My Sexy Old Man

My Sexy Old Man
Tumben waras?


__ADS_3

Senin!! vote mana vote?!


"Apa karena melihat pepaya busuk gondal-gandul dan akan jatuh menjadikan dirimu lupa ingatan, jika dirumah ada pepaya california yang sangat segar?!" Ucap Oma Airin tak berfilter, membuat Xander melotot sempurna.


"Mom!!"


"Apa! Hah, kau ingin mengelak?!" Membuat Xander menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Plak


Oma Airin memukul bahu putranya dengan keras, membuat Xander meringis.


"Sakit Mom." Ringis Xander.


Plak


Satu pukulan lagi mendarat ke bahu yang satunya.


"Sakit??" Oma Airin memandang remeh putranya.


"Kau itu sudah tua! Harusnya lebih dewasa lagi dan juga sudah punya anak lima!! Lima Xander." Oma Airin sambil menunjukan empat jarinya di depan wajah Xander.


"Itu empat Mom, kalau lima itu seperti ini." Dengan bodohnya Xander menunjukan kelima Jarinya kepada Ibunya


"Ah, iya ya." Oma Airin menegakkan ibu jarinya yang terlipat, membuat Xander terkekh geli.


"Aku minta maaf, Mom." Kemudian Xander menjelaskan permasalahannya dari A sampai ke A lagi. Dan Oma Airin mengangguk-anggukan kepalanya berulang kali ketika mendengarkan penjelasan putranya.


"Hem, rumit sekali." Oma Airin menggelengkan kepalanya.


"Lalu aku harus bagaimana? Mom, aku mohon bantu anakmu yang tampan dan kaya ini." Xander memengang tangan ibunya dan mengecupnya berulang kali.


"Untuk kali ini, Mom tidak bisa membantumu." Ucap Oma Airin sambil mengusap bahu putranya.


"Mom, ayolah. Aku akan membayar berapapun yang Mom minta." Rengek Xander seperti anak kecil yang meminta Ciki kepada ibunya.


"Ini bukan masalah uang! Tapi, ini masalah perasaan dan juga masalah rumah tanggamu. Jika di dalam rumah tangga kalian sedang bermasalah, mommy tidak berhak untuk ikut campur karena nanti berakhir tidak baik. Dan mommy hanya bisa memberikanmu saran tanpa bisa membantumu." Jelas Oma Airin, kepada putranya.


Xander terdiam dan merenungkan perkataan ibunya.


Tumben waras.😆


"Tapi, aku takut jika—" Lagi-lagi ibunya memotong ucapannya, membuat Xander mendengus kesal.


"Kau ini sudah tua dan sudah kenyang makan garam kehidupan, jadi sudah sepatutnya jika dirimu tidak di bawah ketiak ibumu terus." Cibir Oma Airin, sambil menahan tawa.


"Heh, mana ada seperti itu." Elak Xander.

__ADS_1


"Ada ini buktinya." Oma Airin sontak menjepit kelapa Xander di ketiaknya.


"Mommy!!!!"


"Ha ha ha haaa." Oma Airin semakin tergelak, sambil terus menjepit kepala putranya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa nyonya memecat kami?" Tanya para baby sitter ketika disodorkan amplop berwarna putih.


Ke empat baby sitter itu bernama Wati, Lia, siti, dan Sugi.


"Tidak, aku tidak memecat kalian." Ucap Jeje. "Terimalah ini." Jeje menyodorkan empat amplop itu lagi, tapi para baby sitter tidak ada yang mengambilnya.


"Jika nyonya tidak memecat kami, lalu ini apa? Hiks." Tanya Wati, sudah menangis sesegukan.


"Hei, sudah aku bilang jika tidak ada yang di pecat disini." Jelas Jeje lagi sambil tersenyum.


Tentu saja, mereka berpikiran seperti itu karena baru dua hari yang lalu mereka menerima gaji dan sekarang mereka mendapatkan Amplop berisikan uang.


"Nyonya, jika perkerjaan kami kurang bagus tolong tegur kami tapi jangan pecat kami. Mau makan apa kedua orang tua saya di kampung nanti, sedangkan ayah saya sudah tua dan tidak bisa bekerja lagi, di tambah lagi ibu saya punya kredit panci yang setiap harinya harus di cicil 10 ribu rupiah. Hiks hikss." Ucap Siti, ikut menangis.


"Hei, kenapa kau malah curhat?" Bisik Lia, sambil menyenggol kaki Siti.


