
Opo ora mikir yen mendem iku biso ngrusak pikiran?
Ojo diteruske mendeme, mergo ora ono untunge
Yo cepet marenono mendemmu, ben dowo umurmu
"Oma jangan goyang ngecor nanti pinggang Oma patah." Ucap Ansel memperingati, sambil menggerakan kedua ibu jarinya dan menggelengkan kepalanya mengikuti irama lagu.
"Tenang saja, Oma tidak goyang ngecor tapi cuma goyang patah-patah." Jawab Oma Airin, sambil terus bergoyang di depan layar ponselnya.
"Ayo Sean di goyang."
"Asolole Oma " Jawab Sean, bergaya seperti raja dangdut.
"Tarikk Sisss!" Seru Oma Airin.
"Semongko!" Jawab Ansel dan Sean berseru.
Oplosan
Oplosan
Oplosan
"Ya ampun!" Keluh Jeje, saat memperhatikan kedua putranya yang tengah asik berjoget dari ambang pintu.
"Benar-benar titisan Airin Clark." Sungut Xander, lalu berjalan menghampiri kedua putranya.
Tapi karena ketiga orang itu masih asik berjoget dan mereka tidak menyadari kedatangan Xander.
"Enak jogetnya?" Tanya Xander di dekat Sean.
"Enak dong, ayo ikut." Ucap Sean, masih belum menyadari ayahnya yang bertanya.
"Boleh, tapi kalian harus di hukum dulu!!"
"Eh?" Sean menoleh dan tersadar jika Ayahnya lah yang berbicara.
"Daddy!!" Seru Sean, dengan mata yang membola sempurna. Seketika Ansel dan Oma Airin menoleh dan menghentikan goyangannya.
"He he hee, Xander." Oma Airin tersenyum konyol, lalu mematikan ponselnya.
"Bagus ya!! Goyang terus sampai encoknya kambuh lagi." Kesal Xander kepada ibunya.
"He he hee, Mommy hanya pemanasan saja, tidak berjoget." Kilah Oma Airin, sambil memperlihatkan senyuman gigi palsunya, sedangkan Xander hanya memutar kedua bola matanya malas.
Benar-benar titisan Oma Airin Clark 😆
Kasih bunga sekebun sama kopi satu drum 😉
__ADS_1