
Drettt... Drettt... Drettt
Ponsel Devan yang tergeletak diatas nakas beerdering.
Devan tersenyum Devil, saat melihat siapa yang menghubunginya.
"Bagaimana?" Tanya Devan, terdengar sangat datar dan dingin, saat mengangkat ponselnya, entah dengan siapa dia berbicara akan tetapi raut wajah Devan terlihat senang juga emosi.
Entah tidak bisa di tebak sama sekali!
" ...... " Jawab seseorang di seberang sana.
"Oke! Aku akan kesana."
Tut
Devan memutus panggilannya sepihak.
Kemudian ia meraih sweater, kunci mobil berserta dompetnya.
Tapi, sebelum pergi ia mencium kening dan bibir istrinya yang sudah terlelap karena kelelahan melayaninya.
Bagaimana tidak lelah? Jika Devan meminta nambah saat mereka mandi bersama siang menjelang sore hari itu.
"Love You." Ucap Devan, setelah mencium istrinya. kemudian ia beranjak dari markas tempur 2.
"Devan kau mau kemana?" Tanya Jeje, saat berpasan dengan menantunya di dekat tangga.
"Ada urusan sebentar, Mam." Jawab Devan.
Jeje menyipitkan matanya dan menatap menantunya itu dengan penuh selidik.
"Come On, Mam. Jangan menatapku seperti itu." Ucap Devan, sambil memperlihatkan senyum konyolnya.
"Cih! Awas saja jika kau macam-macam dan menyakiti putriku lagi!" Ancam Jeje. Sambil menunjuk kedua matanya dengan jari telunjuknya dan jari tengahnya kemudian kedua jari itu di tunjukan kearah Devan seolah berkata dengan bahasa isyarat 'Aku mengawasimu!'.
"Oke.. Oke.." Devan mengangkat kedua tangannya di depan dada.
"Aku nitip Raya, Mam." Lanjut Devan.
"Hem." Jawab Jeje terdengar sewot.
Sebenarnya Jeje masih sedikit kesal dengan Devan, tapi ia tidak berbuat banyak, karena ia merasa itu bukan porsinya untuk ikut campur kedalam urusan Anak dan menantunya, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.
Toh! Mereka juga sudah dewasa jadi tahu mana yang baik dan mana yang benar, bukan?
Setelah berbincang dengan ibu mertuanya sebentar, Devan menuju garasi mobil dan menaiki mobil sport kesayangannya yang dulu pernah di ceburkan ke Danau oleh istri bar-barnya itu.
Hingga ia harus mengeluarkan biaya ratusan juta untuk memperbaiki mobilnya.
Devan saja jika mengingat kejadian tersebut, menggelengkan kepalanya. Tapi, ia juga bersyukur karena kejadian tersebut dirinya bisa bersatu dan mempersunting Raya menjadi istrinya.
__ADS_1
Devan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, tak berselang lama dirinya sampai di depan bangunan seperti gudang jika dilihat dari luar, yang terletak di pinggiran kota.
Tempat Eksekusi? Ya, dirinya sampai ketempat menyeramkan itu, dimana ada beberapa buayanya yang ia pelihara disana. Dan di gudang tersebut juga di jaga ketat oleh beberapa penjaga disana.
Lalu siapa yang akan di eksekusi kali ini? Kalian pasti sudah tahu jawabannya, bukan?
"Dimana dia?" Tanya Devan kepada seorang penjaga yang bertubuh tegap, kekar dan berkulit hitam.
"Di dalam bos, dari tadi wanita itu sangat berisik!" Adu Penjaga tersebut.
Kemudian penjaga tersebut mengantarkan Devan kesalah satu ruangan yang ada di dalam gudang tersebut.
Terdengar suar teriakan seorang wanita dari dalam ruangan tersebut.
'Brengsek! Bajingan!! Lepaskan aku'
'Akan ku pastikan kalian akan menyesal karena telah menculikku'.
"Telingaku terasa pengang, kenapa kalian tidak menyumpal mulutnya dengan lakban!" Ucap Devan dengan kesal, sambil mengusap salah satu telinganya.
"Buka pintunya!" Titah Devan dengan tegas kepada salah satu penjaga yang memegang kunci.
"Baik Bos." Ucap Penjaga tersebut, lalu membuka ruangan tersebut dengan lebar.
"Devan!" Pekik wanita tersebut saat melihat kemunculan Devan disana. Ia berpikir jika Devan akan menyelamatkannya.
"Devan, Tolong aku. Mereka jahat sekali, hiks." Wanita tersebut menangis terisak dengan keadaan terduduk di kursi dengan tangan dan kakinya terikat.
