
"Sayang,sudah ! Aku sudah lelah sekali" Jeje merengek.
"Aku belum,cepat bergerak lebih cepat lagi !" Ucap Xander memejamkan matanya,sambil merasakan kenikmatan yang tiada tara.
"Ih ! Kau menyebalkan !"
"Diam ! dan teruslah bergerak !"
"Apa kau tidak puas ! Kau tidak kasihan dengan para Baby di dalam perutku ?" Kesal Jeje,sambil memukul punggung suaminya.
"Aku belum puas,dan anggap saja ini hukuman untukmu karena kau sudah pergi tanpa pengawasan !".
"Sayang,Kau kejam sekali sih,hiks".
"Sudahlah sayang nikmati saja,Ah nah disitu ahh enak sekali".
"Tanganku sudah sangat lelah dan pegal sekali" Jeje merasakan kedua tangannya terasa ingin patah karena sudah memijat punggung dan tangan suaminya selama 2 jam.
"Awwwz. Hei apa yang kau lakukan ?" Xander memekik sakit saat bulu ketiaknya dicabut asal oleh Jeje.
"Habisnya kau sangat menyebalkan !" Jeje memberikan bulu ketiak itu pada Xander.
Xander bangkit dari tidurnya lalu menatap istrinya yang terlihat cemberut.
"Sini !"
"Tidak mau !."
Greb
Xander menarik paksa Jeje hingga terjatuh dalam pangkuannya.
"Lain kali jangan di ulangi,Hem ?," Xander mengusap lengan Jeje dengan lembut.
"Iya" Berkata dengan lirih.
"Aku tidak mendengarnya !".
"Iya ! Daddy !" Jeje berteriak.
"Hei ! Kau pikir aku tuli ?" Kesal Xander,lalu tersenyum dan mencium pipi istrinya.
"Aku lapar dan entah kenapa aku ingin makan somay yang ada di taman sana" Jelas Jeje.
"Kenapa tidak memberi tahu ku? Kau tahu,aku sangat menghawatirkan mu" Xander menatap wajah istrinya yang sangat cantik.
"Maaf" Ucap Jeje.
Cup
Jeje mencium bibir tebal suaminya sekilas.
Xander tersenyum lembut, "Aku juga minta maaf karena telah berkata kasar pada mu". Jeje mengangguk mengerti.
Xander dan Jeje saling menatap kemudian mendekatkan wajahnya,keduanya saling berciuman dan mellumat lembut menyalurkan kasih sayang dan cinta mereka.
Disisi lain
Devan memberi kejutan untuk Raya,makan siang romantis di apartemennya.
"Om,kenapa tidak ke restoran saja ?".
__ADS_1
"Tidak mau ! Disini lebih enak dan kita lebih leluasa melakukan apa pun" Ucap Devan lalu mendapat pelototan dari Raya.
"Jangan macam-macam !" Ancam Raya sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Hanya satu macam saja,sayang" Devan mencium pipi Raya membuat gadis itu terkejut.
"Mesum !" Devan terkekeh mendengarnya,lau ia menuntun Raya menuju balkon kamarnya,disana sudah ada meja dan 2 kursi,diatas meja sudah ada beberapa macam makanan dan dua botol wine.
"Kau tidak berniat menerkamku kan setelah ini ?". Tanya Raya,karena ia tahu jika Devan bukanlah pria yang romantis.
"Itu tergantung" Jawab Devan tersenyum.
"Ish !" Raya mendesis kesal.
Raya dan Devan mulai memakan makan siangnya.
"Aku tidak minum alkohol" Raya menolak secara halus saat Devan memberikan segelas Wine.
"Maaf" Ucap Devan,karena tidak cukup tahu dengan kesukaan calon istrinya.
Devan meletakan gelas itu kembali.
"Tidak apa-apa" Jawab Raya sambil tersenyum.
Setelah selesai makan siang romantis,keduanya menonton film yang ada di kamar Devan. Raya bersandar di dasboard tempat tidur sedangkan Devan di samping Raya sambil merangkul pundak Raya.
"Sepertinya aku harus bersikap romantis pada mu setiap hari agar kau menjadi gadis yang pendiam" Ucap Devan,karena baru kali ini mereka terlihat akur saat bersama,tidak ada perdebatan atau ocehan berisik dari Raya.
Sedangkan Raya hanya mencebikkan bibirnya kesal.
"Kenapa, Hem ?" Tanya Devan,saat melihat Raya terlihat resah.
