My Sexy Old Man

My Sexy Old Man
Apa ada putiing beliung?


__ADS_3

Hari ini adalah hari bersejarah bagi seluruh karyawan yang berkerja di Holitron Grub.


Dimana sang bos arogant dan dingin itu, kini terlihat sangat manis dan menggemaskan dengan mendorong stroler gandeng yang berisikan dua balita tampan dan sangat menggemaskan.


Ah, jangan lupakan Tas besar yang menggantung di pundak tegapnya.


Walau begitu pesona Xander tidak menurun, justru sebaliknya pesona pria itu meningkat 10%.


Xander melangkah tegap dan tatapan tajamnya menatap lurus kedepan, tapi sesekali ia mengecek kedua putranya. Ia terus bejalan menuju lift sambil mendorong stroler dengan satu tangannya dan tangan yang lain ia masukan kedalam kantong celananya.


Hah, dia terlihat sangat keren sekali.


Banyak karyawan wanita ingin menjerit histeris ketika melihat penampakan Big Bosnya itu.


HOT DADDY!


Yah, semua karyawannya menjuluki Xander dengan sebutan Hot Daddy.


"Selamat pagi, Bos" Sapa seluruh karyawan yang berpasan dengannya. Xander hanya membalas dengan anggukkan kepala dan tatapannya tetap lurus kedepan.


Sangat datar sekali wajah Big Bos itu. Sudah seperti papan triplek.


Sifatnya berbanding terbalik ketika ia dirumah, si pria bucin yang selalu tersenyum dan tertawa kepada Istrinya dan selalu menurut kepada istrinya. Jangan lupakan juga jika dia adalah Suti (Suami takut istri) 😆


Memang benar bukan? Jika Xader takut dengan istrinya!


Xander menggelar karpet tebal yang ada di ruangan tersebut.


"Oke, boy. Sekarang kalian bermain di atas karpet yang tebal ini ya. Bermainlah dengan tenang dan jangan berkelahi, Oke!" Xander menurunkan Ansel dan juga Sean keatas karpet tebal dan tak lupa ia juga memberikan beberapa mainan untuk kedua putranya.


Beruntung jadwalnya tidak padat dan juga tidak ada meeting sampai beberapa hari kedepan, jadi ia hanya mengecek laporan dan memberikan tanda tangan jika di perlukan.


Xander mulai mengerjakan pekerjaanya, sesekali ia melihat kedua putranya yang tengah tengkurap sambil berceloteh.


Xander tersenyum menatap putranya yang juga tengah menatapnya.


Merasa kedua putranya anteng, Xander kembali fokus dengan kertas-kertas yang ada di tangannya.

__ADS_1



"Di di, Huwaaaa." Ansel menangis ketika rambut tipisnya di tarik oleh Sean.


"Sean tidak boleh nakal." Xander menghampiri keduanya lalu melepaskan tangan Sean yang masih menarik rambut Ansel.


"Huwaaa." Sean ikut menangis ketika melihat wajah Xander yang terlihat marah kepadanya.


"Oh ya ampun." Keluh Xander sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Tangisan Sean dan Ansel seperti paduan suara yang menggema di ruangan itu.


Xander memangku kedua putranya dan menenangkannya agar diam, namun usahanya sia-sia.


"Bagaimana ini? Sudah diam ya daddy pusing jika mendengar kalian menangis." Xander menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Huwaaaaa." Sean dan Ansel semakin kencang menangisnya.


"Ya Tuhan, Apa yang harus aku lakukan?" Keluh Xander lagi.


"Susu, oh kalian ingin susu? Kalian haus?" Tanya Xander, dan diangguki Ansel dan juga Sean.


Kemudian Xander beranjak dan membuatkan susu untuk kedua putranya.


"Nah, susu cap botol kalian datang." Xander memberikan dua botol susu untuk Ansel dan Sean.


"Uwekk." Sean melepeh susu yang sudah masuk kedalam mulutnya, begitu pula dengan Ansel.


"Lah, kalian kenapa? Susunya tidak enak?" Tanya Xander dengan heran, sambil mengusap bibir kedua anaknya dengan tisue.


"Huwaaaa." Ansel dan Sean menangis lagi.


"Astaga!!" Keluh Xander.


"Oke! Oke! Daddy buatkan yang baru."


Memangnya susu buatan ku tidak enak ya? Batin Xander, lalu ia menyedot susu dari botol Sean.

__ADS_1


"Hoekk. Hambar!" Pekik Xander sambil menjulurkan lidahnya.


Kalau susu cap botol Mami Jeje tidak hambar ya Dad? 😆


Perasaan tadi sudah pas takarannya? Apa airnya yang kebanyakan. Batin Xander lagi, lalu membuatkan susu yang baru untuk anaknya dengan takaran dan air yang pas tentunya.


"Nah, anak pintar minum susu yang banyak biar cepat besar ya." Ucap Xander ketika melihat kedua putranya menyedot susu dengan sangat rakus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Xander meremat rambutnya frustasi ketika melihat kedua anaknya tidak bisa diam.


Bagaimana tidak? Setelah menghabiskan susunya, kedua balita itu merangkak kesana-kemari tanpa lelah. Bukan hanya itu saja, Ansel dan Sean juga mengacaukan ruang kerjanya. Menghampurkan berkas-berkas yang bernilai ratusan juta. Hal itu dimulai ketika Sean dan Ansel di letakkan diatas meja kerjanya, Karena Xander pikir jika diatas meja, kedua putranya itu akan diam, tapi kenyataannya dia salah.


"Tuan, anda memanggil saya?" Tanya Manager keuangan, yang baru memasuki ruangan Big Bosnya.


Apakah ada angin putiing beliung disini? Batin Manager tersebut, ketika melihat ruangan itu nampak kacau banyak berkas yang berserakan dilantai dan bukan itu saja penampilan Bosnya juga nampak kacau dan kusut.


"Ya! Bereskan semua berkas-berkas yang berserakan itu, susun seperti sedia kala. Awas jika kau salah!!" Ucap Xander dengan nada tegas dan penuh ancaman, sambil menatap manager keuangan itu dengan tajam.


Glek


"Ba baik Bos." Manager itu sampai susah menelan salivanya.


Bosnya sangat mengerikan sekali saat ini.


Eh, bukankah setiap hari memang selalu mengerikan!


Manager itu mulai memungut satu persatu berkas yang berserak lantai.


Ya tuhan, lebih baik aku menghitung bulu tupai, dari pada harus membereskan berkas-berkas ini. Aduh, mulai dari mana ini? Batin Manager itu gemetar ketakutan, karena aura di sekitarnya sangat mencekam.


"Sean Ansel!" Seru Xander, ketika kedua putranya itu tidak mau diam sama sekali.


Belum satu hari sudah seperti ini. Apalagi nanti satu minggu. Ya tuhan! Rasanya aku ingin menyerah. Batin Xander berteriak.


**Sudah pada puas belum sama hukuman daddy?

__ADS_1


Mau ditambahin lagi? 🤭**


Tambahin Vote dan hadiahnya! Likenya jangan pelit!


__ADS_2