"Apa kabar Flora?" Tanya Devan begitu dingin dan datar, sambil menatap wanita tersebut dengan tatapan yang mematikan.
"Van?" Flora membulatakan kedua matanya, ia sangat terkejut saat Devan menatapnya seperti itu.
"Van, jangan bilang jika—"
"Ya! Aku yang mengutus mereka untuk membawamu kesini." Potong Devan dengan cepat.
"Ta tapi, kenapa?" Ucapnya tergagap.
Karena baru kali ini melihat sisi lain Devan yang sangat mengerikan.
"Apa kau lupa dengan kejadian di Mall waktu itu?" Tanya Devan lagi.
"Aku tidak ingin berbasa-basi, Flo! Kau ingin menjebakku 'kan waktu itu!"
Wajah Flora memucat, bagaimana bisa Devan bisa tahu rencana jahatnya.
"Tidak" Flora menggeleng dengan cepat.
"Cih! Kau tidak bisa mengelak lagi. Karena aku mempunyai buktinya." Ucap Devan pelan tapi penuh penekanan.
Kemudian Devan mengambil ponselnya dan memutar rekaman suara yang ia dapatkan dari anak buahnya yang bertugas untuk mencari informasi tentang Flora.
__ADS_1
Ya, gadis itu meminta saya untuk menjebak Tuan Devan dengan memasukan obat tidur kedalam pesanannya nanti.
Saya berani bersumpah, Jika saya tidak berbohong. Saya mau melakukan hal menjijikan itu karena saya sedang membutuhkan uang untuk biaya berobat anak saya yang sedang sakit.
Suara seorang pelayan wanita yang bekerja di restoran Jepang tersebut.
"Itu bohong!! Itu Fitnah dan itu semua rekayasa!" Teriak Flora histeris dan menangis meraung.
"Aku tidak perduli, Flo! Aku baru tahu jika dirimu sangatlah picik!" Maki Devan.
"Devan, please percaya kepadaku!" Ucap Flora sesegukan.
"Bawa pelayan wanita itu kesini." Ucap Devan, kepada salah satu penjaga disana.
Dan tak berselang lama Pelayan wanita tersebut masuk kedalam ruangan tersebut.
Wajah Flora semakin pucat pasi saat melihat pelayan wanita yang berdiri di hadapanya.
Dan ekspresi wajah Flora sudah menjadi jawab untuk Devan.
"Kau boleh pergi!" Titah Devan, kepada pelayan wanita itu.
"Terimakasih, Tuan." Wanita tersebut berulang kali mengucapkan terimakasih sambil membukukan badannya juga sampai menitikan air matanya, setelah barulah itu ia pergi meninggalkan tempat menyeramkan itu.
"Urus wanita ini dan buang ke pedalaman Negara xxx." Ucap Devan dengan tegas kepada para Penjaga yang ada disana.
"Baik, Bos!" Jawab beberapa penjaga sangat patuh.
"Devan!! Kau tidak bisa seperti ini terhadapku! Aku lakukan ini semua karena aku mencintaimu! Yaa!!!!!" Teriak Flora histeris, berharap jika Devan memberikan kesempatan kedua.
"Beri aku kesempatan!! Jadikan aku yang kedua ketiga atau yang kelima aku tidak peduli!!!" Teriak Flora lagi.
"Kau gila!!" Bentak Devan sangat murka.
"Dengarkan perkataanku baik-baik dan tanamkan di otak dangkalmu itu!!! Aku sangat mencintai istriku!!!" Ucap Devan penuh dengan penekanan dan sorot mata yang sangat tajam.
Ucapan Devan membuat Flora semakin terisak dalam tangisnya.
"Ingat itu!!!" Setelah mengatakan hal tersebut Devan keluar dari gudang tersebut lalu memasuki mobilnya.
"Brengsek!!! Bajingan!!" Umpat Devan, sambil memukuli stir mobilnya berulang kali.
"Bagaimana bisa aku pernah mencintai wanita segila itu!" Kesal Devan, lalu ia mengambil rokoknya yang selalu ada di laci dasboard mobilnya.
"Sial!! Bisa-bisa aku kehilangan jatahku jika aku ketahuan merokok lagi!" Umpat Devan, lalu membuang rokok tersebut keluar dari jendela.
Devan menyenderkan kepalanya di senderan kursi pengemudi sambil memejamkan matanya.
Tarik nafas hembuskan dan lakukan berulang kali.🤭
Tambahin Vote dan hadiahnya.
__ADS_1
Mau tanya dong sama readers tersayangku? Sampai disini apakah sudah pada bosan dengan karya othor yang sederhana dan membagongkan ini?🤭