My Sexy Old Man

My Sexy Old Man
Seperti BISON!


__ADS_3

Kezellll, pembaca 700 ribu lebih tapi yang likenya dikit, nyesek sekali.🤧


Like kalian sangat berarti untuk Emak yang gesrek ini🤧


Ema duduk di sofa yang ada di ruang tengah itu sambil celingukan menatap sekelilingnya. Sedangkan Jeje berjalan dari arah dapur sambil membawa nampan yang diatasnya terisi jus jeruk dan beberapa camilan di dalam toples dan disisi lain Crystal tengah asik bermain dengan boneka barbie pemberian dari Mimi peri beberapa saat yang lalu.


"Silahkan diminum Miss Em." Ucap Jeje, meletakkan nampan tersebut di atas meja tepat di hadapan Ema.


"Ih!! Yei nggak usah repot seperti ini, eike 'kan jadi endol terkendol-kendol, hi hi hi." Ema berucap dengan gaya gemulai di iringi tawa khasnya, seperti Mbak Kun.....


"Ah, tidak apa-apa." Jawab Jeje mengulas senyum.


"Btw aniway busway, si mulut pedas dan yang lain kemenong?" Tanya Ema sambil mengangkat gelas yang berisi Jus jeruk itu dengan gaya kemayu. Jeje hanya terkekeh geli saat melihat gaya Ema yang seperti itu.


"Raya dan Devan sedang Quality time di Bali dan Daddy sedang ke kantor." Jawab Jeje, tersenyum.


"Wow, Endol nyess Si mulut pedas sekarang pasti sedang cepak cepak jeder sama Om Dev-Dev yang gagah perkasa itu." Ema berseru heboh sambil menyeruput Jus Jeruk itu dengan gaya kemayu.


"Ya begitulah, Makanya nikah jadi bisa tahu rasanya Cepak-cepak jeder itu seperti apa." Jeje ikut berkata konyol menganggapi ucapan Ema yang absurd itu.


"Heii! Yei ngeledek eike yes?" Ema menatap Jeje dengan selidik. Dan Ema tidak menyangka jika Jeje bisa berucap seabsurd itu.


"Tidak!" Jawab Jeje tegas. "Aku hanya mengucapkan kebenaran Miss. Aku tidak ingin menyudutkanmu atau mengguruimu tapi kehidupan mu itu masih panjang dan usiamu masih muda walau sudah 35 tahun." Lanjut Jeje diringi dengan kekehan.


"Kok, eike merasa tidak enak yes pas dengar perkataan Yei yang terakhir." Ema mencebikkan bibirnya dengan kesal dan menatap Jeje dengan malas.


"He he hee." Jeje hanya tersenyum ringan, menanggapi perkataan Ema.


"Lihatlah Crys, apa kau tidak lihat betapa lucu dan menggemaskannya gadis itu?" Jeje berucap tanpa menatap Ema, tatapan beningnya mengarah ke Crys yang tengah asik bermain dengan boneka barbie.


"I See." Lirih Ema, dan tatapan mata tajam yang di bingkai dengan bulu mata lentik dan eyeshadow berwarna ungu itu turut memperhatikan bocah gembil dan menggemaskan itu.


Andai aku bisa seperti pria lainnya. Ema hanya berucap dalam hati.


Ya! Setiap orang pasti menginginkan membina rumah tangga, apalagi jika di karuniai anak yang menggemaskan, tak terkecuali Ema juga menginginkan hal itu.


Ema sadar dan tahu arah pembicaraan Jeje berujung, begitu pula juga Jeje, ia tidak ingin membuat Ema tersudut dengan keadaan.


Setiap orang mempunyai jalan masing-masing untuk di tempuh, mau baik ataupun buruk pasti ada pertanggung jawabannya juga nantinya.


Benar bukan!


Untuk sesaat kedua manusia itu terdiam dan hanyut dalam pemikiran masing-masing, hingga suara cempreng Crystal memecah lamunan mereka.

__ADS_1


"Mimi." Panggil Crystal kepada Ema dan melambaikan tangan mungilnya menandakan jika gadis kecil itu menginginkan Ema mendekat.


"Yes, cantik tapi masih cantika eike, hi hi hii." Ema mendaratkan bokongnya tepat di depan Crystal, diatas karpet tebal yang ada di tempat bermain itu.


"Ih, Mimi." Sungut Crystal tidak terima jika ada yang menandingin kecantikannya.