"Aku melakukan ini agar nyonya merasa iba dan tidak jadi memecat kita." Bisik Siti.


Bisikkan mereka masih di dengar oleh Jeje, membuat Hot Mami itu menahan tawanya tapi juga sedih karena nasib ke empat gadis yang ada di depannya itu kurang beruntung.


"Hiks, iya benar Nyonya. Saya juga harus menyekolahkan kelima adik saya." Ucap Lia menimpali.


"Bukannya kau anak tunggal? Lalu adik siapa yang kau maksud?" Bisik Sugi dengan keheranan.


"Tentu saja adik tetangga, sudahlah diam? Aku berkata seperti itu agar tidak di pecat." Balas Lia, dan Sugi pun menganggukan kepalanya pelan.


"Ini adalah bonus untuk kalian dan aku memberi cuti kalian selama satu minggu." Jelas Jeje, membuat keempat baby sitter itu senang lalu menerima amplop tersebut.


Tapi, kemudian mereka berubah sedih dan membuat Jeje keheranan.


"Jika kami cuti bersamaan selama satu minggu, siapa yang akan mengurus para Tuan muda tampan? Dan kami pasti sangat merindukan mereka." Ucap Wati dengan sendu.


"Kalian tidak perlu khawatir karena ada aku dan daddynya anak-anak yang akan mengurusnya." Ucap Jeje tersenyum, membuat ke empat baby sitter tersebut saling pandang.


"Benar, nyonya?" Sugi memastikan. "Kami semua sangat menyayangi para Tuan muda tampan, jadi kami tidak ingin jika para tuan muda tampan nanti tidak terurus." Ceplos Sugi langsung mendapat cubitan dari Lia.


Jeje tersenyum dan matanya berkaca-kaca, karena ia di kelilingi orang baik.


"Terimakasih karena kalian sudah menyanyangi ke empat putraku. Kalian tidak perlu khawatir." Ucap Jeje terharu, lalu memeluk baby sitternya satu persatu.

__ADS_1


Ya, Jeje sudah menganggap ke empat gadis itu seperti saudaranya sendiri, bahkan ia pernah makan satu piring dengan Lia, membuat Lia merasa tidak enak sendiri saat itu.


"Nyonya jangan menangis, nanti jika Tuan Besar melihat maka kami akan di pecat sungguhan." Ucap Siti sudah ketakutan.


"Jika Harimau itu berani memecat kalian maka, dia akan berhadapan denganku lebih dulu." Ucap Jeje tergelak, membuat ke empat babynl sitternya ikut tersenyum.


"Kalian akan berangkat nanti malam dan aku sudah menyiapkan bus untuk kalian." Ucap Jeje tersenyum.


"Terimakasih Nyonya." Ucap mereka penuh haru.


"Sama-sama." Jawab Jeje tersenyum lembut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam hari di kediaman keluarga Clark.


Para baby sitter sudah bersiap untuk berangkat pulang kampung dengan diantar oleh bus kelas VIP yang sudah di sewa oleh Jeje.


Dan mereka pun sudah berpamitan dengan anak asuhnya masing-masing.


"Sayang, kenapa kau tidak memberitahuku jika kau ingin memberi cuti kepada mereka?" Tanya Xander, setelah Bus yang membawa para baby sitter sudah menjauh.


"Memang kenapa?" Tanya Jeje balik dengan cuek.


"Kok kenapa sih? Nanti kau pasti akan repot mengurus mereka." Jawab Xander, dengan sabar.


"Kenapa harus repot? Jika ada daddynya." Jawab Jeje santai, lalu berjalan kedalam rumah.


"Aku?" Xander menunjuk dirinya sendiri, kemudian ia mengejar istrinya.


"Sayang, aku 'kan harus bekerja, mana mungkin aku bisa membantumu." Keluh Xander.


"Kalau begitu bawa dua diantaranya kekantor!" Jawab Jeje, menatap sinis suaminya.



Lagi marah juga tetap cantik ya.


"What!! Sayang apa kau sudah gila?! Kantor itu adalah tempat yang tidak bagus untuk tumbuh kembang anak." Pekik Xander.


"Melihat pepaya gantung di kantor juga tidak bagus untuk kesahatan mata dan juga hatimu!" Sindiran keras untuk Xander.


Skak Matt


Nikmati hukumanmu, Dad.😆


Oma Airin tumben waras atau otak emak othor yang oleng? wkwwkwkwwk

__ADS_1


__ADS_2