
Yang kangen Miss Em, kasih saweran like sama hadiahnya !!
Di Rumah Sakit X
Xander dan Oma Airin saat ini sedang berada di ruangan Raya, sedangkan Jeje tidak bisa ikut karena Four J sedang ingin di manja Maminya.
Tuan dan Nyonya Fadaei pun sudah pulang ketika Xander dan Oma datang.
Ya. Kedua besan itu bergantian untuk menjaga Raya di rumah sakit.
"Hei! Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Xander, sambil mendudukan dirinya di sofa tepatnya di sebelah Devan.
"Huh." Devan menghembuskan nafas lelahnya. "Ternyata begini ya jadi orang tua." Bukan mengeluh tapi Devan hanya bercerita kepada Ayah mertuanya.
Xander paham sekali dengan ucapan menantunya, mungkin Devan sedikit terkejut dengan perubahan yang dia alami.
Semua orang tua yang baru memiliki anak pasti merasakan hal yang sama seperti Devan.
Lelah, kurang istirahat dan harus mempunyai stok sabar yang berlimpah.
"Nikmati saja, Dev. Karena ketika putra-putri kita kelak sudah dewasa, kita akan merindukan masa-masa seperti ini." Jawab Xander sambil tersenyum menatap Devan.
"Yah, kau benar Dad." Jawab Devan, ikut tersenyum.
"Jadilah ayah dan suami yang baik untuk putri dan juga cucuku." Lirih Xander, sambil menatap Raya yang tengah menyusui Crystal.
"Tentu Dad. Aku berterimakasih karena kau telah menghadirkan bidadari yang sangat cantik dan baik seperti Raya. Aku sangat berterima kasih kepadamu." Ucap Devan kepada Ayah mertuanya.
Tidak terasa kedua mata pria arogant dan dingin itu mengembun.
"Ya, aku membesarkannya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Aku juga berusaha untuk menjadi ayah dan sekaligus ibu untuknya."
"Dev, aku mohon jangan pernah menyakiti putriku." Lirih Xander terisak.
"Hei! Daddy ini bicara apa? Aku tidak akan pernah menyakitinya, Dad. Karena aku sangat mencintai dan menyayangi putrimu." Devan memeluk ayah mertuanya.
Waktu berjalan begitu cepat menurut Xander, perasaannya baru kemarin ia menimang putrinya itu. Tapi, kini Raya sudah menjadi seorang ibu.
Xander sangat bahagia dan juga sedih.
Bahagia karena putrinya kini sudah memiliki keluarga kecil.
Dan sedih karena ia harus bisa melepas putrinya untuk membangun istana sendiri.
Xander sedih akan hal itu.
Tapi, bagaimana lagi? Jika Raya sudah menjadi milik Devan dan dia tidak boleh egois akan hal itu.
"Ya, aku tahu itu!" Jawab Xander, mengurai pelukannya.
"Jika suatu saat nanti kau menyakiti putriku, maka bersiaplah aku akan menebas lehermu itu!" Ancam Xander, kemudian menghapus sudut matanya yang berair.
__ADS_1
"Dan hal itu tidak akan pernah terjadi, karena aku tidak akan pernah menyakitu putrimu." Jawab Devan, lalu memeluk ayah mertuanya sesaat.
Sedangkan Raya dan Oma saling pandang ketika melihat Devan dan Xander berpelukan.
"Hei! Apa kalian ini kesambet." Tanya Oma Airin kepada Devan dan Xander.
"Ya! Kami kesambet suster ngesot!" Jawab Xander asal, membuat semua yang ada di ruangan itu tergelak.
"Dasar anak lucknut!" Umpat Oma Airin.
"Oh baby Crys, jika nanti sudah dewasa jangan seperti Popamu ya yang gesreknya tidak ketulungan." Ucap Oma Airin lagi kepada cicitnya.
"Cih! Tidak sadar diri jika dialah sumber kegesrekan di sini." Gerutu Xander cukup keras dan masih di dengar oleh Oma Airin.
"Mom mendengarnya Xander!!"
"Apa? Memang aku mengatakan apa?" Pura-pura hilang ingatan.
"Huh!!! Sabar-sabar. Jangan marah nanti keriputmu semakin bertambah." Oma Airin berucap sambil menghirup udara dan menghembuskannya perlahan dan ia melakukannya berulang kali.
"Ha ha ha haaa." Xander dan Devan tergelak ketika mendengar ucapan Oma Airin.
Sedangkan Raya menahan tawanya karena saat ini dirinya tengah menyusui putrinya.
"Dasar anak dan cucu menantu kurang garam dan kurang gula!" Kesal Oma Airin.
