
"Dad,ini sudah hampir pagi kenapa belum tidur juga," Tanya Jeje,sambil mengucek matanya.
"Heum,aku tidak bisa tidur," Jawab Xander,memiringkan tubuhnya karena sebelumnya posisinya terlentang dan menatap langit-langit kamar hotel.
Xander mengusap pipi istrinya dengan lembut lalu beralih mengusap perut yang menonjol itu.
"Kenapa ?" Tanya Jeje,karena ia melihat wajah suaminya terlihat begitu cemas.
"Raya," Jawabnya singkat.
"Apa yang daddy pikirkan ? Raya sedang melakukan ritual malam pertama nya" Ucap Jeje.
"Justru itu yang sedang aku pikirkan,apa Devan melakukannya dengan lembut?".
"Astaga Dad ! Kau ini," Jeje tidak habis pikir dengan suaminya itu.
"Aku hanya takut jika Raya kesakitan," Jelas Xander.
Jeje menepuk jidatnya lantaran kesal dengan suaminya.
"Daddy masih ingat malam pertama kita?" Xander mengangngguk sambil menatap istrinya.
"Kenapa ? Kau ingin mengulangi nya?" Tanya Xander berbinar.
"Hih !" Kesal Jeje dan mencubit perut berotot suaminya. "Masih kurang apa yang tadi sore ?" Ketus Jeje,karena suaminya itu selalu mencari kesempatan dalam kesempitan.
Bagaimana tidak ? Suaminya itu memijat kakinya tapi tangan kekarnya itu merembet masuk kedalam Dressnya dan menyentuh pintu sarung sempit.
Siapa yang tidak tergoda jika di perlakukan seperti itu.
Dan tentu saja Jeje tidak akan bisa menolak dengan kegiatan mengasah pedang yang sangat mengenakan itu. π
Salah siapa coba ? π
"Kurang banyak,lihat pedangku masih kurang kinclong dan kurang tajam," Ucap Xander sambil mengusap pedang pusakannya yang bobok ganteng di balik boxer berwarna putih itu.
Jeje menjadi sangat kesal dengan tingkah Xander.
Suaminya itu memang kurang garam !
"Huh," Jeje menghela nafasnya. "Daddy maksud aku,malam pertama Raya sama persis dengan malam pertama kita," Ucap Jeje.
"Benarkah ? Sok tahu !" Ucap Xander.
"Bukan sok tahu ! Tapi Daddy dan Devan kan satu spesies."
"Hei ! Kau mengatai suami mu ?" Xander menatap tajam istrinya.
"Bukan,maksud aku. Daddy dan Devan sama-sama bule. Jadi setahu ku pria bule itu hot dan panjang," Ucap Jeje sambil tersenyum.
"Panjang apa nya ?" Xander bertambah melotot.
__ADS_1
"Durasinya lah," Jawab Jeje,sambil mencebikan bibirnya kesal. "Memang Daddy kira panjang apa nya ?" Ledek Jeje.
"Dasar mesum !" Omel Xander sambil mencubit gemas hidung mancung Jeje.
"Daddy yang mengajarkan mesum," Jeje tidak mau kalah.
"Ya ya ya,terserah lah," Ucap Xander,kemudian memeluk Jeje dengan penuh kasih sayang.
"Jadi menurutmu Raya akan baik-baik saja ?" Xander memastikan. Karena ia mengingat malam pertamanya dulu,Jeje merasakan kesakitan di awal tapi lama kelamaan Jeje menikmati dan akhirnya kecanduan sampai sekarang.
Ah,istrinya itu sepertinya sudah tertular virus kegesrekan Oma Airin.
"Tentu saja iya Dad,Raya akan baik-baik saja palingan juga besok pagi dia tidak bisa berjalan," Ucap Jeje.
"Sayang !".
"Issh,kayak enggak pernah jadi penganti baru saja sih," Gerutu Jeje,kemudian menenggelamkan wajahnya di dada Xander,karena ia sudah mulai mengantuk lagi.
Sedangkan Xander sudah bernafas lega dan ia pun mulai memejamkan matanya dan menyelami mimpi bersama istri tercintanya.
Siang hari di Hotel Xx
"Sayang,ayo bangun," Devan menciumi seluruh wajah istrinya yang masih terlelap itu.
"Euhghh,Mami aku masih mengantuk," Keluh Raya,sepertinya Raya lupa dirinya ada di mana.
Devan terkekeh melihatnya.