"Just kidding." Ucap Ema tersenyum, lalu membelai lembut pucuk kepala Crystal dengan sayang.


"Terimaksih ya Mimi hadiah barbienya, aku suka sekali." Ucap Crystal dengan bahasa cedalnya, karena ia sebelumnya belum mengucapkan terimakasih kepada Ema.


"Sama-sama, Cantik." Jawab Ema, tersenyum.


Sedangkan Jeje hanya tersenyum ketika melihat kedua orang itu bercanda dan bermain bersama.


Semoga kau mendapat hidayah dari Tuhan, Miss Em. Doa Jeje dalam hati, dengan sangat tulus untuk Ema.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Disisi lain Devan dan Raya tengah menikmati Quality timenya, di mana lagi jika bukan di atas arena pertempuran yang sangat mengasikkan dan menggelora hingga membuat badannya remuk dan kedua lututnya lemas tak berdaya.


Bagaiman tidak? Jika Suaminya seharian ini mengurungnya di dalam kamar dan tidak mengijinkannya selangkah pun turun dari tempat tidur, bahkan ia makan dan minum pun dilayani oleh Devan.


Ah, dirinya sudah seperti ratu, tapi dirinya harus membayar perlakuan suaminya itu dengan membuka kedua kakinya dengan lebar dan memuaskan si golok sakti yang super jumbo,besar dan berotot.


Dasar perhitungan! Umpat Raya dalam hati.


lelah!


Sudah hentikan!


Raya hanya mampu berbicara dalam hati.


"Apa kau puas?" Tanya Devan, setelah mencabut golok saktinya kemudian merebahkan dirinya disamping istrinya.


Raya memejamkan matanya sambil mengumpat kesal. Ia rasanya malas bertatap muka dengan suaminya.


Tidak salahkan dia bertanya seperti itu? Bukankah harusnya aku yang bertanya?!


Hei, Om menyebalkan! Apa kau tidak lelah? Apa lututmu tidak patah! Raya hanya berucap dalam hati, karena dirinya kini sudah tidak mempunyai tenaga walau hanya untuk berbicara saja, tubuhnya benar-benar sangat lelah.


Apa ini yang di sebut Qualiti time? Menghabiskan waktu seharian diatas tempat tidur sambil terus mendesaah. Semua ini tidak seperti di bayangan Raya sebelumnya.


Ya, sebelumnya ia membayangkan jika Devan akan mengajaknya berkeliling di wisata Bali itu.

__ADS_1


Nafas keduanya masih terengah dan juga masih mengatur nafasnya karena keduanya baru selesai melakukan penyatuan yang ke sekian kalinya.


"Kenapa tidak menjawab? Jika diam berarti tidak puas ya?" Ucap Devan tidak berfilter, sambil merengkuh tubuh polos istrinya kedalam dekapan hangatnya.


Ah itu sih maumu!


Ia tidak menyangka jika suaminya masih sangat kuat walau usianya sudah 40 tahun. Malah yang ada kekuatan suaminya itu semakin bertambah.


Seperti badak!


Ah tidak! Tepatnya seperti BISON!


"Aku masih kuat kok, untuk satu ronde lagi." Ucap Devan lagi, tidak tahu malu.


Ya Tuhan, apa kau minum obat kuat?


"Padahal di seluruh tubuhmu sudah seperti macan tutul, masa masih tidak puas, sih?" Devan berasumsi sendiri sambil membalai dada Raya yang sudah di penuhi tanda cinta darinya.


Sumpah aku sudah tidak tahan lagi!


"Singkirkan tanganmu!" Kesal Raya, pada akhirnya dan menepis pelan tangan Devan yang sudah bermain di dadanya.


"Kenapa? Apa tanganku mengganggumu?" Tanya Devan sok polos, sambil menatap Raya dengan tatapan bingung dan juga menaikan kedua alisnya.


"Aku lelah." Lirih Raya, lalu memejamkan matanya lagi.


"Lelah? Bukankah kau di bawah tinggal buka kaki dan mendesaah enak." Devan berbicara seperti rem blong.


Ada lem gak sih disini? Buat ngelem tuh mulutnya, astaga!


Kenapa dia jadi gesrek begitu sih?


Ketularan gesreknya oma, nih!



Mata ngantuk jadi melek lagi. 😯


Kasih sajen!


Like!


Komentar!

__ADS_1


Vote!


Bunga sekebun sama Kopi sedrum!


__ADS_2