"Pantas saja yang satu sama-sama hambar, ha ha haa. Ups." Raya segera menutup mulutnya sendiri karena mulutnya selalu tidak mempunyai Rem.
"Ha ha ha ha, Kau benar cucuku yang paling cantik yang cantiknya seperti Mbak Andin." Balas Oma Airin tergelak.
Tok.. Tok...
Pintu ruangan Raya di ketuk dari luar, dan Devan pun beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu.
"Alohaa, Abang Dev-Dev yang super ganteng dan macho." Ucap Ema sambil membentangkan tangannya seperti ingin di peluk, ketika pintu terbuka.
"Astaga!!!" Devan terkejut sambil mengusap dadanya.
"Ihh!! Jahara deh kayak lihat setan saja." Ema mengetucutkan bibirnya, membuat Devan bergidik ngeri.
"Masuk Ema." Devan Mempersilahkan masuk.
Tapi, sebelum Ema masuk keruangan itu, Raya segera menutup botol gantungnya dengan kain.
"Ah, iya terimakasih ganteng." Jawab Ema dengan gaya kemayu.
Tuing
Ema mencolek dagu Devan dengan genit membuatnya merinding luar dalam.
"Alohhaa mimi peri datang my incesss." Ucap Ema heboh sambil memutar-mutar tubuhnya berulang kali, hingga membuatnya pusing sendiri.
__ADS_1
"Aduh bang Dev-Dev, tolongin eike dong kepala eike pusing tujuh keliling, Duh apa eike hamidun ya?" Ucap Ema, sambil memegang kepalanya.
Ucapan Ema membuat semua orang tertawa terpingkal.
"Heh, burung hantu! Lo datangnya telat kesininya." Ucap Raya kesal.
"Ih, sory dory stroberi mulut pedas, jadwal eike tuh padat sekali maklumlah artis papan penggilesan. Hi hi hi." Ucap Ema dengan gaya gemulainya sambil mengibasakan rambut cepaknya.
"Astaga, ha ha haa." Oma Airin tertawa terbahak ketika mendengar ucapan Ema.
"Dasar Emanuel Khan!"
"Ih, Oma jangan panggil nama jantan eike." Ema memanyunkan bibirnya kesal.
"Mau jantan atau betina sama saja burungmu burung puyuh!" Ucap Oma tak berfilter.
"Awww." Ema langsung menangkup sesuatu dibawah sana. "Oma suka gitu deh ah kalau ngomgong suka bener, hi hi hi." Ucap Ema cekikikan.
"By the way aniway busway, nih inces namanya saposeh?" Tanya Ema sambil membelai pipi Crystal.
"Crystal berliana fadaei." Jawab Raya.
"Owhh, namanya indah sekali tapi masih indahan eike dong." Ucap Ema gemulai sambil menyatukan tangannya di depan dada.
"Dasar sengklek!" Ucap Oma Airin.
"Ema tumben hari ini penampilanmu berantakan." Tanya Raya.
Pasalnya Ema adalah tipe orang yang menjaga penampilan tapi kali ini Ema terlihat kusut dengan rambut yang berantakan.
"Ih! Eike hari ini ketiban sial. Mobil eike mogok dijalan pas mau kesindang, eh pas lagi benerin mobil Kepala eike yang paripurna ini ketimpuk sama kaleng cap badak." Kesal Ema.
"Masih untung bukan ketiban badaknya." Celetuk Oma Airin, membuat semua orang disana tergelak.
"Ih! Oma Jahara deh." Ema menghentakan kakinya kesal.
Tidak berselang lama Dokter Ricky memasuki ruangan Raya untuk Visite.
"Oh ya amidong, ganteng banget sih, Dok." Ucap Ema saat melihat Dokter Ricky masuk.
"Dokter periksa eike dong." Ucap Ema gemulai, membuat Ricky bergidik ngeri.
"Memangnya Mas ini sakit apa? Karena saya ini dokter kandungan dan juga dokter spesialis anak." Ucap Ricky.
"Kok mas sih? Panggil eike Miss Em, Yei paham!" Ucap Ema sambil mencebikan bibirnya kesal.
"Ah, iya Miss." Ricky berucap sambil menggaruk tengkunya yang tidak gatal.
Aduh.. Tambah lagi orang gesreknya. Batin Ricky.
Dukung terus Karya Emak Lena lenol dengan cara kasih like, Vote, hadiah dan komentar..Awas kalo kalean enggak dukung! Eike ***** kalena atu-atu, Yes!!!
__ADS_1
Bonus Visual Ema yang kusut