My Sexy Old Man

My Sexy Old Man
Pingsan?!


__ADS_3

"Aku tidak peduli!! Sini kau!"


"Oh tidakk!! Ampun Oma." Devan berusaha kabur, akan tetapi Kerah bajunya sudah di tarik lebih dahulu oleh Oma Airin.


"Berani kabur kau! Habis golokmu itu akan ku sunat lagi biar habis dan tidak bisa bermain jungkat-jungkit." Kesal Oma Airin, sambil terus memegang kerah Devan dan menggiringnya menuju halaman belakang, tepatnya di kebun bunga Jeje.


"Jangan Oma, nanti jika golokku di pangkas habis kasihan istriku tidak bisa merasakan ajep-ajep lagi." Masih sempat Devan menjawab ucapan Oma Airin dengan kata-kata yang super absurd.


"Ya bagus karena Raya bisa mencari yang lainnya dan tidak jelalatan seperti dirimu." Balas Oma, tak kalah absurd.


Jlep


"Akkhh... Oma sakit sekali jantungku, saat kau mengatakan itu." Devan berakting seperti menikam jantungnya sendiri dan berlagak kesakitan.


"Cih lebay." Cibir Oma Airin.


"Hei! Kau!" Oma Airin, memanggil tukang kebun yang sedang mencabuti rumput di area hamparan tanaman bunga lily dengan berbagai macam warna yang tumbuh disana.


"Iya Oma." Tukang kebun tersebut datang terpongoh dan menundukan sedikit badannya, memberi hormat.


"Apa saja tugasmu hari ini?" Tanya Oma Airin.


"Tugas saya, hari ini adalah mencabuti rumput saja, Oma." Jawab tukang kebun itu dengan sangat sopan dan menundukan kepalanya.


"Bagus." Oma Airin menganggukkan kepalanya berulang kali. "Mana dompetmu." Oma Airin menengadahkan tangannya kepada Devan membuat Devan mengernyit heran.


"Untuk apa?" Tanya Devan keheranan.


"Cepat berikan! Banyak omong!" Kesal Oma Airin.


"Iya" Devan merogoh kantong celananya di bagian belakang, dimana dompetnya bersembunyi disana, kemudian Devan memberikan Dompetnya kepada Oma Airin.


"Aku tidak mau membuka Dompetmu, dan keluarkan uang tunainya." Ucap Oma Airin.


"Hah, untuk apa lagi?" Tanya Devan keheranan lagi. Walau begitu ia mengeluarkan uang tunai yang ada di dalam dompetnya.


"Tidak banyak sih, hanya ada tiga juta." Ucap Devan, sambil memeperlihatkan uang ratusan ribu rupiah yang lumayan banyak ditangannya.


"Berikan semua uang itu kepada Pak Sarjo." Ucap Oma Airin sambil menunjuk tukang kebun yang berdiri di depannya.


"Maksudnya bagaimana sih? Oma mau apa?" Tanya Devan penuh kebingungan, dan ia tetap menyerahkan uang itu ke Pak Sarjo.


"Terima Pak Sarjo karena itu rejekimu, mulai hari ini kau libur sampai minggu depan." Ucap Oma Airin kepada tukang kebun itu, membuat Devan semakin bingung sedangkan tangan Pak Sarjo yang memegang uang tersebut bergetar dan matanya berkaca-kaca.


"Ta tapi Oma—"

__ADS_1


"Mulai hari ini pekerjaanmu akan di ambil alih Devan." Potong Oma Airin, membuat mulut Devan menganga dan tidak percaya dengan ucapan Oma Airin.


"Oma—"


"Dilarang protes! Ini adalah hukumanmu!" Potong Oma Airin lagi, membuat Devan mendesah kecewa.


"Benar Oma? Saya libur?" Tukang kebun itu memastikan.


"Iya." Jawab Oma Airin mengangguk pasti.


"Lalu uang ini?"


"Anggap saja itu bonus dari Devan, sekarang pulanglah biar Devan yang melanjutkan pekerjaanmu."


"Wah, terimakasih Oma, Tuan Devan. Semoga kalian panjang umur dan sehat selalu." Tukang kebun itu tentu saja sangat senang mendengar kata libur satu minggu di tambah dapat bonus tiga juta lagi.


"Ya! Pak Sarjo!" Teriak Devan, saat pria paruh baya itu menjauh dari sana.


"Pelankan suaramu! Bagaimana pun juga dia lebih tua darimu!" Sentak Oma Airin dan juga mengingatkan cucu menantunya.