"Apa ini yang mengganggu pikiranmu sejak tadi ?" Raya mengangguk. "Oh,aku pikir kau terkesima karena sikap romantisku" Ucap Devan dengan nada dibuat sedih.
"Jawab Dulu pertanyaan ku !" Kesal Raya.
"Kau tidak ingin membangun istana kita sendiri ?" Tanya Devan.
Didalam lubuk hati Raya ia sangat ingin,tapi ia belum siap jika harus berjauhan dengan Daddynya.
"Aku belum siap jika harus berjauhan dengan Daddy,Maaf" Raya tahu keinginannya itu sangat egois.
Devan menghela nafasnya panjang lalu tersenyum.
"Apapun yang membuatmu bahagia,aku akan mengabulkankan" Ucap Devan lalu mencium kening Raya.
"Terimakasih dan maaf aku terlalu egois tapi jika nanti aku sudah siap maka kita akan membangun istana kita sendiri" Ucap Raya,sambil mengelus rahang tegas Devan yang di tumbuhi bulu-bulu kasar.
"Tapi kau harus membayarnya". Devan berbicara sambil tersenyum licik.
"Ih dasar perhitungan !" Kesal Raya.
"Di dunia ini mana ada yang gratis, bayar disini" Devan menunjuk bibirnya.
"Dengan senang hati Tuan !" Raya lalu duduk dipangkuan Devan dan mengecup bibir Devan dengan lembut.
Devan menyambut dengan senang hati,bahkan ciuman yang awalnya kecupan kini berubah menjadi lumaatan yang sangat menggairahkan.
Devan menghentikan aktifitasnya saat dirinya sudah terbakar gairah,ia tidak ingin bertindak melewati batasnya.
__ADS_1
Raya pun sama ia merasakan geleyar aneh dalam tubuhnya,jika biasanya ia di paksa atau terpaksa mencium Devan,kini ia melakukannya dengan sepenuh hati.
"I Love U" Bisik Devan
"Aku tahu" Jawab Raya,membuat Devan berdecak kesal.
"He he he,jangan marah,Om seksih ku" Raya mengusap dada bidang Devan.
"Jangan memancingku sayang" Geram Devan saat merasakan tangan mungil Raya mengusap Dadanya dengan gerakan sensuall.
"Ya ! Apa yang kau- Emppp" Raya terpekik saat tubuhnya di tindih Devan lalu bibirnya di terjang Devan dengan rakus.
Devan menghempaskan dirinya di samping Raya,lalu ia menarik Raya dalam pelukannya.
Keduanya sama-sama terbakar gairah,tapi mereka berusaha untuk menetralkan diri masing-masing.
Devan mendekap tubuh ramping itu dan sesekali melabuhkan ciuman dikening Raya.
"Hampir saja kita kelepasan lagi" Ucap Raya terkekeh.
"Ini semua karena ulahmu !" Kesal Devan.
"Hei ! Kenapa aku yang di salahkan" Raya memukul dada bidang Devan.
"Kau itu nakal tidak bisakah jika tidak menggodaku !" Devan selalu di buat frustasi karena ulah Raya.
"Tidak bisa ! Karena aku suka lihat Om sengsara,ha ha ha" Raya tertawa terbahak saat melihat wajah kesal Devan.
"Lihat golok Om sudah sangat tegang" Raya menunjuk tonjolan di balik celana Devan.
"Raya !! Kau tahu aku menahan setengah mati untuk tidak menerjangmu !," batin Devan kesal.
Tuing
"Aku heran denganmu,kau itu anak perawan tapi pikiranmu sangat mesum" Devan menonyor kepala Raya.
"Kan Om gurunya,he he he" Raya tertawa sambil menoel dagu Devan.
"Ck,dan gurunya lagi adalah Oma" Devan terkekeh.
Lagi lagi Oma yang jadi biangnya.😆
"Hei ! Enak saja nyalahin orang lain" Kesal Raya sambil menoel kepala botak golok Devan.
"Raya !!!"
"Apa ?". Seolah tidak merasa melakukan sesuatu.
"Apa yang kau lakukan ?".
"Itu lihat dia menganggukan kepalanya" Ucap Raya sambil menunjuk Celana Devan yang terlihat bergerak.
"Astaga Raya !!"
Raya ya ampun 🤣🤣🤣
Suka banget bikin si Om kejang-kejang🤣🤣
Tambahin like,vote dan hadiahnya,please😘😘😘😘
__ADS_1