Devan membiarkan istrinya tertidur,sedangkan dirinya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah membersihkan diri dan berpakaian lengkap,Devan menghidupkan ponselnya yang ia sengaja matikan sejak tadi malam. Banyak pesan masuk dari ibunya.
Sayang,Maafkan Mommy dan Daddy harus kembali ke Kanada pagi tadi,karena Daddy sangat sibuk di perusahaannya.
Devan hanya menghela nafasnya panjang saat membaca pesan dari ibunya.
Sampaikan salam dan maaf untuk menantu Mommy dan Daddy,yang cantik itu.
Oh,ya. Mommy dan Daddy sudah membelikan sebuah Mansion dan Jet Pribadi untuk hadiah pernikahanmu,semoga kau dan Raya suka.π
Dan nanti akan ada orang kepercayaan Daddy mu untuk mengantarkan sertifikat kepemilikan Mansion dan Jet pribadi mu.
Devan meremat ponselnya dengan kuat.
Aku tidak membutuhkannya semua itu !. Bahkan aku bisa membelinya sendiri dengan uang ku !. Balas Devan dalam hati.
Karena ia tidak mungkin mengatakan hal yang menyakitkan kepada kedua orang tuanya yang sudah membesarkannya,walau tanpa kasih sayang.
Kalian tidak pernah memikirkan perasaanku sedikit pun !. Devan menyugar rambutnya kebelakang.
Aku berpikir jika aku sudah menikah,kalian akan berubah tapi nyatanya NOL besar yang aku dapatkan !. Keluh Devan dalam hati.
__ADS_1
"Om" panggil Raya.
Devan yang berdiri membelakangi tempat tidur pun segera menghapus sudut matanya,lalu berbalik dan menatap Istrinya yang masih tergolek diatas ranjang panas itu.
"Sayang," Devan mendekat dan meletakan ponselnya diatas nakas.
"Om,kenapa ?" Tanya Raya saat melihat wajah Devan terlihat murung.
"Aku ?" Raya mengangguk kemudian mencium kedua pipi Devan dengan lembut.
Devan memejamkan matanya,ia merasakan kehangatan dan cinta yang tulus dari istrinya itu
"Peluk" Raya merentangkan kedua tangannya,kemudian Devan merebahkan diri disampingnya dan memeluknya dengan erat.
Devan memeluk Raya begitu erat. Walaupun ia seorang pria terlihat kuat dan tegar tapi ia juga butuh bahu untuk bersandar saat merasa lelah.
Raya mengusap-usap punggung Devan dengan lembut.
"Apapun yang kamu rasakan dan kamu alami,ceritakan semua keluh kesahmu kepadaku,Sayang," Bisik Raya,lembut.
"Aku hanya merasa sangat bahagia karena memiliki istri seperti dirimu," Balas Devan meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Ia tidak ingin istrinya tahu permasalahan dirinya dengan kedua orang tuanya,biarlah hal ini terkunci rapat.
"Aku menjadi tersanjung," Ucap Raya terkekeh.
Devan tersenyum,tujuannya sekarang adalah membahagiakan istri tercintanya.
"Apa masih sakit ?" Tanya Devan,mengalihkan pembicaraan.
"Ishh,masih dan kenapa rasa sakitnya bertambah bahkan aku tidak bisa menggerakan kaki ku. Aww," Raya memekik saat ia menggerakan kakinya. Bagian bawahnya terasa nyeri dan linu begitu pula kakinya terasa gemetar dan lemas.
"Hikss,apa aku lumpuh," Raya sudah terisak,dan Devan menatapnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Tidak sayang,bayangan mu itu terlalu jauh. Semua itu efek dari kegiatan kita semalam," Ucap Devan.
"Lalu kenapa Om terlihat bugar ?" kesal Raya.
"Karena aku kuat," Ucap Devan,sambil memperlihatkan kedua otot lengannya yang kekar dan bergaya seperti popeye.
"Hikss,aku tidak jadi pamer ke mami. Hikss," Raya terisak.
"Astaga sayang ! Kau masih saja memikirkan hal itu," Devan terkekeh pelan.
"Iya lah ! Masa iya aku kalah sama Mami kecil ku itu."
"Terserahlah,ayo aku akan memandikanmu" Devan menyibakakan selimut kemudian mendudukan Raya terlebih dahulu sebelum menggendongnya.
"Sayang,itu darah ! Aku berdarah ! Gawat !" Raya histeris.
Hayoo darah apa tuh ? π€π€
Tambahin dong vote sama hadiahnya,please π₯Ίπ₯Ί
__ADS_1