"Iya, maaf." Ucap Devan pelan.


"Sekarang lanjutkan pekerjaan Pak Sarjo." Titah Oma Airin.


"Oma yang benar saja." Keluh Devan kesal. Tapi walau begitu Devan mengerjakan hukumannya.


"Nasib.. nasib." Gerutu Devan.


"Kalau lihat pepaya gantung import dan membuat gempa lokal diatas tempat tidur, kau tidak mengeluh." Sindir Oma Airin, membuat Devan melotot sempurna.


Bagaimana Oma bisa tahu tentang Gempa bumi lokal? Ah, Crystal pasti yang sudah bercerita kepada Oma, Dasar Crystal! Kau membuat Papi tambah sengsara. Batin Devan menangis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berganti minggu, Devan sudah mengerjakan hukumannya dengan baik yaitu menjadi tukang kebun selama satu minggu, Devan mengerjakan hukumannya sebelum berangkat kekantor.


Dan minggu itu berganti menjadi bulan, dan tidak terasa sudah dua bulan semenjak ia liburan dari Bali bersama Raya dan selama dua bulan itu juga Raya masih mendiamkan Devan, bukan hanya itu saja, Devan juga tidak mendapatkan jatah untuk mengasah goloknya.


"Huek... Huekk.." Devan memuntahkan isi perutnya di wastafel sambil memijat tengkuknya sendiri. Sejak tadi pagi dirinya terus merasa mual dan memuntahkan isi perutnya.


"Ah, aku ini kenapa? Sudah satu minggu ini selalu merasa mual." Gumam Devan, setelah membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari wastafel kantornya.


"Dev, meetingnya akan segera dimulai." Xander memasuki ruangan Devan, tapi tidak mendapati Devan di dalam ruangannya.


"Kemana dia?" Gumam Xander, tapi tak berselang lama Devan keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah terlihat lebih segar.

__ADS_1


"Hei, kau sakit?" Tanya Xander saat melihat wajah menantunya terlihat pucat.


"Tidak, Bos. Aku baik." Sangkal Devan, padahal ia merasakan perutnya seperti di aduk dan kepalanya pusing bukan main.


"Jika tidak sehat jangan di paksakan." Ucap Xander.


"Tidak aku—" Devan tidak melanjutkan perkataannya, karena perutnya bergejolak lagi. Secepat kilat Devan menutup mulutnya dan berlari menuju kamar mandi.


"Dev!" Xander mengikuti Devan dan ia berhenti di ambang pintu saat melihat Devan memuntahkan isi perutnya.


"Iyuhhh! Kau muntah, kau sedang tidak sehat, Dev." Seru Xander dari ambang pintu.


"Aku baik-baik saja, hanya masuk angin biasa." Jelas Devan, dan dirinya merasa lebih baik setelah memuntahkan isi perutnya lagi, akam tetapi sakit kepalanya semakin bertambah.


"Istirahatlah, aku akan memanggilkan Ricky." Ucap Xander, tapi langsung di tolak oleh Devan.


"Aku tidak apa-apa." Sangkal Devan lagi.


"Terserahlah!" Kesal Xander, lalu keluar dari ruangan Devan. Baru saja akan memutar handle pintu terdengar suara benda jatuh dari kamar mandi yang begitu keras.


"Devan!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Raya bergegas kerumah sakit saat mendapat kabar dari ayahnya jika Devan pingsan di kantor. Rasa penyesalan menyeruak di dalam hatinya, ia tidak seharusnya mengabaikan suaminya selama itu.


"Dad." Raya berjalan tergesa dan menghampiri Ayahnya yang menunggu didepan ruangan IGD.


"Hanya pingsan." Xander meyakinkan putrinya lalu memeluk putrinya agar tidak menangis.


"Aku takut jika terjadi apa-apa padanya, Dad, hiks hiks." Raya menangis di dalam pelukan Xander.


"Masalahnya dia adalah pria kuat dan hampir tidak pernah sakit." Lanjut Raya, masih terisak, sedangkan Xander mengusap punggung putrinya dengan lembut seolah menyalurkan ketenangan disana.


Tak berselang lama Ricky dan Dokter yang menangani Devan keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan suamiku?"


Hayo Om dev-dev kenaposeh?


Kasih like!


Komentar!


Vote!

__ADS_1


Bunga sekebun dan kopi sedrum!!


__ADS_2