
Karena di markas tempur 1 kedap suara, jadi para penghuni kamar tersebut tidak mendengar jika ada kejadian yang menegangkan di ruang tengah sana.
"Dad! Sudah hampir jam 7 kenapa belum mandi juga?" Jeje mengingatkan suaminya yang tengah berdiri dan bersender di dinding kamar, dengan bertelanjang dada dengan handuk yang terselempang di pundaknya.
"Aku ingin mendapatkan nutrisi seperti Ansel." Ucap Xander absurd, membuat Jeje melotot sempurna.
"Ya!! Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Jeje dengan ketus.
"Ayolah, Honey. Aku haus dan butuh susu segar." Ucap Xander dengan melas.
"Kalau haus ya minum air!"
Menggoda ya bun.๐
Xander malah tersenyum konyol, membuat Jeje memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Jangan bilang daddy salah minum obat lagi!" Tanya Jeje dengan penuh selidik. Xander menggeleng sebagai jawaban.
"Tapi, sikapmu aneh." Ucap Jeje.
"Bagaimana tidak aneh, jika setiap hari aku di suguhkan pepaya gantung segar dan menggoda." Ucap Xander dengan resah.
Membuat Jeje menggelengkan kepalanya, karena sikap suaminya terlalu kekanakan menurutnya.
Xander berjalan mendekati Jeje yang membereskan pompa pepaya gantung.
__ADS_1
"Dad, mau apa??"
"Aku mau kau!" Ucap Xander lalu mengangkat tubuh Jeje di tepi tempat tidur dan menjatuhkan Jeje kaatas pangkuannya dengan posisi menyamping.
"Ya!!" Jeje memekik ketika, Xander mengangkatnya begitu saja.
"Apa kau merasakannya?" Xander menekan bokong Jeje kebawah.
Jeje mengangguk pelan, saat ia merasakan tonjolan keras di bawah bokongnya.
"Issh, Daddy!" Kesal Jeje, ketika Xander semakin menekan bokongnya kebawah sana.
Cup
Xander mengecup bibir pink alami itu dengan sangat lembut.
Jeje mengalungkan kedua tangannya di leher Suaminya.
Cup
Giliran Jeje yang mengecup bibir tebal itu dengan mesra.
"Daddy juga bertambah sangat tampan dan sangat menggoda." Ucap Jeje, sambil mengusap rahang tegas suaminya dengan lembut dan menatap suaminya dengan penuh cinta.
"Aku yakin di luar sana pasti banyak wanita yang menginginkan Daddy." Ucap Jeje sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sebanyak apapun wanita di luar sana yang menginginkanku, mereka tidak akan mampu menggoyahkan iman ku, karena hati dan cinta ku sudah terpaut dengan hatimu. Jiwa dan raga ini hanya untuk mu Jenita putri, hanya kau yang mampu membuat ku segila ini."
__ADS_1
Ihirr!! Meleleh adek bang.๐
"Gombal." Jeje memukul pelan pundak suaminya, lalu menyembunyikan wajahnya yang merona di ceruk leher suaminya.
Padahal tubuh Jeje terlihat mengembang, tapi suaminya itu selalu memuji dirinya.
"Hem? Aku berkata apa adanya. Apa kau ingin melihat bidadari di rumah ini?" Tanya Xander, membuat Jeje mengangkat wajahnya dan menatap suaminya dengan penuh tanda tanya.
"Bidadari? Memangnya ada?" Tanya Jeje balik dengan kening yang mengerut.
"Ada! Bahkan bidadari itu sangat cantik dan menawan." Puji Xander, membuat wajah Jeje berubah menjadi masam.
"Ayo!" Xander menggendong tubuh Jeje dan menurunkan Jeje di depan meja rias.
"Mana bidadarinya?" Tanya Jeje.
"Lihat di cermin itu." Xander menunjuk Cermin meja rias.
Blushh
Seketika wajah Jeje merona, saat ia menatap Cermin di meja rias yang ada di depannya. Dan dirinya baru tersadar jika ia di gombali oleh suaminya.
"Hei, bidadari. I Love You." Bisik Xander, sambil mengecup pipi istrinya.
"Dasar bule KW!"
Aku malu sendiri๐๐คฃ
__ADS_1
Tambahin Vote,hadiah dan like jangan ketinggalan!