My Sexy Old Man

My Sexy Old Man
Hati dan otak yang suci


__ADS_3

"Aku pasrah." Lirih Raya, ketika merasakan jari-jari Devan menggrayangi tubuhnya dan menyisakan geleyar yang membuat sarung sempitnya manjadi kembang kempis ingin segera di todong golok super jumbo milik suaminya.


"Ahhhhh, Shhhhh." Raya terus mengeluarkan suara laknatnya ketika Devan menghisap biji ketapang bergantian.


"Sayang, cepatlah." Rintih Raya.


Mendengar istrinya sudah tidak tahan, Devan menuntun golok saktinya menuju sarung sempit yang sudah sangat merekah di bawah sana.


Bless


"Eemmmphhh." Desaah keduanya tertahan, karena bibir mereka saling mematuk dan lidah mereka saling tarik ulur.


Dan detik selanjutnya hanya terdengar suara desaahan lenguhan di setiap sudut kamar tersebut.


"Ahh sayang. Ouhhhh sangat nikmat." Racau Devan, di sela aktifitasnya bergoyang cendol diatas tubuh istrinya.


Sedangkan Raya merem melek keenakan, ketika merasakan todongan golok jumbo di bawah sana.


Keduanya semakin panas, mereka bercinta dengan berbagai gaya yaitu gaya cicak naik kepunggung, kucing nyaplok tikus, katak melompat pagar, monyet minta di gendong. Hingga keduanya merasa lelah sendiri dan akhirnya mereka mencapai pelepasan bersama dan membuat keduanya terkulai lemas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jika di markas tempur 2 sedang terjadi asah mengasah golok, berbeda dengan di markas tempur satu yang tengah terjadi kehebohan karena Four J menagis bersamaan dan tidak ingin di gendong oleh Bany sitternya masing-masing.

__ADS_1


"Nathan, ayolah jangan menangis lagi. Biasanya kau yang paling anteng." Ucap Xander, menenangkan putra pertamanya.


"Dad, tolong ambilkan susu untuk Sean di dekat meja sana." Ucap Jeje, yang tengah menangkan Sean putra ketiganya.


"Apa kau tidak melihat aku yang tengah menenangkan Nathan?!" Kesal Xander.


"Apa aku juga tidak melihat jika Sean sejak tadi tak berhenti menangis!" Balas Jeje tak kalah kesal.


"Hei! Kalian ini malah bertengkar!" Tegur Oma Airin, yang tengah memangku Aiden.


"Owekkk...Owekkkk." Si bungsu Ansel, menangis mungkin karena tidak ada yang menggendongnya.


"Oh God! Kepala ku rasanya ingin pecah!" Seru Xander ketika mendengar semua anaknya menangis.


"Bawa kesini,Dad. Aku akan memangku Ansel." Pinta Jeje.


"Kau yakin?" Dan di angguki Jeje.


Perlahan Xander meletakkan Nathan diatas tempat tidur, barulah ia ngambil Ansel dan menyerahkannya kepada Jeje.


"Ansel kau harus berbagi botol gantungmu dengan kakakmu Sean." Ucap Oma Airin tak berfilter, ketika melihat Ansel mendenang-nendang kaki Sean, karena saat ini Jeje menyusui Sean dan Ansel bersamaan di sisi kanan dan kiri.


"Mereka sedang manja dengan kalian." Ucap Oma Airin.

__ADS_1


"Iya, Huh. Kepalaku pusing sekali." Xander menghembuskan nafas beratnya, sambil menimang Nathan yang mulai tenang.


"Tapi, bikinnya tidak pusingkan?" Sindiran keras dari Oma Airin untuk putranya.


"Tentu saja tidak! Karena nikmat sekali saat mengadon mereka." Jawab Xander, sambil bertraveling ria.


"Daddy!!!" Seru Jeje, dan menatap Suaminya itu dengan kesal dan juga malu dengan ibu mertuanya.


Plak


"Dasar otak mesum!" Oma Airin memukul kepala putranya dengan keras.


"Mom!! Sakit." Xander mengusap kepalanya yang terasa benjol sepertinya, karena Oma Airin memukulnya dengan remot Tv.


"Rasakan! Biar kemesuman mu itu rontok!" Ketus Oma Airin dan tersenyum puas.


Sedangkan Jeje hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat perdebatan ibu dan anak itu.


"Cih! Tidak sadar diri jika Mom lah yang paling mesum disini." Giliran Xander yang mencibir Ibunya.


"Ya Tuhan! Kau mengatai hati dan otak ibumu yang polos nan suci ini, yang lembut dan seputih kapas?" Tanya Oma Airin dengan wajah dibuat sesedih mungkin.


"Tentu saja iya!"

__ADS_1


Oma sadar oma sadar😆


Kasih hadiah dan Vote ya,Muachhhhh😘😘😘


__ADS_2